
Mataku membayang melihat ia begitu tak berdaya. Segala alat bantu medis yang terpasang di tubuhnya, sungguh membuat hati ini bagai tersayat sembilu. Ia yang begitu kuat bertahan melawan 10-20 pasukan Dihardja kala itu, tergeletak di atas ranjang rumah sakit tanpa kejelasan penyebabnya.
Sedih rasa hati ini, ia adalah abang terbaik yang kupunya mengingat aku memang anak tunggal sebelumnya. Dibalik kaca ICU ini adalah batas aku bisa menatapnya. Jatuh dari lantai yang tinggi, tapi dapat bertahan sekian hari, itulah hebatnya kau, Bang. Bertahanlah beberapa waktu lagi, kataku dalam hati.
Aku sudah memiliki informasi kejadian yang sebenarnya, kini yang kubutuhkan hanya bukti. Ku genggam semakin erat gagang kacamata hitam ini, yang dari awal kutemukan masih ku simpan. Aku sudah mencurigai ada sesuatu yang busuk di sini. Namun, entah siapa yang bisa melakukan ini.
Aku merangsek terduduk di lantai rumah sakit, tubuhku bersandar pada dinding tembok tak berdaya. Berusaha mencerna, mengolah, dan menganalisa semuanya. Apa yang dikatakan Darian kemarin sangat menyentak untukku. Siapa wanita itu? Siapa laki-laki berkacamata yang membantunya? Apa hubungan mereka? Andai ada yang dapat membantuku menyelesaikan puzzle ini dengan lebih mudah.
"Bel, kamu tidak apa?"
Mendengar namaku disebut, kuangkat kepalaku dengan terpaksa. Memaksa memompa darah ke aliran syaraf kornea mataku yang memburam karena penuh air mata. Kuhapus sisa-sisa tangis yang basahi muka.
Ia duduk menyamai yang kulakukan tepat bersebelahan. "Jika kau masih belum sanggup berpisah, aku tidak akan memindahkan Syaif ke ibukota."
"Alex?"
Wajah tampan itu pernah membuatku terlena. Namun sayang, aku terlalu sakit hati dengannya, jadi untuk mencintai adalah soal yang lain, meskipun tak kupungkiri rasa itu masih terselip di sudut hati.
"Ini kartu namaku, kau bisa menghubungi sewaktu-waktu jika memang butuh bantuanku. Apapun yang terjadi, aku pasti akan datang menolongmu!"
Kuterima kartu itu sambil membaca namanya sekilas. Aku memang hampir lupa dengan nomer kontaknya, hari gini siapa yang berlelah-lelah menghafal nomer ponsel seseorang. Kutatap ia dengan sebuah senyuman, "Terima kasih, maaf aku memintamu pergi waktu itu."
"Kalau aku jadi kau, aku juga pasti bingung."
"Aku akan menyelesaikan masalah ini. Sepertinya aku tau siapa pelakunya."
"A-apa?! Ka-kau tau si-siapa?"
Aneh mendengarnya begitu gagap, mimik mukanya menegang dan kaget. Harusnya dia bahagia kan, mengingat kami sama-sama ingin mencari pelaku yang sebenarnya. Kutarik tangannya dan menangkupnya di tanganku.
"Maaf, kau tau siapa?" ulangnya sekali lagi dengan tone suara yang lebih baik.
Aku menggeleng segera, "aku belum ada bukti siapa, tapi pasti kutemukan pelakunya."
Alex tampak gentar, ia berdiri dengan tergesa-gesa, sambil menunjuk arah luar dia bilang bahwa harus segera ke bandara, sebab pesawatnya akan segera berangkat. Aku berusaha mengikutinya tapi ia larang. "Tidak usah," katanya, "kau di sini saja temani Syaif, kalau ada apa-apa hubungi aku," pamitnya sebelum undur diri.
Aku tak ingin ambil pusing dengan sikapnya yang kikuk. Namun, baru tersadar bahwa ponselnya tertinggal. Aku pun berlari mengejarnya, semoga ia masih ada di parkiran.
