Love on Revenge

Love on Revenge
Part 29



-sudut pandang pengarang-


Hera tampak gusar. Rokok ditangannya sudah di sulut hampir seperempat jam namun belum dihirup sama sekali. Wajahnya memucat seperti mayat. Ia sangat ketakutan seakan-akan dikejar setan.


Akan tetapi yang sebenarnya adalah setumpuk rasa bersalah yang berkembang di dadanya. Ia tak berani berjalan dengan kepala tegak, apalagi untuk menatap Abel secara langsung. Hampir habis rokok di tangannya dan ia menyulut kembali sebatang rokok lain.


"Apa kau akan diam seperti itu?" kata sang bartender mengingatkan.


Hera hanya menyunggingkan senyuman tak berarti sambil menegak kembali minumannya. Ia sudah setengah mabuk karena meracau menyebutkan banyak hal termasuk rahasianya dengan Abel. Meski kini mereka berteman, tidak seperti di awal pertemuannya. Dimana tujuannya berbeda, tidak karena dendam atau benci yang membuatnya menyakiti Abel. Masa itu uang dan kekuasaan yang bicara. Itu sebabnya ia merasa bersalah. Abel masih tetap menghargai meski dialah yang menjerumuskan dalam lubang yang kini ia diami.


"Kau yakin Abel bilang berhenti?" tanya Hera pada sang bartender yang sibuk mengelap gelas-gelas minumannya.


Cepat bartender itu mengangguk kemudian mengatakan bahwa ia mendengar dari manager tentang pengunduran diri Abel. Tapi bukan Abel yang menghubunginya melainkan si tamu VVIP yang kapan hari memboking Hera.


Mendengar itu saja Hera sudah bisa menyimpulkan dimana Abel berada. Ia hanya berdoa tidak akan ada yang terjadi diantara mereka. Melihat tabiat dari pria itu dari awal tujuannya hanya untuk menghancurkan. Tapi kini ia justru berharap untuk menolongnya.


"Apa kau akan menemui, Bela?" tanya balik sang bartender.


Hera menggeleng, "Aku akan mencari cara untuk membuatnya lepas dari pria itu..."


"Kau tau tidak akan mudah kan?! Bukankah kau yang menjualnya, kenapa? Sekarang menyesal?"


"Aku tidak menyesal. Hidupku hanya untuk uang..." Serunya dengan nada mabuk berat, "tapi Bela benar, uang tidak bisa membeli kasih sayang..."


"Tidak akan mudah melepaskan diri dari lingkaran setan itu. Kau tau bukan?! Sebaiknya sebelum nyemplung terlalu jauh, mending kamu tolong temenmu itu."


______________________


Abel menarik selimutnya. Kini ia duduk di kursi malas dekat kolam rumah mewah milik Bian. Menghitung bintang dengan tenang. Dia tidak sedang bersenang-senang. Hanya mencoba tenang sambil mawas kalau-kalau diri lain dari Bian yang menyambutnya.


Bian seperti manusia berkepribadian ganda. Suatu kali ia bisa sangat manis. Itu sebabnya ia bisa keluar dari jeratannya. Akan tetapi di kali yang lain, Bian dapat berubah menjadi monster yang menghancurkan mimpi gadis-gadis. Termasuk, seharusnya dia juga.


"Minum!"


Abel mendongak mendengar suara Bian yang lembut. Bian menawarkan anggur yang tak dapat ia minum.


"Tidak, terimakasih!" sahutnya lagi.


"Baiklah..."


"Kapan aku boleh pulang?"


"Kenapa?"


"Aku ingin tau kabar Wayan. Aku meminta Tante Rima menghubungiku tapi kau mengambil ponselku."


"Wayan baik-baik saja. Aku sudah menyuruh orang untuk memindahkannya ke rumah sakit besar. Ia pasti akan baik-baik saja. Kamu tenang saja!"


Melihat raut menegang dimukanya dan bagaimana cara ia menegak minuman keras itu dengan cepat, semua pasti bisa menduga apa yang berkecamuk di dalam hatinya.


Abel menatap pria menyedihkan di depannya. Arbian, pengusaha muda di bidang IT yang sukses. Bagaikan Mark Zuckerberg rasa lokal. Namun seiring dengan terlalu cepat kesuksesan menanjak seperti star sindrome dan sebagainya membuat ia lupa harkatnya dulu.


Usianya 8-10tahun lebih tua dari Abel. Di umur yang matang dan kaya pengalaman malah membuat ia terjebak pada kehidupan semu dengan kegilaan menghancurkan kesucian gadis-gadis yang ditemuinya. Semakin suci, semakin tinggi ia akan membelinya. Semakin di tolak, semakin ia akan menikmati setiap sentuhannya.


"Jangan biarkan aku mabuk!"


Abel terkaget mendengar ucapan Bian yang terdengar parau. Ditangkupkan tangan menutup muka. Aneh bagi Abel melihat keangkuhan pria itu runtuh. Dan karena alasan apa iapun.... Memeluknya.


Menepuk-nepuk pundak Bian seperti seorang ibu yang memberi kekuatan pada anaknya. Mereka saling berpelukan erat dengan tangis yang mendera sang pria. Ia melemah di depan sosok Abel.


