Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 7



"Gimana bisa Non Anuca terluka, Lex?"


"Panjang ceritanya, Bel."


"Ini salahku... seharusnya aku ada di sana."


"Ini bukan salahmu. Aku yang mengijinkanmu pergi setelah mengantar Anuca ke tempat lesnya. Semua terjadi begitu cepat. Aku juga baru dikabari dan langsung mencarimu..."


"Kasihan, Non Anuca. Dia tidak punya siapapun."


Alex melirikku tajam sesaat setelah ku mengatakannya tanpa sadar. Aku kikuk menanggapinya. Kenapa aku bilang Nona kecilku tak punya siapapun? Argh, bodoh.


Kutundukkan kepala meminta maaf. Seharusnya saat seperti ini aku tak membuat situasi makin rumit.


"Apa maksudmu? Anuca punya semua orang yang menyayanginya."


"Ahhh, itu. Lupakan saja. Aku cuma sedang bingung."


"Katakan, apa maksudmu?"


Kupikir dulu matang-matang sebelum semua kesahku keluar. Apakah membuat Alex tersinggung jika kukatakan bahwa Anuca selalu sendirian. Gadis itu bahkan di bully oleh pembantunya sendiri. Baby sitter yang tidak melakukan apapun. Bi Inah yang menyuruh Nona kecil ini dan itu.


"Katakan, Bel!" ia mulai tak sabar. Terlihat ia menyupir dengan kasar, melihatku dan pandangan luar.


"Ahh... Tidak apa. Sudahlah gak usah ribut soal itu dulu."


"Bilang saja, ada apa?"


"Begini, wajar kan kalau aku kasihan dengan Non Anuca. Dia keluarga Dihardja. Tapi Papanya saja tak pernah bermain dengannya, apalagi menyapa. Ia bahkan diperlakukan seenaknya dengan Bi Inah dan Susternya. Kau tau kenapa dia begitu menyayangiku? Karena hanya aku yang tulus menyayangi di rumah besar itu."


"Anuca seorang Dihardja. Dia harus menjadi kuat pada akhirnya..."


"Apa kau lupa berapa umurnya? Dia masih balita, Lex. Kau mengharapkan seperti apa dari anak balita. Yang dia lakukan sekarang saja sudah luar biasa. Pintar, baik, lucu, semuanya sempurna. Tapi di rumah, dia dibully oleh pembantu-pembantunya. Mana bisa dia membela diri, Lex!"


Suasananya berakhir kikuk. Kami terdiam di tempat masing-masing. Pikiranku masih melayang tentang betapa malang nasip anak itu. Sedang Alex, aku tak tau apa yang berkecamuk di benaknya. Sungguh, aku merasa bersalah harus berteriak ke arahnya seperti itu. Kami hanya dua orang yang panik.


Suara bising motor bersautan dengan bunyi klakson yang tak sabar. Beberapa orang berlalu lalang. Jalan penuh sesak dan macet. Alex berinisiatif mengambil jalan pintas dan memutar. Kami melewati gang-gang kecil. Karena sepertinya polisi pun tak bisa mengurai kemacetan ini, sedang kami harus cepat sampai ke tujuan. Ada Anuca menunggu. Ia pasti kesepian.


Mobil berputar lalu bergerak lurus kembali ke jalan besar. Aku hanya melempar pandangan ke luar. Menghitung tiang listrik dan berapa banyak kabel-kabel berserakan. Sampai pandanganku terhentikan. Kulihat ia yang nampak kukenal. Bang Udin berdiri di seberang perlimaan jalan. Ia tampak berbicara serius dengan seseorang.


"Ada apa, Bel?" tanya Alex melihatku tertegun dibalik kaca.


"Eh, tidak. Aku sepertinya melihat seseorang."


"Siapa?"


"Bang Udin, tetangga depan rumah. Dia itu kayak ngobrol sama..."


"Siapa?"


'Putri...' sebutku dalam hati. Mungkinkah itu Putri? tapi Putri kan tidak ada di sini. Ahh, bisa jadi aku hanya salah lihat.


________________________


Alex mempercepat jalannya dan kuikuti ia tepat dibelakang. Aroma rumah sakit langsung menyeruak di Indra penciuman ku. Memberikan sensasi ngeri dan gelisah. Aku hanya mampu menghentikan langkah dengan diam namun tak dapat menggantikan waktu yang hilang.


