
-sudut pandang pengarang-
Langit nampak lebih cerah. Cuaca yang terang, tak terlalu panas juga tak terlalu mendung. Banyak turis berkeliaran sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pantai, atau menyantap seafood di cafe-cafe sepanjang jalan yang ia lewati.
Wajah Abel tampak sumringah, mengingat hari ini Wayan sudah diperbolehkan pulang. Ia sudah menyiapkan semua keperluan Wayan, sebab Tante Rima sibuk mengurus cafe. Tadinya Darian memaksa untuk ikut, akan tetapi itu akan menganggu jadwal les-nya yang seabrek itu.
Ditenteng rantang bekal bergambar ayam jago itu perlahan. Ia mencoba menahan di pahanya agak tidak hancur saat sampai di rumah sakit, meski tukang ojol sudah dimintanya untuk berhati-hati. Ia sengaja memasak kesukaan Wayan. Banyak hal yang membuatnya terikat dengan laki-laki itu. Termasuk karena kebaikannya saat menyelamatkan Abel malam itu.
Wayan rela mengindahkan semua keberuntungan hidupnya dan terlantar bersamanya hidup sebagai manager cafe kecil milik tantenya. Ucapan terima kasih tidak akan membuat hati Abel merasa puas. Itu sebabnya, dia tidak bisa dengan mudah kembali ke tempat asalnya.
Ia ingat pesan tak bertuan yang diterimanya saat itu. Nadanya mengancam.
________________________
Sore itu, Abel ingat sekali. Suasana yang mendung karena kebetulan saat itu musim hujan. Langit nampak redup berwarna keabu-abuan dengan awan bergumpal yang jelas akan menumpahkan tangisnya.
Matanya sudah sangat sembab dan keadaannya juga tidak terlalu baik. Setelah kabur dari rumah Bian bersama Wayan, ia merasa luntang-lantung dan terhina. Wayan membantunya dengan memberi tempat tinggal di tempat tantenya, yang berikutnya diketahui bernama Tante Rima.
Selama bersama dengan Tante Rima sebelum ia memutuskan untuk tinggal dan bekerja di cafe-nya, sering ia merasa tidak nyaman. Terutama sindiran Tante Rima yang begitu keras menyebutnya wanita simpanan yang terbuang, penjaja malam, dan hinaan lainnya. Namun, Wayan selalu memberinya itu, sebuah senyuman pendukung yang membuatnya tegar dan kembali pulih.
"Kalau kau sudah kuat, aku bisa pesankan tiket untuk kembali ke tempatmu..." Kata Wayan yang berbaik hati kala itu.
Abel hanya tersenyum, pikirannya melayang. "Aku sungguh ingin pulang, tapi bagaimana dengan kontrak itu?"
"Aku akan mengurusnya. Tenang saja, Bian tidak akan bertindak apapun. Aku sudah hafal sikapnya. Setelah penghinaan yang diterimanya kemarin, ia tidak akan membicarakan hal itu dalam waktu yang cukup lama. Kenapa?"
Wayan melihat mimik muka Abel berubah. Semacam orang yang ketakutan. "Ada apa, Bel?"
"A-aku... Menerima ini tadi pagi..." Serahnya secarik kertas yang kusut kepada Wayan.
[Jika kau kembali, maka Anuca akan mati!]
Wayan melihatnya dengan sungguh-sungguh. Ia juga tampak bingung. Ancaman tersebut sangat tidak masuk akal baginya, siapa yang melakukan hal itu? Coba Wayan memikirkannya.
"Aku tidak bisa kembali. Bian tidak memperbolehkanku!" tubuhnya melemah dan jatuh. Seolah ia telah menunggu lama untuk berhenti bersikap tegar.
"Ini bukan Bian. Darimana ini?"
"Adik kecil tambun yang biasa membawakan baki makanan. Di-dia bilang, ada seseorang melemparkannya dari arah pagar depan. Maafkan aku!"
"Siapa Anuca? Aku tidak mengenalnya, Bian juga tidak. Jadi bukan dia yang melakukan ini."
