
-sudut pandang pengarang-
"Tunggu!" Henti Abel menarik tangan Bian, "Kenapa?"
"Siapa yang menyentuhmu selain aku, akan aku bunuh... Mengerti!"
Abel teringat kalimat terakhir yang Bian katakan padanya. Kalimat itu terngiang-ngiang secara berulang di telinganya. Apakah itu sebuah ancaman? Apakah dia...
______________________
Police line terpasang di sepanjang balkon, memisahkan ruang dalam dan luar dalam kondisi pintu terbuka.
"Pasti polisi terburu-buru hingga lupa menutup pintunya..." Seru Alex sembari menutup pintu kaca kamar dan beralih mengambil pakaian dan perlengkapan yang dimiliki Bang Syaif.
Sementara segala perlengkapan Bang Syaif akan dipindahkan di kamar sebelah, mengingat kamar mereka sekarang telah menjadi crime scene yang tidak boleh dimasuki siapapun.
"Apa boleh kita masuk di sini?" Abel tampak khawatir. Ia berjalan dengan hati-hati meski tidak ada yang menghalanginya. Ia takut merusak tempat kejadian perkara itu dan membuat penyelidikan polisi sia-sia.
Alex menoleh sebentar, awas pada tingkah Abel yang kikuk. "Tenang saja, polisi sudah mengijinkan kita untuk masuk. Aku akan membereskan ini dan segera kita pindah," katanya sambil memasukkan pakaian-pakaian cepat ke dalam koper. Ia sengaja meninggalkan beberapa perlengkapan yang masih dipakai dalam penyelidikan.
Kamar mereka berbeda tentunya, meski bersebelahan. Untuk memudahkan tugas kepolisian, Alex sengaja merapikan keperluan terutama menyangkut barang-barangnya yang ada di kamar Bang Syaif.
"Kenapa kau sibuk dengan perlengkapan Bang Syaif?" Tanya Abel heran. Seorang tuan muda mungkinkah melayani bawahannya?
Alex hanya menggeleng. "Tidak, hanya beberapa pakaian. Setidaknya ini diperlukan untuk dibawa ke rumah sakit. Aku tidak membereskannya."
Abel melangkah keluar balkon, membuka pintu yang tadi ditutup oleh Alex. Ia tidak yakin sehati-hatinya Bang Syaif dia bisa sangat ceroboh. Apakah ada yang berniat menyakitinya?
"Hati-hati, Bel!"
"Aku hanya penasaran. Seorang Bang Syaif sebegitu mudahnya terluka? Aneh bukan?"
"Sebenarnya, bukan itu. Polisi mengatakan kadar alkohol dalam darahnya sangat tinggi. Kemungkinan ia terjatuh saat mabuk."
"Kau percaya itu? Bang Syaif tidak pernah sekalipun menyentuh alkohol meski ia hidup di dunia gelap sekalipun. Kau tau kan?"
Alex tampak berpikir. Dengan duduk menyilangkan kaki, ia mencoba menyamankan diri di atas dipan. Keningnya berkerut seolah soal yang diberikan terlalu sulit untuk dipecahkan.
"Ya kan?" Tegas Abel lagi dengan nada berteriak dari balik pintu balkon. Ia pun berjalan cepat tak sabar dikarenakan Alex diam terlalu lama. "Alex? Kenapa diam?"
"Beberapa waktu ini, ia terlihat gusar. Aku sering melihatnya pergi keluar saat malam. Entah untuk apa. Ia seperti melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku."
"Tapi untuk mabuk, apa kau percaya itu? Itu tidak mungkin!"
"Aku dengar ia sering pergi ke club malam. The Hangover. Aku tidak yakin, Bel." Jawabnya setengah mendesah.
The Hangover?
Itu club malam tempat Abel bekerja. Tentu saja, Bang Syaif sering ke sana, batin Abel membela. Tapi Alex tidak tau itu. Bagaimana jika ia tau yang sebenarnya? Tentang Bang Syaif yang memintanya untuk pindah. Apa yang akan Alex lakukan saat tau bahwa selama ini Abel bekerja di club malam?
"Sebenarnya..."
"Sejak kau menolak pulang dari klinik, aku memang lebih sering keluar hotel. Jadi selama beberapa hari ini aku tidak tau apa yang dikerjakannya."
Abel mengatupkan bibirnya. Kejujuran yang akan terucap seketika ia hentikan. Mendengar apa yang dijelaskan oleh Alex, ia menjadi yakin tidak akan baik jika mengatakan apa yang terjadi dengannya dan Bang Syaif selama ini.
Bang Syaif telah membantunya sepulang dari club malam itu. Ia pasti sering berada di club tanpa sepengetahuannya, karena seperti itulah tabiat Bang Syaif yang suka diam-diam melindungi orang yang ia sayang. Namun, ia tidak begitu yakin apa perasaan Bang Syaif pada dirinya.
"Kenapa diam?" Gugah Alex membuyarkan lamunannya.
"Tidak! Tidak apa. Hanya... Sepertinya kau tidak perlu terlalu mencurigai Bang Syaif. Aku mengenalnya, dan ia tidak seperti itu."
Abel memutar langkah kembali menuju balkon saat kakinya menginjak sesuatu.
Kretek~~
Bunyinya seperti menginjak keripik atau sejenis itu. Abel memperhatikan benda yang diinjaknya. Sesuatu yang panjang berwarna hitam, seperti gagang kacamata. Diambilnya pelan, layaknya detektif yang menelaah tempat kejadian perkara, ia melihat ada yang janggal dari gagang kacamata yang dipegangnya. Bahwa tidak ada kaca atau pun gagang yang utuh.
