
-Sudut Pandang Pengarang-
"Bagaimana, Putri?"
"Benar, Pak. Abel telah kabur bersama dengan orang dari Suwito Group."
"Kurang ajar! Jadi selama ini ia telah menipu kita..."
"Maaf, Pak. Selama ini Abel diam-diam bertemu dengan Nuca. Bahkan Abel berencana untuk bekerja dengan Nuca. Saya kira ini sudah direncanakan, Pak."
"Jadi kita tertipu, Put! Bagaimana bisa?!"
"Maafkan saya, Pak. Saya yakin betul Abel telah menjadi mata-mata Suwito Group."
"Tangkap dia! Hubungi Syaif, suruh orang-orang untuk menangkap dia sekarang!"
"Baik, Pak."
_______________________
Alex berlari cepat menuju ruang kerja ayahnya. Putri memanggilnya dan mengatakan bahwa rencana B akan segera dilaksanakan. Pikirannya penuh dengan banyak pertimbangan. Ia tak akan sanggup menjalankan rencana B dan tidak pernah menyukainya. Ruangannya ada di lantai paling atas. Terlihat ayahnya sedang duduk di sofa kerja, sebuah kursi besar yang gagah. Raut mukanya tak sabar dan penuh kemarahan.
“Apa yang Papa lakukan?”
Pak Dihardja yang sedang berbincang dengan para manajer tampak kaget mendapati anaknya penuh kemarahan menghadapnya.
Dengan santai Pak Dihardja meminta para manajer keluar sehingga ia bisa berbicara dengan tenang.
“Duduklah!”
Alex pun menuruti duduk dengan gusar. “Aku tau Papa memerintah Putri di belakangku. Apa maksudnya membuntuti Abel seperti itu," teriaknya kencang hingga terdengar di luar pintu.
“Bisa kau kecilkan suaramu, seperti anak kecil kau mengeluh!”
“Abel adalah urusanku, aku sudah menuruti kemauan Papa untuk melakukan dengan cara itu. Tapi kenapa Papa masih mengusikku?”
“Kau bekerja lamban, Nak.”
“Abel sudah mengetahui semuanya, apa kau tau itu, dia sudah tidak berguna lagi untuk kita”
“Abel tidak tau apa-apa, Pa! Memang dia sering menemui Nuca, tapi bukankah itu bagian dari rencana kita!”
Putri masuk dengan terhuyung-huyung bahkan hampir lupa mengetuk pintu. Alex nampak sudah menyadari bahwa Putri akan masuk seperti itu hingga ia tak kaget lagi.
“Ma-maaf!” seru Putri berbalik keluar.
“Masuklah!” perintah Pak Dihardja, “Jelaskan bagaimana hasilnya?”
“Abel kabur, kemungkinan bersama salah satu karyawan kita!”
Alex kaget bukan kepalang mendengarnya. “Apa maksudmu Put?” ditariknya tangan Putri hingga hampir jatuh, “Apa yang kau lakukan pada Abel?”
“A-aku tidak melakukan apapun...”
“Cari tau siapa karyawan yang membawanya. Kemungkinan ia adalah mata-mata Suwito Group. Dan Alex, hentikan ocehanmu! Fokuslah pada pekerjaanmu, Abel adalah urusanku," kata sang ayah pada Alex.
“Tidak bisa, Pa! Abel tidak tau apa-apa, katakan pada Papa, Putri. Katakan bahwa Abel lugu dalam hal ini?”
Alex merasa yakin ada yang disembunyikan Putri. Ada yang dikatakannya hingga membuat ayahnya yakin bahwa Abel akan membocorkan rahasia mereka.
Namun Putri hanya memalingkan muka, menggeleng cepat.
“Kau sahabatnya Putri, kau tau betul siapa dia? Bagaimana mungkin kau menjerumuskan dia seperti ini!” teriak Alex sebelum keluar dari kantor ayahnya berusaha menyelamatkan Abel.
Pak Dihardja meminta pengawal untuk mencegah Alex pergi. Ia memerintahkan untuk membawa Alex ke rumah dan menghindarkannya dari Abel. Merekapun menangkap dan menyekap Alex di basemen rumah tanpa akses seperti yang diperintahkan Pak Dihardja.
Istana Dihardja pun semakin ketat penjagaan setelah Alex ditahan. Semua yang masuk dan keluar harus dalam pengawasan. Pak Dihardja seolah semakin paranoid bahkan menganggap anaknya juga musuh yang bisa menghanyutkannya.
Brak...Brak...Brak
"Buka, buka pintunya!" hampir lemas Alex berteriak sepanjang waktu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Putri bisa sejahat itu pada sahabatnya sendiri.
"Brengsek, Put," umpatnya dalam hati. Ia menyesal telah masuk dalam lingkaran Putri.
Tubuhnya lelah bersandar pada tembok. Dia disekap di sebuah kamar tanpa jendela yang ada di basemen rumahnya. Hanya satu ranjang dengan kamar mandi. Ia seperti tahanan di rumah sendiri.
Kriet~
Bunyi pintu terbuka mengagetkannya.
"Aku membawakan baju ganti dan juga makanan."
Alex bangkit mendekati Putri yang berdiri di dekat dipan. "Lepaskan aku, Put!" hardiknya pada Putri yang meletakkan bungkusan baju ganti juga makanan untuknya.
