Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 4



Kuambil ponselku yang sedari tadi tergeletak di atas kasur. Hari ini hari liburku. Kumainkan sebentar dengan bosan. Berbagai aplikasi sosial media kubuka dengan asal. Setelah bekerja aku jarang update status atau aktif berbakulan. Melihat peristiwa terkini tentang artis yang tertangkap jual diri atau aktor tampan yang ternyata nyobain narkoba.


Lama kumainkan gawaiku namun tidak ada yang menghubungiku meski aku tidak berniat melakukan sesuatu. Alex mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Putri sudah akhir semester sibuk dengan skripsinya. Dan aku? kerjaku sekarang cuma mantengin layar ponsel tanpa tau arahnya.


Teringat saja aku dengan Bang Udin. Si anak kos depan rumah. Biasanya kalau suntuk aku sering bersua dengannya. Akan tetapi sejak kami bekerja dengan alur waktu yang berbeda semua tak bisa sama. Aku tak bisa menemuinya pun dia juga begitu. Kangen banget sama ini orang, batinku menyahut.


Tak kukira batin kami terkontak begitu erat. Layar ponsel ku menyala dan tertera nama "Udin Markudin" di sana. Tawaku sedikit menyeringai. Kuangkat antusias meski dengan gengsi tinggi...


'Halo, Bang! Ngapain telpon?'


'Aduh, Neng. Galak pisan euy... Kabar gimana, Neng?'


'Baiklah. Ada apa? Sibuk nih. Kalau ngomong cepetan ya!'


'Iya, iya... Oh ya sekarang Abang kan kerja di perusahaan di Lebak. Neng, mau mampir ga? sekalian Abang traktir deh.'


'Ih ogah,' padahal nyatanya hatiku tertawa lucu melihat tingkahnya, 'Hari ini libur?'


'Iya, Neng. Mau Abang anterin jalan-jalan?'


'Ogah... Sibuk nih!'


'Ya, udah. Abang tutup ya, Neng!'


Tut-tut-tut


hmmb~


Jadi nyesel bilang sibuk. Padahal gabut abis. Sesaat aku teringat dengan kejadian sore beberapa waktu yang lalu. Pertemuan pertama setelah bertahun-tahun dengan Nuca Sang Bungkus Kacang dengan Elisa Sang Mantan Terindah-nya Alex.


Ada apa dengan mereka?


Kulempar ponselku cepat di atas dipan. Sambil menghitung sarang laba-laba di atap kamar. Mendengarkan suara Isyana Sarasvati dari radio butut peninggalan almarhum bapak. Kumulai mengangan-angan tentang kemungkinan-kemungkinan kenapa bisa terjadi kebetulan yang sangat ganjil kemarin.


Tiba-tiba bunyi klontengan panci terdengar. Diikuti suara Emak yang menggelegar, "Neng, anterin Emak ke pasar!" serunya mendobrak pintu kamar.


Aku berjingkat kaget sebelum kuiyakan permintaannya. "Tunggu, Mak! Abel ambil kunci motor dulu," sahutku kencang.


Kuraih jaket dan perlengkapan sebelum mengambil kunci motor yang kugantung di paku tembok. Saat aku akan menggapai gawaiku kudengar itu berbunyi.


Tit..Tit..


Ada pesan masuk ke nomer whatsappku. Penasaran langsung kubuka tanpa awas pada profil nomernya.


[Kutunggu di Cafe Three Core. Nuca]


Kutamatkan wajah tampan dalam profil pic nya. Gila! Dia beneran Nuca.


Deg!


Jantungku hampir melompat dari tempatnya. Perasaanku mendadak tak karuan. Kaget, takut, bingung, seneng, dan berbagai sensasi aneh yang membuat bulu kudukku meremang.


Mengantarkan Emak ke pasar adalah bagian titah Sang Ratu yang harus kupenuhi. Kalau tidak akan ada hukuman mati. Tapi jika kuabaikan panggilan Nuca, aku yakin seumur hidup kan menyesalinya.


Lalu apa yang harus kulakukan?


Kutimbang adil seberapa besar kemauanku untuk melakukan keduanya. Hingga cepat kutekan nomer yang ku hafal.


'Halo, Bang! Bisa tolong anterin Emak gak?'


'Neng Abel? Emang kenapa, Neng?'


'Ada kerjaan penting nih, Bang. Tolong yah!?' seruku dengan mengiba. Bang Udin pun terperdaya dan menuruti mauku. Lagian Bang Udin emang orang paling tepat, terpercaya, dan handal dalam hal ini. Bang Udin juga narik ojol sama sepertiku dulu. Biasanya dia yang antar jemput Emak. Tapi sejak dia bekerja di perusahaan besar, dia hanya narik di waktu senggang.


"Emak Sayang! Ke pasarnya sama Bang Udin aja, ya!? Ntar biar ojeknya Neng yang bayarin gratis!" peluk ciumku sebelum dengan buru-buru kupakai jaket dan pergi menyalakan motor.


____________________


Selama perjalanan ada berbagai pertanyaan melayang di benakku.


Kenapa? Ada apa? Untuk Apa?


Semua pertanyaan itu tumpah dan tak berbekas saat kulihat dia disana, duduk memainkan ponselnya. Aku masih bersandar di motorku. Terhenti di parkiran tanpa berani melangkah.


Nuca dengan setelan casual kaos ditambah aksen jaket jeans minimalis berwarna terang. Dewasa dan... ganteng tentunya. Meski aroma sok ke-dilan-an masih kental terlihat.


Rambutnya kini di semir semi pirang, cocok dengan mukanya yang emang kayak blasteran. Dengan kasar ia memainkan kacamata di atas meja.