"Maafkan aku, Bela!" Bian mengeratkan kembali pelukannya. Menangis dengan idaman setengah tertahan.


"Sst... Sstt...!"


"Aku benar-benar mencintaimu. Kau percaya itu kan?"


Tatapannya nanar menanti jawaban. Mengusap perlahan kening gadis di depannya dan berakhir dengan sebuah ciuman mesra di bibir yang berakhir lama.


Abel merasakan nikmatnya perasaan cinta Bian kini. Tidak seperti saat Bian memaksa untuk menodainya. Kini ia meminta dengan halus dan Abel seperti terjebak untuk mengiyakannya. Kecupan kecil di kulit punggungnya membuat Abel merasakan sensasi yang berbeda.


"Apa kau mau?"


Kali ini Bian meminta ijin. Tidak ada tatapan sinis atau kemarahan. Seperti pria dewasa yang meminta persetujuan kekasihnya. Abel terkesiap melihat perubahan yang terjadi, ada rasa takut, khawatir, senang, dan semuanya... Entah, entah... Perasaan apa itu?


"Tidak!" didorongnya tubuh Bian hingga ia terjatuh ke bawah. "Aku mau pulang, sekarang!" Perintahnya tanpa takut.


Bian hanya tersenyum sinis sebelum berpaling ke dalam rumah. Tidak ada kata apapun yang keluar dari bibirnya. Ia bahkan tak mau menengok Abel sekali setelahnya. Apakah ia marah? Apakah ia kecewa? Jantung Abel berdentang hingga dapat ia rasakan betapa kencangnya.


Jika memang ia masih hidup hingga besok, dia akan berbuat lebih baik lagi, ucapnya dalam hati seolah memberi wasiat pada udara di sekelilingnya.


_____________________


Abel menggeliat sambil memandang jam di layar ponselnya. Saat tersadar dengan yang terjadi semalam, ia masih merasakan ketakutan mengular di setiap nadinya. Ia kembali pulang dengan selamat. Tapi tak melihat Bian setelahnya.


Bukan seperti Bian yang akan membiarkan dirinya tertolak untuk kedua kali. Tapi biarlah...


Ia pun bangkit melangkahkan kaki menuju dapur. Mengambil cangkir dan menyiapkan segelas kopi. Terdiam sambil melamunkan ciuman yang Ian berikan.


"Arghhh... Sadar, Bel. Sadar!" Umpatnya pada dirinya sendiri. Ia tak boleh terpesona sedikit pun pada momen romantis yang diberikan Bian padanya.


Ingat Alex, ingat Nuca, ingat Bang Syaif.... dan Wayan.


Bian tidak sepadan, berkali-kali ia harus mengingatkan diri jika jatuh diperlukan laki-laki brengsek macam itu.


Dok - dok - dok


Tiba-tiba dari arah depan terdengar pintunya di gedor-gedor dengan keras. Ia segera meninggalkan kopinya menuju pintu untuk membukanya.


Tapi,


"Apa-apaan ini?"


Lima orang preman yang melukai Wayan bersimpuh di depan kontrakan Abel dengan tubuh penuh memar.


"Maafkan kami, Nona. Maafkan kami!" Ulang mereka berkali-kali mencoba mendapatkan pengampunan Abel dengan mencium kakinya.


Abel terkejut dan melempar tangan mereka setiap kali preman-preman itu menyentuh kakinya.


"Apa-apaan kalian?!"


Abel terus mendorong mereka keluar dari teras rumahnya. Meminta mereka pergi begitu sulit, sesulit kata maaf keluar dari mulut Abel.


"Mereka yang melukai Wayan kan? Dan membuat keningmu terluka?"


Abel terkaget dan melemparkan pandangannya ke arah datangnya suara. Bian berkacak pinggang sambil mengayunkan tongkat bisbolnya.


"Apa? Apa yang kau lakukan?" Abel berlari mendekati Bian dan meminta penjelasan darinya.


"Ayo, cepat minta maaf!" Serunya sambil mengayunkan tongkat basbel itu ke tiap-tiap dari mereka.


Suara gaduh dan permintaan ampun segera menggema, membuat beberapa orang akhirnya berkumpul di depan rumah Abel.


"Hentikan, Yan!"


"Kau memaafkan mereka?"


"A-apa?"


"Mereka menyakitimu bukan? Apa kau memaafkan mereka?"


Abel menyisir pandangannya. Melihat dengan kasian preman yang berbadan besar justru terkapar. Iapun mengangguk saat Bian hampir memukulkan kembali tongkatnya.


"Iya... Iya... Aku memaafkan mereka! Stop, stop!"


Lalu dengan ayunan tangan beberapa orang suruhan Bian mengangkat tubuh-tubuh preman itu keluar. Bian hanya melihat sekilas sebelum berbalik untuk pergi.


"Tunggu!" Henti Abel menarik tangan Bian, "Kenapa?"


"Siapa yang menyentuhmu selain aku, akan aku bunuh... Mengerti!"


Abel tersentak mendengar ucapan tajam dari Bian. Haruskah ia bangga karena sebegitu dicintai? Atau justru cinta Bian ini menakutkan? Abel masih perlu mencernanya lagi.


______________________