"Alex?"
"Iya?!"
"Apa Bang Syaif memakai kacamata?"
Lalu siapa yang punya gagang kacamata ini?
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada nama Bian tertera di papan layar gawainya. Ahh, dia lupa meminta ijin pada Bian hari itu. Ia hanya bilang pada Wayan bahwa sahabatnya terluka.
"Siapa?" Alex tampak penasaran melihat Abel mematung sambil menatap layar ponselnya.
Dengan rasa curiga, Alex berdiri dan mengambil ponsel di tangan Abel. "Bian? Siapa Bian?"
"Ahh, bukan siapa-siapa!"
Dering itu berhenti. Jantung Abel segera berdentang. Seperti lonceng dengan suara yang kencang. Menangguhkan telepon dari Bian, berarti mati. Bukankah begitu ancamannya?
"Apa mungkin itu Arbian? Arbian Sutedja Kusuma?"
Pertanyaan yang diucapkan Alex membuat Abel bingung. "Kau kenal Arbian?"
"Syaif yang mengenalnya. Ia pernah menyebut nama itu," Alex bergerak seperti mencari sesuatu. Membongkar laci-laci dan lemari. Lalu menemukan sesuatu, sebuah map merah yang ia tunjukkan pada Abel, "Ini..." Map merah itu segera beralih ke tangan Abel.
Abel membukanya dan terkaget dengan foto-foto yang ada di sana. Ia baru menyadari ini yang dikatakan Bang Syaif mengenai informan Alex.
"Jadi ini foto-fotonya," gumam Abel.
Benar saja, gambar yang diambil 6 bulan yang lalu, seharusnya Alex dapat menyelamatkannya kala itu. "Jadi benar kau baru menerima informasi tentang aku sekarang?"
"Iya, kenapa? Kau mencurigai sesuatu? Lihat ini!" Alex menunjukkan sebuah foto yang benar-benar menyentak Abel. Gambar dirinya berbicara dengan Wayan dan Bian. "Setelah melihat ini Syaif pernah menyebut soal dia, Arbian Sutedja Kusuma."
Kepala Abel rasanya berputar-putar. Astaga, masihkah ia ada di dalam lingkaran setan itu lagi? Misteri apa lagi ini...
"Kau tau, Lex... Sepertinya aku ingin pulang. Aku akan pulang!"
Tanpa mendengar lagi penjelasan dari Alex, ia pergi menghindar. Sambil menggenggam gagang kacamata yang ditemukannya di kamar Bang Syaif, Abel berlari keluar hotel.
______________________
Tiba di rumah kontrakan, Abel merasa kelelahan. Langkahnya goyah karena lelah berjalan. Ia tidak berpikir untuk mengambil tarikan ojek online sebab sepanjang jalan ia terus berusaha menyelesaikan misteri ini.
Kini ia mencurigai semua orang. Tidak seperti sebelumnya, hatinya terperdaya oleh cinta dua pria, Nuca dan Alex. Mungkin benar, cinta pangeran seperti mereka hanyalah khayalan. Ini semua tentang dendam.
Namun, apa salahnya? Batin Abel membara karena marah.
"Dari mana saja kau?"
Segera Abel terperanjat. Ia mencoba memastikan sesosok bayangan yang bersembunyi di belakang cahaya lampu teras rumahnya. Saat sosok itu mulai menampakkan diri, Abel lebih terkejut lagi, "Bi-bian?"
Bian merayap cepat menarik tangan Abel kencang, "Aku sudah bilang, mengacuhkan ku berarti mati!"
"Lepaskan-lepaskan aku!"
"Dari mana saja kau sampe berani mendiamkan telponku, heh!"
"Auch, sakit Bian. Lepaskan aku, kumohon!"
Tatapan mata yang menelanjanginya. Meremang seketika bulu kuduk Abel melihatnya. Ia hanya membalas sebuah tatapan mengiba. Belum selesai penjelasan alasan ia mengacuhkan Bian sebelumnya. Namun, kemarahan Bian sudah sampai puncaknya.
Dengan paksa digeretnya Abel meski ia telah meronta meminta ampun dan pertolongan. Kakinya terseok-seok hampir tak melangkah. Begitu kasar Bian menarik tubuh Abel seperti seonggok barang yang tak berguna. Lalu melempar tubuh tak berdaya itu masuk ke dalam sedan mewahnya.
Tangis mohon ampun Abel tak mampu meredam emosi Bian. Wajahnya kembali seperti saat Wayan menyelamatkan Abel di malam itu. Raut mukanya menegas dengan rona mata gelap, seperti bukan manusia. Namun, kala itu Bian hanya terpaku mengepalkan tangan demi hubungannya dengan wayan. Ia tidak banyak bicara saat Wayan menggagalkan usahanya merebut kesucian Abel, hanya memberikan sebuah kontrak kemudian melepas mereka selamanya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Bel. Kau sudah berjanji padaku...!" Teriaknya kencang hingga membuat Abel ketakutan.
"Maaf, aku ..."
Plak...
Di dalam sedan yang berjalan cepat, suara pukulan demi pukulan menghantam Abel dengan keras. Tubuhnya lunglai kesakitan. Sekuat apapun teriakannya memohon ampun hanya akan membuat Bian semakin kalap. Hingga ia tak sanggup menahannya lagi...
"Bel... Bangun! Bangun! Maafkan aku..."
Suara panggilan itu semakin jauh terdengar, Abel hanya meringkuk menahan kesakitan dan tak sadar...