
“Elo sudah gila?!” teriak Nuca dikupingku marah.
Nafas kami masih terengah-engah akibat berlari menghindari kejaran para pengawal. Kami mencoba bersembunyi berharap mereka tidak sadar siapa kami.
Anuca berjongkok dengan gemetar, kupeluk ia untuk menguatkan. Jangankan nonaku sayang, aku pun begitu. Rasanya tulangku lepas dari sendi satu persatu-satu.
Ini pengalamanku. Tak bisa dibilang seru. Namun seumur hidup aku tidak pernah terpacu adrenalin seperti dikejar rentenir, padahal utang pun tak punya.
“Kurasa gak ada Putri, Nuc!”
“Kita bakal keluar sampai gue rasa aman. Elo disini sama anak itu, biar gue liat situasi di luar.”
Tak berapa lama ia kembali menarik kami. Dengan setengah berlari menuju depan rumah sakit dan masuk ke dalam taksi.
“Mama, Nuca kangen!!”
Kupeluk gadis kecil itu lebih erat untuk menjawabnya. Anuca dan Nuca. Keduanya melihat seperti membutuhkanku sebagai tonggak mereka berdiri.
"Apa?!" Nuca dewasa melihatku bingung penuh tanda tanya. Kenapa aku dipanggil mama. Mungkin itu yang pikirnya.
“Jangan tanya!” ucapku memberi isyarat padanya untuk berhenti berfikir aneh.
"Mama, baik-baik kah?"
"Iya, Sayang. Gimana Anuca sendiri? Kenapa Anuca lari?"
"Hu hu hu..." tiba-tiba tangisnya pecah. "Paman, di penjara Papa, Ma. Ia dibawa ke tempat gelap dan dipukuli. Anuca sedih lihatnya. Kasihan, Paman."
"Paman Alex?"
"Paman, menyuruh Anuca untuk pergi menemui, Tante..."
"Tante, siapa?"
Non Anuca hanya menggeleng sambil memberiku sepucuk kertas yang katanya pemberian sang paman. Isinya sebuah alamat tanpa nama. Anuca bilang, ia hanya perlu pergi ke rumah itu dan bilang namanya. Anuca Dihardja. Pasti tante itu akan menolongnya.
Kulirik ke arah Nuca mencari pendapatnya namun ia tampak cuek hampir tak mau peduli. Perjalanan kami terlalu menegangkan untuk menyadari bahwa kami berada di masa yang sulit untuk percaya. Bukan kami, tapi aku khususnya.
Keadaan mengenai Nuca-Alex-Putri membuatku tidak dapat mempercayai siapapun. Meski sekarang aku bersandar pada Nuca tapi itu semata-mata hanya ia yang dapat menyelamatkanku dari musuhku yang nyata, Pak Dihardja. Dia jelas-jelas mencariku.
Entah mungkin kelelahan atau lamanya perjalanan. Anuca kecil terlelap dalam pangkuanku. Kulihat diluar jendela kami telah berada di luar kota. Melewati tol dan jalan besar.
“Mo kemana kita?”
“Terpaksa kita harus pindah tempat, yang lo bawa termasuk magnet keluarga Dihardja. Kalau lo mau sembunyi, sembunyi sekalian di tempat yang jauh.”
"Tapi bagaimana dengan Emak?"
"Gue bakal hubungi Bang Udin. Lo tenang aja!"
_____________________
Saat malam tiba kami telah sampai di sebuah vila. Disambut oleh sang penjaga yang nampaknya akrab betul dengan Nuca.
“Malam, Den! Aden mo langsung istirahat atau makan dulu, biar mamang siapin.”
Nuca melihatku sekilas. Dengan menggendong tubuh kecil Nuca aku nampak kelelahan.
“Siapkan air hangat, Mang! Dan tolong tunjukkan kamar buat Non Abel”
“Baik, Den!”
Lelaki berperawakan kecil itu langsung mengantarku menuju kamar. Segera kubersihkan diri setelah menidurkan Anuca di ranjang.
Tak lama aku keluar menemui Nuca yang sedang berbincang dengan mamang penjaga vila. Kutunggu hingga mereka selesai bicara karena tampaknya itu sesuatu yang penting.
“Lo laper?” tanyanya begitu berbalik dan mendapatiku menunggunya disana.
“Sedikit," kataku membual.
“Ayo makan! Sebelum perut lo tambah keroncongan.”
“Nggak usah. Bang Udin udah gue kabarin tadi. Dia bakal menjaga Emak dengan baik”
“Makasih ya!” kataku sambil menyuapkan sesendok nasi lauk yang telah terhidang.
“Gue gak habis pikir kenapa elo bisa ngorbanin diri bawa tu anak, dia bukan kewajiban lo ... Dihardja yang bikin lo kayak gini, lupa?”
