
Sekotak es krim tiga rasa sudah siap untuk menyogok bocah tambun itu agar bicara. Entah apa yang diketahuinya, yang jelas aku harus mencari kebenarannya. Rencananya, setelah aku tau pasti kejadian sebenarnya, aku akan minta bantuan Bian untuk menyelesaikan itu semua. Ia kenal banyak orang penting, kalaupun ada sesuatu tersirat yang mengosongi misteri ini, ia pasti dapat membantu untuk mengisinya.
"Dariannnn sayanggg!!" Seruku memanggil-manggil nama adik Wayan itu.
Sengaja aku berkunjung pagi-pagi, karena saat itu waktu yang tepat tanpa diganggu Wayan dan Tante Rima. Wayan akan sibuk di pasar nelayan membeli keperluan cafe, sedang tante biasanya pergi ke supplier mengambil bahan-bahan.
Kuketuk pintu rumahnya dengan sabar, sembari memanggil nama bocah laki-laki itu dengan panggilan manja. Sudah hampir setengah jam, tapi tidak ada jawaban. Fix, mungkin itu bocah lagi ngiler di dalam rumah.
Tiba-tiba, "Ngapain kamu?" Wayan berdiri di belakang punggungku sambil menenteng tas kresek besar hasil buruannya di pasar.
Aku hanya nyengir sungkan. Berharap bisa menepok jidat sendiri saking malunya. Dia pasti kesal kalau tau alasanku hanya untuk nyogok adiknya.
"Ahhh... Enggak kok!"
"Itu apa?" Tunjuknya pada bungkusan yang aku bawa.
Sekilas kuberi senyuman palsu, "Ahh ini, untuk Darian. Ya, untuk dia. Aku ingat dia suka betul es krim."
"Darian tidak ada!" jawabnya merangsek ke dalam sambil membuka pintu rumah, "Masuklah! Darian pergi dengan Tante. Dia pengin beli mainan atau apalah katanya," tambahnya lagi.
"Ohh, jadi kapan pulang?"
"Titipkan saja padaku, kusimpan di lemari pendingin."
Ditawarkan tangannya, meminta untuk segera menyerahkan bungkusan itu padanya. Aku sedikit segan untuk melakukan itu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, daripada Wayan curiga pasti akan lebih merepotkan.
Kuserahkan pelan padanya, bungkusan berisi sekotak es krim tiga rasa. "Kapan ia pulang?" tanyaku tak berdaya.
Melihatku melemas, Wayan meletakkan semua barang bawaannya lalu duduk di sampingku. Ia menarik daguku yang tertunduk, "Ada apa? Pasti kau menyembunyikan sesuatu."
"Heh?"
"Ada apa, Bel? Aku tau kau butuh sesuatu dari Darian, kan? Masih soal sahabatmu itu?"
Aku mengangguk pelan, "Aku takut kau akan menghalangiku, karena tidak percaya dengan omonganku..."
"Bela..." diambil telapakku lalu menggenggamnya dengan lembut, "Dengarkan aku! Kau pikir aku melakukan sejauh ini untuk apa jika bukan karena tidak percaya kamu, terus apa?"
Kudongakkan kepala melihat mimik mukanya yang berubah. "Tapi kan..." kataku terbata-bata.
"Aku menyelamatkanmu dari Bian, orang yang kusayangi, buat apa? Memberimu kehidupan baru termasuk pekerjaan dan rumah, kau pikir karena apa?"
"Tapi, kau bilang sendiri kemarin, kan?!"
"Dengar ya, aku tidak mungkin memintamu untuk masuk ke dalam masalah. Sekarang, kalau benar dugaanmu itu, kau pikir pembunuhnya akan tenang kalau kau mencari-carinya..."
"Karena itu aku berniat meminta bantuan Bian, kalau memang sudah ku ketahui siapa pelakunya."
Wayan tampak berpikir, keningnya mengerut, dan terlihat tidak senang. Aku ingat kalimat terakhirnya kemarin, dia menyatakan sesuatu tentang kesiapanku membayar bunga jika meminta bantuan Bian. Kutatap lekat tepat di sepasang matanya yang teduh.
"Baiklah, terserah. Aku akan tetap membantumu jika itu perlu," ucapnya diakhiri dengan sebuah senyum manis. Tanpa sadar aku berterak girang memeluknya.
Bersyukur memilikinya, karena Wayan terlalu baik untukku. Diantara semua kesusahan yang aku alami, Tuhan selalu menyelipkan malaikatnya untukku. Dulu ada Bang Syaif dan kini aku punya Wayan. Hanya saja...
"Ngapain kalian berdua-duaan?" Teriak Tante Rima yang mendadak muncul dari arah pintu, diikuti Darian di belakangnya sambil menjilati es krim stik.
"Ahh, itu Tante bukan apa-apa kok," ucapku berusaha membela diri dengan kegagapan yang kumiliki.
