
-sudut pandang pengarang-
Aroma gurih dari bubur yang ada di sampingnya membuat Abel terbangun. Matanya terlalu berat untuk dibuka, tapi coba ia paksa. Dia tau betul ada di mana. Tempat yang sama saat ia pertama kali terbangun 6 bulan yang lalu.
Perlahan ia menengok ke arah bau harum di sampingnya. Perutnya kosong dan sangat lapar. Ia ingat betul pesan Wayan. "Saran saya, kau makan yang banyak, pulihkan tenaga. Kalau tidak, kau tidak punya waktu untuk berontak," begitu jelas ia masih mengenang Wayan mengatakannya seakan baru terjadi kemarin.
Ingin dihabiskannya semangkuk bubur itu tanpa suara, meski ia hampir tak mampu menyendok sesuap di mulutnya. Tangannya begitu berat untuk diangkat. Saat mendongak, ia dapat melihat rupanya di cermin kaca yang berdiri menghadapnya.
Sial, jelek banget mukanya sekarang. Lebam di bagian kening dengan pipi yang membengkak biru keungu-unguan. Lalu, diperiksa bagian tangannya yang hampir berlaku sama, penuh lebam dan bengkak. Pergelangan tangannya terlihat sedikit terluka. Itu sebabnya ia kesulitan mengangkat tangan untuk makan.
"Kau sudah bangun?" Kaget Bian yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar. Kedatangannya hampir tidak disadari oleh Abel. Hingga mangkuk bubur yang ada dipangkuannya terjatuh pecah di lantai.
"Akh...!" Sedikit panas mengenai tangan Abel. Ia hanya meringis, takut membuat sosok di depannya marah karena sudah membuat rusuh dengan menumpahkan mangkuk buburnya. "Maafkan aku," kata Abel segera.
"Tolong bereskan itu. Ambilkan yang baru," perintah bos besar itu lebih kalem dari semalam. Tak terlihat rona kemarahan. Semua tampak dingin dan tenang.
Sekembalinya pelayan membawa baki berisi bubur, Bian mengambil dan bergerak mendekati Abel yang tak mampu berpindah dari kasurnya.
"Makanlah! Aku tau kau lapar sekali," kata Bian sambil menyiapkan sesendok bubur ke arah Abel. Abel hanya mengerang sebentar saat sendok itu mengenai bibirnya. "Maaf, apa begitu sakit?" Nadanya penuh kekhawatiran.
"Tidak apa. Biar aku sendiri yang makan, kau pasti sibuk," kalimat Abel yang pertama keluar tanpa ada penghakiman. Ia bahkan tidak terlihat ketakutan. Padahal monster yang melakukan penganiayaan padanya semalam ada di depan. Bian menatap sayu ke arah gadis yang kini terlihat buruk di depannya. Ia sungguh merasa bersalah.
Cahaya dari balik jendela dan kicauan burung di luar berbanding terbalik dengan situasi yang dihadapi Abel sekarang. Berhadapan dengan seorang abuser macam Bian bukan perkara yang mudah. Apalagi jika dia adalah penguasa. Seharusnya sangat mudah jika dia meminta pada Alex untuk menolongnya. Namun, pengganjal utamanya adalah note ancaman yang ia terima.
"Maafkan ku, Bel. Sungguh," mendadak Abel tersentak mendengar ucapan maaf yang keluar dari mulut Bian. "Aku sakit!" Begitu ia mengucapnya sebelum memeluk tubuh Abel dengan erat.
Aneh hanya mendesah menahan sakit tapi tak berniat membalas apa-apa. Ada yang aneh memang dari sikap Bian. Ia pria yang baik, saat benar-benar baik. Ia bisa menjadi romantis, saat benar-benar romantis. Akan tetapi, saat iblis merasukinya, Bian bisa berubah menjadi monster yang gelap mata.
Benar, Bian memang sakit. Sakit jiwa.
"Bian, maaf."
"Kenapa?"
"Bisakah kau melepas pelukanmu karena itu menyakitiku?"
Segera dilepasnya pelukan itu sambil meminta maaf, "Aku minta maaf!"
"Aku tidak bisa menghubungimu karena banyak hal yang terjadi. Tapi, Bian..."
"Iya?"
"Bolehkah aku meminta sesuatu?"
Bian mendengarkan dengan baik permintaannya dan berjanji melakukannya.
___________________
"Sudah kau bereskan?" tanya Bian pada orang suruhannya, sembari sibuk membuka laporan keuangan yang akan ditanda tanganinya.
Orang tersebut tersenyum sambil menyerahkan semacam kancing kecil dan ponsel. "Ini adalah penyadap yang ditemukan. Saya sudah memeriksa alat penyadap ini hanya diletakkan di area ruang tamu dan ruang kerja saja, Pak!"
"Dan ponsel?"
