Luccane

Luccane
Bab 31 : Akhir Masa Pemulihan



Aku menikmati makan malamku dalam keheningan meski ada Luccane yang tengah mengawasi aku sambil duduk di sebelah kanan tubuhku.


Di luar juga hujan lagi, seperti hari-hari sebelumnya yang membuatku jadi sebal karena tak bisa pergi ke taman rumah sakit.


Rumah sakit ini memang memiliki taman yang cukup cantik dengan pohon rindang serta beberapa jenis bunga-bunga tropis yang tumbuh subur di tengah-tengah bangunannya. Selama dirawat di sini, aku sering menghabiskan waktu di sana hanya untuk sekedar menyegarkan pikiran.


Karena beberapa hari ini hujan selalu turun nyaris sepanjang hari, aku tidak lagi memiliki waktu untuk menyegarkan pikiranku di luar ruang rawat. Sungguh menyebalkan karena hanya bisa terus tiduran sepanjang hari seperti ini.


Malam ini aku kembali ditinggal sendirian karena Mama dan Papa memiliki kepentingan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan menyangkut bisnis, sementara Andri sedang sibuk dengan urusan kuliahnya beberapa hari terakhir.


Sebetulnya aku benci berada di rumah sakit terlalu lama seperti ini namun aku tak bisa melakukan apa pun dan hanya bisa menunggu tubuhku pulih sepenuhnya. Beruntungnya karena keberadaan Luccane di sini, aku tak lagi pernah melihat penampakan entitas yang menyeramkan seperti sebelumnya.


"Dokter bilang apa mengenai kondisi kesehatan kamu?" Luccane memecah keheningan dengan pandangannya yang lurus tertuju kepadaku.


Aku menyendok sup jagung manis yang tersaji di dalam mangkuk makanku, menelannya pelan-pelan agar tidak tersedak.


"Sudah sangat membaik. Luka tusukannya juga sudah mengering jadi aku sudah bisa pulang besok atau lusa," terangku setelah merasa sup jagung yang aku makan berhasil tiba dengan selamat di dalam lambung.


Aku bersyukur makanan rumah sakit hari ini terasa lebih baik dari pada yang kemarin. Walau tak begitu kentara, namun aku dapat merasakan ada kehadiran bumbu di dalam masakan rumah sakit sepanjang hari ini.


Segurat senyuman lega terpancar di wajah rupawan milik Luccane.


"Syukurlah kalau begitu. jadi bagaimana dengan kuliahmu? Apa kamu akan tetap melanjutkan kuliah di sini?"


Aku murung, balas memandang Luccane setelah menyingkirkan alat-alat makanku.


"Bisa dibilang bukan berita yang terlalu bagus, Papa bilang jika aku tidak bisa mendapatkan nilai sempurna di semua mata kuliah utama maka aku akan dipaksa untuk pulang ke Palembang."


"Itu bukanlah hal yang buruk. Mama dan Papamu masih mau memberikan kamu kesempatan untuk tetap melanjutkan mimpimu maka kejarlah dengan sungguh-sungguh," ucap Luccane berusaha menghiburku.


Senyumnya merekah, mengusap-usap lembut pipiku yang terasa mulai dingin karena dinginnya cuaca di luar sana. Kebersamaan kami kali ini ditemani dengan alunan musik tradisional Belanda yang mengalun lembut dari ponselku.


Entah sejak kapan tepatnya, aku mulai suka mendengarkan lagu tradisional Belanda tanpa aku mengerti juga apa alasannya. Padahal, sebelumnya aku tidak begitu menyukai musik dari barat.


"Memang, tapi masalahnya apakah aku mampu? Kau tahu sendiri 'kan, persaingan di kampusku itu sangat ketat jadi itu tidak akan mudah," jawabku skeptis.


Luccane meraih kedua tanganku, menatapku dengan begitu lembut selembut irama musik tradisional Belanda yang mengiringi kebersamaan aku dan dia malam ini.


Kedua sudut bibirnya tertarik berlawanan arah, membentuk senyuman yang amat aku cintai, lengkungan indah yang selalu berhasil membuat aku tergila-gila.