Wayan menarik pundak gadis di depannya yang terlihat pucat sambil menyandarkan diri di tembok kamar. Ia mengguncangkan pelan berharap Abel tersadar.
"Apa kau punya musuh, Bel?"
Abel tertegun mendengar pertanyaan yang Wayan berikan ia memberikan tatapan bingung.
Musuh?
Masa lalunya bukan sesuatu yang indah. Namun, jika pertanyaan itu betul mengenai musuhnya, siapakah itu? Abel berusaha mengingatnya.
Apakah ia telah melukai seseorang?
Apakah kehidupannya terlalu indah sehingga banyak orang yang membencinya? Abel berusaha mengira-ngira, membuat list yang cukup pendek karena memang ia tak dapat membayangkan siapapun.
Hingga, sebuah ingatan sebelum ia diculik saat akan pergi dari kehidupan Alex dan Anuca. Kalimat yang dilontarkan Bang Syaif terngiang dibenaknya. Tentang seseorang dibalik Nuca.
Siapa yang begitu membencinya?
"Arghh... Aku tidak tau, maaf!"
"Baik, terserah. Jika kau tidak kembali. Maka aku akan menjagamu disini!"
Senyuman indah yang diberikan Wayan saat itu mampu menghapus kecemasan yang membanjiri pikiran Abel. Saat itu dengan cepat Abel merasa nyaman. Sehingga ia putuskan untuk tinggal dan hidup sebagai Bela.
____________________
"Selamat siang, Bos!"
Kaget Abel yang masuk tanpa mengetuk pintu. Saat itu Wayan terlihat bercengkerama dengan perawat tampan yang nampak nyaman menemaninya. Tag nama yang dibaca Abel adalah, Ronald. Si Ronald ini nampaknya selesai mengajak Wayan keliling menggunakan kursi roda.
"Ah... Baiklah, Bapak Wayan. Saya tinggal dulu. Permisi!"
Ronald adalah perawat macho pertama yang Abel tau, selain wajahnya yang terlihat sangat Asia. Sesekali ia melihat bagaimana keduanya, Wayan dan pria itu berinteraksi. Sedikit memberikan lambaian tangan perpisahan dan senyuman penutup sebelum berlalu keluar kamar.
"Ehem... Ternyata ganteng juga ya, Bos. Kayaknya dia juga baik. Jangan bikin orang baper ya, Bos!" Goda Abel pada bosnya yang terlihat kesulitan dengan kursi rodanya.
"Berisik! Bawa apa?"
Abel menyodorkan rantang bekalnya ke arah Wayan, "Ini spesial! Untuk Bos Wayan tersayang."
"Kenapa gak menghargai hasil karya orang sih. Dasar!" Dipukulnya pelan bahu Wayan tampak ngambek.
Wayan hanya tertawa sambil mengusap ujung rambut Abel dengan manja. "Aku juga belum makan. Mau nyuapin gak?" Katanya manja.
"Apa? Bos kan bukan bayi, makan sendiri. Ini!" Serahnya rantang itu setelah ia menatanya lengkap dengan sendok dan gelas airnya. "Aku akan menyiapkan pakaiannya sebelum pulang."
"Siapa yang membawaku ke sini?"
Abel terhenti, "A-anu... I-itu..."
"Siapa? Bian bukan?"
"Ahh... I-iya!"
"Ternyata, dia... Sudah kuduga."
"Sebaiknya kalian berbaikan. Aku saja sudah memaafkannya."
"Kau tidak akan mengerti, Bel. Hubungan kami berbeda," matanya mengawang seperti kalimat yang dikeluarkan terlalu berat untuk diucapkan. "Sudah ayo makan! Aku lapar!" Serunya mengalihkan.
Hubungan mereka yang tak akan dimengerti oleh Abel. Ia hanya berharap suatu saat ia terlepas dengan semua lingkaran setan yang menderanya. Tentang siapapun yang disakitinya.
