Love on Revenge

Love on Revenge
Part 26



-sudut pandang Pengarang-


Elisa melambatkan mobilnya miring ke arah samping trotoar lalu memarkirkannya. Keluar dengan gaya casual yang masih terlihat chick dengan tas jinjing merah. Lima menit sebelumnya ia sudah dihubungi oleh teman lamanya. Dia telah menunggu di salah satu sudut dengan pohon beringin di dekatnya. Orang itu adalah teman masa kecilnya, sangat lama hingga ia tidak bisa mengingat satupun kenangan tentangnya.


Suasana ramai di taman kota memang dipilih oleh keduanya untuk bertatap muka. Elisa tak akan nyaman jika mengajak bertemu seseorang yang bukan kelasnya di sebuah cafe atau restoran mahal. Beberapa anak kecil berlarian di tengah ruang yang lapang. Mengganggu jarak pandangnya yang berusaha menyisir letak keberadaan sang teman.


"Halo?"


"Aku sudah sampai, kamu dimana?"


"Cari sebuah pohon beringin besar, aku ada di sisi kanannya."


Merepotkan, keluhnya. Kalau bukan karena dia benar-benar membutuhkan dia tidak akan mau bersusah payah mengontak seseorang yang bukan kelasnya lagi.


Jenjang sosialnya meningkat setelah berhasil memenangkan ajang model cover majalah remaja. Setelahnya ia sukses luar biasa. Dikontrak berbagai iklan tv, main sinetron, bahkan sanggup jalan-jalan keluar negeri. Usia belasan tahunannya sangat hebat. Sebuah keberuntungan dan sedikit kecurangan.


Elisa meninggalkan semua yang ada di masa lalunya dan menguburnya dalam-dalam. Termasuk diantaranya teman lama yang akan ditemui kini. Berkali-kali ia menengok layar ponselnya. Memastikan semua wajah serupa dengan profil WhatsApp yang ada di sana.


Hingga munculah wanita cantik nan seksi yang memakai hotpant dipadu dengan kaos bergambar Hello Kitty. Lekuk tubuhnya aduhai dipadu dengan gaya yang sangat modern. Tak terlihat bahwa dulu ia gadis dari kampung, sama sepertinya.


"Hai, El! Apa kabar?" sapa gadis berambut panjang sebahu itu dengan melambaikan tangannya.


"Kau mengenalku secepat itu?"


"Tentu saja. Kau sangat terkenal. Bagaimana bisa kulupakan!" serunya sambil awas dengan tingkah Elisa yang kikuk.


Senyum sinis Elisa terlihat seperti menyombongkan kehidupannya yang lebih baik dari temannya. "Baik, tidak usah panjang lebar. Aku hanya butuh sedikit bantuan," ucapnya sambil mengibaskan roknya untuk duduk.


"Bantuan?" Ia mendengus tak tahan. Seorang di depannya terlihat sedang menunjukkan kelasnya, "dari seorang sepertiku?" Lanjutnya.


"Iya, kenapa?"


"Heh!" Dengusnya lagi seakan sudah mengerti arah kemana ini akan berakhir. "Apa kau tak ingin mengotori tanganmu, Tuan Putri?" Tanyanya dengan nada sinis.


"Kau sangat pintar!"


"Tentu. Apa yang bisa aku bantu? Tapi kau harus tau bantuanku tidak murah..."


"Pasti, aku tau siapa kau sekarang..."


"Wanita sombong he-he-he," tawanya sangat keras hingga hampir semua orang di sekiling mereka melihatnya.


"Ssst... Jangan kelihatan norak..."


"Dengar, Tuan Putri! Kau tau posisimu dan aku tidak jauh berbeda. Lihat sekelilingmu, apakah ada di antara mereka yang datang mengenalimu? Mereka tidak kenal siapa kamu. Jadi berhenti bersikap sombong di depanku."


"Mungkin kau sekarang sudah memiliki segalanya. Tapi ingat, kelas sosial kita berbeda. Aku bisa mengangkat mukaku tinggi-tinggi, tapi kau tak bisa melakukannya. Apa kau mau Sugar Daddy-mu kesal dan membuangmu kembali ke jalanan?" Ancamnya tegas. Raut mukanya menegang menunjukkan jati dirinya yang lebih berkuasa.


"Baik, apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin menjual seseorang. Tolong aturkan jalannya..."


__________________


Alex membolak-balik halaman proposal itu cepat sebelum mengambil keputusan. Anuca baru menghubunginya untuk pulang dan merayakan ulang tahun Abel bersama.


"Baik, suruh bagian humas mengurusnya..." Perintah Alex sambil memakai kembali jas kantornya.


Ia berniat akan membeli kue tart dan bunga sebelum pulang ke rumah. Tak hentinya senyum terpancar dari mukanya yang cerah. Perasaannya senang mengingat kini, ia, Abel, dan Anuca telah tinggal bersama. Setelah drama konspirasi yang panjang hingga mengorbankan sang ayah, Dihardja. Alex sungguh berharap kali ini akan baik-baik saja. Meski ada satu pernyataan dari Elisa yang mengganggu pikirannya.


Namun menghormati hari bahagia ini, ia berencana untuk tidak membahasnya lagi. Bahagia bersama Abel, itu harapannya. Walaupun semua yang ada di diri Abel tidak termasuk ke dalam kategori wanita idaman yang patut dikhayalkannya. Tapi entah apa darinya Abel yang membuatnya diam di tempat.


Layar ponselnya menyala dan tertera nama Elisa. Masih konsentrasi mengemudi diaktifkan tombol speaker dan mulai bicara,


"Halo, El. Ada apa?"


"Bukannya kau sudah berjanji untuk meluangkan waktu?!"


