
Kutarik selimut lebih tinggi meski bunyi weker menari-nari di telingaku. Mimpiku terlalu indah untuk dihentikan oleh waktu. Kenangan masa putih biru bersama Alex - pangeran kodokku. Sebuah kenangan bercampur khayalanku bersama Pangeran Kodok yang tampan. Dentingan jam seperti melodi yang mengalun merdu menemani permainan dansaku dengannya. Bisa kurasakan keras bidang dadanya yang mampu membuat jantungku deg-degan. Hampir kumonyongkan bibirku dalam momen kedekatan kami. Bisa kurasakan hangat nafasnya hampir menyentuh kulit mukaku.
"Anabela Gunawan, bangun!!"
Byur !
Segentong air pam langsung menyiram tubuhku. Basah dan dingin. Aku tergopoh-gopoh bangun dalam keadaan basah kuyup. Hilang sudah momen true kiss-ku karena Si Emak ikut nimbrung. "Emakkkkkkk!!" teriakku kesal. Bayangan pangeran kodokku menghilang begitu air menimpa tubuhku. Aku merengut sambil mengapit gulingku kesal.
"Jam berapa ini? kamu gak kerja?" gemuruh suara Emak memekakkan kuping. Omelannya berulang-ulong menggema bagai tape recorder rusak.
Kubuka bibirku dengan enggan, "Jam berapa sih Mak?!"
Disodorkan weker itu tepat di depan ke dua mataku. "Ini liat? kalau sampai kamu dipecat mang mau kerja apa hah?"
Astaga!!
Aku sudah telah hampir dua jam. Segera aku meloncat menghampiri handuk dan mengambil gayung mandi di atas meja. Ditemani petuah-petuah sejuk dari Emak tercinta.
"Iya, Mak!" seruku sekenanya. Kututup pintu kamar mandi dan langsung menyiramkan air di tubuh. Ampun deh!
_____________________
Kucuci sedan mewah nonaku sayang. Sekarang nampak berkilau tersengat matahari siang. Seharusnya mobil sudah kucuci sebelum berangkat tadi pagi, namun karena 2 jam lebih lambat dari biasanya, akhirnya ku tunda sampai waktu pulang tiba. Beruntung Tuan Besar dari petang hari tidak ada di rumah baru balik setelah aku berangkat mengantarkan Non Anuca. Tadi hanya tinggal Nenek Lampir yang menyumpah serapah dari balik dapur saat tau aku datang terlambat. Mungkin dia berasa jadi juragan sampai niat banget ngomel-ngomel tidak karuan.
"Kak, Paman kemana?" seru Nuca yang ada di belakangku. Sesaat kemudian dia berbalik dengan muka masam. Ia tampak kecewa menyadari paman yang disayanginya mendadak hilang. Pita merah muda yang di pakainya tampak berayun-ayun saat ia menendang-nendangkan di udara.
Kutundukkan badanku lebih rendah. Mendekatkan mataku sejajar dengannya. Gadis Kecil yang sedang merajuk di depanku bagai boneka lucu dengan rambut keritingnya. "Non Anuca pengin ketemu Paman?" tanyaku memegang pundaknya agar diam.
"Iya, Paman janji hari ini mengantarku ke Kids Town," nadanya merajuk manja.
"Emm... Sayang, mungkin Paman ada acara penting. Bagaimana kalau sama Kak Abel?" tawarku segera.
Pupil matanya membulat cepat, senyumnya merekah sambil mengangguk senang. Hanya sebuah tawaran ajakan ia sudah melompat-lompat girang. Betapa kasian hidup gadis kecil ini bahkan di kastilnya yang megah, batinku kasian.
"Siapa bilang Paman tidak ada. Siap berangkat Putri cantik," ucapnya membungkuk ala pangeran disney.
Kutatap ia dengan rona bingung. Hebat sekali ini orang mendadak muncul padahal seharian tadi tidak kulihat batang hidungnya. Yang aku dengar dari Bi Inah ada hal penting yang menyebabkan ruang kerja di tutup rapat hingga saat ku pulang.
"Oke, driver siapkan mobil!" perintahnya padaku.
Kuiyakan saja meski hatiku sedikit dongkol diperintah olehnya. Kubuka pintu mobil dan meminta nona muda untuk masuk. Alex menatapku seperti memberi perintah untuk melakukan hal yang sama untuknya. Kubalas seolah memberitahunya aku tidak akan melakukannya. Semenit kami berbalas pandang hingga akhirnya aku menyerah, dan membukakan pintu untuknya, sewajar apa yang dilakukan seorang supir.
"Kemana kita akan pergi, Tuan?" tanyaku formal pada Alex yang asyik menggoda Anuca.
"Grand Mall Atlantis."
_________________
Suasana Mall tidak cukup ramai seperti biasanya. Dapat kulihat sebuah keluarga berjalan beriringan di seberang jalan. Kutengok mereka lalu berallih pada apa yang kami lakukan. Kami sudah mirip seperti keluarga bahagia, Ayah-Ibu-Anak, dengan saling menautkan tangan. Anuca berkali-kali menengokku dan Alex secara bergantian. Terlihat ia sangat bahagia dapat bersama kami berjalan ke Mall.
