
Kupicingkan bola mataku mengitari dua lelaki yang duduk di depanku. Gesture-nya kikuk dan tak nyaman. Terserah saja, aku juga dibuat mereka tak nyaman. Bagaimana mungkin aku terlibat suatu konspirasi yang lebih besar dari nyembunyiin selingkuhan Pak RW dari bini keduanya.
Bang Udin terlihat mundur. Ia berdiri meminta ijin keluar. Alasannya karena ia tidak bisa kabur dari pekerjaannya. Takutnya, ia justru jadi tersangka di mata kelompok Dihardja. Tapi kutolak dengan memperlihatkan raut marah. Lalu bagaimana dengan Nuca?
Sesekali ia tersenyum memohon ampun yang tak kuindahkan sama sekali.
"Ayolah..." serunya mengiba. Tapi aku hanya membalas sinis atas semua ucapnya.
Akhirnya setelah intimidasi yang cukup lama dan intens. Nuca menyerah dan menceritakan hampir keseluruhan cerita. Hampir, karena aku rasa masih banyak yang di tutupinya.
“Jadi Anuca bukan anak Pak Dihardja?”
“Bukan!”
“Pantas Alex selalu dipanggil Paman, meski dia selalu beralasan bahwa itu hanya salah panggilan saja karena malu punya adik di usianya.”
"Benar, bukan Pak Dihardja papanya..."
"Lalu siapa?"
"Gue juga tidak tau. Seberapa penting Anuca itu dalam keluarga Dihardja. Menurut lo?"
"Eh... a-aku? Menurutku tidak mungkin Dihardja memasukkan orang lain dalam istananya. Namun yang jelas, aku tau betul bagaimana mereka memperlakukan nona mudaku itu dengan tidak layak." celotehku atas semua uneg-uneg yang ada.
Itu adalah salah satu isi penting dari sebagian percakapanku dengan Nuca hari itu. Sebelum akhirnya ia kembali menyebutkan statusnya yang masih saudara dengan keluarga Dihardja, mengenai bagaimana papanya terusir oleh kakak kandungnya sendiri. Yah, Nuca ternyata adalah sepupu Alex yang tak pernah disebutnya.
Penjelasannya cukup membuatku simpati dan masuk akal. Satu-satunya yang tidak dapat kumengerti adalah bagaimana kepentinganku hingga masuk dalam cerita mereka. Siapa aku? Kenapa aku ikut terlibat dalam konflik Nuca dengan pamannya? Apa alasan Pak Dihardja mengejar-ngejarku seperti itu?
Nuca kemudian menjelaskan detail tentang buruknya sikap keluarga Dihardja terhadap dirinya. Termasuk sifat Alex yang tidak bertanggung jawab meski beberapa pernyataannya mengenai Alex kusanggah dalam hati. Aku yakin Alex tidak sejahat itu meski ia memang telah menyakitiku.
“Berangkatlah … jangan sampai Putri curiga!” perintah Nuca berikutnya pada bang Udin.
Asumsiku, meski tidak dijelaskan olehnya, Bang Udin kemungkinan adalah anak buah Nuca. Itu cukup memenuhi hasrat penasaranku mengenai banyak hal kemisteriusan Bang Udin yang kemudian menjadi masuk di akal. Cowok sekeren Bang Udin hanya menjadi ojol dan tukang parkir sepertinya kurang masuk di nalar.
“Baik, Pak!”
“Bang Udin!” cegahku sebelum bang Udin benar-benar pergi. “Tolong kabari aku bagaimana keadaan Non Anuca, ya!”
Bang Udin hanya mengangguk mengiyakan. Aku benar-benar khawatir dengan keadaannya. Aku tidak peduli jika aku menjadi alat balas dendam siapapun diantara mereka atau apapun yang menyangkut itu, namun pertemuanku dengan Nuca merupakan takdir Tuhan untukku.
Mungkin, memang ia putri kecil yang dititipkan Tuhan untukku. Mendengar penjelasan dokter saat itu membuatku lebih menghargai takdirNya untuk mendekatkan kami berdua. Anuca adalah berkah Yang Kuasa untukku. Karena mungkin aku tak akan memiliki seperti Anuca lagi.
“Lo gak apa-apa?” tanya Nuca khawatir. Mungkin karena melihatku yang memucat.
“Aku agak pusing. Badanku meriang tidak enak badan memang. Jadi jangan khawatir!”
“Maafin gue, gue gak pernah nyangka bisa ngelibatin lo di situasi seperti ini.”
“Hmmm!”
"Abel? Kenapa lo? Badan lo menggigil, Bel. Lo demam! Yakin gak apa-apa?"
"Hmmm..."
Aku hanya bisa berdehem pelan sambil menahan sakit di perut bagian bawahku. Siklusku membaik setelah dokter memberiku pil itu. Tapi entah kenapa aku masih merasakan kram ini dan sepertinya makin menjadi. Tuhan aku masih belum mau mati.
Dan akupun ...
___________________
-Sudut Pandang Pengarang-
Anuca kecil membolak-balik kertas dari pamannya. Sebenarnya dia tidak ingin membukanya. Tapi pamannya bilang, ia bisa melakukannya jika memang terpaksa karena saat ini ia tidak bisa meminta tolong pada siapapun.
