
-sudut pandang pengarang-
Abel menghentak kaki berkali-kali karena sebal. Piknik atau berlibur atau bersantai ala Bian ini sangat menyebalkan baginya. Belum lagi perlengkapan yang ia bawa, sepertiku meja, kursi, bahkan mungkin seluruh isi rumah ia bawa. Ada sekitar 5-6 mobil yang akan mengikuti mereka di belakang, khusus hanya untuk membawa perbekalan.
Lebay? Mungkin, menurut Abel.
Seperti yang diungkapkan kepada Wayan tentang cita-citanya mengambil cuti, ia hanya ingin bersantai, berhenti berpikir, menikmati hidup, terutama tidur. Namun kenyataannya, liburan bersama Bian lebih merepotkan dari membawa bocah 3 tahun.
"Ini menyebalkan," protesku pada Wayan yang asik bermain mobile game di sebelahku.
Kutengok senyum nyinyir yang ia berikan seolah acuh dengan kekesalanku. Mereka berdua terdiam di kursi belakang minibus mahal milik Bian. Sudah hampir sejam kendaraan nangkring tak berjalan. Abel mulai bosan, meski di dalam mobil semua kebutuhan terpenuhi, mulai dari WiFi, tivi, kulkas, bahkan kalau perlu kamar mandi portable juga disiapkan.
Astaga, Bian! Ronta batin Abel menggema.
"Kapan berangkat ini?!" teriak Abel dengan kepala menyumbul dari jendela.
Bian yang sedari tadi sibuk mempersiapkan segalanya, melongok kaget ke arah Abel yang tampak sekali marah. Ia pun berjalan mendekati kekasihnya, "Apa lagi yang kurang, Sayang?" tanyanya memastikan.
Wanita manis di depannya itu hanya menyelipkan senyum penuh keterpaksaan, "Kurang kamu, masuk ke dalam mobil, dan kita berangkat! Kita ini mau piknik, bukannya pindah rumah, Bian."
"Oh oke," ucapnya sambil memberi isyarat menyetujui, "baik semua siap, kita berangkat!"
Tiba-tiba Wayan terjaga dari permainannya, lalu menatap Abel dan Bian bergantian, "Mana Hera? Katanya dia ikut juga."
"Ahh, benar Hera," seru Abel menimpali, "Kau yakin sudah mengajak Hera?"
Bian memastikan bahwa ia telah menghubunginya, akan tetapi hingga sesiang ini belum ada balasannya.
"Aku akan minta orang menjemputnya, kalau itu maumu, Bel."
Abel berpikir sejenak, apa yang membuat Hera menghilang?
Tak lama ia terdiam, terdengar suara riuh di belakang. Itu Hera, memanggil-manggil mereka agar tidak menjalankan mesinnya.
"Maafkan aku, ada hal yang harus kuselesaikan dulu," seru Hera sambil mengatur nafas ngos-ngosan.
____________________
Abel dan Hera memilih duduk bersandingan, sedang di depan ada Wayan dan Bian. Entah kemana mereka akan jalan, Abel hanya akan mengikuti pada kemauan Bian. Wayan juga terlihat diam, sibuk dengan online game di ponsel pintarnya. Mungkin itu juga tujuan kenapa Wayan ikut cuti bersamanya, cita-cita cuti impian Abel dan Wayan berbeda, tapi intinya sama, mereka ingin terlepas dari rutinitas dan lari dari masalah.
"Kau tidak apa-apa, Her?" tanya Abel memastikan. Hera terlihat pendiam, ia juga tampak gemetar seolah ketakutan. "Apa ada masalah?" katanya melanjutkan.
Hera terkesiap mendengar pertanyaan yang diberikan padanya, "ahh, tidak. Aku hanya capek. Semalam banyak tamu luar yang datang."
Mendengar itu Abel bisa saja memaklumi, ia tidak dapat memungkiri pekerjaan apa yang Hera dalami.
