
Pukul empat dini hari aku terbangun dari tidurku akibat derasnya hujan disertai petir hebat di luar sana. Langit nampaknya benar-benar menumpahkan semua bebannya hingga hujan kali ini sangat dahsyat, agak berbeda dibandingkan hujan yang sempat turun beberapa hari yang lalu.
Seperti yang kalian ketahui, rumah sakit sekarang sedang dalam keadaan sangat sepi dan aku pun hanya bisa mendengar suara hujan deras di luar sana dengan jelas karena kondisi yang sangat sunyi kini sedang menelan diriku bulat-bulat.
Aku tetap memejamkan mataku, berusaha untuk kembali tidur namun sama sekali tidak dapat membuahkan hasil seperti harapanku.
Semakin keras usahaku untuk tidur, semakin aku terpikirkan akan alasan sikap aneh Andri dan Luccane belakangan ini.
Meski aku tahu kini Andri sudah dapat melihat Luccane sama seperti aku, tapi pemuda itu nampak sangat enggan meski hanya sekedar memberikan sapaan kepada Luccane.
Setiap kali aku menanyakan alasannya, Andri memilih bungkam atau malah mengalihkan pembicaraan ke arah yang sama sekali tidak ada korelasinya sama sekali dengan Luccane.
Aku kesal, tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengorek informasi mengenai apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diri.
Dokter yang bertanggung jawab atas perawatan aku selama di rumah sakit ini juga tidak akan memberikan aku izin rawat jalan mengingat luka yang aku dapatkan memang cukup fatal.
Merasa penat dengan pikiranku sendiri, aku perlahan berusaha mendudukkan diriku. Bermodalkan sandaran bangsal rawatku yang terbuat dari besi aku menyandarkan punggungku.
Kamar rawat tempatku menginap memang berada dalam kondisi terang, semua lampu yang ada di kamar ini dalam keadaan menyala. Aku tidak mau tidurku malah diganggu oleh 'mereka' yang tidak nampak dengan seenaknya.
Pokoknya, kelebihan terbaik yang aku dapatkan dengan kemampuan ini adalah melihat Luccane. Selebihnya? Aku kerap dibuat pusing dengan kelakuan 'merek' yang sering kali berbuat semaunya sendiri sampai membuatku kesusahan.
Karena aku sekarang sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan banyak aktifitas, aku hanya bisa melihat dunia luar menggunakan ponselku.
Tak jarang, aku menonton konten-konten berbau horror untuk sekedar menambah wawasan terkait dengan kelebihan yang aku miliki.
Banyak dari para anak indigo yang aku tonton kontennya selalu mengatakan hal yang sama yaitu untuk tidak membantu 'mereka' dengan alasan apa pun alasannya.
"Kamu menonton video orang-orang indigo itu lagi? Sudah kubilang berhentilah menontonnya,"
Aku kontan melepaskan earphone yang sedang menyumbat lubang telinga kiriku, memandang sosok yang datang dengan aroma wangi bunga sedap malam yang amat khas itu. Kalau tidak membawa aroma bunga sedap malam bersama kemunculannya, dia juga sering datang dengan aroma parfum mahal khas zaman dulu.
"Jangan campuri urusanku," balasku jutek, memandang dirinya dengan sorot galak.
Pemuda tampan itu terkekeh. "bagaimana bisa aku tidak ikut campur dalam urusan kamu? aku ini masih kekasih kamu loh."
Luccane. Terlepas dari hal mengerikan yang pernah terjadi kepadaku karena dia dan aku yang saling mencintai, aku sama sekali tidak pernah bisa menyingkirkan perasaan sayangku kepada dirinya.
"Mama dan Papa tidak menginap di sini?" dia bertanya lagi, kini dalam posisi duduk di atas kursi sebelah bangsal rawat tempatku berada.
