
-Sudut Pandang Pengarang-
Mengikuti perintah papanya, Alex beberapa hari ini sudah mulai bekerja. Sesuai perjanjian antara dirinya dan papanya, bahwa Dihardja tidak akan melakukan suatu apapun terhadap Nuca -keponakannya- apabila Alex bekerja dan mengembalikan kondisi perusahaannya.
Dia berusaha membereskan banyak hal yang ia tinggalkan selama dalam masa pengasingan bahkan dalam beberapa waktu ia sering menghabiskan malam di kantor, melembur semua pekerjaan dan melobi banyak pihak.
Terkadang pekerjaannya teralihkan oleh pikiran keadaan Anuca dan Abel. Selama ini ia tidak dapat berhubungan dengan keponakannya sehingga tak ada kabar membuatnya semakin memikirkannya. Jika saat itu tiba seperti ada perasaan bersalah dalam dirinya.
Perasaan itu melukainya hingga dadanya sesak. Ada kemarahan yang membakar tubuhnya hingga menusuk di jantung.
“Maaf Pak?”
Alex mendongak kaget. Ia mengangkat kepalanya setelah sibuk dengan laptop dan kertas-kertas di meja kerjanya.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Sebentar ia mengira-ngira siapa gerangan laki-laki yang wajahnya nampak familiar. Ia pernah melihatnya berdiri di samping papanya. Dan baru sadar dia adalah salah satu pengawal ayahnya.
“Ada apa?”
“Saya ingin membantu anda.”
“Membantu?”
“Abel disekap di gudang. Sudah hampir dua hari ini ia disiksa agar mengaku dimana Nuca Suwito berada.”
“Apa!!” Alex bangkit dengan kaget.
Mukanya memerah menahan marah. Hampir saja ia meloncat dari kursi dan berlari menuju Abel berada tapi tubuhnya melemas mengingat ada gadis kecil yang harus dilindunginya. “Tapi…”
“Saya membutuhkan bantuan anda untuk menolong Abel, dan saya akan menolong anda mengenai Nona Anuca.”
__________________________
[Apa masih bisa dilanjutkan?]
[Yah, kuusahakan!]
Putri menarik nafas panjang setelah menutup telponnya. Ia seolah menjadi pengantin yang akan melakukan bom bunuh diri. Seakan mempersiapkan diri untuk mati.
Perintah untuk melanjutkan tugas akhir menghancurkan Dihardja cukup menggemingkan hatinya. Dia mulai melemah untuk bertahan mengingat kebaikan Abel padanya.
Awalnya ia masuk ke dalam pusaran ini dengan dendam yang membara. Akan tetapi seiring waktu sejak ia mengenal Alex, dendamnya meluntur.
Putri mungkin memiliki misi terselubung selain ingin memisahkan Alex dari perasaannya pada Abel. Karena ia juga mencintainya.
Rasa cinta tumbuh di hatinya berkat sikap Alex padanya. Berkali-kali ia ingin membunuh rasa dalam hatinya karena Alex hanyalah seorang Dihardja. Namun tetap, kuasa cinta meluluhkannya sehingga kini ia melemah.
Ia tak sanggup untuk melakukan tujuan akhirnya. Pembasmian keluarga Dihardja, termasuk Alex dan Anuca, mungkin juga … Abel.
Dia berdiri tegap berniat turun menuju basement tempat Abel di sekap. Sebenarnya ia ingin menghapus rasa kasian pada sahabatnya itu hanya saja di waktu Abel mengatakan kalimat terakhir saat mereka bertemu ia merasakan getaran ketulusan dari kata-katanya.
“Gue akan lepasin lo Bel. Lo gak berhak menjadi korban … biar gue akhiri semua ini!” ucapnya sambil memasukkan peluru di dalam senjata api yang tersimpan rapi di bawah kasurnya.
Langkahnya pasti dengan tujuan melepaskan Abel dan Emaknya. Sayangnya ia terlambat, saat menuju basement para pengawal terlihat kelimpungan, beberapa diantaranya tampak tergesa-gesa berlari ke luar.
“Ada apa ini?”
“Maaf, Bu Putri! Ada penyusup. Ia telah melepaskan suspect kita!” jawab ketua tim pengamanan itu agak ngos-ngosan.
“Syaif, Bu! Anggota pengamanan Tuan Dihardja!”
Segera Putri mengikuti langkah mereka dan mengejar Abel. Sesaat ia mendoakan keselamatan Abel. Agar ia segera keluar dari sarang Dihardja entah oleh siapa ia diselamatkan.
Syaif adalah tentara bayaran kesayangan Pak Dihardja. Dia lebih lama telah ikut dengan Pak Dihardja dibandingkan dirinya. Selama ini tidak pernah ada hal mencurigakan bahkan loyalitasnya sangat diakui.
__________________________
“Ayo, Neng! Cepat lari … !”
Bang Udin terus menarik tangan Abel menuju tembok belakang. Disana Alex telah menunggu mereka dengan sebuah mobil yang menyala.
“Bang, Eneng gak kuat … maafin, Neng!” langkah Abel terhenti. Nafasnya memburu. Kram perutnya mendadak kambuh. Ditambah luka akibat siksaan membuatnya semakin tak sanggup berjalan.
“Eneng gak bisa jalan?”
Abel mengangguk sebentar. Diburu waktu bang Udin langsung menggendong Abel dipunggungnya. Dengan kekuatan penuh dia berlari menuju tembok belakang.
“Berhenti!”
Karena langkah mereka sempat terhenti kini mereka terkejar oleh pasukan Dihardja. Ditambah lagi pasukan mereka menggunakan anjing penjaga.
“Bang maafin, Neng! Mereka di belakang, Bang.”
“Sabar, Neng! Sebentar lagi nyampe.”
Ia telah terlatih dengan situasi seperti ini sehingga dengan tangkas ia mengecoh mereka. Bahkan ketika beberapa pasukan keamanan menghalangi ia sigap melawan mereka.
Bak film action, bang Udin bergerak dengan cepat dan melemparkan berbagai jurus silat yang dikuasainya meski dia sedang menggendong Abel.
“Abel!!” seru Putri yang berteriak di belakang para pasukan.
“Menyerahlah Syaif!” ucap ketua tim pengamanan dengan tegas. “Kau sudah terkepung!”
“Tidak akan!”
Lalu dengan beberapa putaran ia seolah meloncat terbang dengan melempar tanah kearah ketua tim pengamanan hingga mengacaukan mereka.
Bang Udin langsung berlari menuju tembok di halaman belakang. Ia menyuruh Abel untuk naik di atas punggungnya dan menyuruhnya melompat.
“Melompat Neng, ada Alex di belakang! Sekarang!”
“Gak, Bang! Ayo ikut, Neng!”
“Ayo, Bel!” teriak Alex yang siap menangkapnya.
Abel terpaku duduk di atas tembok. Disana terlihat Emak duduk di bangku belakang dalam keadaan tak sadar. Ia bagai ada di dua sisi. Sisi kirinya terlihat bang Udin yang terengah-engah dan di sisi berseberangan ada Alex yang siap membuka lengannya.
“Bang Udin, ayo ikut!”
“Aku akan mengecoh mereka, Neng. Cepat pergi!" didorongnya Abel hingga tersungkur dipelukan Alex.
“Jaga dia Lex!”, teriaknya dibalik tembok.
Bang Udin-pun melawan mereka dengan segenap tenaga sendirian.