"Bel? Bolehkah aku bicara sesuatu?"
"Apa? Penting banget kayaknya."
"Sebenarnya," keningnya berkerut, "aku ingin minta maaf..."
Abel bergeming mendengarkan, sepenting apa itu?
Namun, seperti terganggu, Bian muncul dari balik bangku depan langsung mencium pipi Abel. Mendapat perlakuan tiba-tiba dari Bian yang tak diduganya, Abel hanya bisa melongo sambil memicingkan mata penuh tanda tanya.
"Tidak apa, aku kangen," ucapnya sambil melirik Hera yang menciut seketika, "bukan begitu, Her?"
"Ahh, i-iya Pak. Bukankah itu intinya berlibur," sahut Hera dengan ketakutan.
Seperti ada isyarat antara Hera dan Bian yang tak dimengerti Abel. Ia melihat keduanya nampak seperti sedang membatin satu sama lain.
"Ada dengan kalian?" tanya Abel penasaran.
Bian hanya menggeleng dan mencium pipi Abel sekali lagi.
____________________
Hawa dingin mulai menusuk, mereka sampai di villa saat matahari hampir terbenam. Suasana pantai bercampur dengan perbukitan di belakang villa, langit yang ramai penuh bintang-bintang, apalagi keadaan yang sepi seperti private island yang hanya untuk mereka sendiri.
Aroma air menyeruak saat Abel keluar dari kendaraan yang mengantarnya. Sayangnya, momen romantis seperti ini dihabiskannya bersama pria yang tak pernah ada di hatinya. Namun, apa daya ia sudah terjebak dengannya meski terpaksa.
Jajaran meja penuh makanan, aroma barbeque daging panggang tercium dari asap yang mengepul. Beberapa juru masak dan pelayan sibuk menyiapkan jamuan untuk mereka. Wayan segera melompat dan merangsek masuk memilih kamar, begitu pula dengan Hera. Meninggalkan Bian dan Abel yang terpaku di depan meja makan.
Diantara menu pilihan barbeque ada yang mengganggu Abel, tampak seseorang yang familiar menyumbul dibalik baju chef. Si Bli Tukang Mie Ayam, dia sibuk dengan gerobak mie-nya dan tersenyum ke arah Abel. Bian melihat perubahan mimik bingung dari wanitanya.
"Dia sengaja ku bawa ke sini. Mie ayam khusus untuk kamu?" seru Bian sambil menunjuk ke arah Si Tukang Mie.
Abel tertawa tak percaya, "Gila! Kamu bener-bener gila, Bi. Gimana bisa kamu bawa Bli Mie Ayam ke sini. Jangan bilang kau menganggunya lagi..."
Bian menggeleng cepat, lalu menepuk tangan memanggilnya. Bli Mie Ayam seakan tau apa yang diinginkan Bian, dia langsung menjelaskan kini ia bekerja di restoran mie ayam milik Bian. Bisa dikatakan, Abel tidak akan lagi merasakan kenikmatan mie buatannya lagi karena ia telah membuka kedai sendiri mulai bulan ini.
Bian tersenyum penuh kemenangan, tapi tidak untuk Abel. Ini kegilaan Bian di luar nalar. Kemarin, hanya karena dia menginginkan mie ayam, sampai tukang mie-nya dibawa pulang, atau menghajar preman yang melukai keningnya sekecil kuku kelingking. Dan kini, ia menyewa pulau pribadi hanya untuk Abel berlibur, segala fasilitas mewah dengan pelayan yang standby 24 jam.
"Ini gila, ini sabotase, Bi. Sekarang kalau aku pengin makan mie ayam gimana? Aku gak mampu buat beli mie harga ratusan ribu per porsi Bian," teriak Abel kesal.
Bian mendelik membela diri, "kamu kenapa bingung, kedai mie ayam itu kan milikmu. Kalau kau mau, tinggal telepon dan mereka akan mengirimkan seporsi untukmu!"