"Mereka sedang menginap di rumah Mang Ujang alias rumah Papa dan Mamamu," balasku sambil memperhatikan sepasang netra biru milik Luccane dengan seksama, hendak mencari sesuatu di sana.
Kesedihan serta luka yang mendalam nampak tergambar dengan jelas dibalik sepasang obsidian birunya yang menawan itu.
Aku juga turut merasakan emosi yang dirasakan oleh Luccane secara ajaib, seolah kami berdua saling terikat satu sama lain.
"Rumah itu sebenarnya merupakan hadiah dari Papa untuk Mama guna merayakan hari ulang tahun Mama sekaligus ulang tahun pernikahan mereka waktu itu. Meski pun Papa bukanlah seorang ayah sekaligus suami yang hangat, beliau sebetulnya sangat romantis," imbuh Luccane memecah keheningan.
Aku memilih diam, memusatkan perhatian sepenuhnya kepada pemuda tampan namun bernasib sangat malang itu.
"Tapi, belum genap dua tahun rumah itu berdiri invasi militer Jepang membuat semuanya menjadi sangat kacau dan tak terkendali. Banyak orang-orang Belanda yang mempunyai uang pulang ke Eropa, sementara sebagian lagi yang tak punya cukup uang atau waktu untuk menyelamatkan diri seperti kami dibantai sampai habis dengan berbagai cara yang sadis."
Hujan yang tak kunjung reda membuatku kian penasaran dengan cerita Luccane.
Perlahan, aku meraih tangan Luccane memintanya untuk kembali melanjutkan ceritanya.
"Kamu pernah lihat beberapa orang pasukan Belanda tanpa kepala yang sering lewat di lorong rumah sakit ini, 'kan? Nah, mereka juga korban dari para tentara Jepang. Setelah orang-orang Jepang menghabisi nyawa pasukan itu dengan cara menebas leher mereka menggunakan samurai, para serdadu kerdil tak berperasaan itu membuang semua jasadnya ke dalam sumur tua di belakang rumah sakit ini," papar Luccane melanjutkan kisahnya.
"Pantas saja sumur itu memiliki aura yang sangat kuat dan suram. Kudengar sumur itu bahkan sampai tidak bisa dihancurkan ya?"
Luccane mengangguk. "betul. rumah sakit ini dulunya memang milik Belanda tetapi setelah kemerdekaan Indonesia lantas dikelola oleh pemerintah. untuk memperluas bangunan, sumur itu sudah beberapa kali berusaha dirobohkan namun tetap saja tidak berhasil."
Meski aku tahu lumayan banyak mengenai hal-hal mistis, tetap saja hal semacam itu berhasil membuat aku bergidik ngeri.
Ada banyak jasad di dalam sumur tua itu, bukankah mengerikan?
"Selain para pasukan Belanda tanpa kepala, aku juga banyak bertemu hantu-hantu lain dalam kondisi yang tak kalah memprihatinkan. Ada hantu ibu hamil berwajah Eropa yang juga melirikku dengan tatapan yang sangat menyeramkan," aku berujar, mengingat kembali kejadian yang aku alami saat masih belum sadarkan diri.
"Seperti apa wujudnya?" Luccane bertanya penasaran.
"Rambutnya pirang dengan mata yang hijau, mungkin saat itu dia sedang hamil tua dengan pakaian lusuh berwarna merah muda," terangku.
Luccane meringis, ia sepertinya langsung dapat menebak sosok yang aku maksud.
"Dia sebenarnya adalah istri dari salah satu petinggi Belanda yang menjabat cukup lama di dalam pemerintahan kala itu. Tapi ya, aku tidak bisa menyebutkan namanya karena dia memiliki kaitan yang erat dengan sejarah Indonesia."
"Ah, kenapa kau selalu begitu sih?" aku mendecak sebal dengan bibir mengerucut.
"Ada baiknya seperti itu. Kalau kamu sampai tahu siapa sebenarnya aku mau pun wanita itu, itu bisa saja dapat merubah sejarah."