
Dibawah meja aku meringkuk. Anuca berlari-lari mencariku. Aku tetap diam di tempat meski ia kencang memanggilku. Kami sedang bermain petak umpet dan sebenarnya aku memang berniat mengumpet karena suatu kondisi tak nyaman di tubuhku.
Sebagai driver, seharusnya tugasku cuman antar jemput Non Anuca dengan segala aktifitasnya yang padat. Namun seiring kedekatan kami, Pak Dihardja meminta secara khusus menambah tugasku untuk menemani Nona Muda. Istilahnya semi baby sitting karena nonaku sayang sendiri sudah punya baby sitter pribadi.
Kubekap mulutku, meringis kesakitan dalam diam saat kudengar sayup-sayup suara langkah kaki Non Anuca mendekat. Rasanya pinggangku nyeri sekali. Aku hanya bisa mencengkeram taplak meja yang menutupi tubuhku. Kugigit-gigit bibirku seiring bertambah sakit dan nyeri yang kurasakan menjulur disekitar pinggangku.
"Kak Abel!" teriak gadis cilik itu memanggil. Akan tetapi aku tetap diam tak bergeming. Rasa sakitku tak ingin kutunjukkan padanya. Nyeri ini biasa kualami saat masa menstruasi telah tiba.
Yang tak kusadari suara itu semakin lama terbenam dengan rasa sakit teramat sangat di perut bagian bawahku. Aku merasakan kram. Keringat dingin membasahi tubuh. Kepalaku berat sampai terantuk ke lantai. Pelan dan semakin pelan suara tangisan Anuca karena tak dapat menemukan ku terdengar, akan tetapi aku tidak cukup sanggup untuk bersuara menjawabnya hingga.....
Semua menggelap.
_____________________
"Bangun, Bel! Abel! Bangun!"
"Kak Abel.... hu hu hu"
"Dokter tolong... Tolong dokter.... Abel, kumohon bangunlah!"
"Permisi, Pak. Harap tunggu di luar. Siapa walinya?"
"Saya... saya... Suster!"
"Maaf hubungan anda dengan pasien?"
"Saya tunangannya!"
_____________________
Mataku masih berat tapi kupaksakan membuka. Rasanya tubuhku lengket dikasur. Bayangan sekitar nampak kabur. Saat semua lebih jelas, yang tampak hanya langit putih, tivi, tembok yang putih, AC yang putih, meja di bawahnya, dan tangan...
Tangan siapa ini?
Dimana aku?
Semuanya yang putih sedikit membuatku begidik. Takut kalau-kalau aku dicolong kolong wewe. Tapi sudah tua gini. Mungkin juga aku sudah mati dan ini surga dengan sedikit sensasi aroma terapi. Aku dapat mencium aroma lavender bercampur dengan aroma mentol.
Argh~~
Aku menggeliat pelan. Kuamati dan baru sadar aku bukan dicolong Kolong Wewe ataupun pulang ke surga. Aku berada di rumah sakit. Kuingat bayangan terakhir yang terekam dalam memori otakku. Tentang dia yang mengaku tunanganku hanya untuk menyelamatkanku.
Terima kasih ya, senyumku lembut ke arahnya.
Aku mencoba merasakan sendi-sendi yang bergelatukan bunyinya. Tanganku sedikit kesemutan dengan infus tergantung di tiang. Kutengok samping kiriku perlahan saat kutemukan sesosok dia yang sangat kukenal. Kutarik tanganku yang di genggamnya. Pelan dan perlahan. Aku tak ingin membangunkannya juga tak ingin melukai tanganku yang tertancap infus.
"Kau sud....ah bangun?" tanyanya tergagap kaget menatapku. Dia menggeliat sebentar sambil melirik jam tangannya. Tampak sekali dia kelelahan. Sesekali ia menguap sambil melempar senyum padaku.
"Kenapa aku?" tanyaku dengan suara rendah.
"Kau pingsan," ditariknya tanganku lagi, "Tolong, jangan takuti aku lagi."
"Maaf!" ucapku menunduk penuh rasa menyesal.
Digenggam tanganku kembali lalu mengelus punggung tanganku pelan, "Kalau kau sakit kenapa gak bilang? Aku kaget setengah mati saat Anuca menangis dan bilang Kak Abel meninggal."
Dipeluknya tubuhku segera setelah mengatakannya. Aku dapat merasakan ketulusan dari sikapnya. Meski hatiku rasanya melompat dari tempatnya karena kaget.
"Maafkan aku!" ulangku lagi.
Semakin erat ia memelukku. "Rasanya jantungku lepas saat kulihat kau terdiam seperti itu, aku benar-benar ketakutan. Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau baik-baik saja kan?"