Abel menepok jidatnya tak mengerti, termasuk jenis apakah perhatian yang diberikan Bian padanya. Kembali Bian memberi senyum manis bak anak kecil yang baru menerima permen.
______________________
Setelah menghabiskan dua porsi mie ayam dengan lahap, ditambah potongan besar daging barbeque yang ekstra lembut, Abel mulai merasa kekenyangan. Perutnya membuncit hingga ia harus melepas beberapa kancing celananya. Duduk santai di dekat perapian, ia bahkan belum masuk ke dalam kamar. Terlalu nyaman dengan suasana yang menenangkan, ia berhenti dan menyamankan diri menatap langit yang telanjang.
Bintang juga bulan bersinar terang, hembusan angin sepoi-sepoi menina-bobokan dalam alunan nada nyanyian pantai yang menyenangkan. Sesekali Abel melirik ke dalam, seandainya ia dapat melihat Wayan atau Hera datang menemaninya. Entah kemana mereka.
Tak berselang lama dari lamunannya, Wayan datang mengagetkan. Ia menepuk pundak Abel tanpa menyebut namanya. Membuat Abel yang awalnya terlena dengan buaian malam menjadi kaget gemetaran.
"Ngapain sendirian? Udah dihabisin itu mie ayam?"
Abel hanya mengangkat dua jarinya, menunjukkan ia telah menghabiskan dua porsi sekali makan. Wayan terkekeh melihatnya, Abel tampak engap dengan bajunya yang mendadak menyempit.
"Di mana orang-orang itu, gak lapar apa?" tanya Abel setengah memejam mata.
Wayan mengambil duduk di kursi santai sebelah Abel sambil memainkan gawainya. "Aku tadi lihat Bian menuju kamar Hera. Kau tidak cemburu kan?!" godanya.
Abel hanya tersenyum. Kalaupun mereka malah jadian, bukannya ia harus bersyukur. Bian tak akan lagi mengganggu hidupnya. Mungkin juga, ia dapat kembali bertemu Emak dan Anuca segera.
"Syukur kalau mereka jadian..." jawab Abel sekenanya. "Bukankah mereka juga sudah pernah ..., kan?
Pertanyaan Abel menimbulkan mis-persepsi buat Wayan. "Sudah pernah apa?" tanyanya balik memastikan.
Abel berusaha mendeskripsikan dengan gerak tubuhnya yang tetap tak dipahami oleh Wayan. Ia malah menertawakan semua gerakan Abel yang menurutnya menggemaskan.
"Belaaaa," teriak Hera dari dalam villa. Ia terlihat terburu-buru hendak menyampaikan sesuatu pada Abel.
Wayan menarik tangan Abel untuk menghampirinya, "biar dia yang ke sini, Bel!"
Abel menatap Wayan dengan bingung. Ada apa sebenarnya?
"Apa kita bisa bicara?" kata Hera seperti meminta ijin bicara berdua dengannya.
"Ada apa?" Wayan berdiri seolah menamengi Abel yang bingung dengan apa yang terjadi. "Sampaikan semuanya di sini," tantangnya lagi.
"Tidak, tidak, aku ingin bersama Bela. Bisa kan? Ada sesuatu yang penting, Bel. Aku mohon!"
Abel mengangguk dan mengajak Hera menjauh dari sana. Tangan Hera bergetar, bibirnya terkatup seperti baru melihat setan.
"Ada apa, Her?" tanya Abel penasaran.
"Akulah pelakunya... maafkan aku, Bel. Sungguh, aku minta maaf!" Hera bersimpuh sambil berderai air mata, tangisnya begitu tulus dan memilukan.
Rasa takutnya menjalar hingga Abel seketika bisa merasakan getaran itu.
"Apa maksudmu, Hera?"
"Maafkan aku, kau terlalu baik padaku. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, aku akan ke kantor polisi dan menyerahkan diri."
_____________________