Wayan cuma tersenyum tak peduli, sambil berdiri dan mengambil barang-barang yang dibawa Tante Rima masuk ke dalam cafe.
"Sudah-sudah, Tan. Sebaiknya Tante cek dapur, semua sudah siap belum," kata Wayan dengan sopan.
Tante Rima hanya melengos kesal ke arahku. Sumpah, kikuk banget suasananya. Aku hanya membalas senyuman berharap ia tidak mem-blacklist-ku bulan ini. Kalau dia sudah kesal, hancur dunia. Semua yang kita kerjakan pasti salah, dan selalu ada alasan untuk kena marah.
Kutarik tangan Darian dan mendudukkannya di kursi. Darian sendiri hanya sibuk menjilati es krim mengacuhkanku.
Kusunggingkan senyum manis, "Darian Sayang, Kak Bela tadi Uda bawain es krim loh... bisa bantuin Kak Bela gak?"
Kuawasi tanggapan anak kecil itu. Ia hanya nyengir cuek sekali. Wayan hampir ngakak melihat usahaku merayunya. Dari tadi dia hanya diam memperhatikan, apakah aku bisa membuat Darian teralihkan.
"Ayolah, Darian Sayang... Bisa ceritain soal Kak Syaif gak?"
Berkali-kali aku merayu, berkali-kali itu pula bocah itu acuh padaku. Hampir menyerah aku, pasrah. Aku bingung harus berbuat apa lagi, mengingat cuman makanan yang bikin Darian teralihkan dan sayangnya itu gak mempan.
"Sudah, Bel. Nyerah aja. Tuh anak, kalau lagi makan, dunia kiamat juga gak peduli," seru Wayan menertawakan ku.
Aku merajuk kesal. Usahaku hampir sia-sia membuat bocah itu bicara. Sampai akhirnya, es krim ditangannya telah habis juga. Ia bergerak menatapku.
"Berapa lapis, Kak?" Seru Darian tiba-tiba.
Aku melongo bingung, "Apanya berapa lapis?" Aku pikir ini berhubungan dengan kecelakaan Bang Syaif. Namun, apanya yang berlapis-lapis?
"Es krimnya berapa rasa?"
"Ya Tuhan, Darian. Dari tadi kau menyimak juga," ujarku geram. Tawa Wayan langsung pecah begitu saja. Melihatku kebingungan mungkin suatu hiburan buatnya.
Darian ini benar-benar, deh. Kalau dari tadi dia mendengar apa yang kukatakan, tidaklah sopan mengacuhkan aku seperti itu. Dasar bocah nakal, umpatku marah.
"Bisa Kak Bela tambah kalau ceritanya menarik," jawabku begidik kesal padanya.
Darian hanya menerawang sebentar. Seperti mengira-ngira, tapi entah apa. Ia kemudian menatapku penuh harapan.
"Soal Kak Syaif, Kak Bela bisa bantu dia kan?!"
__________________
Darian mulai mengawali ceritanya. Ia bilang bertemu beberapa kali dengan Bang Syaif, bahkan sebelum aku bertemu dengannya. Itu berarti Bang Syaif sudah mengawasi ku sejak itu.
Saat itu, Darian bilang melihat sebuah sedan menunggu di depan cafe dan dua orang di dalamnya menatapku lama. Karena penasaran ia mendekatinya, yang satu bernama Kak Alex dan yang berjaga di belakangnya adalah Kak Syaif, begitu tuturnya runtut.
Bang Syaif menurutnya sangat ramah bertolak balik dengan pria satunya yang sangat acuh. Setelah itu, Bang Syaif sering kali mampir ke cafe yang kebetulan aku tidak ada. Ia bertanya banyak tentangku. Juga pas kejadian pengrusakan preman, Darian ketakutan dan menghubungi Bang Syaif untuk menolongnya.
Saking akrabnya, mereka bahkan sering menghabiskan waktu bersama. Bang Syaif sering mengajak Darian ke hotelnya, dan waktu itu kebetulan mereka berencana akan pergi ke tempat makan nirlaba terkenal di kota. Awalnya Bang Syaif tampak antusias, kata Darian. Namun, tak berapa lama saat ia bersiap mengganti bajunya, seseorang menghubunginya.
"Aku yang angkat telponnya karena Kak Syaif di kamar mandi."
"Siapa itu Darian?"
"Tidak tau, Kak!" Ia tampak berpikir sejenak, "Tapi suaranya sih aku kayaknya sering dengar dulu. Cuma siapa, aku tidak tau."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Kak," jelasnya penuh keyakinan.
Ia melanjutkan setelah menerima telepon dari orang tersebut, Bang Syaif tampak terburu-buru. Ia meminta agar Darian menunggunya di kamar, sebab ia tak akan lama akan kembali. Darian tidak tau kemana Bang Syaif pergi, "... yang jelas perginya lama sekali, Kak! Aku sampai bosan menunggu. Lalu..."
"Lalu?"
