
Sinar mentari menarik pelupuk mataku memaksa untuk terbuka. Memandang langit-langit kamar yang masih asing buatku. Lantai marmer yang dingin. Ruang ber-AC dengan kasur yang lebar. Semalam aku tertidur di sini. Menemani Sang Tuan Putri Kecil, Anuca - nonaku sayang. Masih teringat semalam menunggui Nona Anuca yang mengigau dan demam tinggi. Aku terpaksa begadang untuk mengompresnya.
Kuputar ruas sendiku pegal. Lelah karena tertidur dalam posisi meringkuk di samping dipan. Kakiku kesemutan hingga sekarang entah apa rasanya. Kuperiksa dahi mungil gadis didepanku ini. Syukurlah panasnya sudah turun. Segera kubangkit mengambil baskom di atas meja tidur. Bukan kewajibanku memang tapi gadis manis itu tidak mau orang lain selain aku. Ia tidak mau sedetik pun aku meninggalkannya bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun. Jadi atas permintaan papanya, akupun menginap sambil menjaganya.
Tentu, kerja lembur ini namanya. Lumayan...
Sekarang selain driver aku juga punya side job sebagai baby sitter juga. Aku tidak terlalu peduli yang penting akhir bulan rekeningku bertambah lumayan.
__________________
"Bi, ini baskom semalam. Panasnya sudah turun. Aku berniat pulang buat bersih badan, mungkin 3 jam lagi aku kembali ya, Bi!" seruku menahan lelah sambil menyerahkan baskom itu pada Bi Inah.
Bi Inah yang dari tadi sibuk memotong sayur mendadak berbalik dengan muka merungut kesal, "rus yang mandiin Non Anuca siapa? Yang nyuapin? Enak aja kalau kerja setengah-setengah gaji minta gede!" omelnya tak henti.
Haduh!
Berisik banget sih ini nenek lampir. Ingin rasanya kukuncir bibir monyongnya biar tambah afdol ngomelnya. Wanita paruh baya ini mukanya sadis abis. Tidak berprikewanitaan, sama wanita kayak aku biasa ngomel-ngomel ngalah-ngalahin Emak yang melahirkanku. Tapi jangan tanya betapa lemah gemulainya saat ia berbicara dengan security rumah, manisnya kayak kelebihan gula.
Aku ini dibayar sebagai driver bukannya baby sitter. Mungkin ini orang amnesia. Jadi perlu diingatkan ulang.
"Tapi..." sergahku.
Bi Inah melempar pandangan sinis. Melotor hingga matanya menyumbul kayak ikan mas koki. "Gak pake tapi-tapian... tunggu Non Anuca bangun, baru kerjain yang lain. Mau enaknya aja, emangnya situ juragan apa!"
Haduh Gusti!!
Berasa aku berteriak ala food blogger ter-Hits di layar kaca.
Okelah, dengan payah kuberjalan lunglai keluar dapur. Menyomot sedikit roti yang nampak menggoda di samping wastafel. Biar saja aku lapar, omelku juga dalam hati. Ini roti memang bukan untuk kaum rendahan sepertiku, rasanya lembut banget dan gurih. Enak!
Meski memakannya ada rasa bersalah dan ketakutan. Mengingat kalau sampai Tuan Besar tau kekurangajaranku bisa-bisa auto pecat tidak bisa kembali.
Tak lama langkah ini keluar tiba-tiba seseorang menepuk bahuku mengagetkan. Aku sontak berbalik. Dengan jantung berdegup kencang dan keringat dingin mengucur deras. Aku tau akan masalah jika aku sampai ketauan. Ku tatap wajah di depanku lekat-lekat. Ketakutanku akan omelan Papa Nom Anuca karena tidak sopan menyomot roti yang tidak ditawarkan terbayang sudah di pikiran.
"Maaf, Pa-ak!" kataku memohon ampun.
"Anuca gimana?"
Melihat siapa yang berdiri di depan membuatku kaget bukan kepalang hingga roti ditanganku jatuh ke lantai. Seluruh bayangan masa laluku berkelebat cepat. Wajah itu amat ku hafal di luar kepala meski kami telah dewasa kini. "Ka-u?!"