Andai~~


Andai aku tetap berada di sampingnya, Non Anuca pasti baik-baik saja.


Andai~~


Air mataku jatuh mengalir basah di pipi hingga kabur menjadi bayang dimataku. Aku tak bisa menghentikan tangisku karena rasa bersalah yang memenuhi hati.


Anuca terjatuh dari tangga saat ia akan masuk ke dalam kamar, kata Alex pada dokter.


"******!!" pekikku kesal.


Tak perduli berapa pasang mata yang melihatku gusar. Bahkan mungkin melihatku iba. Tapi aku benar-benar ingin menyumpah. Bagaimana bisa ia terjatuh dari tangga rumah, memang siapa yang mengawasinya.


"Bagaimana mungkin Anuca jatuh dengan mudah," kataku kesal.


Disana ada Bi Inah, ada baby sitter, ada puluhan orang yang bekerja di rumah sebesar istana kenapa hanya aku yang jadi tersangka.


Aku ingat kata-kata Bi Inah saat kuambil beberapa pakaian Nuca untuk kubawa ke rumah sakit tadi.


"Ini semua karena kamu gak becus! Makan gaji buta! Kamu kemana aja? Bisa-bisanya biarin Non Anuca berlarian di tangga tanpa ditemani!"


Sakit hatiku!


Lalu dimana baby sitter keganjenan yang tugasnya memang mengawasi. Aku hanya supir. Kemana seharusnya aku berada. Bukan di dalam rumah kan.


"Lalu kerja Bu Inah dan Mona ngapain? Bisa-bisanya ngomelin orang. Tu mulut kalau kagak sekolah ya kayak gitu. Ngaca, Bi! Saya cuman supir, situ pembantu. Ngerti tugas masing-masing gak?" jawabku saat itu. Aku sebenarnya ogah meladeni gerutuan Bi Inah. Bertahun-tahun pengalaman menjadi budak bully-an membuatku kuat dan anti menghiraukan kalimat verbal macam itu.


Tapi kali ini aku sungguh tak tahan. Ada Anuca terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhnya tak berdaya dengan luka. Masih sempat wanita tua itu menghinaku.


____________________


"Bagaimana dia dok?"


"Besok bisa dilakukan operasi tapi kita membutuhkan stok darah AB negatif, disini kosong, ada keluarga yang sama?"


"Aku A dok, ayahku juga sama, kami tidak ada yg segolongan dengan Anuca"


Aku yang sedari tadi menguping segan mulai gusar. Bagaimana mungkin bisa berbeda golongan? Mereka kan satu keluarga?


"Bagaimana denganku? Aku B," potongku.


Dokter hanya menggeleng dan menjelaskan untuk mencoba mencari yang segolongan. Mengingat golongan darah Anuca sangat langka. Ia membutuhkan darah yang sama. AB-. Lalu aku teringat.....


"Bagaimana dengan Nuca?" tanyaku setelah dokter keluar kamar. Aku ingat bahwa kami tadi membahas soal golongan darah masing-masing.


Aku pun tak menyerah untuk menyakinkannya. "Mungkin darahnya cocok, mungkin sama AB mungkin sama negatif ...."


"Aku tau golongan darah mereka memang sama. Tapi tidak kuijinkan Nuca menyentuhnya. Tunggu di sini, Bel. Aku akan mencarinya."


Jiwaku mulai berontak. Banyak pertanyaan yang membutuhkan penjelasan. Kenapa? Mengapa? Apa hubungan mereka?


Alex sebegitu bencinya pada Nuca sampai ke ubun-ubun. Mungkinkah memang karena Alex tau Nuca bersama dengan mantan terindahnya? Tapi bisa tidak di masa seperti ini melupakan soal mantan. Gusar kuacak rambutku sebal.


Namun fokusku sekarang harusnya adalah keselamatan Non Anuca. Jika memang ia terluka karena kelalaianku maka biarlah aku yang bersalah. Kan kuganti waktu yang kutinggalkan tadi dengan menemaninya tanpa banyak bertanya.


Hanya doa, semoga mereka baik-baik saja.


