
[BAGUS ... BAGAIMANA KEADAANNYA SEKARANG?]
[SELESAIKAN SEKARANG!]
[LUNCURKAN PRODUK LEBIH DULU, BIARKAN TIM MEREKA BERHENTI SETELAH PRODUK DILUNCURKAN]
[LAKUKAN SESUAI RENCANA, PUT!]
Suaranya memang keras sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas. Nuca sedang berbicara di telepon. Dari mimik dan keseriusannya kuyakin itu hal yang sangat penting.
Tapi nama yang dipanggil di akhir kalimat membuatku terhenyak. Siapa ‘Put’ yang dimaksud?
Mungkinkah Putu? Putra? Punggawa atau … Putri?
Nuca berbalik dan kaget saat melihatku. Ia tampak ketakutan seperti sesuatu yang dirahasiakan.
“Kenapa?” ucapku berusaha menenangkannya.
“Ahh ... tidak apa-apa. Bagaimana? Jadi kita jalan ke kebun teh?”
Aku hanya mengangguk menyetujui. Kami sepakat akan menjadi keluarga yang diimpikan Anuca –nonaku sayang– seharian ini. Mengajaknya ke kebun teh adalah ide Nuca untuk menyenangkan si kecil.
Diarahkan motor yang dikendarai Nuca ke sebuah perkebunan teh di atas bukit. Memang Nuca tidak pernah suka untuk menyupiri mobil meski ia bisa sekalipun.
Nuca kecil begitu kegirangan. Dia berlarian tanpa mempedulikan jalan yang menanjak dan menurun. Kami hanya mengikutinya sambil mengawasinya dari jauh layaknya pasutri baru.
“Makasih!” ucapku mengawali sambil meletakkan tas bekal yang kubawa dari tadi.
Nuca menggelar kain sebagai alas, “Kenapa?”
Kami berniat piknik di tengah sawah. Seperti impian yang gadis kecil itu liat di you tube. Bahwa identifikasi keluarga bahagia itu adalah momen pergi bersama. Yaitu piknik dengan ayah ibunya.
“Telah menuruti kemauan Non Nuca. Kau tau lucunya kalian apa?”
“Apa?”
“Bagaimana mungkin ada banyak kesamaan dari kalian berdua, termasuk dengan nama?”
Nuca berhenti melakukan tugasnya. Dia terdiam sesaat sebelum senyum kecut terkembang di sudut bibirnya.
Kulanjutkan analisaku, “Untuk keluarga yang sangat membencimu tapi memberi nama yang sama denganmu. Bukankah itu sangat aneh?” telisikku lagi lebih dalam.
Meski aku tidak berniat mencurigainya karena sensasi ciuman kemarin malam. Sebenarnya jika kupikir tidak akan mungkin dia melakukan hal yang buruk padaku. Apa salahku padanya?
Matanya menyudut menelanjangiku, seolah sangat marah dengan pertanyaan yang menurutku wajar. Begidik kurasakan melihat tatapannya. Sebelum ia terdiam dalam tundukan.
“Bisa gak elo gak banyak tanya? Bukannya kita dah janji ma Anuca buat jadi nyokab bokapnya hari ini.”
Aku kaget mendengar jawaban yang misterius darinya. Masihkah harus menyembunyikan sesuatu dariku?
Kupalingkan muka tanda tak suka. Dadaku bergemuruh dengan kemarahan.
Bolehkah kumarah? Aku dan Anuca adalah korban. Meski kenapa aku bisa menjadi korban masih menjadi tanda tanya besar bagiku. Kenapa mereka menjadikanku sebagai tokoh penting persengitan dalam permusuhan mereka.
Nuca melambaikan tangan dengan senyum lebar menjawabnya. Dia berlari cepat kearah kami. Dipandangnya kami secara bergantian dan tiba-tiba memeluk kami, “Bolehkan kupanggil papa dan mama?”
Dan Nuca langsung mengiyakan tanpa berpikir panjang dengan mencium pipinya. Memeluk erat tubuh kecil itu seolah telah menahan kerinduan sekian lama.
Namun momen itu tak bertahan lama. Sebuah dering telpon menganggunya. Membuatnya pergi menjauh dari kami. Ini hampir yang ketiga kali. Seolah hari ini telah terjadi sesuatu yang penting yang tak kutau apa itu.
“Mamaaa!!!”
“Apa sayang?”
“Nuca seneeeng banget!”
“Hmmm!”
“Meski Nuca sedih … ”
“Kenapa?”
“Paman Alex. Mereka masih memenjarakannya. Kalau nona itu datang, pasti ayah akan menutup pintu dan memarahiku karena dekat-dekat dengan paman?”
“Nona siapa Nuca?”
“Nona Putri?”
Putri?
Sebesar itukah andilmu dalam pertikaian ini. Meski kekhawatiranku pada Alex mendera tapi tidak sebesar dengan rasa benciku padanya.
Aku sudah melupakan kekagumanku apalagi setelah Nuca menceritakan betapa kejamnya mereka berdua.
“Nuca, maukah kamu makan sendiri, mama mau menelpon seseorang”
Gadis itu mengangguk sebentar sebelum sibuk menyiapkan makanan.
Kumelangkah menjauh, mencoba bersembunyi dari Nuca yang juga berbicara berbisik nun jauh disana.
Kuambil ponsel tuaku. Ponsel jadul tanpa GPS dan internet. Fungsinya hanya telepon dan mengirim pesan. Kutekan nomer yang kuhapal diluar kepala.
Bertahun-tahun aku mengenalnya, ia tak pernah mengganti nomer ponselnya.
“Halo?” seru suara seberang yang sangat kukenal.
Jantungku berdebar merasa ketakutan. Hampir aku memutuskan hubungan sebelum suaraku keluar.
“Putri, bisakah kita bertemu?”
“Abel?”
_________________________