
Aku sengaja tidak meminta ijin pada Nuca akan menemui Putri. Aku tau resikonya. Entah mereka akan membunuhku atau apa tapi setidaknya aku mendapatkan jawaban kenapa ini terjadi.
Kududuk menunggunya disebuah gazebo rumah makan khas Sunda yang sangat ramai di jam makan siang. Aku memilihnya karena kupikir bisa meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
Dari kejauhan nampak sosok yang 180⁰ berbeda dengan yang kukenal selama beberapa tahun belakangan. Pakaiannya yang modis ditambah kacamata hitam menampakkan ia menjadi wanita yang kuat dan mandiri.
“Hai Put!” sapaku lebih dulu sebelum memintanya untuk duduk.
Kulihat dibelakangnya jauh 15 meter ada beberapa pengawal yang bersiaga. Jantungku makin berdegup takut. Namun tekadku lebih kuat dari takdir buruk apapun.
“Lo tau konsekuensinya kan Bel?” dilepasnya kacamata hitam yang sedari tadi menutupi ketegasannya. “Gue bukan sahabat lo lagi.”
“Aku tau! Mungkin kamu akan membawaku ke Pak Dihardja dan entah apa yang dilakukannya padaku. Tapi anggap ini permintaanku sebagai balasan di masa lalu. Apa salahku Put?”
Dia hanya terdiam sambil mengaduk-aduk minumannya. Aku tidak bisa memaknai ekspresi mukanya. Putri yang kukenal sungguh berbeda dengan sosok yang berhadapan denganku sekarang.
“Tak bisakah kau beritahu apa salahku sehingga aku berhak untuk semua ini? Kamu tau, Put! Sampai sekarang pun, aku tidak pernah menyangka ini terjadi. Bahkan aku tidak tau kenapa Pak Dihardja mengejarku. Apa karena aku adalah jembatan penghubung antara Nuca dan Alex?”
“Yah! Lo dah tau itu. Gue jahat Bel. Gue hanya memanfaatin elo, jadi gue gak peduli meski lo benci gue atau gak … ”
Kuhentikan perkataannya. Kupegang tangannya lembut, “Aku tidak pernah membencimu, Put! Meski kau tusukkan pisau ke jantungku. Aku tidak akan membencimu. Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Kamu satu-satunya yang menerimaku saat semua orang membully. Aku tidak pernah disambut sebelumnya tapi aku bersyukur seseorang memperlakukanku lebih manusiawi. Dan itu kamu.”
Kulihat matanya mengembun namun tak berapa lama dengan kasar dilepasnya pegangan tanganku.
“Lo tau kesalahan lo apa?”
“Apa?”
“Nasip buruk. Nasip lo buruk karena bertemu dengan Nuca. Bertemu dengan Alex. Bahkan nasip lo terlalu buruk karena menjadi orang yang baik!”
Kusandarkan tubuhku pasrah. Aku hanya meminta jawaban sulitkah untuk menjawab sekedar meminta maaf kau kumanfaatkan. Kukira itu lebih masuk akal.
Mungkin permintaanku terlalu mengada-ada. Katakan saja apa sebabnya. Toh, aku tetap tidak bisa membenci sahabatku sendiri.
Aku sungguh tidak peduli darimana perselisihan Nuca vs Alex ini bermula. Bahkan bagaimana sampai Putri ada di dalamnya. Aku tidak mempermasalahkannya. Tapi kenapa kami dilibatkan. Aku dan gadis kecil yang kutinggal di villa.
“Sekarang gue melepaskan lo. Karena jujur untuk saat ini lo pengalihan sempurna untuk rencana gue!”
“Kenapa kamu begini?” ucapku menyerah. “Tidak bisakah kau memberikan kepastian? Hanya sekedar mengatakan kenapa aku dimanfaatkan.”
Putri yang tadinya bangkit akan berbalik pergi langsung berhenti mendengarnya.
“Aku tidak akan marah jika dimanfaatkan untuk membalas dendam, tapi kenapa? Kenapa kau yang ikut dalam pusaran mereka, untuk apa kau hidup dalam dendammu? Jika memang dendammu dapat terbalas denganku, aku mungkin tidak peduli.”
“Lo tau Bel, gue bisa bertahan dari hidup gue yang menyedihkan dan memalukan karena dendam gue pada Dihardja. Gue cuma butuh lo sebagai alat, karena elo satu-satunya kandidat yang tepat sebagai penghubung diantara mereka.”
"Kalau memang menyenangkanmu aku ikhlas. Lakukan padaku. Lepaskan mereka!"
_____________________________
Sudut Pandang Pengarang
Putri menarik nafas berat mengucapkan kalimat dengan lirih dan bermakna penuh lekat, sebelum ia berbalik pergi.
“ ... karena kau juga kesayangan Alex."