_________________
Anuca nampak asyik bercanda dengan laki-laki di depanku ini. Pembawaannya kalem seperti dulu, Aroma tubuhnya sangat maskulin. Dia tampak rapi mengenakan kemeja army dan kaos hitam di dalamnya. Mereka begitu akrab hingga mungkin aku akan mengiranya sebagai ayah dan anak. Pembicaraan mereka mengarah ke tema apapun. Nonaku sayang nampak nyaman bergelayut di lengan kekar laki-laki yang dipanggilnya paman itu.
"Paman, Anuca lupa ngenalin itu...." tunjuk Anuca tepat ke arahku. Ditariknya senyum simpul seolah begitu bangga memperkenalkanku ke hadapan pamannya. Ia meloncat girang meraih tanganku dan menautkannya dengan tangan pamannya. Kami hanya membalas dengan senyuman kikuk.
"Iya, Paman tau! Kak Abel, kan?" ucapnya sambil mengenggam tanganku kuat. Ia menepuk lembut sambil melepas tawa yang manis.
Tentu saja kau mengenalku. Brengsek, solot batinku kesal.
"Kalian sudah saling kenal?" Anuca memandangku bingung.
"Iya, Non. Kak Abel kan terkenal. Macam artis yang Nona suka itu loh..." jawabku setengah bercanda sambil memberi isyarat agar Si Paman ikut terlibat di dalamnya.
"Oh getu! Jadi, Paman akan lama di sini kah? Anuca kesepian, Paman." keluh gadis manis itu menunjukkan rona sedih di matanya.
Kupeluk ia segera berharap dapat melepas kesedihannya. "Jangan bilang gitu, Non."
"Maafkan Paman, Sayang. Paman tidak bisa segera pulang. Tapi untuk kali ini Paman janji akan pulang dalam waktu yang lama, oke!?"
Paman yang di sebut Anuca itu tersenyum mengerlingkan matanya mencoba mencairkan suasana. Aku hanya bisa mendengus kesal menanggapinya. Bagaimana dia bisa menjadi genit hanya dalam beberapa tahun.
_________________
"Apa kabar?" sapanya terlebih dulu dengan nada getir di dalamnya.
Kujawab singkat dan tegas, "Baik, kamu?"
Aku tidak mau dia salah faham dan menganggap aku memanfaatkan suasana. Apapun yang terjadi di masa lalu, dia adalah bosku sekarang.
"Bingung mau ngomong apa. Aku seneng ketemu lagi denganmu disini!" dilempar pandangan dengan rona berkaca-kaca. Aku tau dia sangat bahagia. Terlihat jelas dalam senyum yang tak lepas dari bibirnya. Sebenarnya godaan terbesarku adalah senyum seksinya.
Oh God!
Sungguh aku telah memaafkannya. Mengingat berkubang pada semua kesalahan di masa lalu bukanlah jiwaku. Aku orang yang terdidik untuk selalu memandang tegap ke depan. Masa lalu memang menyakitkan, namun senyum seksinya menggairahkan.
"Tapi maaf aku enggak sebahagia itu. Sori Lex, kalau gak ada yang diomongin lagi mending aku pergi deh. Kasian Non Anuca sendiri. Disini posisiku sebagai driver, bukan mantan terindah," ucapku menegang.
Kulihat ia kikuk bukan main. Gesture tubuhnya berubah. Melihatnya yang kaku membuatku sedikit menahan tawa. Senang kulihat muka bingungnya. Jelas ia merasa bersalah. Dan harusnya dia merasa bersalah. Muka polosnya sontak menenangkan jantungku yang dari tadi berasa sport jantung. Dag-dig-dug, kencang naik turun tak karuan. He's Damn so good sekarang. Tampang yang keren tidak akan menolak menjadi bagian dari kehidupannya.
"Gila!" Dia berjingkat-jingkat kesal. Ada ketidakpercayaan melihatku yang hampir tertawa ngakak. "Kamu ngerjain aku?" kesalnya menarik tangan langsung memelukku.