Darian terdiam beberapa lama sebel melanjutkan perkataannya dengan nada bergetar. Dia bilang, ada seseorang yang masuk kamar Bang Syaif tanpa mengetuk pintu. Orang itu sepertinya mengendap-endap karena pelan sekali ia berjalan.
Karena takut dan bingung, Darian bilang ia bersembunyi di dalam lemari. Kebetulan lemari itu berbentuk celah bambu sehingga ia bisa mengintip dari dalamnya. Orang itu mencurigakan, begitu Darian menjelaskan. Ia terlihat seperti mencari-cari sesuatu, semua lemari dan laci di buka termasuk ranjang Bang Syaif jadi berantakan.
Darian saat itu sangat ketakutan dalam tempat persembunyian. Tubuhnya hampir bergetar dan membuatnya ketauan. Namun, untungnya Bang Syaif datang. Ia memergoki orang itu mengacak-acak kamarnya.
"Siapa orang itu, Darian? Kau melihatnya?"
"Tidak, Kak! Tapi Kak Syaif sangat marah..."
Ia melihat Bang Syaif berteriak, "Mau apa kau di kamarku?"
Dia mendengar tawa. Tawa seorang wanita yang tak dapat dipastikannya. Kakinya jenjang dengan sepatu jinjit yang cantik. Memakai gaun pendek berwarna cerah ia bilang, "Aku tidak akan menganggu, jika kau tidak mengangguku. Aku tau kau sedang menyiapkan bukti kan?"
"Kenapa? Kau takut kalau sampai semua orang tau. Seharusnya kau sadar di mana tempatmu. Aku sudah pernah memperingatkanmu, jangan ganggu mereka. Mengerti!"
Darian bilang wanita itu ketakutan dan menangis memegangi kaki Bang Syaif. Ia meminta maaf berkali-kali tapi Bang Syaif mengindahkan bahkan menyuruhnya pergi.
Ia mendengar bahwa Bang Syaif mengatakan mengenai masa lalu, "... Aku membiarkanmu mendekati Nuca, tapi kau menyalahi apa yang kuminta. Kau tidak bisa melakukan ini..."
"Kau Abang ku. Harusnya kau membelaku, bukan wanita itu. Kau mencintainya, heh?"
"Kau terlalu sombong. Apa hidupmu sekarang kurang menyenangkan? Semua yang kau impikan terkabul. Kubiarkan kau pergi tapi kenapa kau membuat ini lebih sulit..."
Bang Syaif memeluknya penuh kasih sayang. "Hentikan, kembalilah..."
"Ia mengambil laki-laki yang seharusnya jadi milikku. Bantu aku, Bang!"
Setelahnya Darian tidak terlalu paham karena mereka seperti berdebat dan itu sangat berisik. Bang Syaif meminta wanita itu segera pergi, dan tidak mengangguku lagi. Apa? Menggangguku? Siapa itu?
Dia melihat saat mereka bertengkar Bang Syaif dan wanita itu menyebut nama Abel berulang-ulang. Lalu, entah bagaimana wanita itu mendorong badan Bang Syaif hingga ia terjatuh dari balkon.
Aku terkesiap mendengarnya. Ku bekap mulutku tak percaya. Misteri apa lagi ini? Siapa wanita itu?
Aku menangis mendengar runtutan kejadian yang dituturkan Darian pada kami. Wayan menguatkanku dengan memeluk tubuhku erat.
"Tapi... Tidak itu saja, Kak!"
Aku dan Wayan kaget mendengar bahwa kisah itu masih berlanjut.
"Masih ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam. Laki-laki dengan jas hitam berkacamata. Ia berteriak ke arah wanita itu dan melihat ke balkon bawah."
Darian melanjutkan bahwa mereka berdebat sebentar dan ia tidak jelas tau apa itu. Ia hampir saja ketauan karena membuat suara di dalam lemari tapi wanita itu memaksa agar mereka segera pergi.
"Setelah itu aku keluar dari hotel dan melihat banyak orang berkerumun. Aku... Aku minta maaf, Kak!"
Bocah tambuh itu tiba-tiba menjadi melankolis dan menangis. Aku memeluknya dan kamipun berpelukan bertiga.
Tante Rima datang melempar panci yang dibawanya. Klontengan, bunyinya. Kami tersentak seketika melihat Tante Rima bersamaan.
"Ngapain tangis-tangisan di sini sekarang. Sudah, kerja! Darian sana masuk kamar, siap-siap berangkat ke sekolah!
_____________________
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Wayan yang melihatku terdiam sepanjang waktu.
"Entahlah, aku tidak dapat memikirkannya, mungkin aku akan pergi ke kantor polisi."
"Ku sarankan sebaiknya kau selidiki dulu. Aku khawatir mereka terlalu pandai menyembunyikannya..."
Aku berharap Bang Syaif segera sadar agar misteri ini berakhir. Apa yang di cari bang Syaif di sini?
Aku berharap bisa melakukannya ... Demi Bang Syaif!
___________________