Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 9



Langit mendung mengingatkanku pada masa lalu. Usaha tak akan mengkhianati hasil, ucapku waktu itu untuk menyemangati. Aku pasti berhasil suatu hari nanti. Meski hari ini aku tetap merasa tidak ada yang berubah.


Kehidupan kami tidak mudah, tidak pernah jadi mudah. Aku terbiasa bangkit setelah terluka, dihina, dan di nomor duakan. Terbiasa kehilangan, dari kehilangan teman, sahabat, bahkan akupun kehilangan seorang ayah. Orang yang harusnya melindungi dan menyayangiku. Bangkit dengan kaki sendiri lalu belajar mandiri membuatku menjadi seperti sekarang ini.


Sayangnya aku melihat itu di diri Anuca – nonaku sayang. Ia memang terlahir dari golongan yang memiliki segalanya. Namun kenyataannya, dia selalu sendiri. Tidak ada yang melindunginya. Semua seolah mengacuhkan dan menomor duakan. Lihat pembantu-pembantu kurang ajar yang justru menyepelekan gadis kecil ini. Karena memang Papanya sendiri pun tak peduli.


Kutatap lekat gadis kecil yang kini tertidur di kursi samping pengemudi. Kukendarai sedan ini perlahan melintasi jalanan yang padat merayap. Sepulang les balet seharusnya dia ikut les renang. Tapi melihatnya begitu kelelahan membuatku sangat kasian. Andai aku ibunya, tak akan kubiarkan dia teraniaya seperti sapi perah. Kadang aku merasa Pak Dihardja membuat ia les kesana kesini agar ikut sibuk dan tidak menyibukkannya.


Baru seminggu lepas, dia keluar dari rumah sakit tapi aku tidak pernah mendengar Pak Dihardja menanyakan kabarnya. Bahkan sekedar menengok dan melihat keadaannya. Sungguh ini membuat batinku bergejolak.


Bagaimana tidak? Keluarga apa ini?


Mengindahkan darah daging sendiri, bahkan sesibuk orang tua pasti akan khawatir dengan anaknya, bukan?


Tiba-tiba muncul pertanyaanku, siapa Anuca?


Gadis ini istimewa, aku tau itu. Karena segala tentangnya bersifat rahasia. Mungkinkah ia anak istri simpanan Pak Dihardja? Sehingga rahasianya tak pernah dibuka di muka umum. Aku tak pernah melihat Anuca diperkenalkan di luar rumah.


Gadis cantik ini bahkan hampir tidak mirip dengan Pak Dihardja. Guratannya sama tapi jelas berbeda. Entah seistimewa apa ia sampai-sampai Alex pun sangat hati-hati jika membahas tentang Anuca.


“Kak Abel, sudah sampai kah?”


“Belum, Sayang. Bentar lagi, Non Anuca lelah? Tidur saja, Sayang!”


Dia menggeleng cepat, sebelum mengeluarkan secarik kertas dan diberikannya padaku.


“Apa ini?”


Dia hanya tersenyum dan tidak menjawab apapun. Kutengok dibelakang, baby sitter Anuca sedang terlelap dalam dengkuran. Ia bahkan tidak mau Anuca menganggunya. Betapa menyebalkan punya Suster macam itu.


Kubuka perlahan kertas pink yang diberikan Anuca padaku. Mataku seketika berair karena terharu. Aku tidak menyangka gadis kecil ini…


[ Selamat Hari Ibu, Kak Abel. Anuca sayang Kak Abel, maukah Kak Abel menjadi Mamaku?]


“Anuca tidak punya mama. Dari kecil Anuca sendiri, paman juga jarang pulang. Anuca senang Kak Abel datang. Seperti Anuca punya Mama sendiri!”


Mataku semakin membayang. Air mata jatuh tanpa kupinta. Akupun terpaksa meminggirkan mobil hanya sekedar memeluknya. Andai memang Tuhan titipkan Nuca sebagai anakku, tentu aku mau meski menikahpun belum kulalui.


“Non Anuca, bisa panggil Mama kalau mau selama tidak di depan siapa-siapa.”


Nuca semakin memelukku. Senyumnya terkembang tanda ia sangat bahagia. Begitupun aku.


"Terima kasih, Ma!"


"Iya, Sayang."


Tapi terlihat sedikit gurah kecewa darinya.


"Kenapa, Sayang?"


"Dulu waktu kecil, kata Paman, Mama masih hidup dan sayang banget sama Anuca. Andai waktu itu Anuca masih ingat ya, Ma!"


Kupeluk ia lagi untuk menghentikan pikiran buruknya. "Sssttt.... yang penting kan, Anuca sekarang punya Kak Abel jadi Mama!"


____________________


Kusandarkan tubuh lelahku. Adzan Isya berkumandang sejak kududuk di kursi panjang teras depan rumah. Badanku rasanya remuk. Tugasku yang seharusnya hanya menjadi supir kini beralih menjadi pengasuh sekaligus mama dadakan.


“Halloooo Eneng Abel, Sayang!” tepuk pundakku oleh Bang Udin yang juga baru pulang kerja. Tempat kerjanya memang dekat dengan rumah.


“Eh kamu Bang, ngagetin aja!”


Kuterima kresek hitam berisi bakso itu dengan senang. Lumayan buat mengganjal perut yang lapar di musim hujan. Sambil kuucap terima kasih kuperhatikan bang Udin dengan seksama.