"Apa kabar, Lex? Senang kubertemu denganmu. Berapa tahun? Sembilan?" kubalas pelukannya. Mengeratkan tubuh bidangnya sambil menghirup dalam aroma manis dari parfumnya. Aromanya mengingatkan kenangan seolah flashback putar bolak-balik di ingatanku. Ia semakin kuat memelukku, menggoyang-goyangkannya hingga tubuhku sedikit terangkat.
"Aku juga. Kangen banget sama kamu, Bel!"
"Harus itu..." kulepas pelukannya dan kembali menatap binar matanya yang teduh.
Alex hanya menggelengkan kepala sekilas lalu menarik tubuhku lagi hingga bergoncang dengan cepat. Dipeluknya lagi seperti malas melepaskan. Dicium keningku dan mengakhiri dengan senyuman. "Kau tau, Bel. Jantungku berdegup kencang. Coba kau dengarkan! Rasanya gak akan sanggup jika benar kau masih marah dengan masa lalu."
"Ya, enggaklah... Aku marah pasti. Kesalahanmu tidak akan bisa kumaafkan. Kau tau itu kan? Tapi kau bosku sekarang."
"Lupakan itu. Aku Alex. Alex-mu, Bel!"
Kami terdiam dalam waktu yang terhenti. Pelukan ini tak ingin kulepaskan jika saja Bi Inah tidak datang bagai polisi penindak kebenaran.
"Tuan!" kagetnya yang mendadak berdiri di belakang. "Ada Tuan Besar menunggu di ruang kerja." kabarnya sambil melempar senyum sinisnya ke arahku.
Nih Bibik tua, tidak pernah jadi tokoh utama tapi selalu saja muncul tiap adegan penting dan genting. Alex menatapku geli sambil melepas pelukannya. Dia pasti paham betul di luar kepala apa yang ada dibenakku sekarang.
"Baik, Bi. Aku akan segera ke sana."
Penampilan Alex yang berwibawa membuatku terpesona. "Kau harus menemui Tuan Dihardja, kan?"
Ditarik tanganku dan mengapitkannya di lengannya. "Bagaimana kalau kita turun bersama... Aku masih kangen sama kamu, Bel." ucapnya sambil mentowel hidung pesekku.
_________________
"Put, kau tau siapa yang ku temui di sana?" seruku sambil menyomot gorengan yang ada di piring Putri, sahabatku.
Ia cuma bisa melirikku kesal tanpa bisa berbuat apa-apa. Kami masih sering bertemu di waktu senggang hanya sekedar makan atau mengantar jemput Putri menuju kampusnya. Meski aku bukan ojol lagi tapi melihat sahabat baikku itu berjalan pulang pergi kampus-kosnya yang lumayan membuatku iba.
Suasana Warung Makan Pak Toni spesial Mie Ayam dengan aneka gorengan sangat ramai di jam makan siang. Ada beberapa kelompok mahasiswa yang duduk di pojokan membuka laptop dan membahas dengan kencang. Di sisi lain terdengar riuh dari ghibahan mahasiswi tentang cowok baru dari jurusan yang berbeda. Kuamati lingkungan kuliah ini yang amat kuimpikan. Mungkin sebentar lagi, pupukku dalam hati.
"Hey, melamun." Sahut Putri menyerahkan mangkuk mie ayam itu ke arahku. "Siapa yang lo temuin di sana?"
"Apa?"
"Dasar tukang melamun. Elo tadi bilang dengan menggebu-gebu. Katanya ketemu someone di sana. Siapa?"
"Oh, itu... Alex. Aku ketemu Alex di sana. Dulu aku pernah cerita kan?"
"Iya, dia di sana ngapain?" ujarnya dengan nada yang kikuk dan takut.
"Kenapa kamu?" tanyaku mengikuti ketidak nyamanannya mendengar nama Alex ku sebut.
Putri hanya menggeleng cepat dan memintaku menceritakan lanjutan ceritanya. Kulanjutkan tanpa banyak berpikir. Aku memang dulu pernah menyebutkan cowok-cowok di masa laluku. Termasuk Si Alex ini. Tapi kami bukan mantan terindah. Hanya teman tapi mesra, sangat mesra hanya dengan kenangan yang tidak menyenangkan.