"Kak Abel, Anuca seneng banget!" bisiknya pada kupingku.
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengayun-ayunkan tangannya ke dalam dan ke luar. Betapa bahagianya gadis kecil ini hanya dengan berjalan bersama orang-orang yang menyayanginya. Dia tidak kurang apapun. Semua yang ia inginkan dapat ia miliki hanya dengan memintanya. Ia bisa pergi kemanapun yang ia inginkan karena keluarganya memiliki uang. Tapi...
Lihat betapa menyedihkannya Anuca. Ia bahkan mengemis pada orang lain hanya untuk bersama-sama bermain ke pusat perbelanjaan di kota.
"Lihat, Kak. Aku main di sana..." seru Anuca melepas tangan kami dan berlari masuk ke dalam wahana. Alex mengikuti sambil membelikan tiket untuknya.
"Hati-hati, Anuca. Jangan melompat terlalu cepat. Kakak tunggu disini!" seruku pada Nuca di balik teralis pembatas.
Anuca bermain riang sementara Alex kembali menghilang. Kuabaikan saja, masih asyik bila kuingat kenangan tentangnya daripada mengetahui dia ada sekarang. Alex tidak jauh berbeda dari yang dulu kecuali bentuk tubuhnya yang lumayan. Kuacuhkan saja kehilangannya mengingat tugasku untuk fokus pada Anuca. Aku serius mengawasi juragan cilikku agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Nih!" sodor se-cup besar capucino buble untukku. "Maafkan aku, Bel! Seharusnya tidak kutinggalkan kamu dulu seperti itu."
Serasa petir menyambar diriku. Kaget sekaget-kagetnya melihat tampangnya saat mengatakan itu. Mendengarnya meminta maaf bagai ketiban pulung. Aku ini siapa? Hanya seorang upik abu, si buruk rupa, sang kodok dalam cerita, atau mungkin pemeran pembantu sama seperti Bi Inah. Apa pantasnya aku mendapatkan pernyataan permintaan maaf dari seorang pangeran macam dia?
"Sungguh, Bel. Kamu adalah kenangan terindah yang kubawa dari Indonesia. Aku tidak merindukan apapun saat pergi dari sini. Tapi yang jelas, aku memang merindukanmu."
Kalimat yang terucap darinya sontak membuat pikiranku melayang ke masa lalu. Masa putih biru.
Saat itu kuingat betul tidak ada satupun yang mau berteman padaku. Bully-an adalah teman pertama yang menyapaku. Seorang anak tukang batu yang beruntung dapatkan beasiswa di sebuah sekolah swasta mewah. Karena kemenanganku dalam lomba essay, aku mendapat beasiswa penuh di sekolah menengah pertama terpopuler di kotaku. Sebutkan setiap jabatan mulai dari anak CEO, jenderal, bupati, sampai DPR semua nimbrung di sekolah ini. Tidak akan kau temui wajah kusam, kucel, masam disini. Semua anggun, cantik, tampan, dan mempesona. Sempurna!
Karenanya kehadiranku menjadi sangat menonjol. Si kodok, mereka menyebutku. Tidak akan ada satupun yang mau mendekat bahkan untuk menyapaku. Seorang gadis kumuh yang memakai seragam lusuh bekas kakak tingkatnya dulu. Sepatu berwarna abu-abu akibat telah lama tidak disikat. Tas bolong yang kutambal dengan kain biasa,
Tapi dia, Sang Pangeran!
Satu-satunya yang istimewa darinya teringat jelas di dalam otakku.
Tangan kiriku penuh dengan sekresek snack dan tangan kananku mengapit bekal dari rumah. Aku tidak mampu untuk sering berkunjung ke kantin mengingat uang sakuku tidak sebanyak mereka. Aku berniat sembunyi di halaman belakang sekolah menikmati cemilan saat istirahat siang. Aku berjalan seperti biasa dengan semua orang yang mengabaikan. Hingga aku melewatinya, sekelompok pemuda keren yang populer. Awalnya mereka acuh tak peduli hingga...
"Aduh!!"
Aku terjerembab jatuh ke lantai. Seseorang dengan sengaja mencekal kakiku. Bekal makanan dan semua stok snack-ku tercecer di lantai. Semua anak yang melihat tertawa terbahak-bahak tanpa niat mengulurkan tangannya. Mereka hanya mengerumuni dan melihatku terjatuh tanpa iba. Beberapa mengolok-olok dengan merendahkanku. Kutarik lenganku sambil membenahi baju dan memungut sisa-sisa makanan yang berserakan.
"Kalau jalan liat-liat dong. Oh atau gue lupa... Suka silau ya liat atas?" sahut salah satu diantaranya.
Aku hanya tersenyum menahan malu. Kucoba menahan hati agar tak terluka lagi. Aku tidak ingin membuat masalah dan menghabiskan masa sekolahku dengan tenang dan bahagia. Meski aku berusaha bangkit sambil mengerang kesakitan karena sepertinya kakiku terkilir. Tapi mereka terus mengejek dengan menjorokkanku agar aku kembali terjatuh.
