
-Sudut Pandang Pengarang-
“Aku sudah mengingatkanmu, Lex! Jika tidak denganku maka lebih baik kita sama-sama mati!” ucap Putri hampir berbisik.
Tangannya gemetar menggegam pistol yang tadinya digunakan untuk melumpuhkan Dihardja.
Lalu ditembakkannya sebuah peluru menuju Alex yang kini unggul di atas Nuca. Tubuhnya yang menindih Nuca sehingga menjadi target mudah untuk dilumpuhkan.
Melihat Putri mengarahkan pistolnya ke arah Alex. Abel pun langsung berlari kearahnya. Tanpa pikir panjang diumpankan tubuhnya menghalangi tembakan yang akan mengenai Alex.
Dorrr!!!!
Suara lengkingan senjata api itu menggema.
“Abeeeeeell !” seru Alex menangkap tubuh Abel yang langsung jatuh karena peluru menembus dadanya.
Mengetahui Alex telah lengah, Nuca langsung membanting tubuh lawannya ke belakang dan meraih pistol yang teronggok di samping kanannya.
Dorrr!!!
Suara lengkingan kedua yang sama kerasnya menggema seketika.
Aghhh~
Nuca terjatuh. Dia tidak menyangka bahwa bang Syaif, orang kepercayaannya itu bisa berkhianat dan menembaknya.
_____________________
Tangan Alex berlumuran penuh darah, gemetar mengingat apa yang telah dilaluinya. Dengan lemas ia terduduk di samping pintu ruang operasi. Hampir 5 jam ia menunggu kabar mengenai keadaan Abel.
Pikiran Alex merancu kemana-mana. Ia tidak tau harus berharap apa. Abel tidak pernah sadar bahkan saat mereka sampai ke rumah sakit. Ada rasa bersalah menggelayuti ruang kecil dihatinya.
Ia yang melukai seorang gadis tak bersalah karena taruhan dimasa muda. Lalu kembali melukainya dengan menjadikannya alat pemuas dendamnya pada Nuca.
Tapi kenyataannya, gadis itulah yang menolongnya. Menyelamatkan semua bagian dalam kehidupannya. Perasaan itu membingungkan. Inikah cinta, ataukah... karena iba?
Tak berapa lama polisi berhasil menangkap Putri yang sempat kabur setelah ramai orang datang. Tak seperti Putri, bang Syaif dan Nuca justru seperti hampir menyerah setelah polisi datang.
Para polisi pun menggelandang Putri, bang Syaif dan Nuca ke kantor. Luka Nuca tidak terlalu parah karena peluru hanya merembet di kakinya sehingga tidak perlu dibawa ke rumah sakit besar.
Alex sendirian sambil menunggu semua hasil operasi Abel dengan was-was. Pikirannya pun terganggy membayangkan dimana Anuca berada.
Sudah hampir setengah hari dan gadis kecilnya itu belum diketemukan. Tanpa teman berbagi kehilangan karena Abel sendiri baru selesai dioperasi. Ia juga harus mengurus pengambilan jenazah ayahnya setelah diotopsi.
Alex hanya bisa bersimpuh seolah menggadai janji pada Tuhan. Ia berharap dapat di beri kesempatan untuk membahagiakan wanita yang seringkali ia lukai. Meski ia tetap tidak bisa meyakini perasaan apa yang bergelayut dalam kalbunya.
Ia hampir menyerah untuk berharap mendapatkan pengampunan. Kesalahannya terlampau besar dengan mengikuti siasat Putri untuk menjadikan Abel sebagai alat mempengaruhi Nuca. Padahal yang terjadi justru ia yang terjebak oleh tipu daya rencana Putri untuk menghancurkan keluarganya.
_______________________
Dua minggu kemudian
Abel sudah dipindahkamarkan ke ruang VVIP setelah hampir 4 hari di ruang ICU. Meski keadaannya belum sepenuhnya pulih, namun dengan dijaga Emak, Alex sangat yakin Abel akan segera pulih kembali.
“Apa kau sudah menemukan Non Nuca?” tanya Abel lemah.
Alex hanya menggeleng, “Belum. Polisi belum memberi kabar. Nuca tidak mau bekerja sama untuk memberitahukan dimana ia.”
“Apa Nuca sudah tau bahwa Non Nuca adalah anaknya?”
“Entahlah!” seraya menggoyangkan pundaknya.
“Pergi temui Nuca, Lex! Mungkin ia akan berbicara denganmu?”
Saran Abel sebenarnya enggan ia lakukan. Mengingat rasa sakit melihat sepupunya, Nuca Suwito.
Bertahun-tahun ia menyesali kematian Aleeka, kakaknya. Karena ia-lah yang tidak mengijinkannya menemui ayah dari anak yang dikandungnya itu. Ia juga memiliki andil besar dalam keputusan papanya untuk menutup akses hidup Aleeka hingga ia depresi dan bunuh diri.
Saat tau bahwa laki-laki yang dimaksud kakaknya itu adalah Nuca. Sepupu sekaligus musuh keluarganya. Sontak Alex dan papanya menolak.
Mereka bahkan berencana menjadikan Anuca sebagai anak angkat keluarga Dihardja demi menghentikan trah persatuan keluarga mereka.
Aleeka sebenarnya sangat bahagia mengetahui dirinya hamil. Disebabkan setelah pertunangannya batal secara sepihak, kakaknya itu seolah menjadi gila.
Namun kakaknya tiba-tiba berubah ceria kembali. Ia sangat bersemangat menceritakan tentang laki-laki baik hati yang kemudian diketahui bahwa laki-laki yang berhasil merubah kakaknya adalah Nuca.
