Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 10



"Bel, nanti siangan bisa ikut denganku?" sapa Alex yang mungkin mulai sadar aku mengacuhkannya dari tadi pagi.


"Maaf, Tuan Alex. Saya sibuk hari ini. Tugasnya untuk memperhatikan Non Anuca."


"Ayolah, Bel. Kamu kenapa sih? Dari tadi pagi sinis muluk." Ditariknya tanganku mencoba memperlambat langkahku untuk meninggalkannya.


Kulempar tangannya dan membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam. "Maaf, Tuan. Saya tau posisi saya di mana. Harap Tuan Alex juga tau di mana posisi Tuan berada.


Kutinggalkan Alex dengan segala asumsinya. Hatiku masih sakit dan berharap tak bertemu dengannya selama masa patah hatiku belum usai.


________________________


“Maaf Pak Dihardja, bolehkah saya ijin pulang lebih cepat?”


Itu adalah kalimatku saat meminta ijin pada pimpinan istana megah ini. Kubereskan semua pekerjaan. Untungnya tugasku agak ringan mengingat Anuca tidak ada les tambahan. Biasanya guru sempoa-nya yang datang ke rumah.


Kemarin pihak rumah sakit menelpon perihal hasil laboratorium yang sudah keluar. Aku memang cuma menginap sehari di rumah sakit dengan diagnosa disminore biasa. Namun Alex memaksa dokter untuk melakukan observasi lengkap terhadap kondisi keadaanku yang sebenarnya.


Jujur saja kram perut saat mens sudah lumrah bagiku. Setiap bulan juga aku mengalaminya. Begitupun jutaan wanita di dunia sama aku rasa. Memang lebih sering aku mengalami kram parah dan pingsan seperti kala itu di saat akhir-akhir ini. Belakangan sakitnya makin menjadi bahkan terkadang membuatku tak mampu berdiri.


“Kau mau ke mana lagi? Masih sibuk kah?” sapa Alex yang berpapasan denganku di ruang tengah.


“Pulang, saya sudah ijin dengan Pak Dihardja…” acuhku sambil berlalu.


"Tunggu!" tariknya tanganku lagi. Ia menarik kencang hingga cukup dekat untuk mendekapku. "Tolong, jangan cuekin aku kayak gini. Kamu kenapa sih, Bel?"


Kulepas pelukannya dan berlalu tanpa memberinya penjelasan. Karena pada intinya aku masih marah jika mengingat dia dan Putri tega memperlakukanku begitu. Aku memang hanya remah tak berarti tapi bukan berarti tak punya harga diri. Kalau memang mereka tidak ingin dalam hidupku lagi, siapa yang peduli.


Bisa-bisanya membuat drama seolah tak saling mengenal. Bahkan Putri pura-pura menghilang. Berada di luar jangkauan, begitu ia menyebutkan. Tapi kenyataannya mereka berdua bekerja dalam satu atap setiap hari.


“Tunggu!”, ditariknya tanganku yang hampir lepas menjauh. “Kenapa kau menghindariku? Apa ada masalah denganku?”


“Tentu!”, jawabku memberinya tatapan tajam, “Sampaikan salamku pada Putri, kulihat dia sangat baik didekatmu, dan bodohnya aku tidak tau”


_______________


Sebelum pergi menemui janjiku pada dokter kandungan di rumah sakit, entah mengapa aku sangat ingin mengenang masa lalu.


Mungkin efek dari ketidakpercayaanku bagaimana sahabatku sendiri mempermainkanku. Aku sudah memikirkannya. Tapi tetap tidak kutemukan jawabannya. Kenapa mereka memperlakukanku sekejam itu? Apa gunanya merahasiakan hubungan mereka padaku?


Entahlah!


Kupacu matic biru kesayangan menuju SMA tempat dulu kumenimba ilmu. Disini aku harus bertemu dengan si bungkus kacang.


Lalu lalang anak berseragam putih abu melewatiku. Mereka tampak acuh. Kutelusuri koridor demi koridor hingga terhenti di depan kelasku.


Kutengok samping kanan, kursi itu masih disana meski lebih using dari semula. Tempat aku menyaksikan drama Ariel dan Luna. Pertama kalinya juga bertemu dengan si bungkus kacang.


“Eh Bu Widna”, sapaku hormat pada wali kelasku dulu.


Ia nampak mengingat-ngingat. “Abel ya?”


“Iya bu, masih ingat?”


“Ingat dong, yang sering dicariin Nuca kan? Sama siapa disini?”


Perkataan Bu Widna mengusikku sebentar. “Dicariin Nuca? Ya gak lah bu, jangan-jangan Abel yang lain ibu ini?”, godaku tak mempercayainya.


“Iya, ibu ingat betul, kamu anak murid ibu, masak ibu lupa”, dia kemudian mengajakku duduk di bangku tempat kami berdiri, “Nuca sering tuh nongol-nongol di depan pintu itu”, tunjuknya ke arah pojokan pintu sebelah utara, “Ibu sering memergoki dia ngliatin kamu yang duduk dibelakang, saat ibu tegur dia cuma cengengesan”


Wah!


Benarkah?


Tak kuambil hati omongan Bu Widna. Mungkin yang dibelakang itu adalah Nadine. Emang cantik orangnya, meski otaknya sih enggak. Hehehe.