Mungkin itu sebuah karma dikehidupan masa lalunya. Begitu Abel sering menguatkan diri. Hidupnya begitu rumit dari sekedar Cinderella yang dicari untuk dipasangkan sepatu kaca. Seandainya semua semudah itu...
Dengan rapi Abel menyiapkan keperluan Wayan sebelum pulang. Sedang Wayan masih asik dengan sendoknya menyantap lahap menu sederhana yang dimasak Abel khusus untuknya. Sesekali Wayan menggoda dengan menyebutnya keasinan dan sebagainya, hanya untuk menyunggingkan senyum di bibir Abel yang indah.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Awalnya Abel mengacuhkan karena sibuk dengan lamunan dan tugasnya.
"Hey... Ponselmu berbunyi dari tadi. Apa kau mau angkat atau tidak?"
"Heh!"
Abel baru tersadar ada hampir 5 panggilan tak terjawab. Semua dari Alex. Halah, mungkin membahas masalah kepulangannya. Ia sedang tidak ingin membalas itu sekarang. Dilempar gawai layar lebar itu di atas dipan pasien.
"Kenapa gak diangkat?"
"Gak penting..."
"Dari siapa? Bian?"
"Bukan!"
"Lalu, siapa?"
Belum sempat ia menjawab, ponsel itu kembali berdering. Wayan memberi isyarat untuk menerimanya. Meski enggan ia pun terpaksa menerima dengan ogah-ogahan.
"Ada apa lagi, Lex?"
"Abel, kau di mana? Bang Syaif kecelakaan..."
________________________
Langkahnya cepat. Pikirannya sibuk dengan berbagai hal yang tak masuk akal. Seseorang seperti Bang Syaif, terjatuh dari lantai atas hotel? Masuk akalkah itu?
Ia tau betul bagaimana telitinya Bang Syaif setelah menjadi Bang Syaif. Ia seorang pengawal yang memenuhi semua persyaratan terbaik. Kemampuan motorik yang luar biasa dibarengi dengan kemampuan bela diri yang di atas rata-rata.
Alex menjelaskan dalam teleponnya tadi, ia bilang, "Maafkan, Bel. Aku juga tidak mengerti bagaimana kejadiannya. Polisi menghubungiku soal kejadian ini. Mereka bilang menemukan Syaif jatuh dari lantai atas hotel."
"Lalu, di mana kamu? Bukankah Bang Syaif tidak akan pergi darimu?"
"Aku yang mengijinkannya untuk pergi. Setelah kau pergi dari klinik, aku hanya ingin sendiri. Dia juga seperti orang yang bingung dan meminta ijin keluar. Aku di pantai sepanjang waktu tanpanya."
"Bang Syaif tidak mungkin seceroboh itu, Lex."
Abel sering membayangkan Bang Syaif bergerak seperti Ji Chang Wook saat melindungi kekasihya dalam drama Korea K2. Meski wajahnya lebih maskulin dari itu. Oh good! Bagaimana mungkin? Ia tidak akan seceroboh itu hingga terjatuh dari balkon kamar hotel.
"Alex!"
Abel berlari memeluk Alex yang duduk memangku tangan khawatir di depan ruang operasi. Ia hanya ingin memeluknya untuk berbagi empati dengan Alex yang juga tampak shock menghadapi berita itu.
"Bagaimana keadaannya?"
"Ia baru saja dipindahkan. Dokter bilang waktu kritis adalah malam ini. Jika ia tidak juga sadar kemungkinan ia akan mengalami koma."
Mendengar kata koma, Abel tidak dapat membayangkannya. Dari balik kaca kamar ICU ia melihat betapa lemahnya Bang Syaif. Apa yang terjadi dengannya?
Ia terus berharap Bang Syaif terbangun dan memanggil namanya dengan lantang. Abel belum sempat mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang dilakukannya. Ia tak pernah menafikkan Bang Syaif sama sekali meski ia pergi juga karena permintaannya. Karena ia percaya Bang Syaif selalu memberikan yang terbaik darinya.