
-Sudut Pandang Pengarang-
“Paman kita akan pergi kemana?”
“Paman akan mengajakmu menemui mama Abel. Bersiap-siaplah, mengerti!?”
Dikemasinya seluruh keperluan Anuca dan memasukkan ke dalam travel bag. Anuca hanya menggendong boneka beruang coklat kecil pemberian Abel sepulang mereka dari kebun teh.
Dilajukan motornya menuruni bukit tempat vilanya berada. Nuca sangat berharap gadis kecil yang diboncengnya merasa nyaman. Sehingga ia tidak akan melajukannya lebih cepat.
"Paman tau Mama dimana?" pertanyaan Anuca tak mampu dijawabnya.
Anak sekecil ini dia tidak berhak merasakan ketakutan. Apalagi jika ia mengetahui kabar Abel sekarang.
Beberapa waktu lalu, Abel menghubungi mengabari keadaannya yang tidak baik-baik saja. Abel menceritakan dengan terburu-buru bahwa ia sedang menunggu bang Udin di tempat persembunyian yang tidak dijelaskannya.
__________________
Sudah hampir 6 jam dari pelarian mereka dan Abel masih mengkhawatirkan keadaan bang Syaif. Ia takut terjadi hal buruk padanya secara ia tidak mungkin melawan mereka seorang diri.
Dia bukan superhero!
Bayangannya yang terburuk. Ia berusaha melihatnya dari hal yang paling positif. Kemungkinan paling baik. Namun itu tak terlintas sedikitpun dibenaknya.
Matanya menerawang memandang langit diluar pintu kamar. Ia seolah berdiri memaku di depan pintu. Bingung. Takut. Khawatir.
“Apa ada makanan yang kau inginkan, Bel?” tanya Alex sambil menarik tubuhnya masuk ke dalam kamar. Ia ingin memastikan karena Abel hampir belum memasukkan apapun di perutnya.
“Semur jengkol kalau ada bisa?!”
Abel dan Alex sontak menengok ke belakang. Emak telah sadar dan dalam kondisi paripurna. Ia berdiri mendekati Alex yang terbelalak saking kagetnya.
Abel ternganga tak percaya. Emak yang hampir berjam-jam lemah kini bangkit di depannya.
“Pesenin semur jengkol sama nasi, sambel teri juga gak apa. Oh ya jangan lupa ke-ru-puk!” nadanya mempertegas.
“Emmaakkkk!” peluk Abel segera. Air matanya jatuh mensyukuri Emak kesayangannya baik-baik saja.
Pluk – pluk – pluk !!
“Aww … Mak sakit!”
Dipukulnya punggung Abel dengan telapak tangannya yang gempal. “Gara-gara elu mak jadi begini … emang ini ada apa? Rumah kagak ada. Di kejar-kejar kayak penjahat. Memangnya salah apa lu, Bel?”
“Sabar-sabar, Mak!” tangkis Alex menyelamatkan. “Ini bukan salah Abel, Mak. Ini salah Alex … saya … salah saya … Alex!”
Dipandanginya laki-laki bertubuh tegap, gagah dan tampan seperti oppa-oppa dalam drama korea itu dari atas ke bawah, bawah ke atas, samping kiri, samping kanan.
“Haduhhhh ganteng banget yahhh! Ini siapa lagi, Bel? Emak gak nyangka, meski muka lu pas-pasan tapi banyak cowok cakep yang naksir lu. Ini mah kayak cerita Putri Salju”
“Cinderella, Mak!” kata Abel membetulkan dengan gedeg melihat tingkah ganjen Maknya yang berlebihan.
“Ahhh sama aja!”
Alex hanya tersenyum kemudian menjelaskan bahwa ia adalah anak dari orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tak lupa ia meminta maaf atas kejadian ini dan berjanji akan memperbaikinya.
“Trus Bang Udin mana?” tanya Emak diluar ekspektasi Abel.
“Kami masih menunggu kabarnya, Mak. Aku juga khawatir takut ada apa-apa.”
“Trus kita dimana nih?”
“Di penginapan, Mak. Kita sementara sembunyi disini.”
“Ya udah deh, kagak usah banyak omong, ribet. Beli makanan cepet gih, Mak laper!”
Alex hanya tersenyum simpul sedang Abel seolah menutup muka karena malu. Emaknya yang super hebat, pikirnya. Ingat kejadian beberapa waktu lalu saat mereka pertama dikejar Dihardja. Emak tanpa khawatir mencuci bajunya dan menganggap itu baik-baik saja.
Alex segera bangun memanggil Agus. Memesankan makanan spesifik seperti harapan calon mertuanya, maunya sih seperti itu. He-he-he, kekeh Alex dalam hati.
Tapi ditengah mereka menikmati makanannya terdengar suara ketukan pintu. Abel segera berlari membukanya.
Saat itu pikirannya tertuju pada bang Syaif. Beberapa jam ia tak kembali bahkan hampir ia tidak berharap lagi. Ia membuka pintu dengan panik. Jantungnya berdegup memikirkan banyak kemungkinan.
Dan benar, bang Syaif berhasil menyelamatkan diri meski kini tubuhnya penuh memar, berdarah, dan luka dimana-mana.
“Syukur kau selamat, Neng!” katanya sebelum pingsan.
__________________
“Bang Syaif sudah bangun?”
Abel mengambil kompres di dahi bang Syaif. Badannya semalaman menggigil. Ia juga sudah mengobati semua luka di tubuhnya, dibantu oleh Alex yang mengganti bajunya.
“Maafin Abang ya, Neng. Terima kasih Pak Alex!" katanya berusaha bangun.
“Bang Syaif jangan bangun dulu!”
“Gak apa-apa, Neng. Abang kesini cuma memastikan kalau kamu baik-baik aja. Sekarang ada tugas baru yang harus Abang selesaikan. Sesuai janji Abang sama Pak Alex.”
Abel melirik kearah Alex. Seolah mengatakan, tegakah masih meminta balasan disaat melihat orang itu masih terluka.
“Benar kata Abel, Syaif. Sebaiknya kamu istirahat sebentar. Urusan Anuca aku yakin dia baik-baik aja … ”
Bang Syaif menunduk seolah menutupi sesuatu. Seperti ada kekhawatiran yang disembunyikannya.
“Kenapa, Bang?” tanya Abel penasaran.
“Sepertinya tidak bisa, Neng. Penyamaranku sudah terbongkar. Aku yakin Tuan Nuca tidak akan tinggal diam, dia akan melakukan sesuatu!”
Abel tersenyum lebar. Ia tidak takut mengenai Nuca. Semalam ia sempat menghubunginya untuk menyampaikan apa yang terjadi dengannya. Tanggapan Nuca lebih tenang dari dugaannya, jadi Abel sangat yakin pasti semua berjalan sesuai rencana.
“Tidak usah khawatir, Bang. Semalam setelah Abang pulang. Aku menelponnya mengabari keadaan Abang. Dia bilang akan menunggu di Villa”
Anehnya, Bang Syaif tambah terkejut mendengarnya. Ada ketakutan di raut mukanya.
“Kalau gitu aku harus kesana neng, karena aku tidak bisa menjamin keselamatan non Anuca.”
__________________________