
"Apa ini?" mataku berpendar melihat tumpukan dokumen di atas meja yang dilemparkannya padaku.
Visa dan tiket, semua atas namaku, memangnya kita mau kemana? sergah pikiranku kemana-mana.
Bian hanya tersenyum, "Sebagai permintaan maaf ku, kita akan jalan-jalan ke Eropa. Kau suka kan?"
Entah harus aku jawab apa atas pertanyaan yang dilontarkannya. Eropa bukan seperti jalan-jalan Jakarta-Bandung. Mudah sekali dia menganggap ini seperti perjalanan biasa.
"Maaf, maksud kamu apa?"
"Lusa keberangkatan pertama. Kamu dan aku, ke Eropa."
"Gila?!" Kuangkat tubuhku menjauh darinya. Berharap kegilaannya berhenti. Aku tau dia itu sekaya cemilan Oreo Supreme buat ganjel kursi, tapi gak gini-gini juga kan?
"Siapa yang mau ke Eropa? Kalau kau ingin minta maaf, cukup keluarkan aku dari kamar busuk ini. Aku mau pulang. Bisa?"
Bian tampak terdiam. Jantungku berdetak tak karuan. Mungkin ucapanku terlalu kasar. Jujur, dengannya aku sangat ketakutan dan juga tenang dalam waktu bersamaan. Sejahat apapun dia yang kutau, tapi pasti dia akan melindungiku. Aku tidak pernah meragukan tujuannya dalam memanfaatkan hidupku.
"Bel?"
Tatapan itu. Aku melihatnya lagi. Tatapan sayu dan terluka. Sebenarnya ada apa denganmu, Bian? Kenapa kau terus berubah sikap, baik dan jahat, secara bergantian. Aku seakan terjebak untuk selalu memaafkan seberapapun luka fisik yang ia berikan.
Bian berdiri mendekati lemari kecil di sebelah bufet kaca. Aku tak tau apa yang diambilnya, sesuatu yang hitam. Entah, apa itu...
"Ini!" Sebuah senjata api. Pistol. Untuk apa? Kutatap ia lekat-lekat mencoba mencari penjelasanya. Melihat senjata itu saja membuat bulu kudukku begidik, apalagi menyentuhnya. "Simpanlah! Bunuh aku jika aku melukaimu lagi... Ingat itu!"
Ia terduduk lemas sambil berurai air mata. Bian menangis dalam arti sebenarnya, menjatuhkan figur gagah dan garang yang melekat di dirinya. Seperti sebuah permintaan terakhir yang begitu aneh diucapkannya. Kudekati ia tanpa ada niat apapun. Melihatnya begitu lemah membuatku sedikit terluka. Bukan Bian yang kukenal jika dia seperti laki-laki cemen yang patah hati seperti ini.
Kupeluk ia pelan berharap ada penjelasan mengapa ia melemah. Dia hanya melepas pelukanku sambil meraba bilur-bilur dalam badanku yang kini membiru matang. Aku mulai paham rasa bersalahnya.
"Aku sakit, Bel. Aku tak sanggup kehilanganmu, tidak akan pernah. Maafkan monster dalam tubuhku," kembali ia memberiku tatapan itu. Kelu rasanya aku membalas tatapannya.
Kuhapus air mata yang banjir di pipinya. Kusunggingkan sebuah senyuman berharap ia tau bahwa aku telah memaafkannya. Luka di tubuhku serta semua kesakitan yang dibuatnya untukku. Itu hanya tak sebanding dengan apa yang dilakukannya. Ia telah menyelamatkanku... Sebagai laki-laki dengan tujuan yang jelas di sampingku.
"Pulangkan aku, Bi."
Langit kamar terasa lebih menghangat begitu pelukan kami berakhir. Cahaya terang terik mentari siang di luar jendela membuatku ingin menikmatinya. Maafkan aku, Bi. Aku bukan pembunuh.
"Jika monster dalam badanku kembali melukaimu, bagaimana?"
"Maka, kuminta tolong pada Bian yang ada di dalamnya untuk melawan. Bisa tidak?"