Ia tau betul Nuca tidak tau siapa Aleeka. Karena kakaknya sudah lama tidak pernah tinggal di Indonesia. Hubungan keluarga yang merenggang membuat Nuca hampir tidak pernah bertemu muka dengan Aleeka, kakaknya.
___________________
Pukul 1 siang diruang kunjung tahanan kantor polisi. Alex datang menemui Nuca sesuai yang disarankan Abel. Itu mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui keponakannya.
“Bagaimana Abel?”, tanya Nuca pertama kali begitu mereka berhadapan.
“Membaik! Aku tidak ingin berbasa-basi Nuc … ”
“Bagaimana Aleeka?” potong Nuca sebelum Alex bertanya lebih lanjut.
“Aleeka?”
“Iya!”
“Seharusnya gue sadar saat Aleeka menceritakan betapa hebat keluarganya. Itu pasti Dihardja!”
“Dimana Anuca?” tanya Alex tak sabar.
“Elo pikir gue bisa menyakiti Anuca, anak gue sendiri, Lex?”
“Mungkin! Sama seperti kamu tega mengumpankan Abel seolah ia adalah orang bisa membuatmu lupa arah. Apakah mungkin cinta bisa membuatnya seperti itu?”
Nuca terkekeh kemudian menangis, “Lo gak tau, Lex!" serunya mengeram. "Abel adalah penyelamat gue, jika gue tidak sangat mencintainya, mungkin gue bisa ngelakuin yang lebih gila dari sekarang.”
“Cukup basa-basinya, Nuc. Dimana Anuca sekarang?”
“Dia aman, Lex! Bersama Elisa!”
Nuca hanya mengangguk lemah, “Sampaikan salam gue pada Aleeka, gue bener-bener minta maaf!”
“Aleeka sudah meninggal. Ia bunuh diri dua tahun setelah melahirkan Anuca karena depresi”
Mendengarnya seperti tersambar petir bagi Nuca. Bukan karena terluka yang dicintainya tiada. Tapi ada banyak korban lain akibat kemarahan mereka.
Abel yang dicintainya. Aleeka, ibu dari anaknya. Anuca, putri semata wayangnya. Semua terluka karena ia tak mampu berdamai dengan dirinya.
Andai, saat itu setelah pengambilalihan perusahaan Dihardja itu sudah cukup baginya, tanpa harus menambah drama untuk menghancurkan keluarga mereka. Membuat Dihardja dan seluruh keluarganya mati sia-sia.
_____________________
Alex mengetuk pintu apartemen Elissa dengan gamang. Pintu kayu putih itu sedikit berderit saat akan dibuka. Sesaat seperti koneksi keduanya menyala kembali. Anuca yang berdiri di belakang nampak berlari riang memeluk pamannya.
"Pamaaaannnn!"
Dengan lembut dipeluk ponakan tercintanya. Rasa rindu dan penyesalan bergabung menjadi sebuah rasa yang haru. Tak terkira air matanya menetes.
"Halo, Alex! Apa kabar?"
Alex mendongak pelan. Wajah itu bagai rupa malaikat yang bersinar. Sejenak jantungnya berdegup kencang. Seperti sensasi masa lalu yang ditinggalkan.
"Hi, El! Senang melihatmu lagi."
Wanita muda nan cantik itu tampak tersenyum ringan dan memeluk Alex penuh perasaan. Mungkin waktu sedikit mengaburkan perasaan. .
Elisa mempersilahkan Alex untuk masuk. Mereka sedikit berbincang dengan kikuk. Membahas mengenai masa lalu.
Elisa kini menjabat sebagai CEO perusahaan yang bergerak di bidang marketing dan modeling. Alex tau ketika terakhir kali bertemu di Mall bersama Nuca saat itu.
Hingga, deg!
Ada sedikit rasa menusuk di ulu hatinya. Alex mencoba mengindahkan bersandar pada masa lalu. Namun perasaan dan pikiran itu terus muncul sejalan dengan pertanyaan Anuca tentang keadaan mamanya.
"Bagaimana kau kenal dengan Nuca?"
_________________
Semua seolah ditakdirkan Tuhan untuk kembali ke asalnya. Tidak pernah ada kisah Cinderella. Hanya keberuntungan yang tidak sempurna. Takdir sang driver mungkin bukan untuk tuannya.
Emak menjaga Abel dengan baik. Meski tetap memukulnya dengan punggung tangannya yang besar. Ia terus menguji kesabaran anaknya dengan sebutannya si buruk rupa.
Abel tak peduli asal Emaknya baik-baik saja. Menjadi korban diantara dendam dua keluarga telah merubah hidupnya. Meski kini ia tak tau siapa yang tulus padanya.
Putri yang ternyata telah berniat mengkhianatinya. Bang Syaif yang berpura-pura menjadi bang Udin. Nuca yang memanfaatkan untuk dendamnya.
Argh~~
Rengutnya dalam hati.
Ia mengacuhkan Emaknya dari tadi ngomel soal pilihan laki-laki di masa depan.
"Ayolah, Mak!"
"Dengerin, Mak ya. Muka kamu tu pas-pasan sekalinya dapat Nuca eh ternyata tukang tipu. Dapet Alex juga gitu. Sekarang Si Udin?"
Abel menghela nafas panjang. Meniupkan doa untuk laki-laki terbaik yang akan mendampinginya kelak. Mencintainya meski ia tak sempurna.
Begitu lama ia memejamkan mata dan bersungguh-sungguh dalam pinta. Sampai terdengar bunyi ketukan pintu kamar.
Emak berjalan pelan dan membuka pintu perlahan.
Matanya terbelalak kaget, begitu pula Abel.
"Pagi, Neng! Mak!"
END SESSION 1
___________________