Love on Revenge

Love on Revenge
part 27



"Coba kalau kau jadi aku, heh?"


"Kenapa tak kau biarkan aku masuk dalam hidupmu? Semenit saja!" Katanya dengan nada datar.


Sesungguhnya kakiku bergetar. Pandangan juga mulai mengabur karena bingung harus menatap apa agar tak gentar bersamanya. Saat ini aku tak bisa berontak untuk menghindarinya lagi. Ia memergokiku masih ada di sini.


"Aku bukan budak jika yang kau maksud itu..."


"Lalu kau kira, kau itu siapa, heh?" bentaknya keras.


Aku terdiam beberapa saat sambil memalingkan muka, "Aku mohon! Lepaskan aku," hanya itu pintaku. Tak banyak dan tak lebih.


Harusnya kuturuti kata Wayan untuk segera pergi dan mencari pekerjaan yang lain. Hera juga sudah memperingatkan bahwa ia telah mencariku dari tadi pagi. Sekarang ku terjebak dengannya yang sangat kubenci. Lepaskan aku, harapku memintanya pergi dalam hati.


Tangannya meraih pinggangku dan menariknya cepat hingga hanya batas kain yang kami pakai sebagai pemisahnya. Ia menelanjangiku dengan tatapannya yang gila. Seperti elang yang menangkap mangsanya. Mungkinkah aku bisa lepas secepat itu, Bi? Kau bisa memangsaku kapanpun yang engkau mau. Aku bukan umpan yang bisa diperjualbelikan.


"Masih berniat menghindar?" Nadanya tegas, setegas rona matanya menatapku.


Ku coba bertahan dengan segala keangkuhanku. "Masih!" Jawabku menantangnya.


"Dengan kaki yang gemetar itu...?" Tawanya keras memekik di gendang telinga. Mungkin ia lupa bahwa kita berhadapan kini.


"Dengan semua kekuatan yang kumiliki!"


"Heh?! Coba bisakah kau menolak ini?" dicium paksanya bibirku sekali. Rasanya sakit saat ia menggigit bawah bibir ini. Menyemburkan bau anyir dan asin.


"Dan ini..." bibir busuknya itu menggerayangi leherku, membalurnya dengan ciuman kecil dan cepat.


Ada geli meraut perutku. Membuat kaki ini semakin bergetar tak mampu menyangga lagi, "Hentikan!"


Plak~


Rasanya aku begitu ketakutan. Dia bisa membunuhku hanya dengan sekali perintah. Kulihat ia menggosok-gosok pipinya yang memerah. Sudut bibirnya berdarah karena keras aku menamparnya.


"Dasar, *******!"


Dihempaskan tubuhku hingga jatuh terjerembab di lantai. Ruangan VIP yang sepi dengan dijaga dua pengawal di depan. Tidak akan ada yang mendengar jika aku berteriak meminta tolong sekalipun. Bagaimana aku bisa menghadapinya?


"Kau itu milikku, ingat?" hardiknya lantang.


"Aku bukan milik siapapun, ingat?!" Kataku dengan suara tertahan. Padahal nadanya jelas gemetar.


Ditariknya rahang ini dan aku pun terpaksa mendongak karenanya. "Aku suka itu... Kau tau biasanya mereka yang menolakku akan mati. Tapi kau adalah pengecualian..."


Kutarik wajahku menyamping, menepis tangannya yang menguasaiku. Aku sudah pernah merasakan nafasnya membalur kulitku. Tak akan kubiarkan ia melakukan itu lagi padaku.


"Baik...! Dengar, Bel. Jangan pernah menolakku. Kau harus datang jika aku menghubungimu. Kau mengerti!" Hardiknya kencang sambil melempar sekotak ponsel baru yang mahal.


"Dial number yang pertama adalah milikku. Tidak mengangkat telponku, berarti mati... Ingat, mati!" Amukannya seperti auman singa yang lapar. Menakutkan. Jujur, aku takut bahkan hanya untuk membayangkannya.


Aku tidak berniat mengingat semua ucapannya. Namun Bian, laki-laki perkasa itu, tidak akan mungkin membuatku semudah itu lupa.


Bian, adalah seseorang di balik semua alasan terperangkapnya diriku hingga berada di pulau yang jauh. Di tempat yang tak ada satupun kehidupan yang aku kenal. Aku tidak berniat sejauh ini, sungguh. Tapi takdir buruk membuatku dikenalkan dengannya. Lalu dengan alasan aku mainan kesukaannya, ia tidak rela aku terbang keluar dari sangkar emasnya.


"Aku akan menghubungimu nanti, oke!"