___________________
-sudut pandang pengarang-
Alex bergegas mempercepat langkah kakinya, berjalan lurus tanpa melihat lagi ke belakang. Nafasnya tersengal-sengal seperti melarikan diri dari setan. Ia hampir tak peduli berapa orang yang tertabrak dan tersenggol, akibat dari kecerobohannya berjalan setengah berlari.
Ditutup pintu sedannya sambil mengambil nafas panjang, ia berusaha mengatur nafasnya dengan tenang, dibenamkan wajahnya ke dalam setir. Jantungnya berdegup kencang, diikuti perasaan tak nyaman yang teraduk bercampuran.
"Kenapa, Sayang?" tanya wanita di sebelahnya dengan nada khawatir. Ia mencoba mengelus pundak Alex tapi ditampiknya segera.
Dengan muka geram, Alex menatapnya tajam. "Kau harus segera kembali ke Jakarta. Jangan pernah sekali-kali kembali ke sini, mengerti?!" perintahnya dengan suara berat penuh kemarahan.
Wanita bergaun merah itu tampak mengalihkan mukanya sebentar, "Kenapa? Bukannya kau berjanji kita sama-sama melewatinya?" katanya dengan nada merajuk.
Alex menggebrak dashboard mobil dengan kesal, sampai membuat wanita cantik di sebelahnya tersentak kaget. Wajahnya mulai ketakutan mengingat Alex terlihat sangat marah.
"Aku tidak memintamu kemari, tapi kau ke sini. Kau buat masalah, dan aku tak mau menjadi bagian dari rencana gilamu!"
Tiba-tiba wanita itu menangis, air matanya jatuh, "Jangan membentakku. Kau bisa saja membuat Alex kecil kita ketakutan!"
Alex mengendorkan uratnya, ia menyerah. Jika itu termasuk di dalam ancamannya, ia menyerah. Ia mulai merasa kasihan melihatnya, air mata yang tumpah, binar mata ketakutan, dan segala perasaan yang berhubungan dengan tanggung jawab membuatnya mengalah.
"Usap air matamu, jangan menangis. Kita pulang sama-sama. Setelahnya kita pergi ke dokter dan melakukan pemeriksaan," dipeluknya manja tubuh pasangan di dalam mobil mewahnya itu penuh kasih sayang. Alex tak akan tega melukai wanita yang kelak akan memberinya penerus Dihardja.
Tok-tok-tok
Bunyi kaca jendelanya yang diketuk. Saat menoleh, betapa terkejutnya Alex mendapati Abel yang mencoba melihat ke dalam mobilnya. Ia menunjukkan ponsel yang ia bawa sebagai bukti bahwa itu benar milik Alex.
Dibuka perlahan pintu mobilnya dan keluar, ia berusaha tak memberi celah Abel untuk melihat lebih jelas ke dalam. "Ah a-ada apa, Bel?" katanya lagi-lagi dengan gagap.
"Siapa itu?" tanya Abel penasaran.
"Oh ini, kau meninggalkan ponselmu!"
Alex menerimanya dengan cepat sambil meminta Abel segera pergi. Katanya, ia sedang terburu-buru karena ada pertemuan yang membutuhkan kehadirannya, iapun berjanji akan mengunjungi Abel segera.
"Baiklah, aku pergi, Bel." Begitu percakapan coba di akhirkannya.
"Tunggu!" Abel menahan pintu mobilnya tertutup, "apa dia Elisa?" tanyanya lagi memastikan.
Alex hanya menggeleng sambil mencium keningnya, dan berlalu cepat meninggalkan Abel sendiri di parkiran dengan mobilnya. Ia hanya bisa awas melihat asap mobil itu berhembus hingga jauh meninggalkannya. Rasanya sakit, sangat sakit. Air mata jatuh di pipi tanpa ia perintah.
Awalnya, ia mengira memutuskan Alex begitu mudah sebab rasa kagum hanyalah sebuah rasa yang mudah teralihkan. Namun, sepertinya ia sudah masuk ke dalam lubang cinta. Ia jatuh cinta. Rasa sakitnya mengatakan demikian, dihatinya ia cemburu dengan apa yang dapat di sentuhnya akan tetapi menjadi milik orang lain.