Aku bisa melihat jelas apa yang ia lakukan dari arah parkiran. Selain karena letaknya yang berseberangan juga karena Nuca sangat menonjol dibandingkan pengunjung yang lainnya.


Tit.. Tit..


[Lama banget!]


Membacanya membuatku menarik nafas panjang menyiapkan mental. Pertemuan kami hanya selayang pandang saat ia bergandengan dengan Elisa. Aku bahkan tidak tau kalau mereka saling mengenal. Karena aku tau siapa yang seharusnya sangat mengenalnya, Alex tentunya.


Kuberanikan diri melangkah mendekati. Mempersiapkan pidato perkenalan yang panjang sekaligus daftar pertanyaan yang mungkin dibutuhkan.


"Hai Nuca!" seruku menawarkan tangan untuk bersalaman.


Ia menerima tanganku dengan kasar, "Lama banget sih..." suaranya terdengar santai. Tidak sepertiku yang mendadak parkinson. "... duduk dong! Ngapain berdiri?" lanjutnya lagi.


"Minum dulu, sudah gue pesanin minuman mahal, pasti belum pernah coba kan?" ejeknya.


Heh, si bungkus kacang ini tetap saja songong. Mungkin itu penyakit genetik yang sulit hilang. Kutenggak gelas berwarna merah itu cepat, rasanya seperti campuran susu dan soda, dengan sedikit sensasi mint juga lemon. Kutengok perlahan gelas ditanganku. Kuputar-putar sebelum kusadar Nuca menertawakanku.


"Gue tau nomer lo dari CP di Ig, lo jualan kan?"


"Ohhh...!". Oke, itu masuk akal sih.


"Gue cuma pengin liat elo aja! Ternyata si buruk rupa bisa juga jadi angsa yang cantik", tawanya renyah.


Gosh!


Aku mulai awas dengan semua yang ada di mukanya. Tuhan menciptakan dia sempurna, hidung mancungnya, matanya, pipinya yang mulus - ingin kutowel-towel saking gemesnya.


"Tentu, dan kamu tetep si bungkus kacang!"


"Tapi bungkus kacang ini buat elo terkesima kan?"


Kubuang muka kesal. Masih aja si bungkus kacang ini menyebalkan. Lalu pikiran itu sekelebat muncul, "Sejak kapan kamu ingat aku?"


Sangat aneh setelah sekian lama tak bersua. Mendadak dia mencari nomer ponselku di Ig dan minta ketemuan. Jangan-jangan mau ngelamar -wkwkwk- ini cuma batin hati saja.


"Kenapa lo ketawa?"


"Jawab dulu, ngapain kamu mendadak ngehubungin aku?"


"Kenapa? Lo pikir gue mau ng-prank gitu yah?"


"Enggak gitu juga. Cuma aneh kalau kita yang bertahun-tahun gak ketemu tiba-tiba..."


"Gue liat elo di Mall kemarin, dengan Alex kan?" dia berhenti dan menatapku tegas. "Gue baru sadar yang gue lihat adalah elo bersama Alex."


"What? Jadi kamu uda tau?"


Jadi beneran dia sadar kalau aku merhatiin dia seharian. Mengekor di setiap langkahnya sampai kutemui di berlalu ke parkiran.


"Yah! Elo pikir gue **** gak nyadarin elo buntutin gue ma Elisa di belakang?"


"Maaf, aku cuma pengin mastiin!"


"Kenapa? Alex yang minta?"


"Heh? Kamu kenal Alex?"


Dia hanya menggeleng cepat. "Jauhi Alex!" disodorkan kartu namanya ke arahku. "Kerja ditempat gue, just stay away from him."


Kuambil segan kartu nama itu, "But... why?"


"Gak penting juga lo tau kenapa. Say hello buat Alex. Katakan dari Nuca," ia bangkit sambil memasang kacamata hitamnya. "Just stay away, kerja ma gue!"


Dia meninggalkan tanda tanya yang besar.


Kenapa?


Apa masalahnya dengan Alex?


Asumsi jiwa detektifku mengatakan mungkin ini ada kaitannya dengan Elisa. Persaingan cinta mungkin?


__________________


Sambil menyeruput kopi hangat yang menemaniku di malam hari. Suasana teduh dan ramai anak-anak kecil berlari. Mataku hampir terpejam meski segelas kopi telah kuhabiskan.


"Nuca... CEO... " kubaca untuk kesekian kalinya kartu nama yang Nuca berikan.


"Ngapain dia sibuk ngurusin Alex?" gerutuku sendiri.


Aku terlalu sibuk melamunkan kartu nama di tanganku sampai tak sadar Bang Udin dari tadi berdiri di sampingku.


"Ngomel sendiri, Neng?"


Aku kaget mendengarnya. Menyadari Bang Udin mungkin telah awas dengan tingkahku aku pun jujur padanya. Kuserahkan kartu nama itu padanya.


"Abang, kenal gak?"


Bang Udin sedikit kikuk. Guratan mukanya menegas. "Eh E-E-Eneng dapat darimana ini?"


"Kenal gak?"


"Neng, ketemuan ma orang ini?"


"Iya. Dia teman satu SMA, Bang. Kenapa mang-nya?"


"Gak apa-apa sih, Neng. Dia bos Abang. Sebaiknya Neng jawab segera keputusan yang diambil apa."


"Kenapa harus buru-buru, Bang?"


"Karena..."


Kata-nya terpenggal begitu saja tanpa akhir yang menyadarkan dari berbagai spekulasi tentang dirinya.