Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 21



Aku memapah bang Syaif dengan hati-hati menuju mobil yang terparkir di belakang motel ini. Sebelum pergi, ia berpesan pada pemilik motel agar menjaga Emak dan berhati-hati apabila ada orang yang mencari kami.


Alex duduk di kursi pengemudi. Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


“Lebih cepat lagi Pak Alex. Mungkin mereka sudah ada disana!”


“Kenapa sih, Bang! Gak mungkin dia sejahat itu, Bang!”


“Percaya, Neng! Aku tau.”


Muka bang Syaif terlihat begitu ketakutan. Dia bilang akan terjadi hal buruk pada Anuca jika kami tidak segera pergi ke gedung lama.


“Aku gak percaya sebegitu dendamnya kah dia pada kami!” sahut Alex dari balik kemudi.


Muka mereka sama menegangnya. Sedang aku bahkan tidak tau ada apa. Aku hanya tau tentang satu hal, mengenai asal usul Nuca – nonaku sayang.


Hari semakin malam. Waktu kutengok jam di lengan tangan sudah menunjukkan pukul 12.


Berasa akan melakukan uji nyali sebenarnya menuju gedung lama pada tengah malam. Bulu kudukku meremang bukan karena akan menghadapi hantu dan pocong. Tapi karena aku tau kami akan melakukan hal yang besar, antara hidup dan mati.


Sesampainya di gedung lama, bang Syaif langsung melompat keluar dan berlari dengan tenaga tersisa menuju balkon lantai atas. Kami mengikutinya.


Beberapa kali kami dihadang oleh pasukan berompi anti peluru namun bang Syaif tetap mampu melawan mereka bahkan ia dapat merampas senjata yang mereka pegang.


Kuambil sebilah pisau dan pistol dari tangan pasukan yang terkapar. Alex dan bang Syaif nampaknya memiliki basic beladiri.


Sedang aku?


Apa basic-ku selain menguleni adonan donat!


Aku berlari kecil menyusul mereka yang sudah di depan. Hingga akhirnya kami mendobrak pintu balkon dan mendapati tubuh Pak Dihardja telah terkapar dengan pistol ditangan Putri.


“Putri? Apa yang kau lakukan?” kataku hampir tak percaya.


Bagaimana bisa sahabatku memainkan senjata apalagi sampai membunuh orang. Entah siapa menembak siapa. Atau siapa memulai yang mana. Intinya yang kulihat sekarang Pak Dihardja tak berdaya dalam posisi tertelungkup.


“Papaaaa!!” Alex berlari mendekati papanya yang tersungkur bersimbah darah. Membalik tubuhnya sambil memeriksa hal yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya.


“A-AAlexx, maaf-kan Pa-pa.”


Begitu kalimat terakhir yang kudengar. Aku dan bang Syaif berhenti dalam diam. Kami tidak tau harus melakukan apa.


“Aku sudah bilang Lex. Aku akan menghancurkan kalian!!!” teriak Putri sambil mengacungkan pistolnya kearah kami.


“Aku sudah memberimu kesempatan. Aku bilang aku mencintaimu, Lex!! Bahkan aku luluh, bersedia berhenti pada dendamku selama kau mau jadi milikku!” teriaknya lebih keras lagi.


“Arghhhh !!”


Alex bangkit dengan kemarahan dan hampir menghantam tubuh Putri dengan keras sebelum yang tak kalah mengejutkan muncul dari balik tembok besar.


Aku terperanjat. Benar-benar tak percaya dengan apa yang kulihat. Sosok yang kukenal, berbeda 180° dengan yang ada di depanku sekarang.


“Eit… eit… eit… menjauh Lex!” ucapnya dengan menengadahkan pistol kearah Alex.


Nuca?


Kulihat bang Syaif mengepalkan tangan hendak melakukan sesuatu. tapi aku tak tau apa itu karena aku masih shock dengannya yang berada dibalik ini semua.


“Nuca, kau!?” ucapku pelan.


Aku benar-benar tak mampu mempercayai apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri.


“Jadi kau selama ini? Dalang dibalik ini semua, Nuca!” teriak Alex pada Nuca yang kini memberi isyarat pada Putri untuk berdiri di belakangnya.