Dibukanya kertas itu dan dibacanya sembunyi-sembunyi. Meski Bi Inah mengawasi, dia yakin Bi Inah tidak peduli selama tidak menganggunya menonton tivi.
Maka dia akan memulai aksinya. Pamannya meminta ia untuk keluar dari rumah sakit. Dan menemui seseorang yang ia sebutkan alamatnya dalam kertas tersebut. Caranya ia harus berpura-pura sakit hingga ia harus dilarikan ke rumah sakit.
Tapi bagaimana?
Sedang dokter selalu siap sedia di istana rumahnya. Apapun yang dibutuhkan tanpa perlu keluar rumah. Bahkan segala perlengkapan medis juga telah disiapkan andai-andai ada hal buruk terjadi. Semuanya telah dipersiapkan Dihardja atas segala kemungkinan.
Kemudian dia ingat alerginya pada telur sangat parah. Apapun olahan yang mengandung telur pasti membuatnya sesak dan pingsan. Maka dengan setengah memaksa dia meminta masakan untuknya.
Dia pun meminta untuk dibuatkan makanan tertentu. Dengan terpaksa Bi Inah menuruti, olahan mie goreng seafood yang sangat disukai Alex dan ayahnya. Tapi kandungan telur di dalamnya tidak bisa dimakan oleh Anuca.
Tiba-tiba mata Anuca melotot, nafasnya pendek dan tersengol-sengol. Bi Inah yang dari tadi cuek ikut panik dibuatnya. Ia pun segera memanggil dokter, namun karena perlengkapan yang tidak memenuhi terpaksa Anuca dilarikan ke rumah sakit.
Nona muda itu telah memperkirakan dosisnya sehingga ia tidak makan terlalu banyak untuk cukup sadar penanganan yang dilakukan untuknya. Ia hanya berpura-pura bahwa itu lebih parah dari kelihatannya.
Ambulance cepat mengantar Anuca ke rumah sakit keluarga. Gadis itu hanya menunggu waktu untuk dipindahkan ke kamar inap setelah dari IGD.
Segera tubuh mungilnya dipindahkan ke ranjang beroda menuju IGD. Namun tak disangka, ia berpapasan dengan mamanya. Nuca hampir memekik girang namun diurungkan saat melihat kondisi Abel yang mengerang kesakitan.
Disebelah Abel terlihat lelaki gagah yang pernah dilihatnya di album keluarga. Seseorang yang berfoto dengan mamanya. Tapi ia lupa namanya, ia ingat mamanya sebelum pergi pernah menyebut namanya sekali.
____________________
Setelah diberikan obat penahan rasa nyeri di ***** aku mulai merasa enakan. Kepalaku masih pusing dan masih terasa demam. Nyeriku ini makin menjadi hingga membuat Nuca panik dan melarikanku ke rumah sakit. Syukurlah, Nuca masih setia menemaniku dengan cemas.
“Maaf!”
“Tidak apa-apa, yang penting elo sehat. Emak gue larang ikut. Sekarang lo uda enakan kan?"
"Hmm... jangan khawatir, aku da biasa gini."
"Sebenarnya ada apa, Bel? Lo sakit apa?"
"Nuca... Lo gak ngerti ini urusan cewek. Tiap cewek pasti ngalamin yang aku alamin tiap bulannya."
Nuca terdiam sambil meremas tanganku kuat. Ia tersenyum tapi sangat terpaksa. Kami saling diam dalam waktu yang lumayan lama. Aku tidak mungkin menceritakan padanya, dan dia sepertinya enggan bertanya. Jadi biarlah semua begitu. Tapi beberapa waktu, terlihat ia agak panik. Ditutupnya selambu yang menyekat ruanganku.
"Tapi sori Bel ... ”
“Kenapa?”
“Kita harus pergi dari sini segera! Gue yakin banyak mata-mata Dihardja yang bisa ngasih tau kondisi lo disini.”
Aku hanya mengangguk dan menerima ajakannya untuk segera pulang dan melanjutkan untuk berobat jalan. Kulihat diriku yang lusuh.
Apakah kondisiku semakin memburuk?
Aku bahkan tidak sempat memikirkan itu?
Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar sambil menunggu Nuca mengurus administrasi di lobi. Kupalingkan mukaku kearah IGD tempatku tadi melakukan injeksi. Tanpa sengaja kulihat gadis kecil itu.
“Non Anuca!” bekapku. Aku mencoba menahan setelah kulihat beberapa pengawal yang menjaga.
Takdir Tuhan apalagi ini?
Tanpa pikir panjang, ku masuk ke ruang ganti dan memakai baju penutup untuk tindakan operasi, memasang masker dan penutup rambut lalu masuk melewati pengawal Non Anuca.
Kusapa gadis kecil itu dengan telunjuk dibibir. Dia mengerti dan mengikuti arahanku. Sebelum kami ketahuan lalu lari kabur menjauh.
“Berhenti!” seru pengawal-pengawal itu.
__________________