
"Katakan, Lex! Apa kau masih menyukaiku?"
Alex menundukkan kedua matanya kelu. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan sesederhana itu dikarenakan perasaannya yang merancu. Meski jawabannya sangat mudah, antara iya dan tidak.
"Bagaimana, Lex?" tanyanya lagi setengah memaksa jawaban darinya.
"Tidurlah, El. Nanti aku menyusul..." Alex bangkit memunggungi Elisa yang terbaring di atas ranjangnya.
"Kau benar-benar tidak bisa menyentuhku kah?"
"Tidak, bukan begitu. Hanya aku sedang tidak mau," katanya lembut sambil menangkupkan kembali kedua tangan Elisa lepas dari pundaknya.
"Kenapa? Karena gadis kampung itu?" tanyanya geram.
Ditatapnya wanita istimewa dihatinya itu dengan penuh arti, "Tidurlah, El. Aku akan menyusul..." katanya berulang kali. Berulang ia mengatakan itu semata-mata juga untuk meyakinkan diri, benarkah ia sanggup menolak Elisa? Cinta pertamanya.
Dia wanita cantik, seksi, dan pintar. Satu satuan sempurna ciptaan Tuhan yang tidak akan sanggup ditolak oleh pria normal manapun di dunia. Kini terbaring pasrah seolah rela diperlakukan apa saja oleh sang pemilik kamar. Sungguh, Alex pun berpikir cukup hipokrit jika dia menolak. Tapi ada rasa menggeliat, seperti rasa ngilu dan terluka yang sangat aneh.
Elisa menarik tangan Alex untuk berhenti. Ditatapnya sendu pria tampan di depannya itu. "Masihkah kau memikirkan gadis itu? Apa kau yakin?" tanyanya sekali lagi. Kali ini godaannya lebih intens. Ia tak hanya meraba namun juga mencium tengkuk Alex lembut. Memeluk erat seperti layaknya sepasang kekasih di mabuk asmara.
Meski Alex mulai gentar dan ingin segera khilaf dengan alasan apapun. Setidaknya setan manapun mungkin bisa memintanya. Akan tetapi langkahnya tak semudah itu goyah entah mengapa. Sungguh, ia ingin membalas semua rayuan mesra yang diberikan Elisa. Namun dengan alasan yang tak diketahuinya, seperti tubuhnya menolak dengan sengaja.
"Tidurlah, El!" ucapnya menahan diri. Dia berbalik dan mencium lembut bibir Elisa sebelum benar-benar melangkah keluar kamar dan menutupnya.
Jantungnya berdegup kencang. Meragu berdiri di depan pintu sebentar. Jangan bilang bahwa ia tak terangsang dengan semua sentuhan yang Elisa berikan. Hanya saja tiap memandangnya, ia merasa tak akan sanggup menghadapi perasaannya pada Abel.
Baginya mungkin Elisa adalah cinta pertama yang tak dapat tergantikan. Sebuah penghargaan memiliki dan dicintainya. Namun setelah perjalanan panjang yang dialaminya bersama Abel. Ia merasa ada yang berbeda saat menyentuh Elisa. Seperti hanya nafsu laki-laki yang berpendar bukan sebuah tindakan yang dilandasi kasih sayang.
Anuca telah lama tinggal bersama Emak sejak Abel menghilang. Katanya, Emak kesepian. Dia rasa juga tak akan sanggup menjaganya jadi tidak mengapa membiarkan Emak merawatnya. Alex meminta Emak untuk pindah dan tinggal di istananya. Sehingga ia tak pantas mengkhawatirkannya.
Terduduk ia di ruang tengah sambil menatap luar jendela. Cahaya bulan terlihat lebih terang di lantai apartemennya. Memikirkan yang terjadi selama 6 bulan belakangan. Yang cepat berlalu meski masih meninggalkan banyak tanya. Tapi sesuai janjinya pada Elisa, ia tak akan mempertanyakannya lagi.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Digapai cepat gawai mahal yang tergeletak di sampingnya. Ia antusias saat mengenali orang yang menghubunginya.
"Malam Pak Alex!"
"Yah, Bagaimana hasilnya?"
"Kami menemukan Nona Abel."
"Dimana dia?"
______________________
Dirapikan meja kerjanya segera. Alex sudah meminta sekretarisnya menyiapkan tiket. Ia berniat akan berangkat ke bandara. Gairahnya muncul penuh semangat karena tau sebentar lagi ia akan bertemu dengannya. Jangan tanya apa arti dihatinya. Sahabat lama? Kekasih gelap? Atau... Mantan terindah? Entahlah, yang penting rasanya bahagia. Itu saja.
"Iya, Pak Alex." Pria tampan berjas hitam menyapanya dengan memberi hormat. Ia berdiri menghadap Alex yang berdiri tegap dengan senyum terkembang lebar.
"Kau harus bersiap-siap juga. Kemasi barang-barangmu. Kita akan pergi!"
"Maaf... kemana, Pak?"
Alex hanya menepuk pundaknya cepat lalu memberikan sebuah map berwarna merah tua di tangannya. Ia meminta agar pengawalnya itu segera membaca dan memberinya keputusan.