“Iya, gue!! Terkejut? Syaif bin Udin, Putri Dharmawangsa mereka adalah orang-orang yang memiliki tujuan yang sama. Menghancurkan kalian semua para Dihardja!!”


Aku langsung melihat kearah bang Syaif. Tatapannya seolah mengiyakan apa yang dikatakan Nuca saat ini. Kugelengkan kepalaku tak mau percaya.


“Kenapa, Nuca? Kenapa kau bisa sejahat itu?” tanyaku meminta penjelasannya setelah berusaha mendapatkan ketegaran.


“Kami adalah orang-orang yang ditindas oleh laki-laki tua ini, Bel. Papa gue meninggal setelah diusir dari rumahnya sendiri. Oleh kakaknya, Dihardja ini. Putri kehilangan keluarganya dengan cara yang lebih menyedihkan karena Dihardja mengambil alih paksa perusahaan Papanya. Lebih kejam lagi, Papa Putri ditangkap atas tuduhan yang tidak dilakukannya. Dan Syaif, dia adalah anak angkat Papaku yang dari kecil dipungut karena rumah orang tuanya digusur secara paksa untuk pembangunan gedung ini ... Katakan, Abel! Apakah orang seperti ini yang lo bela? Apakah gue salah ngelakuin ini semua?”


“Itu Dihardja, Nuca! Kenapa kau lampiaskan pada semua padaku?” sanggahku pada semua argumennya.


Kuatur nafasku berharap kuat mengutarakan semua yang membuncah di dada. “Bahkan bagaimana bisa kau mengatur ini semua dengan melibatkanku? Jadi tentang perasaanmu itu juga palsu?”


Nuca nampak gusar. Ia mulai panik dan mengawutkan rambutnya kasar bahkan pegangan pistolnya pun gemetar. Terlihat raut mukanya yang tajam dengan tatapan seperti elang.


“Elo salah, Bel! Lo salah!”


“Salah? Katakan dimana salahnya? Kau jadikan aku perangkap agar Alex tidak fokus dengan pekerjaannya kan?”


“Iya ... ya! Tapi bukan itu ... bukan,” teriaknya gagap.


“Gue emang nyuruh Putri agar mempengaruhi Dihardja gunain lo buat goyahin gue. Tapi, seharusnya gak begini, Bel!"


Kaki dan tangannya gemetar. Hampir tak sanggup berdiri iapun berjongkok sambil memegang kepalanya dengan pistol masih terbawa.


" ... Seharusnya gak jadi serumit ini, Bel! Bahkan gue uda nyuruh Syaif buat ngelindungin elo. Karena cara terbaik menghancurkan mereka adalah menghancurkan mereka dari dalam, Bel!”


“Brengsek kamu Nuca!” hampir Alex melompat seolah akan menerkam Nuca, tapi dengan cekatan Nuca menampisnya dan menembakkan peluru menyerempet betis kiri kaki Alex meninggalkan luka menganga disana.


Aku berlari kearah Alex. “Aleeeexx!!” kupeluk ia untuk memastikan dia baik-baik saja.


“Kita akhiri disini, Nuca! Kau dan aku!” tantang Alex. “Lepaskan Abel, ia tidak bersalah!”


“Bangsat lo Alex! Lo pikir lo yang baik?? Gue meminta bang Syaif memata-matai kalian dan masuk di lingkungan Abel lo pikir untuk apa kalau bukan buat melindungi dia, gueeee Alexxx gueee yang lebih mencintainya, bukan loooo!!”


Hyattt!!


Dibuangnya pistol di tangannya dan mereka pun mulai berkelahi. Aku berusaha melerai namun bang Syaif mencegahnya. Ia memeluk tubuhku dengan maksud menghindarkanku dari kemungkinan cidera yang terjadi.


Mereka saling memukul. Melukai. Hingga kulihat Nuca terpojok dan hampir Alex menghabisinya. Namun dari jauh kulihat Putri dengan gemetar memegang pistolnya tepat diarahkan menuju Alex.


“ALLEEEEEEEEXXX!!! Awass!!!”


Dorrr!!


_______________________