
-sudut pandang pengarang-
6 bulan sebelumnya
Kaki dan tangan Abel terikat kencang. Ia meringkuk dalam posisi menekuk di sebuah kotak seperempat lebih kecil dari tubuhnya. Cahaya masuk dari lubang kecil di atas kepalanya. Abel berusaha berteriak namun sumpal di mulutnya membuat suaranya tertahan.
Sesak, pusing, nyeri, semuanya bercampur dengan segala ketakutan. Ia memikirkan bagaimana hidupnya berakhir kini. Yang ia ingat adalah saat mencoba pergi menuju terminal kota, beberapa orang mendatangi dirinya lalu menculik dan menyekapnya.
2 hari ia berada dalam kotak kayu yang pengap. Cahaya redup hanya muncul di sela-sela pembatasnya. Tanpa makan dan minum. Tubuhnya lemas hampir tak dapat berontak. Suara burung camar dan goyangan ombak, ia sadar berada jauh dari rumah.
Beberapa kali Abel tak sadarkan diri berharap ketika bangun ia telah mendapati dirinya hanya bermimpi, tapi itu tidak terjadi. Air matanya sudah habis hingga tak mampu lagi menangis. Ketakutan membuatnya merasa sangat kesakitan. Nyeri di tubuhnya memuncak hingga hampir mati rasa.
Abel masih mendengar suara-suara di telinganya. Suara berbisik dan tubuhnya yang menghangat tertutup selimut. Mungkin rasa takut ini membuatnya berhalusinasi. Membayangkan dirinya yang tertidur di ranjang yang nyaman. Meminum sececap teh hangat dan bubur yang lembut. Membuat perutnya nyaman dan tenang.
Hingga sayup terdengar burung berkicau, ia pun terbangun. Akan tetapi semuanya masih sama dengan mimpinya ataukah ini surga?
Diangkat tubuhnya cepat dan bangkit berusaha menyisir tempat itu dengan benar. Sebuah ranjang putih yang besar, cermin kaca lebar, jendela dengan pemandangan laut, semuanya seperti masih dalam mimpi. Ia berusaha melangkah tapi kepalanya terasa berat hingga terantuk dan pingsan kembali.
"Setelah 2 hari ia tidak akan dehidrasi lagi, Pak!" Kata sang dokter setelah menancapkan infus di pergelangan tangan Abel.
Pria yang diajaknya bicara tampak mengangguk tenang. Sesekali melirik ke arah Abel yang tampak pulas seperti bayi. "Baik... Tolong jaga dia, aku harap seminggu lagi bisa memakainya." Perintah pria berusia 30 tahunan itu sambil berlalu.
___________________
Langit di luar tampak cerah. Ini hari ke dua dan Abel mulai terjaga. Kepalanya masih terasa berat tapi ia merasa lebih baik. Ia mulai merasakan nyeri meraut saat sadar bahwa infus terpasang di tangannya.
Ia baru yakin yang dilihatnya kemarin dan sekarang, bukan mimpi, bukan surga. Ketika pandangannya mulai jelas, ia baru melihat sosok laki-laki muda yang berdiri di samping ranjangnya. Seperti menunggu dan tau bahwa ia akan terbangun hari itu.
"Siapa kamu? Dimana aku?"
Pertanyaan cepatnya hanya dibalas senyuman singkat. Sebuah senyuman yang tak ia mengerti artinya. Mungkin seperti senyuman jijik bercampur kasian, entahlah Abel tak mampu menelaahnya. Apa yang terjadi begitu cepat hingga ia tak dapat membela diri.
"Panggil Dokter, Nona ini sudah bangun!" Begitu perintah yang di dengar Abel di telinganya.
Mereka saling berpandangan. Abel dengan tatapan tak mengerti berharap mendapatkan suatu jawaban sedang laki-laki itu menatapnya sedih . Seolah Abel seperti kambing kurban yang akan di sembelih, tatapan itu... Tatapan iba. Tapi ia tampak sebagai manusia yang baik, menurut Abel.
"Setelah ini, pelayan akan datang untuk menyiapkan makanan. Saran saya, kau makan yang banyak, pulihkan tenaga. Kalau tidak, kau tidak punya waktu untuk berontak!"
Ucapan itu tidak sepenuhnya dimengerti Abel. Namun ia merasa yakin ada hal lebih buruk yang menanti. Sayang, tubuhnya masih lemah untuk berontak dan kabur.