Putri melangkah menghampiri para pengawalnya. Akan tetapi sebelum langkahnya jauh pergi. Tiba-tiba Pak Dihardja muncul di depannya dengan muka yang menegang menyimpan marah.
Ia tak menyangka akan ketauan sebegini cepat. Ia memang tidak berniat untuk menangkap Abel saat ini karena tidak ada gunanya juga. Dia masih membutuhkan konsentrasi Pak Dihardja pecah selain karena emosinya yang teralihkan akibat anaknya sendiri yang menolaknya.
“Maaf, Pak!”
Laki tua itu hanya diam dan mengisyaratkan pada para pengawal untuk menangkap Abel yang terduduk diam tanpa curiga.
Abel yang kaget hampir berteriak, sebelum mereka menunjukkan foto Emak dalam keadaan terbekap di suatu tempat. Ia pun terpaksa menuruti kemauan mereka. Wajahnya yang memucat mendadak sedikit memerah karena dia melihat bang Udin disalah satu kerumunan pengawal Dihardja.
“Bawa dia ke basemen!” perintah Dihardja penuh dengan amarah.
Kemarahan laki tua itu beralasan sebab perusahaannya baru mengalami goncangan dahsyat.
Suwito Group berhasil menjeglang produk yang harusnya dikeluarkan periode depan. Tender ratusan triliyun hilang. Ia meyakini bahwa kesalahan ini dikarenakan Abel yang tau posisi dimana Nuca berada.
Dihardja tidak pernah meloloskan musuh satu kalipun. Kecuali kali itu, ia membiarkan satu anggota Suwito, adik kandungnya, bertahan hidup.
_____________________________
“Abeeeeel … !”
“Emmakkkkkk!!!” teriak Abel mencoba melepaskan diri saat melihat Emak begitu lemah diikat kaki dan tangannya.
“Diam!” seru Dihardja dengan pongah. “Katakan dimana Nuca?”
Hampir Abel tidak ingin menjawabnya sebelum dia disodori pemandangan mereka menyakiti Emaknya, “Tunggu! Nuca yang mana?”
Dihardja hampir kehilangan kesabaran dan menampar Abel, “Nuca dari Suwito Group. Kenapa bertele-tele?”
“Kau yang bertele-tele. Apa kau lupa kau juga memiliki Nuca? Anuca, cucumu.”
Kepongahan Dihardja mendadak ciut. Akan tetapi kesombongannya lebih besar dari sekedar menanyakan keberadaan cucunya.
“Sekap dia sampai dia beritahu dimana Nuca. Siksa kalau perlu! Dan minta orang-orang kita segera mencarinya cepattt!!” perintahnya lagi dengan nada mengancam.
Dihardja berlalu setelah memberi perintah pada kepala pengamanan untuk melakukan apa saja yang diperlukan agar Abel mengatakan Dimana Nuca berada.
Ia sangat yakin dapat menjadikan Abel umpan untuk menarik Nuca dari sarang persembunyiannya. Juga membuatnya sebagai kambing hitam jikalau terpaksa terjadi pembunuhan.
_____________________________
2 hari dalam penyekapan.
Tubuh lemah Abel mulai tidak kuat menahan hampir pukulan dan siksaan itu. Tapi karena terlalu kekehnya Abel menahan diri para pengawalpun berpikir akan melakukan siksaan yang lain.
Memperkosanya adalah salah satu siksaan terkejam yang buat Abel pasti kalah. Siapa wanita yang sanggup bertahan dalam menghadapi kehormatannya digagahi oleh laki-laki yang tidak diinginkannya. Lagipula itu adalah siksaan paling menyenangkan buat anak buah Dihardja.
Seperti perintah bos besar. Melakukan apapun yang diperlukan agar mendapatkan jawaban. Bagaimanapun tidak akan ada yang memperdulikannya.
Salah seorang pengawal sudah siap melorotkan celananya hampir lepas pinggang. Hingga, bang Udin muncul menghentikannya.
“Hei! Biarkan aku duluan, Bro!” sergah bang Udin pada temannya yang hampir siap memapankan rudalnya.
“Kau ini datang-datang menganggu kesenangan orang lagi. Nanti setelahku saja!”
“Hei, Bro! Ingat kau berutang padaku!” dibisikinya sesuatu yang membuat pengawal itu gamang hingga meninggalkan mereka sendirian.
“Tutup pintunya, Bro! Please, privasi ... privasi … !”
Setelah para pengawal pergi dan mengunci pintu. Bang Udin mengeluarkan air botol yang dari tadi disimpan di tas pinggangnya.
“Minumlah ini!”
Abel menampik minuman itu karena masih marah padanya. Bang Udin yang dipercayainya, sama pengkhianatnya dengan Putri.
“Kumohon, Bel! Kamu butuh tenaga untuk melawan Dihardja.”
“Siapa kamu sebenarnya?”
Bang Udin hanya memegang tanganku seolah menguatkan. “Aku tetap bang Udin. Bang Udin-mu!”