"Iya, maaf. Aku sudah biasa sakit gini kalau lagi period. Cuma hari ini mungkin karena aku kelelahan jadinya nyerinya makin menjadi."
"Apa? Kenapa gak bilang? Kita bisa tes ke dokter, mungkin saja sakitnya parah, Bel." Sekali dia melepas pelukannya. Menatapku yang kebingungan.
"He-he-he... Alex, aku mengalami kram menstruasi. Itu wajar, Lex!" belaku yang terkikik mendengar kepanikannya. Mungkin karena ia tidak memiliki saudara perempuan dewasa jadi dia tidak paham apa yang dialami wanita tiap bulan.
"Aku tidak peduli. Besok aku bakal minta dokter periksa secara intensif."
"Tapi, beneran... In-ini..."
Perlahan tubuhku memanas. Ternyata tak kukira wajahnya mendekat berapa centi dengan wajahku. Aku menelan ludah melihat lekuk wajahnya yang mempesona. Kulitnya yang halus dengan aroma maskulin yang menyeruak. Tatapannya begitu lembut dan menenangkan. Kami saling berpandangan beberapa lama dan semakin dekat. Kemudian...
Bibirnya menghangat kurasa. Entah apa tapi aku menikmatinya. Jantungku berdegup seirama dengan degup jantungnya. Aku mengeratkan tangkupan tanganku di pundaknya dan membalas ciumannya dengan mesra. Ia hanya melihat sebentar lalu menutup bibirku dengan kecupannya sekali lagi. Kami begitu intens sehingga rasanya seperti terbang ke langit. Akan tetapi ketika ******* itu berakhir aku baru menyadari sesuatu.
Dia Alex, anak tuanku.
_______________________
Alex berdiri membaca urutan grafik itu dengan tajam. Ia menyadari cepat ada ketidakseimbangan di dalamnya. Raut mukanya menegang begitu melihat urutan angka dan deskripsi yang tidak sesuai harapannya.
"Beberapa waktu lalu Suwito Group mulai menyasar saham perusahaan kita. Mereka tau bahwa kekalahan kita pada tender kemarin membuat keuangan kita sedikit goyah." Pria paruh baya itu lebih tenang dari Alex. Ia hanya memainkan tongkat penyangga yang dipakainya. Lalu mendekat ke arah Alex.
Dibantingnya map itu keras di atas meja kerja Papanya. Alex tak percaya semua usahanya hancur dalam waktu lebih singkat dari yang diperkirakansebelumnya. Pak Dihardja dengan santai menghirup cerutunya. Putri yang sedari tadi berdiri kikuk di samping Pak Dihardja berjalan mendekati Alex yang kini berdiri menghadap ke arah jendela.
Suasananya memang kurang nyaman dan menegangkan, mengingat saham mereka turun karena ekonomi dunia yang kurang baik. Lebih buruknya Suwito Group terlihat bangkit sejak dipegang CEO baru mereka.
"Bagaimana menurutmu, Putri?" tanya Alex tegas. Ditangkupkan kedua tangannya di atas dada sambil awas dengan wanita muda yang ada di depannya.
Putri menghela nafas pendek sebelum menjawab pertanyaan dari Alex. "Menurutku kita bisa bertahan. Bagian pengembangan kita sedang mengembangkan teknologi terbaru. Sistim ini cukup meyakinkan mengingat tenaga kita cukup kompeten. Untuk pameran besok di China kita bisa memamerkannya."
"Bagaimana dengan Suwito Group?" tanya Pak Dihardja dibalik kursi kerjanya.
"Saya tau betul bagaimana kemampuan CEO mereka, Pak. Dia mudah teralihkan, jika saran saya yang kemarin masih bisa dipertimbangkan."
Alex menggeleng cepat. Ia jelas ingin menolak gagasan yang disampaikan Putri sebelumnya. Nafasnya menderu karena kesal. Ada penolakan nurani untuk menerima saran sekeji itu yang diusulkan Putri.
"Lakukan saja Lex!" perintah Pak Dihardja. Kali ini mimik mukanya serius. "Bukankah itu tujuan kita dari awal mengajak Abel kesini. Kita harus melakukan yang harus dilakukan agar perusahaan kita kembali ke atas. Apa kau mengerti, Lex!"
Alex kembali membekam mukanya dalam amarah. "Aku memang sangat membenci orang itu, Pa! Dia telah merebut semua yang telah kuusahakan tiga tahun belakangan ini. Tapi ide Putri terlalu kejam jika kulakukan... "
Putri memegang pundak Alex mencoba menguatkan, "Abel adalah distraction paling tepat untuk saat ini. Kau bukan menyakitinya bukan memanfaatkan untuk melukainya. Ia tidak akan tau itu, Lex. Abel hanya alat untuk mempermudah jalan kita."