_______________________
Ibu pemilik kontrakan tampak garang berdiri di depan pintu rumah. Ia pasti sadar aku beberapa hari tidak pulang, atau mungkin karena aku terlalu sering membuat gaduh di wilayahnya. Entah kenapa, tapi ia terlihat sangat marah. Aku hanya menunduk sambil merayunya dengan senyuman terbaikku.
"Darimana saja? Tidak pulang-pulang..."
"A-anu... Itu," gagapku tak mampu menemukan sebuah alasan yang tepat.
Sampai ia menyadari tubuhku yang nampak memar, "oh Tuhan! Kenapa kamu? Siapa yang melakukan ini? Kemarin ada preman dihajar, sekarang kamu lebam-lebam. Apa hidupmu harus seperti film action, Bel?" Pertanyaannya begitu tak jelas untukku harus dijawab apa.
"Kemarin Wayan ke sini mencarimu, Bel. Katanya meneleponmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban, memangnya kamu habis dari luar angkasa sampek tidak ada kabar?!"
Omelannya hanya kubalas senyum singkat karena aku sedang malas mendebat. Kulangkahkan kaki maju tanpa peduli ocehannya yang masih lebih panjang dari tiga gerbong kereta.
"Permisi, masuk dulu. Mari!" Tawarku mengindahkannya yang pasti dongkol sebab kuacuhkan.
Kulempar tas setelah mengambil ponsel yang tersimpan di dalamnya. Ku lihat banyak panggilan tak terjawab dari Wayan, Hera, dan Alex. Tentu, mereka akan mencariku dengan alasan-alasan tertentu.
Berpuluh pesan chat kubaca. Mereka terlihat sangat mengkhawatirkan aku. Namun sayang, aku sedang tidak ingin diperhatikan. Saat ini aku hanya ingin tau kabar mengenai Bang Syaif. Ku coba mencari informasi dari portal berita lokal, memang ada berita Bang Syaif yang dikabarkan bunuh diri.
Beberapa situs berita mengatakan hampir setara, seolah mereka sedang janjian atau bagaimana. Tanggapan polisi juga sama, tidak ada bukti kekerasan, Bang Syaif dalam keadaan mabuk berat, dan terjatuh.
Sesulit aku mempercayainya tapi sepertinya itulah yang terjadi. Kutekan tuts nomer di layar ponselku. Sambil menunggu tak lupa kusenandungkan doa untuk Bang Syaif. Dia pasti baik bukan?
"Hallo, Lex?!"
"Astaga, Abel. Darimana saja kamu? Aku mencarimu."
"Maafkan aku. Kau tidak usah khawatir. Bagaimana kabar Bang Syaif?"
"Dia masih tidak sadar. Aku bermaksud memindahkannya ke rumah sakit besar karena aku akan kembali."
"Aku sungguh berharap kau ikut denganku."
"Kapan itu?"
"Akhir Minggu ini, Bel."
Aku hanya bisa menahan nafasku, ke Eropa dan pulang ke rumah. Rasanya seperti sebuah pilihan yang mudah. Sayangnya, pulang bukanlah sebuah pilihan. Aku masih belum tau siapa yang menjualku, aku juga tidak tau apakah surat ancaman yang diberikan padaku dulu masih berlaku, atau...
Banyak kemungkinan dan aku merasa tidak aman. Pikiranku bercabang. Tak sanggup kutahan semua bisikan yang menggema memintaku untuk segera pergi dari neraka ini. Namun, sekali lagi bukannya aku tidak mau, tidak mampu, tapi... Mungkinkah kecelakaan yang terjadi pada Bang Syaif adalah bagian dari ancaman itu?
"Bel, Abel, halo? Kau masih di sana?"
"Ahh, iya iya. Maafkan aku."
"Ada apa denganmu, Bel? Katakan kalau ada sesuatu."
Aku terdiam tanpa sadar. Pikiran ini rasanya membeku. Setan apa yang membimbingku untuk tetap bertahan. Karena apa? Aku tidak dapat berpikir jernih sekarang. Bahkan mungkin aku tak punya pikiran.