"Dengarkanku, Lex. Jika kau keluar dari sini dan membantu Abel. Bukankah kau hanya akan membuat Abel dalam masalah? Ingat, Tuan Dihardja memiliki semua kekuatan yang ada. Kau harus lebih pintar untuk menghadapinya."
"Kau seharusnya mengatakan pada Papa bahwa Abel tidak bersalah. Kenapa kau diam saja di sana. Kau bisa saja membela sahabatmu?"
"Maafkan aku, Lex. Kau tau siapa aku? Kalau aku membela Abel di saat seperti ini, kira-kira apa yang akan terjadi? Bukan hanya Abel yang akan mati, aku juga bisa."
Putri menyodorkan minuman dalam kaleng kepada Alex. Ia membujuk Alex untuk meminumnya. Segera setelah Alex meminum minuman kaleng yang diberikan Putri, ia merasakan ada yang aneh.
Tubuhnya panas dan ia sangat kehausan. Rasanya tenggorokannya kering, "Air.... air, Put!" ucapnya mencari botol air diantara tumpukan bawaan yang diserahkan Putri padanya.
"Sini, Alex. Mendekatlah...!" Putri mengalungkan tangannya di pundak Alex.
Alex merasakan tubuhnya sangat panas dan pusing. Hingga ia merasakan hangatnya kecupan di bibirnya. Terasa aroma ceri di bibirnya. Sebuah ciuman mesra yang tak dapat ditolaknya.
"Alex, kau tidak apa-apa?"
"Kenapa? kau?"
Alex hanya ingat ia ingin menggapai tubuh Putri dan menggerayanginya. Memeluk dan mencium aroma ceri dan menikmati manisnya. Dia tidak mendapat penolakan apapun. Hingga Alex memainkan gundukan kenyal yang membuatnya melayang, memilin-milin dan memainkannya. Menggigitnya hingga membuat Putri mendesah.
Alex merasa setengah sadar melakukannya. Tapi dia menikmati setiap sentuhan dan desahan yang Putri berikan. "Abel... kau cantik sekali..." desahnya sambil melesakkan kejantanannya dengan gemuruh. Mengayunkannya dengan kencang dan kuat.
"Alex...!" jawab suara di seberangnya. "Aku mencintaimu..."
Hingga pagi tiba, Alex tersadar dan bangun. Ia kaget setengah mati mendapati Putri yang telanjang di sampingnya. Ia melihat tubuhnya setengah telanjang menghadap sekretarisnya. "Apa? Apa yang terjadi?"
_____________________
Anuca berusaha menyapa pamannya. Hanya dia yang boleh masuk ke dalam kamar tahanan Alex. Beberapa kali Anuca bolak balik masuk ke dalam kamarnya. Penjaga membiarkan karena menganggap bahwa Anuca tidak akan membahayakan. Sehingga menurut Alex, hanya Anuca yang bisa memberitahu Abel kejahatan yang disiasatkan Putri padanya. Dititipkan secarik kertas pada Anuca, berharap gadis kecil itu dapat melakukannya.
"Dengarkan, Paman. Anuca harus melakukan yang Paman perintahkan, bisa kan?
Gadis itu hanya mengangguk. Alex mendekatkan bibirnya ke telinga Anuca lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Tapi Paman..." ucapnya dengan takut.
"Tenanglah. Paman tidak apa..."
Anuca tau betul bahwa pamannya tidak baik-baik saja. Badannya melemah dan penuh luka. Dari yang ia pahami, para penjaga sering kali memukulinya karena berusaha kabur dari kamarnya.
"Paman, jangan kabur lagi. Atau mereka akan memukulmu."
"Tenanglah, Paman kuat. Kau mengerti!"
Gadis manis itu mengangguk tenang.
______________
Kaki tangan Putri gemetar kencang. Air matanya berbulir-bulir jatuh ke pangkuan. Ia hanya bisa berjongkok sambil mengepalkan tangan.
Ada ketakutan dalam dirinya. Takut ketahuan bagaimana semua yang ia lakukan untuk mengacaukan keluarga Dihardja meski harus mengorbankan sahabatnya. Apa yang ia lakukan pada Alex adalah kompensasi dari semua yang ia lakukan.
Setelah malam itu. Ia menjadi gentar dan ingin menghindar. Dia mengalami dilema ketika dihadapkan dengan Alex dan Abel. Ia tau betul Alex menyukai Abel. Karenanya ia malas untuk berhenti.
Ia sudah berjanji untuk membalaskan dendam ayahnya yang dimanfaatkan. Siasat ini akan rapi, tidak ada celah, hingga mereka hanya akan saling menyakiti. Semua akan kembali, dan mungkin Alex akan menjadi miliknya setelah yang mereka lakukan kemarin malam.
“Halo”
“Sudah dilakukan?”
“I-iya… Pak Dihardja pasti hanya akan fokus pada pencarian Abel. Kau bisa melakukannya sekarang karena Alex tidak akan menghalangimu.”
“Kerja bagus!”
“A-abel… bagaimana?” tanyanya terbata-bata.
“Dia aman!”
Putri tersungkur lemah. Air matanya berurai penuh sesal. Pikirannya tertuju pada keselamatan sahabatnya jika mengingat hubungan mereka sebelumnya. Ia tau nasipnya tidak akan baik karena Dihardja tidak akan pernah melepaskan mangsa dari tangannya. Sama seperti saat ia menghancurkan keluarganya.
_____________