Dia itu cowok terkeren di kampungku. Namanya aja yang udik. Tapi mukanya yang mirip artis Jeffri Nichol bikin sebagian cewek-cewek kampung pada ngantri jadi penggemarnya. Hanya beda nasip aja dengan Nuca dan Alex. Andai Bang Udin berduit pasti tampilannya lebih asik.


“Kemarin-kemarin Abang liat Neng di kantor. Ngapain, Neng?”


Aku lupa kalau Bang Udin kerja di gedung yang sama dengan Alex.


“Iya, Bang. Nganterin ponselnya si bos ketinggalan.”


“Oh Pak Alex?”


“Iya, Bang. Kantornya sepi ya, Bang… biasanya di tipi-tipi kan kalau bos besar selalu ditemani sekretaris gitu, itu mah kosong.”


“Loh Bu Putri gak ada, Neng?”


Putri?


Dahiku mengernyit. Mungkinkah yang dimaksud Bang Udin adalah Putri yang sama dengan Putri yang kumaksud.


Bergegas ku cek galeri ponselku, menunjukkan foto kami saat kami lulus SMA. “Abang kenal?”


Sejenak dia mengira-ngira, sebelum menjawab penuh keyakinan, “Ini mah Bu Putri! Sekretaris Pak Alex. Dia selalu menemani Pak Alex, kemana-mana selalu berdua.”


Deg~


Jantungku berhenti. Apa maksud mereka? Alex tau Putri sahabatku, dan dia tidak memberitahuku. Putri juga begitu. Yang membuatku marah karena sahabat yang aku sayangi dan kupercayai tidak pernah mengatakan apapun soal itu.


Aku mengerti kalau mereka saling mengenal. Akan tetapi Putri bilang ia akan tinggal di kota seberang. Ia tidak ada di sini sekarang. Kami masih WhatsApp-an, vicall-vicallan, dan semua kegiatan yang masih sempat kami lakukan namun diantara semua itu ia terlihat tidak dekat dengan Alex sekalipun.


Ia bahkan terkaget saat kujelaskan tentang Alex, pun begitu dengan Alex, ia tidak mengatakan apapun bahwa ia mengenal Putri lebih sekedar dari teman di masa lalu. Apa-apaan ini??


____________________


Mungkin Alex hanya mengulang masa lalu. Mengacuhkanku setelah membuat aku sang Upik Apu menjadi si Putri Salju. Siapa aku hingga berhak membuatnya merasa bersalah memperlakukan seperti itu. Aku tau diri sejak awal sikap seseorang tak akan lebih mudah berubah.


Aku ingat betul apa yang menjadi hal yang paling kubenci dari dirinya. Meski terkadang aneh melihat pangeran kodok sepertinya bisa dengan tiba-tiba berteman dengan kodok yang suka berkubang yaitu aku. Seharusnya aku merasa menjadi kodok beruntung dan jangan terlalu percaya diri dengan kelembutan hati yang ditunjukkannya.


Beberapa bulan kami habiskan waktu bersama. Keakraban kami memang di luar nalar. Kami makan bersama, belajar bersama, bahkan membincangkan banyak hal yang tidak masuk akal. Kami seolah menjadi pasangan tanpa adanya pernyataan. Kami melakukan semua melebihi para sahabat menghabiskan waktunya.


Aku sering membawakannya bekal. Menyapanya dengan riang. Bahkan memukul pundaknya tanpa sadar. Keakraban kami yang kutunjukkan tanpa aling-aling itulah yang menyebabkan gosip itu beredar. Kami berpacaran, katanya. Padahal kami bahkan tidak pernah jalan berdua diluar dari sekolah.


Sejak gosip itu beredar semakin kencang memang sikapnya berubah. Dia bahkan mengacuhkanku beberapa kali, kadang kupergoki dia membuang bekal makan dariku. Sering kali ia tidak mau bertatap muka denganku dan tak peduli bully-an yang diberikan teman-temannya kepadaku. Aku tidak mengapa, acuh malah. Sudah biasa!


Tapi saat prom night tiba. Saat yang dinanti oleh para wisudawan macam aku. Dia, Alex Dihardja, memintaku sendiri untuk hadir menemaninya. Memakaikanku gaun yang tidak mampu ku beli. Siapa yang tidak merasa bak putri? Aku GR seketika. Yah, Alex sahabat yang dekat bagai pacar mengundang secara khusus untuk berjalan dengannya di Promo Night. Namun saat pemisbahan raja dan ratu, ia malah mempermalukanku, di depan Elisa, layaknya seorang pembantu.


“Siapa dia sayang?” ucap Elisa sambil bergelayut dipundak Alex.


“Biasa penggemar yang butuh perhatian!” ucapnya yang saat itu masih kusabarkan.


“Bukannya kau dekat dengannya?” seru salah satu gadis di kerumunan.


“Dia?? Yang benar saja… apa dia selevel dengan Dihardja sepertiku," katanya diikuti tawa geli seluruh ruangan.


Mereka menatapku kasian. Seseorang yang tak kutau siapa bahkan menyirami dengan air soda dan lainnya mendorong tubuh lemasku hingga jatuh. Setelahnya entah beberapa orang menjadikan aku bulan-bulanan. Tapi Alex, sang raja prom, hanya berdiri di sana memeluk kekasihnya. Ia ikut tertawa melihat mereka hampir menelanjangi dan menyebutku 'halu.'


Mulai detik itu. Kebencianku padanya tidak termaafkan. Hingga hari ini tiba. Rasanya aku kembali bernostalgia dengan rasa marah yang sama. Bagaimana mungkin setua ini, Alex masih mempermainkan ku dengan berpura-pura tak mengenal Putri. Demikian juga dengan sahabatku sendiri.