"Abel? Tunggu aku, aku akan ke rumahmu."
"Ahh, tidak bukan begi..."
Tut-tut-tut
Aku bahkan belum sempat meneruskan ucapanku. Ahh, ada apa denganku, pekikku seperti ingin melompat.
_____________________
[Ku tunggu di pantai]
Send.
Kusibakkan kakiku menghantam buih-buih ombak. Pandanganku semu, pikiranku kosong, tubuhku bergerak kemana angin mendorongku. Kuabaikan keramaian di sekeliling, berharap kisah Cinderella ini berakhir.
Mencintai Alex sama sulitnya dengan dicintai Bian. Diantara banyaknya variabel kehidupan, tidak dibanding keduanya yang membuatku bahagia. Bersama Alex, aku masih mempertanyakan ketulusannya. Dengan Bian, aku tersakiti. Tidak ada cinta yang membuatku bahagia hanya luka dengan cara yang berbeda.
"Abel..."
Alex berpangku diantara dua kaki sambil menata nafasnya. Ia berteriak kencang sambil berlari mengejarku yang hilang arah seperti layangan putus. Aku bisa mendengar bagaimana dia begitu ngos-ngosan mengejarku dari tepi pantai. Hembusan nafasnya cepat dan terlihat berkeringat.
Hingga ia dapat berdiri tegak dan kamipun berhadapan. Ia terlihat tampan, dan itu yang membuatku pernah gede rasa dengan semua perhatiannya. Namun, apa daya cintanya kala itu hanya untuk Elisa, dan aku? Aku hanya pernah menjadi bagian propaganda, pertaruhan, atau properti dalam balas dendamnya.
"Jangan pergi!" Ditariknya tubuhku hingga berguncang dalam pelukannya. Guncangan yang menyadarkan ku apa pilihan paling tepat antara keduanya.
"Dari mana saja kau? Apa yang terjadi, Bel?" Aku dapat melihat betapa gugupnya ia mengatakan itu. Pandangannya bergetar tak tetap pada satu titik.
Kutundukkan mukaku, "Pergilah, Lex!"
"A-apa?"
"Pergi, aku bilang pergi. Pergilah dari hidupku," teriakku sembari memberinya tatapan nanar penuh kemarahan, "kaulah yang pertama kali menjerumuskanku ke lingkaran setan ini pertama kali... Kumohon, pergilah!"
"Apa maksudmu, Bel? Kita sudah berbaikan dengan masa lalu, kenapa kau tiba-tiba mengusirku."
Kupalingkan mukaku menghindari tatapan yang pasti akan buatku goyah, "aku berdamai dengan masa lalu, tapi tidak denganmu..."
Kembali kutatap ia dengan semua kekuatan yang tersisa. "Aku tidak ingin menjadi Cinderella, aku akan melepaskanmu... Pergilah!"
"Apa ini semua, Bel?" Ditariknya kembali tanganku hingga ku terpelanting di pelukannya. "I love you, Bel!"
Kulempar tubuhnya hingga dia pun gontai hampir jatuh, "katakan itu pada Elisa. Kau mencintainya! Aku tau, Lex. Jangan buatku seperti orang bodoh. Aku tau!"
"Tau apa?"
"Kau tidur dengannya saat menjemput Anuca. Kau bilang sangat mencintainya. Lalu mendadak kau bimbang saat aku kembali dan dokter mengatakanmu sakitku. Aku tau, Lex. Aku tau! Rasa cintamu hanya balas budi untukku. Berhentilah berpura-pura dan kembalilah padanya, kembalilah pada Elisa," teriakku lebih kencang.
Aku berlari menjauh, mengacuhkan teriakannya yang menggema di telingaku. Tangisku mengering terkena terpaan angin. Aku sudah kehilangan kekuatan untuk menangis, berlari sekencang yang ku bisa menjauh dari Alex akan menyelamatkannya.
Iya, sebelum ada Bang Syaif kedua. Kau harus pergi, Lex. Harus!