
Saat terbangun Anuca menceritakan semuanya lebih jelas. Tentang keadaan Alex yang tertahan di kamarnya sendiri juga mengenai perintah pamannya untuk kabur melalui langkah pengelabuan seperti yang direncanakan. Meski ia telah menjelaskan sebelumnya namun kali ini ia menceritakan dengan perasaan yang sedikit lebih lega.
Sementara itu di dapur, Nuca sedang menyiapkan makanan. Sambil menunggunya kami pun duduk berbincang untuk mengalihkan kesedihan Anuca. Aku hanya takut bahwa ia menjadi depresi dan trauma.
Si bungkus kacang bahkan beratraksi dengan caranya memasak. Membuat Non Nuca tertawa lebar penuh kebahagiaan.
Akupun ikut tertawa. Namun makin lama kuperhatikan lebih dekat kenapa ada sesuatu yang sangat familiar. Mereka itu, mirip. Entah bagian mananya. Tapi terasa hampir sama.
“Ayo makan, Ma!” ucap gadisku membangunkan lamunan.
“Hmm oke! Kita liat bagaimana rasanya.”
“Eh lo tau di luar negeri gue uda biasa masak sendiri!”
“Masak apa? Masak air”
“Menghina? Gue masak berbagai menu Indonesia … tapi dalam bentuk mie instan sih.”
“Hmmm garing!”
Tiba-tiba, muka nonaku sayang berubah. Raut mukanya sedih. Kupikir mungkin karena memikirkan Alex yang masih ditahan ayahnya.
“Mungkin begini rasanya punya keluarga ya, Ma?”
Nuca dan aku yang tadinya tersenyum sontak diam. Saling melirik satu sama lain.
“Kenapa?” tanyaku sambil memeluknya.
“Punya Papa dan Mama lalu sarapan bersama. Nuca seneng banget! Nuca mungkin bukan anak yang baik sampai dihukum Tuhan. Mama Nuca pergi dan tinggalin Nuca sendiri.”
Mendengarnya kami langsung memeluknya penuh simpati. Gadis sekecil ini, bagaimana mungkin seterluka ini.
Kasian sekali!
Aku melihat Nuca. Ada pandangan aneh saat ia melihat gadis kecil di depannya. Bukan pandangan mengasiani tapi lebih pada mengasihi.
Sungguh mereka berdua benar-benar mirip. Andai aku tak tau, aku pasti mengira bahwa mereka ayah dan anak.
__________________________
-Sudut Pandang Pengarang-
“Alex!” sapa Putri dengan suara berbisik.
Ditangannya ada sekotak perlengkapan P3K. Didekati Alex yang tangannya terluka karena berusaha kabur dari rumah beberapa waktu lalu.
“Kenapa kau kemari? Lepaskan!” jawab Alex lemah. Ia tak ingin tertipu lagi oleh bujuk rayu Putri seperti saat itu.
Ia menampik tangan Putri yang berusaha merawat lukanya.
"Apa kau ingin menipuku lagi? Keluar, aku tidak mau melihatmu lagi."
"A-apa? Kenapa? Bukankah kau menikmatinya? Apa salahku?"
"Pergilah! Kecuali ada kabar tentang Abel. Kembalilah saat itu tiba."
"Apa? heh! Kau masih merindukannya? Seharusnya kubiarkan saja Papamu menangkapnya saat itu. Dengan begitu kau tidak akan terlalu peduli dengannya."
“Bagaimana mungkin ada orang sejahat dirimu hah?!” teriak Alex keras.
Putri tersinggung mendengarnya, “Apa??”
“Kau bisa mengkhianati sahabatmu sendiri. Kau tau bagaimana Abel mempercayaimu?”
“Kalau aku ini jahat, bagaimana dengan keluargamu?”
Putri menyeru dengan keras, mimik dan gesture-nya berubah. Lebih kaku dan terlihat jahat.
“Kau tau bagaimana Dihardja membangun dinastinya? Berapa darah yang dikorbankan? Kau tau berapa orang yang menangis karenanya?”
Diambilnya gunting dalam kotak P3K, “Ikut denganku? Kita bisa bersama menghancurkan dinasti ini …” ancamnya sambil menodongkan gunting ke leher Alex.
Untuk beberapa saat Alex terpojok. Akan tetapi setelah itu ditangkisnya gunting tersebut dan membalik situasi.
“Siapa dibelakangmu?”
“Aa-apa? Apa maksudmu?”, ucap Putri setengah tersudut.
“Siapa dalang perencana ini semua? Aku tau itu bukan kau, katakan?! Atau kau akan mati!”
Tapi jawaban Putri justru membuat Alex terkejut. Dia bukan hanya menolak menjawab tapi dia bahkan menyuruh Alex membunuhnya.
“… karena hanya kematian yang bisa menghentikan dendamku!”
Alex langsung melempar gunting itu saat leher Putri mulai berdarah karena ia sendiri berusaha menusukkan ke lehernya sendiri.
“Kau sudah gila!”
“Aku lebih gila karena mencintaimu, Lex. Kau alasanku terlalu lunak!”
Putri langsung bangkit dan keluar kamar. Namun sebelum keluar ia mengingatkan tidak akan berhenti sampai dendamnya kepada semua keluarga dari Dihardja mati.
“Aku ingatkan sekali lagi, Lex. Ini adalah kesempatan terakhirmu. Ikutlah denganku dan pergi dari sini, kita akhiri dendam ini, atau … kita sama-sama mati!”
“Aku tidak bisa melepaskan Abel untuk kau sakiti ataupun Papa!”
"Ingat, Lex. Bagaimana perasaan Abel saat kau sendiri telah mengkhianatinya heh? Perasaan Abel saat tau kau telah meniduri sahabatnya?"
Alex mencoba mencerna mengenai semua kongsi ini berawal. Saat Putri menawarkan diri memberi solusi untuk menghancurkan Suwito Group menggunakan Abel.
Abel yang diketahui sebagai orang yang dikasihi CEO muda mereka pasti akan menghancurkan konsentrasinya.
Awalnya ia tak mau melakukannya. Akhirnya ia menyesal telah melakukannya.
_________________________
Dibalik pintu kamar Putri menunduk. Ia teringat bagaimana dendam kesumat dalam dadanya ini bermula.
Saat ia masih berusia 9 tahun. Awalnya keluarganya hanyalah keluarga kecil yang bahagia. Semuanya indah termasuk ayah bundanya.
Namun di pekan yang kelam itu. Saat para polisi datang menjemput ayahnya atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Bundanya meraung-raung memohon ampun agar polisi tidak membawa suaminya.
Putri kecil yang tidak tau apa-apa ikut menangis disamping bundanya. Ia hanya berharap bahwa hari itu hanya mimpi yang akan hilang saat ia bangun. Namun, kenyataannya itu bukan mimpi.
Bundanya yang biasa hidup mewah sangat kaget dengan kehidupan setelahnya. Perusahaan ayahnya telah diambil alih oleh orang yang akhirnya ia tau siapa. Keadaan yang awalnya mudah menjadi susah sehingga mereka harus hidup di kolong jembatan.
Hingga sang bunda yang terluka dan terlunta-lunta akhirnya memutuskan menjual diri agar bertahan hidup. Dan setelah itu, kehidupannya tidak pantas dibanggakan.
Tapi orang itu. Dialah tokoh utama dibalik kekuatannya untuk membalaskan dendam ya. Ia orang yang membuat kehidupannya bangkit. Membiayai hidupnya hanya dengan satu kesepakatan. Menghancurkan keluarga Dihardja.
_________________