Alex mulai gusar dan menghindari kedekatannya dengan Putri, "Kapan?" tanyanya tampak melihat muka Putri lagi.
"Grand Mall Atlantis jam 1 siang, dia ada pertemuan dengan pemimpin Perusahaan Qoma."
"Perusahaan Qoma?" tanya Alex seperti terngiang-ngiang sesuatu.
"Betul, Qoma perusahaan baru di bidang marketing. Beberapa kali ia memenangkan kompetisi internasional dan pemimpinnya masuk ke dalam majalah Forbes sebagai pemimpin perusahaan paling berpengaruh se-Asia."
Suasana hening sejenak sebelum Alex benar-benar memikirkannya. Ia kemudian langsung beranjak dari ruang kerja menuju teras depan tanpa berpamitan pada Papanya.
"Awasi mereka, Putri. Saya ingin laporan lengkap setelahnya!" perintah Pak Dihardja secara jelas pada Putri.
"Baik Pak!"
_______________________________
Anuca dan Abel terlihat berbincang di depan station permainan anak-anak. Alex memang menjanjikan akan pergi ke Kids Town hari itu. Tapi mungkin diurungkannya dan memilih tempat lain untuk melakukan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
"Iya, Paman janji hari ini mengantarku ke Kids Town," suara Anuca yang renyah terdengar.
Abel berjalan mendekat, "Emm... Sayang, mungkin Paman ada acara penting. Bagaimana kalau sama, Kak Abel?"
Pupil mata Anuca membulat cepat, senyumnya merekah sambil mengangguk senang.
"Siapa bilang Paman tidak ada! Siap berangkat Putri cantik," ucap Alex membungkuk ala Pangeran Disney.
"Oke, Driver siapkan mobil!" perintahnya pada Abel yang terlihat kebingungan.
___________________
Alex berjalan menjauhi Abel yang masih awas menjaga Anuca. Perasaannya masih kacau. Ia seolah sedang berakting menjadi pria baik di depan Abel yang sangat sulit dilakukan.
Selama tiga tahun ini ia benar-benar berusaha membangkitkan kembali perusahaan ayahnya. Bekerja dibalik layar sampai ke Korea. Tapi dengan mudah hitungan bulan semua rencananya gagal. Tender yang diimpikan jatuh ke tangan pesaingnya.
Ia dan CEO Suwito Group bagai saudara rasa musuh. Ada kemarahan setelah sang ayah dihancurkan oleh adik kandungnya melalui sebuah konspirasi jahat. Kini dendamnya pada sang CEO lebih berat dari segalanya.
Alex melihat bayangan seseorang yang mengikutinya. Ia paham mungkin itu dikarenakan perintah Papanya untuk memastikan ia melakukan bagiannya. Kakinya melangkah mundur menjauh dari Abel dan Anuca.
"Kenapa kau mengikutiku Putri?" ucap Alex mencegat Putri yang berdiri membelakanginya. Alex melihat Putri mengikutinya dari awal mereka masuk Mall. Putri tampak bersembunyi dengan membalikkan tubuhnya menghindari Alex melihatnya.
Dengan gagap ia berbalik, "Sa-saya hanya menjalankan tugas, Pak!"
"Katakan pada Papa, bahwa aku akan melakukan sesuai rencana awal, berhenti mengikutiku."
"Baik, Pak! Maaf ini," disodorkan dua cup besar cappucino buble, "untuk mencairkan suasana..."
Diterimanya dengan kasar dan beralih pergi meninggalkan Putri dalam persembunyiannya. Hatinya merasa miris harus memanfaatkan Abel.
"Mereka akan keluar dari Atlantis sekitar 30 menit lagi, jadi usahakan anda masih disana, Pak!" teriak Putri di belakangnya.
________________________
"Nih!" sodor Alex memberikan se-cup besar capucino buble untuk Abel.
"Maafkan aku, Bel! Seharusnya tidak kutinggalkan kamu dulu seperti itu... Sungguh, Bel. Kamu adalah kenangan terindah yang kubawa dari Indonesia."
Di tengah percakapannya ia dapat melihat gelagat Abel yang nampak gusar. Ia terlihat kaget dan bingung. Alex sudah menyadari mungkin saja Abel termakan perangkapnya dan melihat Nuca di sana. Sebelum meminta ijin meninggalkan Alex bersama nona muda, Abel melempar senyum memintanya untuk mundur dan mengikuti instingnya membuntuti Nuca bersama Elisa.