Sesuai yang dikatakan laki-laki sebelumnya itu, makanan datang memenuhi ranjangnya. Seorang pelayan masuk dan menyiapkan sarapan untuknya. Daging sapi dan ayam. Berbagai jenis sayuran segar dalam salad. Menggugah selera Abel seketika. Seperti yang disarankan, ia akan makan yang banyak dan mengembalikan kekuatannya.
Beberapa kali ia mencoba bertanya pada pelayan yang menunggunya sampai ia selesai menghabiskan makanannya. Ia bertanya tentang keberadaannya sampai semua yang ada di luar pintu kayu di depannya. Namun Seperti yang ia duga. Tidak ada satupun yang di jawabnya.
Setelah selesai makan dengan sigap sang pelayan membereskannya. Perlahan ia dapat mengangkat kakinya, berdiri tegak dan mengarah ke pintu yang terkunci rapat.
Ia berusaha membukanya tapi seperti dikunci dari luar. Abel berteriak meminta pertolongan namun tidak ada yang menyahut.
____________________
"Serahkan berkas ini! Besok kau yang pergi ke China untuk tanda tangan kontrak dengan WeiWei."
"Lepaskan gadis itu, ini sudah kelewatan batas. Ia bukan hewan ternak."
"Siapa? Siapa yang menjualnya? Dia manusia, bukan budak. Selama dia tidak menjual dirinya sendiri, yang kau lakukan sama dengan penyekapan."
"Heh, Wayan! Apa kau lupa siapa aku? Aku akan membeli apapun bahkan siapapun yang aku mau!"
"Tapi... Aku tidak setuju," Wayan membanting map yang diserahkan padanya. "Kalau kau masih menggunakannya, aku akan pergi dari sini..."
"Tunggu, kau menyukainya hah?"
"Menyukainya? Apa kau sudah gila, Bian?"
Bian mendekati Wayan dengan perlahan menarik tangannya hingga hampir jatuh berpelukan. "Wajar jika kau cemburu, karena aku memang menyukai gadis itu..."
Tatapan mereka bertautan sejenak sebelum gelap membuat mereka semakin dekat.
________________________
Alex melempar kunci mobilnya di atas bufet. Sambil bersenandung dilangkahkan kaki menuju kamar mandi tanpa menengok wanita cantik yang telah lama menantinya.
Elisa telah menunggu Alex sangat lama, ia tau bahwa hari ini perayaan ulang tahun Abel, wanita yang dikagumi Alex setelahnya. Sungguh, ia cemburu. Rasa cemburu sudah di ubun-ubun hingga membuatnya hilang arah. Ia tak peduli bagaimana caranya. Yang penting ia berharap bisa menghilangkan Abel segera.
Wanita kelas rendah, berwajah biasa macam Abel tidak pantas bersaing dengannya. Harga dirinya terasa terinjak-injak. Ada kemarahan yang tak mampu diungkapkan.
"Ahhh... Elis, kau kapan ada di sana?" Kata Alex kaget hampir-hampir melempar handuk yang dipakainya.
Elisa bangkit dari duduknya dengan langkah pongah yang menggoda, "Apa kau masih mencintaiku?" Ditangannya mengayun kotak perhiasan yang dibeli Alex tadi siang.
"Ah itu..." Alex mulai gugup. Ia tak sanggup mengatakan tidak pada Elisa karena memang gelang itu dibeli bukan untuknya.
"Ini? Untuk siapa?"
"Maafkan aku, El. Sungguh..."
Elisa tak sanggup menerima penolakan yang akan terucap. Iapun segera memalingkan muka, melemparkan kotak tersebut ke atas meja, beralih mengambil tas mahalnya, dan pergi. Ia hanya keluar apartemen Alex tanpa uraian air mata.
Setan merah bergelayut di hatinya. Kemarahannya telah menjadi-jadi. Seharusnya Abel mati juga saat itu. Sayang, Nuca terlalu mencintainya. Ia tak cukup kuat mematik pelatuk untuk menembak Abel dengan tangannya.
Sial, katanya dalam hati.
Dirogoh ponsel dalam tasnya. Menghubungi seseorang yang telah lama dikenalnya. Beberapa kali ia bertemu dengan teman lamanya itu di suatu pertemuan sosialita. Namun ia menolak untuk mengenalinya.
Status sosial mereka berbeda. Ia hanya seorang ******* berkedok istri simpanan pengusaha. Tidak ada muka untuk mengenalnya meski temannya itu kini memiliki kemampuan memiliki seperti apa yang ia miliki.
"Hera, bisa kita ketemu?"
"Elisa... Mau mengenalku."
"Aku butuh bantuanmu, temui aku di taman kota. Besok sore. Bisa?"
"Oke!"