"Ahh, hari ini kah? Hari ini tidak bisa. Abel ulang tahun. Aku berniat merayakannya dengan Anuca. Bisa lain waktu kan?"


"Abel?!" Nadanya terdengar kecewa. "Tapi kau sudah membatalkan ini tiga kali dan semua karena Abel dan Anuca. Kau tau aku tidak sabaran, kan?!"


Alex segera memarkirkan mobil dan masuk ke dalam mall ternama. Mencari toko bakery setelah itu ia...


Berdiri mematung di depan toko jewelry. Kalung dan cincin serta berbagai perhiasan indah tergolek di lemari etalase kaca telah menawannya. Awalnya ia akan membawakan sebuket bunga mawar merah saja, tapi begitu melihat apa yang di depannya kini, ia tak sanggup mengatakan ia tidak tergoda.


Langkahnya pasti masuk ke dalam toko dengan di sambut pelayan toko ramah. Semua perhiasan yang ditawarkan sangat menarik. Ia tak pernah melakukan ini pada wanita lain. Pantang baginya menyerahkan sebuah perhiasan yang memiliki arti pengikat suatu hubungan.


"Ini gelang dengan model baru, Tuan. Detailnya sangat modern khas Paris dipadukan dengan serpihan berlian. Apa anda yakin mau yang ini, Tuan?"


"Iya, tolong bungkus sebagai kado pertunangan sekalian."


______________________


Anuca berlari-lari di halaman belakang. Setelah kematian Dihardja, gadis manis itu tampak lebih bahagia. Tanpa suster yang seenaknya apalagi dengan Bi Inah. Atas usul Abel, Alex memecat mereka semua. Dengan begitu Anuca bisa hidup layaknya keriangan anak pada umurnya.


"Nih, Emak potongin yang gedean ya!" Emak menyerahkan potongan ap besar pada Abel yang duduk di kursi santai samping kolam. "Eh Neng Kecil, sini! Emak potongin apel ya! Ihh, lucunya nih bocah. Cakep bener kayak Nuca."


"Angkat anak gih, Mak!" Seru Abel merajuk. "Pan, tiap kali Emak selalu ngomel tuh. Kata Emak, Abel kagak ada cakep-cakepnya."


"Yeh, ngambek dah tuh. Emak dulu masih muda cantik, Bel. Semua laki ganteng sekampung pada naksir Emak. Tapi Emak setia. Emak cintanya cuma sama Abah lu doang."


"Hmmm...."


"Rumah orang kaya gini amat yah, Bel. Pantes Neng Kecil itu kagak bahagia," ucap Emak bersungut-sungut sambil mengunyah bagian apelnya.


Abel hanya tersenyum sambil memiringkan tubuhnyaebih dekat menghadap Emak. "Rumah besar, banyak duit, kagak jamin hidup nyaman, Mak! Kasihan Anuca, Mak. Dia sampai nyari mama baru karena kurang kasih sayang. Emak mau gak sayangin Anuca?" sahutnya sungguh-sungguh. Baginya menjadi mama Anuca tak akan semudah itu. Selain karena tidak adanya pengalaman, namun berbeda dengan Emaknya yang sanggup memberikan kasih sayang luar biasa seperti yang selama ini diberikan untuk Abel.


Mereka melihat tingkah Anuca bersamaan sembari memikirkan betapa menyedihkan sebuah kehidupan mewah tapi tanpa kasih sayang. Ia bisa saja memiliki seluruh isi dunia, tapi apa gunanya dunia bagi gadis kecil sepertinya tanpa sentuhan seorang mama.


Nona kecil itu tersenyum riang sambil mengangkat tangannya ke udara. Melompat-lompat tanpa lelah sambil memainkan balon tiup perayaan ulang tahun Abel.


"Neng...!"


Abel terkaget dan menoleh ke belakang. Ia hampir tak percaya mendapati Bang Syaif berdiri sambil menenteng tas ranselnya. Emak terdiam di tempatnya, sedang Abel berjalan perlahan mendekatinya. Ada berbagai jenis emosi yang teraduk-aduk dalam batinnya.


"Bang Syaif, sudah keluar?" katanya mendekat.


Syaif mengangguk dengan senyuman di bibir. "Iya, atas bantuan Alex juga!"


"Selamat ya!"


Sejenak mereka gugup satu sama lainnya. Hingga Emak menyuruh Bang Syaif duduk untuk mencicipi makanan yang ada di ruang perjamuan. Dengan kaku Abel menyiapkan suguhan untuk Bang Syaif sebagai tamunya.


"Kenapa masih di sini, Neng?"


"Apa alasanku untuk pergi, Bang?"


"Tapi..."


"Semua sudah berakhir, Bang. Inilah kehidupan normal yang kuinginkan, Bang."


"Abang hanya pingin kamu terhindar dari situasi ini lagi, Neng. Apa kau yakin masalahnya telah selesai?"


"Maksud Abang? Nuca dan Putri sudah di penjara dan mempertanggungjawabkan kesalahan mereka..."


"Kau tidak mengerti, Neng!"


"Apa itu, Bang? Apa yang gak dimengerti? Kalau Abang tau sesuatu, ceritakan saja..."


"Masalahnya Abang gak punya bukti apa-apa, Neng. Abang gak yakin kebenarannya. Biar Abang selidiki semua. Eneng cukup menghindar sebentar saja."


"Ada apa, Bang? Katakan!"


"Tua Nuca bukan orang yang jahat. Dia tidak punya ide gila itu dari pertama. Dia tidak sepicik itu meski penuh dendam, tujuannya hanya perusahaan. Tapi semua berubah sejak bertemu dengan dia... Abang mohon, Neng. Percaya ama Abang!"


"Abang minta Abel pergi, sekarang? ke mana?"


______________________