______________________
"Sudah selesai?" tanya Wayan sambil melempar lap dan celemek ke arahku.
Suasana cafe sudah semakin sepi. Tinggal beberapa pelanggan dan kami akan segera menutup. Semua pelayan nampak kelelahan, beberapa bersenda gurau di pojokan, sedang posisi dudukku berhadapan dengan stand kasir tempat Wayan bekerja.
Aku hanya mengangguk lemas, "Besok aku akan ke sana lagi dan bertanya pada dokter tentang keadaannya," aku mendengus capek.
Wayan tersenyum sinis, mungkin ia merasa aku cukup bodoh mencari-cari musuh. Polisi pasti sudah cukup pintar untuk tau kejadian yang sebenarnya. Bagaimana seseorang yang tak minum alkohol, bisa memiliki kadar alkohol tinggi di dalam kandungan darahnya.
"Jadi menghubungi Bian?"
"Menurutmu, perlukah?"
"Aku? Kalau aku jadi kau, aku tak akan ambil pusing untuk mencari tau. Hidupku sudah lebih sulit dari itu."
Nasehat Wayan justru menyakitiku padahal aku yang meminta pendapatnya. Aku tak berdaya dan malas bekerja. "Bolehkah aku cuti saja?" seruku mengiba. Aku benar-benar lelah jiwa raga.
Tubuhku belum membaik sejak pulang dari rumah Bian, ditambah pikiran tentang misteri di balik jatuhnya Bang Syaif, aku hampir malas makan kecuali mie ayam. Ahh, dengusku kesal sambil menutup muka dengan kedua tanganku.
"Boleh!" jawab Wayan dengan enteng, "Mau kutemani cuti? Hitung-hitung sejak aku pulang dari rumah sakit, aku juga langsung kerja. Bagaimana?"
Aku melongo kaget, "Betul-betul gak ini, Bos?" kataku memastikan.
"Iya, betul. Apa yang kau inginkan di hari libur?"
Aku mencoba berpikir, apa itu ya... Yang membuatku merasa nyaman dan tenang, "Hari libur aku ingin tidur," kataku tanpa berpikir panjang.
"Apa? Cuma itu? Cemen sekali hidupmu," kekehnya seketika.
Kubekap mukaku dengan kedua tangan, "Aku sungguh ingin berhenti berpikir... Lelah sekali!"
Mendadak aku merasa tubuhku menghangat sampai menembus ke hatiku. Wayan memeluk sekaligus mengusap punggungku dalam waktu bersamaan. Ia begitu sabar mendengarkan keluh kesahku, walau terkadang lebih banyak ia memberikan saran bertolak belakang dengan apa yang kuinginkan.
"Kalian ngapain?"
Segera ku lepaskan pelukan yang kami lakukan. Wayan dan aku tersentak kaget melihat Bian berdiri di ujung pintu menatap kami dengan marah. Ini tidak baik, bisa jadi ia akan menghajar Wayan hanya karena menyentuhku.
Wayan kembali menguasai diri, ia berdiri berhadapan dengan Bian yang memaku di tempatnya. Ya, Bian terlihat marah tapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan emosinya. Wayan menepuk pundak Bian sekali, "Apa kau ingin berbicara dengannya? Karena dia sedang butuh teman untuk bicara," perkataan Wayan terdengar jelas di telingaku. Namun, sangat menyebalkan mendengarkan ia mengatakan itu.
Aku tergerak ingin berdiri di sampingnya, "Ada apa? Kau tidak menghubungiku," kataku membela diri.
"Kalian mau kemana? Aku ikut!"
Belum terjawab pertanyaanku, muncul lagi kalimat menghentakkan darinya. Aku hampir kaget mendengarnya.
"Apa?"
"Besok, kita jalan-jalan sama-sama!" Katanya dengan mengakhirkan sebuah ciuman ringan di keningku.
Dengan sebuah salam yang kaku ia meminta pamit pada kami. Wayan melihatku yang masih shock melihat bagaimana sikap Bian menghadapi ini, "Sepertinya besok akan menarik," serunya menepuk pundakku dan berlalu.
Oh, tidak. Bagaimana aku bisa menghadapi mereka berdua. Ini gila!