Saat suara langkah kaki Bian menghilang, aku tak sanggup lagi bertahan. Tubuhku menggigil dan bergetar. Langit dalam duniaku runtuh. Air mataku jatuh di saat ku bersimpuh. Meratapi nasip yang begitu menyedihkan. Jantungku serasa kembali berdetak saat waktu sebelumnya seperti berhenti di tempat.


Baru kali ini aku menyadari bahwa tak selamanya dicintai itu indah. Karena dengan alasan itu, Bian telah menawanku dalam hidup yang diciptakannya. Gila, laki-laki itu sudah gila!!


Jangan lihat ketampanan dan kegagahannya. Jangan juga melihat betapa seksi dan kerennya ia. Tubuh atletis dan uang uang melimpah. Wajah tampah dan kulit mulus bak pualam. Berhenti menatapnya kagum. Karena ia psikopat gila. Dan itu pasti!


____________________________


Langkahku terseok-seok kembali ke kontrakan. Lututku terpatuk beton lantai saat Bian melemparku tadi. Kini aku hanya bisa menyeret kaki ini lebih cepat meski sakitnya buatku meringis tak kuasa.


Kutenteng kotak ponsel sambil meraba jalan pulang. Seorang gadis berjalan dini hari sendirian. Meski aku telah biasa melakukannya sejak aku terjebak di kota eksotik ini dan malam tak pernah sepi di pulau impian ini. Namun nyatanya hari ini semua keberanianku menghilang.


Kupercepat langkah ini secepat yang aku bisa, dengan berderai air mata mencoba menarik langkah meski nyerinya luar biasa. Hampir buta ku tak melihat jalan di depanku karena air mataku telah membayang. Oh Tuhan, haruskah begini? Apa salahku di kehidupan yang lalu? Air mata basahi pipiku mengingat jalan yang penuh liku.


Tiba-tiba seseorang menggaet lenganku dari belakang. Aku kaget setengah mati dan berteriak meminta pertolongan tapi malah dia menarik tubuh dan menggendongku. Kuamati wajah bersahaja itu, Bang Syaif?


_______________________


"Minum, Bang!"


Disesapnya pelan tanpa suara teh yang kusuguhkan untuknya. Tapi saat aku ingin berterima kasih ia malah berdiri dan pergi. Aku hanya bisa menahan panggilanku dan menghela nafas panjang pasrah.


Mungkin begitu tabiatnya, pikirku.


Kurapikan cangkir teh dan meja depan kontrakanku, sebelum sang induk semang menanyakan apakah ada laki-laki yang bertamu di sana dan itu akan jadi masalah besar.


"Ini!"


Suara itu membuatku terlonjak kaget. "Bang Syaif, jangan kebiasaan deh. Aku kan bukan Alex. Gak usah seserius itu juga kali," omelku dengan sikapnya yang lurus.


Aku mengenalnya sebagai Bang Udin yang akan menguntitku kemana-mana. Berbicara cablak tanpa jeda. Lalu mendadak ia datang dengan perangai yang jauh berbeda. Siapa yang mengenalnya coba?


Muka yang tak pernah senyum. Badan tegap penuh sigap. Sampai selera fashionnya yang tak jauh-jauh dari jas hitam atau jaket kulit warna senada yang selalu dikenakannya. Ia seperti makhluk berbeda dari yang ku kenal.


"Ini..." Ulangnya sambil menyerahkan sekresek kotak yang kuambil dengan siap.


Sekotak peralatan obat-obatan dan salep. "Ini apa?"


Aku tau, sungguh aku mengerti. Hanya kenapa ia melakukan ini, itu yang tidak kumengerti.


Didudukkan diriku di atas kursi dan mulai memberi salep salah urat pada kakiku. Seketika rasa panas menjulur dari lutut hingga ke kepala. Tak lupa ia memberikan antiseptik pada luka merah di kening kepala.


"Sudah, jangan banyak tanya! Pikiranmu sekarang pasti merambat kemana-mana, ya kan?"


"Tapi..."


"Jangan banyak bicara, Neng." Ia merangsek tak berdaya seolah melepas beban berat di benaknya. Badannya bersandar pada tembok sambil menyelonjorkan kakinya. "Ehhh..." Suara desahannya ku dengar menyedihkan.


Kenapa dia begitu?


Apa salahku?


"Kenapa, Bang?"


"Harusnya aku yang bertanggung jawab karena membuatmu pergi. Tapi malah begini!"


"Maksud Abang?"


Bang Syaif menyerahkan sebuah foto. Foto itu diambil saat awal-awal aku datang ke kota ini. Aku kaget melihatnya. Bagaimana dia bisa memiliki foto ini? Seharusnya kalau dari awal dia mendapatkan gambar itu, dia sudah sedari dulu menolongku.