“Mungkin!” sanggahku sambil menyuapkan sesendok lagi. “Mungkin Dihardja yang melakukan ini. Tapi apapun alasannya gadis kecil itu tidak berhak merasakan apa yang kurasakan!” air mulutku mulai basah dan kurasa aku mulai menangis.
“Yang jelas kalian semua yang buatku seperti ini! Harusnya aku tuh hidup tenang sama Emak, Nuc! Entah jadi ojol atau jadi tukang pijat tapi aku gak perlu masuk dalam lingkaran setan kalian," kupaksakan menyuap lagi.
“Sekarang siapa yang kupunya? Rumahku tidak ada, sahabat karibku pun tiada, aku bagaimana, Nuc? Bahkan kau menghancurkan impian Emakku buat jodohin aku dengan bang Udin ... Hu hu hu," tangisku langsung pecah.
Nuca langsung bangkit dan memelukku erat. Pikiranku begitu berat. Sesulit itukah menjadi Cinderella. Tidak bisakah sekedar mendapatkan pangeran dan bahagia selamanya seperti dalam dongeng dan cerita.
Kenapa juga harus melewati berbagai rintangan bahkan pangeran pun tidak jelas siapa memilih siapa. Bahkan hidupku pun penuh liku nan terjal.
Dulu baik pangeran kodok maupun si bungkus kacang tidak lebih baik dari Bang Udin yang mirip Jefri Nichol itu.
Tapi kini … bahkan itupun tak pantas kujadikan mimpi.
Why that’s so hard?
Menjadi seorang putri!
Meski kutau bagaimana mereka memanfaatkan aku sebagai alat mengacaukan pikiran Nuca. Tapi tak seharusnya aku terlibat sejauh ini.
Kenapa aku harus begitu dibenci?
Kubenamkan mukaku di dalam dada bidangnya. Dia mengelusku pelan. Berbagai pikiran rancu berkumandang dalam otakku.
Mungkin karena aku mendengar bahwa Nuca menyukaiku sehingga sekarang terasa begitu nyata saat dia membalas pelukanku.
Aku sungguh bingung tentang semua hal. Karena meski seharusnya kumarah pada Alex akan perbuatannya, tapi bagaimana pun kucoba aku tetap tidak bisa.
“I am sorry!" ucap Nuca lirih.
“Gadis itu … Non Anuca. Dia tidak bersalah. Dia hanya dilahirkan dikeluarga yang salah. Aku kasian dengannya."
"Apapun yang buat lo tenang sekarang. Gue setuju!"
"Tapi kenapa aku? Apa salahku?”
“Yang gue tau, elo adalah cewek paling istimewa yang ada di hati gue, dan itu gak pernah berubah”
Dikecupnya bibirku pelan. Hangat kurasa. Dan entah berbeda dengan sebelumnya, akupun membalasnya. Kueratkan pelukanku seakan menikmati bersamanya. Anehnya aku tidak takut ataupun ragu.
Ada apa denganku?
Dielusnya pipiku lembut sambil membisikkan betapa ia merindukanku. Kata-katanya yang manis seolah menyatakan betapa lamanya ia menanti untuk mengenalku. Kutatap matanya seolah bertanya-tanya. Namun ia hanya menciumiku berulang untuk menghentikan pikiran liarku tentangnya.
Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar dan kutahan sebisaku agar ia tetap berdiri bertahan. Kenapa ia begitu sedih? Kita hanya baru mengenal tanpa suatu kedekatan sebelumnya. Tak ada kenangan yang perlu diangankan. Kenapa ia begitu sedih? batinku bertanya berulang kali.
"Nuca? Kenapa kau?"
"Gue sangat merindukan elo, Bel. Sangat..."
____________________
Aku terdiam tidur di samping Nuca yang terus menggenggam erat tanganku. Kami tidur berhadapan. Tanpa ada satupun kata yang sanggup diucapkan. Seolah kami dapat berkomunikasi tanpa menggerakkan bibir kami. Telepati dari hati ke hati.
Baru kali ini kulihat ia begitu rapuh dan lemah. Memelukku seperti telah merindukanku puluhan tahun lamanya. Menciumku seolah kita pernah melakukan sebelumnya.
Yang kami lakukan begitu romantis dan menyedihkan. "Bel?" desahnya dalam tidur. "Jangan pergi! Tolong gue..." lanjutnya lagi masih dalam lelap.
Kukecup keningnya sekali seperti seorang ibu yang meninabobokan anaknya. "Aku di sini..." ucapku lirih di telinganya. Lalu ia seperti mengeratkan lingkaran tangannya di pinggangku hingga kuterjatuh tidur di sampingnya.
"Nuc, seberapa dalam dan berat masa lalumu?" tanyaku dalam hati.