"Kita akan menemuinya."
Rona kaget jelas terpancar dari mata pengawalnya itu saat melihat foto-foto yang ada dalam map. Mungkin karena ia merasa gagal kembali menghindarkan Abel dari lingkaran setan itu. Tapi setidaknya kini ia tidak terikat oleh apapun.
Ditatapnya tegas lawan bicaranya itu, "Baik, Pak!" serunya cepat. Ia merasa sanggup menjaganya kini, janjinya dalam hati. Dulu ia pernah meminta Abel untuk pergi, kini ia akan bertanggung jawab atas itu terjadi.
___________________
Awan mendung di Bandara Ngurah Rai hari itu namun tak menyurutkan niat keduanya, Alex dan Syaif. Sesuai yang diberitahukan pada Alex, Abel ada di suatu tempat di pulau Dewata ini. Para informan itu menjelaskan detail keberadaan Abel sekarang beserta bukti-bukti keabsahannya. Seperti bukti foto yang ada di bagian map merah sebagai saksi betapa bahagianya Abel kini. Penuh senyuman dan semangat.
"Sepertinya, Pak."
"Kenapa dia meninggalkanku seperti itu, Syaif? Apa kau tau?"
Syaif hanya menggeleng ringan. Wajahnya menegang sambil mengepalkan tangan. Harapan sebenarnya, ia tak ingin Alex mencari Abel lagi namun ia berutang Budi. Setelah dinyatakan tidak bersalah, Alex menerimanya kembali.
Berbeda dengan Nuca dan Putri yang harus menjalani masa tahanan dan pengadilan lebih lama. Ia dibebaskan dengan mudah hanya sebagai saksi, karena tidak ada bukti yang mengarah bahwa ia bersalah.
Kini Syaif kembali berseragam hitam menjaga Alex, demi janjinya saat itu.
"Aku akan membantumu, tapi berjanjilah setelah keluar kau akan jadi pengawal pribadiku. Selalu ada di sebelah untuk membelaku. Bisa kah?"
Saat janji terucap pantang ia lalaikan dan ia telah mengatakannya.
"Maaf, Tuan. Ini sesuai dengan alamat. Apa Tuan mau turun di sini?" tanya sang supir penasaran dengan kelakuan tamu spesial yang meminta antar ke sebuah cafe kecil dalam gang.
Alex melirik ke arah Syaif dan ditanggapi sebuah anggukan cepat. Syaif keluar lebih dulu dan membuka pintu sedan segera. Mereka berdiri tepat di depan sebuah cafe tempat Abel bekerja.
Tak berapa lama gadis yang mereka tunggu tiba. Ia datang memakai sepeda sambil berteriak memanggil bos-nya. "Pak Alex, apa perlu kita menyapanya?" tanya Syaif sembari memperhatikan gelagat Alex yang berubah.
Ada senyum manis di sudut bibirnya, menatap gadis yang kini menjelma jadi ratu dalam pulasan make up nude-nya.
"Pak?"
"Tidak usah! Aku ingin melihatnya lebih lama. Dia bahagia, Syaif. Yah, she's happy!"
Gadis yang ternyata Abel itu terlihat tersenyum secara berulang-ulang. Ia melayani tamu dengan baik. "Dia bahagia!"
____________________
Kurasa hari ini makan mie ayam saja, pikirku. Kutangkis lemparan bulpen Wayan yang mencoba menganggu rencanaku.
"Berhenti, berpikir! Mau makan dimana setelah ini..."
"Mie ayam, Bos!"
Ia melihatku aneh sebelum mengusap kasar ujung rambutku. Dia tau betul aku benci saat dia melakukan itu.
"Ususmu bisa keriting makan mie setiap hari," serunya melempar lap dan menyampirkan celemeknya.
Aku tersenyum penuh semangat mengikutinya. "Oh ya, makasih yang kemarin. Sudah menyelamatkanku!" kataku sungguh-sungguh.
Kutatap matanya menandakan aku tulus mengatakannya. Wayan menyelamatkanku setelah mendapatkan text dari Hera. Kupikir Hera sejahat itu tidak akan menolongku.
"Untung Hera menghubungiku. Sebaiknya kau pindah tempat kerja. Dia bisa menemuimu kapan saja," ucapannya penuh kesedihan.
Apa aku harus keluar lagi? Aku butuh pekerjaan ini untuk hidup. Apa ia coba menafikkan itu?
"Kan untung ada Hera, he-he-he."
"Sudah, ayo makan. Tan, kita istirahat dulu," ijinnya pada Tante Rima di depan kasir.
Kusambut tangannya dan beranjak keluar. Hari ini akan baik kurasa. Senyumku lebar terkembang dan melangkah percaya diri keluar. Saat ku terkaget ...
Haruskah hari ini masa lalu datang kembali?
"Alex?" jantungku berdetak tak karuan. Di sebelahnya berdiri Bang Syaif yang tampak gagah dengan jas hitamnya. Apa ini? Kenapa dia bisa ada di sini?
Wayan menarik tanganku, "Siapa dia, Bela?"