"Aku tau siapa dia. Tapi yang tidak ku ketahui, bagaimana kau bisa bersamanya?"


"Bagaimana bi-sa bersa-manya?" tanyaku ulang dengan gagap.


"Iya. Bagaimana bisa begitu? Kenapa kau malah bersamanya, Neng?"


Pertanyaannya canggung untukku. Bahkan untuk menjawabnya seperti luka lama yang ingin kupendam. Kumohon jangan tanyakan itu lagi, pintaku membatin.


"Namanya Arbian. Abang kenal kah?"


"Iya... Aku mengenalnya. Laki-laki brengsek itu, jika aku sempat bertemu dengannya. Aku bersumpah akan menghajarnya, Neng!"


"Darimana Abang dapat foto itu?"


"Dari informan Pak Alex."


"Tapi itu foto hampir 5 bulan yang lalu, Bang. Kalau kalian sudah tau keadaanku, kenapa tidak menyelamatkan ku?"


Bang Syaif terlihat sangat kaget. Ia menjelaskan baru kemarin mendapatkan kabar keberadaan ku di sini. Aneh, informan sekelas itu, apakah butuh waktu yang lama untuk memberikan detail informasi kepada bosnya?


Aku memang berniat kabur. Tapi jika ada kesempatan untuk diselamatkan aku juga berniat melakukannya. "Bawa aku pulang, Bang! Aku ingin pulang."


Aku bersimpuh memeluknya. Mendekap tangisan di bidang dadanya. Ia hanya membalas pelukanku. Semakin erat dan erat...


___________________________


Kulap meja hingga mengkilap. Pagi yang cerah meski aku sangat payah. Badanku lelah ditambah dengan nyeri kaki yang belum pulih benar, membuatku tak dapat bekerja maksimal.


Berkali-kali kututup mulutku karena menguap karena mengantuk. Mataku tak sengaja terkatup hingga hampir terantuk meja. Tadi pagi aku hanya tidur selama 2 jam. Biasanya paling tidak aku sempat tidur 5 jam.


Saat mataku tak mampu lagi terjaga, seperti ada benda dingin yang menyentuh tengkukku. Sontak aku kaget dan melihat Wayan membawa sebotol air mineral dingin.


"Kalau mengantuk, tidur sebentar di belakang. Saat ramai kau tidak boleh menyia-nyiakan pelanggan."


"Ahh, Yan. Maaf aku mengantuk. Aku tak kuat membuka mata."


"Tidur sebentar, lalu kita lanjutkan!"


Kulangkahkan kaki menuju ruang belakang. Sebuah gudang kosong dengan kasur lantai untuk beristirahat. Niatku hanya sebentar. Merebahkan tubuh sambil menunggu jam buka tiba. Tapi nyatanya saking lelah kurasa, aku malah terlelap hingga beberapa lama.


Suara berisik dari arah depan membuatku terkaget hingga bangun. Kutengok jam dinding. Astaga, aku telat dua jam!


Seperti suara Tante Rima yang berteriak nyaring, hingga suara meja dan kursi yang terbanting.


Ada apa?


Sambil berlari segera ku datang menuju depan dan melihat beberapa orang berpakaian preman menghancurkan cafe Wayan. Tante Rima berjongkok sambil menangis di pelukan Darian. Anak kecil itu ikut berteriak ketakutan.


"Ada apa ini?"


Kulihat Wayan sudah tergeletak tak sadar di pintu depan. Aku berteriak memanggil namanya namun Wayan hanya diam. "Berhenti atau aku lapor polisi!" kataku sok berani.


Mereka tak bergeming malah berani mendekat ke arahku. Aku semakin mundur. Wajah mereka sangat garang dan menakutkan. Kami sudah membayar uang keamanan. Lalu, kemana mereka saat ada preman datang?


"Berhenti!" perintahku sambil menyodorkan panci sebagai pertahanan.


Tapi, mereka malah sengaja menepisnya hingga bunyi klontengan terdengar dari panci yang jatuh ke lantai. Tolong aku, Bang!


Bruk!


Brak!


Gubrak!


Kubuka mata perlahan dan kulihat sebagian dari mereka bergelimpangan. Bang Syaif datang sendirian dan melawan mereka berenam. Badan mereka lebih besar dua kali lipat tapi dengan mudah dikalahkan.


Saat mereka merasa kalah akhirnya mundur dan pergi. Saking senangnya aku berlari memeluk Bang Syaif yang masih mengatur nafas ngos-ngosan setelah berkelahi.


"Kau tidak apa-apa, Bel?"


Kutengok ke belakang kaget. What? Ngapain dia berjongkok di belakang pot seperti itu? Senyumnya dipaksa merekah.


Gosh!


"Kau benar-benar tidak dapat dipercaya, Lex!"