"Aku yakin kamu akan selalu mampu menghadapi tantangan apa pun yang menghadang jika tekadmu sendiri jauh lebih besar. Aku percaya, kamu bisa membuat Papa dan Mama kamu bangga nantinya."


...****************...


Setelah cukup lama menjadi pasien di rumah sakit, akhirnya tiba saatnya bagiku untuk pulang.


Selama sebulan ke depan, aku diwajibkan kontrol kembali ke rumah sakit sebanyak seminggu sekali.


Mama dan Papa sudah kembali pulang ke Palembang beberapa saat yang lalu setelah mengurus segala administrasi rumah sakitku.


Sementara aku kini sudah berada di dalam mobil Mang Ujang yang sedang dalam perjalanan menuju rumahku.


"Neng, yakin nggak mau tinggal di rumah sama Mamang dan Bibi?" Bibi bertanya lagi untuk yang entah ke berapa kalinya.


"Visha yakin, Bi. Rumah yang Visha tempati 'kan besar bisa ajak teman-teman menginap juga untuk jaga-jaga biar aman," balasku berusaha meyakinkan Bibi.


Sementara Mang Ujang hanya tersenyum memandangku dari spion, sepertinya merasa sudah paham betul akan kekhawatiran istrinya.


Mang Ujang itu sama seperti Mama yang cenderung santai dan membiarkan aku mengambil keputusan sendiri.


"Neng Visha sudah dewasa. Jadi hargai apa pun keputusan yang dia ambil," timpal Mang Ujang dengan suara menyejukkan khasnya.


"Tapi kalau ada apa-apa selalu hubungi Mamang sama Bibi secepatnya ya, Neng," imbuh Bibi sambil menoleh kepadaku.


Aku mengangguk patuh sambil tersenyum, menyetujui perkataan Bibi.


Dapat aku pahami bahwa Bibi sangat tulus memperhatikan aku selama ini.


Hari yang sudah menjelang sore membuat jalanan berada dalam kondisi padat merayap terlebih kami terpaksa harus melewati jalan protokol karena habis bertolak dari bandara mengantarkan Mama dan Papa.


Mobil sedan putih classic milik Mang Ujang berjalan perlahan, membelah keramaian jalan Asia-Afrika sore itu, sebuah jalan yang kental akan keindahan arsitektur khas Eropa peninggalan Belanda.


Mataku kontan saja langsung tertuju kepada bangunan-bangunan tua nan indah dengan dominasi warna putih peninggalan masa kolonial Belanda yang berjajar di beberapa titik jalan.


Bangunan-bangunan tua itu membuatku kembali teringat kepada Luccane.


Perbedaan waktu dan dimensi diantara kami membuat aku tak bisa bersatu dengannya tak peduli seberapa besar kami saling mencintai.


Mungkin selama ini Andri ada benarnya.


Tapi aku juga tak bisa memungkiri kalau hatiku selalu mendambakan Luccane meski akal sehat ini tahu bahwa kami tak akan mungkin bisa bersatu.


Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak berusaha menyingkirkan beban pikiran yang sudah terlalu lama menumpuk ini lalu kembali memusatkan perhatianku kepada bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh di sepanjang jalan.


"Neng Visha?"


"Eh, kenapa Mang?"


Aku tersentak kecil setelah mendengar suara Mang Ujang menguar, memanggil namaku.


"Neng tadi lihat nggak tadi ada cowok kasep pisan mirip orang Londo pakai baju hitam lewat di depan mobil kita barusan? Tiba-tiba banget, padahal ini lagi hujan deras tapi kok bajunya dia nggak basah sama sekali ya?"


Keningku mengernyit bingung mendengar pertanyaan panjang lebar dari Mang Ujang.


"Hah? Londo? baju hitam terus nggak basah? Mamang salah lihat kali."


"Nggak kok, Neng! orang Bibi juga lihat dia lewat di depan mobil kita persis sambil senyum!"


Bibi yang duduk di sebelah Mang Ujang turut menimpali.


Setelah Bibi mengungkapkan argumennya untuk membuat aku percaya, entah mengapa tiba-tiba kepala serta kedua pundakku terasa amat berat.


Aku tidak tahu apa dan maksud tujuan 'dia' melakukan ini.