Hingga dia datang mendekat. Seperti ada serpihan wow di sekelilingnya membuat ia nampak bercahaya. Seperti ada peri-peri kecil yang menaburi sprinkle istimewa. Dia tampak luar biasa tampan. Direndahkan punggungnya membelakangiku. Setengah menjongkok sambil menoleh ke hadapanku, "Naik ke punggungku!" katanya menawarkan diri. Aku selalu terkenang itu.
Saat kunaik ke punggungnya tanpa berpikir panjang, sesaat aku merasa menjadi Cinderella dalam cerita. Aku tidak tau alasannya kenapa, namun sejak itu kami menjadi... saling mengenal.
Emmm, apa ya namanya?? Mungkin lebih tepatnya teman tapi mesra. Sahabat tapi bukan karib. Pasangan tapi tidak ada komit. Jadi, hubungan apa kami ini? Entahlah... Aku tidak terlalu ambil pusing.
Pernah suatu kali dia menyapaku. Dilambaikan tangannya girang sambil menunjuk ke arahku yang duduk di samping lapangan basket sesaat setelah dia berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Sangat keras dan jelas ia menyebut namaku hingga puluhan siswi yang mendukungnya tidak suka. Atau sekedar menyapu rambutku, mencubit pipiku saat berpapasan di koridor.
Saat Valentine tiba bisa dipastikan ratusan coklat dan bunga pasti menghampirinya. Waktu itu ia tidak dapat bergerak seolah hadir dalam jumpa fans dengan tangan penuh kado. Yang dilakukannya adalah langsung menelponku dan mengatakan ada hal yang sangat penting. Dia bilang itu menyangkut nyawa dan berbahaya. 911. Penting. Mendengar suaranya yang terlihat dalam masalah sontak ku berlari menghampirinya di kantin sekolah, Tapi yang kulihat malah dia lagi duduk santai tanpa masalah.
"Abel!!" dilambaikan tangannya cepat. Memberiku senyum manis tanpa rasa bersalah.
"Apa yang penting!?" nadaku penuh kekhawatiran. Kupastikan tidak ada masalah berarti, kutengok kanan-kiri penuh dengan tumpukan kado serta kerumunan penggemar menunggu tanggapannya.
"Ini!" tunjuknya pada segunung tumpukan coklat. Berdiri menepuk pundakku seperti akulah sang upik apu yang membereskan semua itu.
What???
"Alex, kau benar-benar menyebalkan, kau tau aku harusnya ada di perpustakaan mengerjakan tugas dan ka....", disumpalnya mulutku dengan sebatang coklat.
"Bawa ini, Sayang!"
"Aleeeeeeexx!!! Dasar pangeran kodok!"
************
Yah... dia, Alex, adalah pangeran kodokku. Mengacuhkan ocehan teman-temannya untuk berhenti mendekatiku. Selalu memberi senyuman menyambutku meski seluruh dunia mencoba mengenyahkanku. Pertemanan kami sangat indah walau bukan atas nama cinta. Dia sering bilang sayang dan aku juga sama. Hanya saja tak ada ucapan lebih setelahnya. Namun hanya satu kesalahan yang ia lakukan. Sebuah perlakuan yang buatku tak pernah ingin lagi mengingatnya.
"Kalau ku tau kau Pamannya Nuca mungkin..."
"Karenanya aku minta Putri merahasiakannya!"
Apa??? Oh my God!
Jadi bener Putri yang bikin drama ini nambah episode. Seharusnya ceritaku dengan Alex berakhir saat dia memutuskan untuk tidak mengakuiku sebagai teman di depan mantan terindahnya, Elisa. Aku gak nyangka Putri bisa merahasiakannya padahal kemarin kita baru selesai membahas Alex. Putri tau bahwa aku memiliki masa lalu tak mengenakkan tentang Alex berkaitan mantannya yang cantik rupawan. Si Elisa ini gadis istimewa dengan berbagai kelebihan. Paket komplit dalam satu wadah, cantik, berkepribadian baik, kaya, dan pintar.
Dan haruskah drama ini bertambah? Adakah hal yang lebih gila dari pertemuanku yang unconditional dengan Alex? Kubiarkan pikiran liar ini menjamah kemana-mana. Kualihkan pandanganku berharap mendapat udara segar. Melewati pandangan orang yang berlalu lalang. Perasaanku masih sakit jika mengingat hal terakhir yang dia lakukan. Tapi....
Mataku langsung awas tak berkedip. Sekelebat kulihat dan benar ingin kupastikan, "Nuca?" seruku dalam hati. Kukucek mataku memastikan siapa gadis di sebelahnya. Mencoba menjelaskan pandanganku yang mulai kabur karena shock dan kaget. Dia adalah, "Elisa??"
Oh no.... drama apalagi ini? Batinku berguncang. Tubuhku gemetar dengan kebingungan 9 tahun yang panjang. Nuca dan Elisa mantan Alex. Itu berita yang tak ingin kusampaikan pada Alex.
"Bel??" guncang Alex menyentak bahuku. Ia terlihat bingung memandangku. Apalagi aku...
Stop, Lex! You don't wanna see this.