"Saya sudah mengambilnya dari tempat kejadian dan menghapus beberapa rekaman di dalamnya."
Bian menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi lebih santai. Laporan yang tadinya serius ia baca, kini teronggok di atas meja kerjanya.
"Jadi, dia benar-benar penasaran denganku? Pastikan polisi tidak mencurigai apapun, mengerti!?"
"Baik, Pak!" Serunya menghormat. Namun, gesture yang berubah sedikit bingung membuat Bian ingin bertanya.
"Ada lagi?"
"Saya rasa dia ingin membawa Nona Bela, Pak!"
"Baik, Pak!"
"Menurut kalian info apa yang ia dapat?"
"Kami sudah memeriksanya, Pak. Ia melakukannya sendirian, tidak ada yang tau selain..."
Bian menggebrak meja dengan keras. Brak, begitu terdengar. Jika itu terjadi tidak akan ada yang berani sekedar menjawab atau membantahnya lagi.
"Habisi siapapun yang tau... Mengerti!"
"Baik, Pak!"
"Awasi perkembangan Syaif, jika dia bangun, bunuh saja!"
____________________
Abel mencoba menggerakkan kakinya. Melangkah satu demi satu sambil menggerakkan anggota tubuhnya. Ia hanya berkeliling kamar dan itu cukup melelahkan. Luas kamar itu sama seperti luas rumah kontrakannya. Maju dari arah teras kamar menuju kamar mandi sudah menghabiskan banyak langkah.
Sambil awas ia melihat sekeliling. Pigura berisi foto-foto narsis Bian terpajang di dinding kamar. Mulai dari foto sebesar baliho yang ada di atas dipan, menunjukkan gambar lekuk tubuh seksi dan sixpack dari Bian. Melangkah menuju ke tengah terdapat foto di tiap meja, dari foto masa jadul hingga fotonya saat berhasil mendapatkan berbagai penghargaan.
"Gila, ini orang narsis amat," gumamnya sedikit ngakak. Tidak ada yang jelek dari memajang foto diri di kamar sendiri tapi ini terlalu berlebihan, pikir Abel.
Tapi ada satu foto yang mengganggunya. Bian dengan kacamata bergagang hitam. Mirip dengan yang ia temukan di kamar hotel Bang Syaif. Tapi bukankah banyak orang yang memiliki kacamata seperti itu di dunia ini?
Lagipula foto itu nampak lama, karena terlihat tubuh Bian lebih kecil dari yang sekarang. Dan lagi, Bian dan Bang Syaif tidak saling kenal bukan?
"Kau sudah bangun?"
Terperanjat Abel mendengar panggilan itu. Jantungnya hampir copot dan berdegup kencang. Tangannya terus memegang dadanya yang kaget.
"Kau tidak apa?" Bian tampak khawatir. Ia mencoba membantu Abel untuk duduk. "Kuambil kan minum sebentar. Tunggu di sini!"
Ingin Abel menolak tapi Bian kadung pergi. Ia kembali dengan segelas air untuk Abel. "Terima kasih," Abel mencoba menenangkan hatinya.
"Apa kau mau makan?"
"Ahh... tidak apa! Nanti saja..."
"Kau mau mie ayam kan? Yang di dekat cafe Wayan?"
"Heh, apa?"
Plok-plok...
Bian tampak memanggil orang suruhannya untuk membawa seseorang masuk dan itu...
"Beli Tukang Mie?" Abel menutup mulutnya yang menganga kaget. Ia dapat melihat Bli Tukang Mie itu pun demikian. Ada ketakutan terlihat meski ia tidak terluka atau diperlakukan buruk. "Apa yang kau lakukan, Yan?" tanyanya sambil mendekat ke arah si tukang mie ayam yang mengenalnya.
"Kemarin aku membuatkanmu mie ayam, dan kau tidak terlalu menyukainya. Jadi aku suruh dia saja ke sini dengan gerobaknya!" Kata Bian seolah yang dilakukannya itu wajar.
Sinis Abel menatap Bian yang entah bodoh, dungu, atau sejenisnya. Si tukang mie terlihat khawatir, jelas saja siapa yang tidak. Diculik beserta gerobaknya hanya untuk membuatkan mie ayam untuk Abel. Entah ia harus merasa apa...
"Kau gila ya! Kalau kau ingin aku makan mie, kenapa tidak beli seporsi saja..." Abel menepuk pundak sang tukang mie, "Beli gak apa, kan?"
"Baiklah, kau mau makan kan?"
"Kalau tidak mau bagaimana?" Tantang Abel sangat marah.
Dengan entengnya Bian mendekati mereka, "Hmm... Gampang tenggelamkan saja tukang mie dan gerobaknya, he-he-he."
Astaga!
Haruskah Abel juga harus tertawa. Tepok jidatya sendiri sementara sang tukang mie hampir saja kencing berdiri.