__________________


Seminggu kemudian


Nuca berlari kecil di koridor rumah sakit sebagai latihan kemampuan motoriknya telah kembali.


Hampir setengah bulan kutemani gadis kecil itu tiada henti namun tak kutengok batang hidung Pak Dihardja menemani. Bahkan sekedar mampir untuk melihat sang putri.


Kuawasi lagi tiap langkah Nuca sembari mewanti-wantinya agar berhati-hati. Dia kembali melangkah perlahan sambil menangkap udara dengan senang.


Kasian sekali gadis kecil ini?


Mungkin itu kenapa dia bisa sangat menyayangiku, dia membutuhkanku.


"Ayo kembali ke kamar Nuca!"


Kupandu dia berjalan perlahan ke kamar. Memapahnya ke kasur dan menidurkannya pelan. Kutengok samping ranjang ada ponsel Alex tergeletak ketinggalan.


Aku berniat mengembalikannya mungkin Alex membutuhkan. Kupinta seorang suster menjaga Nuca saat aku pergi keluar.


Aku bahkan tidak mempercayai sedikitpun sang baby sitter yang dari tadi kerjanya hanya telpon-telponan. Kesal. Menyebalkan. Tapi apa mau dikata, begitulah sistem rumah itu bekerja.


Orang-orang macam Bi Inah berkeliaran dimana-mana. Asisten rasa juragan, ya mereka itu. Mengesalkan!


____________________


Pintu lift hampir terbuka saat tak terduga kulihat Putri yang katanya di luar daerah melintas di depan mata.


Bajunya modis bak sekretaris, rok mini dan kemeja, menjinjing tas dan banyak kertas. Rambutnya di kuncir ke atas sehingga terkesan simple dan elegan. Sepatunya berjinjit dengan hak tinggi yang seksi.


"Itu Putri?", gumamku pelan. Kupanggil nama itu kencang-kencang namun wanita itu nampak berlalu mengacuhkan.


Mungkin bukan dia, batinku.


Seseorang dengan diskripsi itu tidak sedikitpun menyerupai Putri sahabatku. Apalagi selepas lulus kuliah dia bilang akan kerja di kota sebelah, yang ratusan kilometer jauhnya.


Dering ponsel Alex mengangguku. Ingin kulihat takut lancang. Aku hanya menengok sebentar berharap pintu lift terbuka dan segera kuberikan. Akan tetapi nama di layar ponselnya membuatku termenung sementara.


"Nuca!"


Kenapa Nuca menelponya. Apa hubungan mereka. Entahlah!


Aku sudah berjanji untuk tidak peduli kan.


"Ini pak!", kuserahkan ponsel itu padanya.


"Oh.. aku mencarinya kupikir ketinggalan dimana, terimakasih ya!"


"Banyak pesan dan telpon kurasa"


Dicek kontak dalam ponselnya sebelum dia menyadari mungkin aku mencurigainya sesuatu.


"Kau melihatnya?"


"Hmm? A-apa?"


"Nuca menelponku, kau melihatnya?"


"Tidak!"


Dia berdiri berjalan mendekatiku. Aku yang berdiri didepan meja kantornya merasa kikuk dan sedikit mundur ke belakang.


"Aku benar-benar minta maaf!", dipeluknya aku erat tanpa kubalas.


"Mak-maksudnya? Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali minta maaf?"


Kulepas pelukannya cepat dan tampak matanya yang berair. "Kenapa?"


"Banyak kesalahanku di masa lalu yang tidak tertebus dan mungkin aku akan menyakitimu di masa yang akan datang..."


"Bagaimana jika tidak kumaafkan?"


Dia terdiam. Aku juga.


________________________


Kulempar tubuhku diatas kursi reyot depan tivi. Suaranya keras menampilkan acara sinetron illahi. Emakku disamping nampak sibuk dengan tisu. Dia menangis menderu-deru.


"Capek Mak!"


"Makanlah! Emak sudah masakin rendang jengkol sama pepesan ikan, tadi bang Udin kasih banyak ikan habis mancing di empang"


"Hemm!"


"Umur kau segini wajah pas-pasan, kenapa gak kawin aja kau dengan si Udin itu, kerjanya sekarang lumayan di kantoran"


"Emmaaaakkkkkk!!!"