Nadine juga salah satu fans berat Nuca dari kelas 1 SMA tapi tak pernah diungkapnya hingga lulus sekolah.


Kalau Nadine, mungkin!


Yah, mungkin Nadine.


Sekarang saja Nadine bekerja sebagai model internasional, aku sering melihatnya di iklan-iklan.


Kulanjutkan perjalanan nostalgiaku menuju SMP yang letaknya tak jauh dari SMA-ku. Kali ini pemandangannya berbeda. Maklum remaja putih biru ini berbeda tampilannya dengan putih abu yang mulai tak malu bergandengan tangan di depan pintu.


Semua tampak sama, hampir tidak berubah. Kulangkahkan kaki hingga menuju kantin sekolah. Jujur, awal masuk aku jarang makan di kantin. Maklum kantongnya beda sama yang tajir.


Kuawas pada ibu beruban yang sedang melayani semangkuk bakso mie pesananku. “Masih ingat aku gak bu?”


Penjaga kantin yang kusebut Bu Har itu mengira lama. Hampir sepuluh menit aku terdiam di depannya sebelum dia memegang pipiku dan berkata, “Ini Abel kan?”, peluknya cepat.


Tak kukira sekangen itukah ibu kantin ini denganku. “Lama ditungguin Nuca, tapi Abel jarang makan lagi ke kantin setelah semester akhir”


Nuca lagi. Aneh rasanya mendengar Nuca di sekolah ini karena aku tau dia tidak sekolah disini. “Ibu salah orang kali, Nuca siapa?”, kutaruh mangkuk di meja dan mulai menyantapnya.


“Oh iya, masih direbutin sama Alex dan Nuca ya?”


“Heh?”


“Nuca itu dulu sekolah disini trus pindah, tapi masih sering mampir, sering nanyain Abel juga. Tapi ibu masih belum kenal, sampai Alex sering bawa Abel kesini.”


_____________


“Nona Abel? Apa kejadian ini sudah sering terjadi?”


“Iya, Dok. Hanya saja baru kali ini aku pingsan.”


“Bisa dijelaskan seberapa sakit yang dirasakan, dari skala 1-10”


“Biasanya? delapan …” ucapku mengira-ngira.


Dokter setengah baya itu tersenyum sebentar sebelum menjelaskan bahasa medis mengenai kondisi yang kualami. Dan itu mungkin tidak terlalu baik. Meski harus ada pemeriksaan yang lebih intensif untuk memastikan, tapi aku faham yang dimaksudkan bukan sesuatu yang menggembirakan.


Langkahku gontai keluar dari ruangan. Aku telah membuat janji melakukan pemeriksaan bulan depan. Dokter hanya berharap aku mampu menjaga kondisi agar tidak terlalu kelelahan, menjaga pola makan, dan selalu bersikap positif.


Tiba-tiba teleponku bordering, kulihat nama yang tertera. Alex. Sungguh aku enggan mengangkatnya jika tidak kuingat bisa jadi tentang Nuca.


“Halo!”


“Dimana?”


“Ada apa?”


“Dengar, aku bisa menjelaskan soal Put..”


“Alex, please! Apabila ini bukan menyangkut Nuca, kita bicara lain kali!” potongku.


“Ta-..”


Kututup telpon itu tanpa salam penutup. Aku hanya tidak ingin membahas apapun. Aku masih terduduk diujung pintu toilet. Mendengar penjelasan dokter membuat hatiku ciut.


Telponku berdering lagi. Nama Si Bungkus Kacang muncul di layarku.


“Halo”


“Dimana?”


“Ada apa?”


“Gue pengin ketemu soal yang kemarin…”


“Untuk itu kapan-kapan kita bicara lagi…”


Kuputus tanpa salam penutup lagi. Meski teralihkan sesaat namun kemungkinan terburuk diagnosis dokter tetap membuat hatiku goyah.


Telponku kembali berdering. Kali ini bang Udin yang menelpon. Aku sedikit gusar karena hampir tidak pernah ia menghubungiku.


“Halo bang!”


“Neng, eneng sibuk?”


“Iya bang, ada apa?”


“Soal Bu Putri neng, sebaiknya neng segera pergi dari rumah sakit sekarang”


Aku terkaget, air mataku sontak terhenti, “Maksudnya bang?”


“Cepat neng, pergi dari rumah sakit sekarang! Bu Putri sedang kesana, neng harus menghindarinya”


“Tapi…”


“Sekarang neng…”


Tut..tut.. tut..


Belum sempat kuberkata apapun telepon di seberang di tutup. Segera kubangkit dan keluar dari ujung koridor tapi benar kata bang Udin. Aku melihat Putri dan dua bodyguard celingukan kiri kanan.


Aku langsung panik. Pikiranku merancu dan mengikut kepanikan bang Udin tadi. Entah apa, tapi ini buruk kurasa. Segera kusembunyikan tubuhku dibalik mesin makanan.


Berasa di film action segera kuberlari menghindari mereka. Bahkan aku melihat beberapa anak buah Pak Dihardja berdiri mengawasi pintu keluar. Kepanikanku bertambah saat Putri melihatku. Kami bertatapan dan sedetik kemudian aku berlari kencang.


Teleponku berdering lagi, kuangkat segera dan mendapati suara bang Udin tergopoh-gopoh di seberang.


“Ambil jalur kiri neng, naik tangga disana ada pintu exit, ambil di pijakan lantai dua, abang tunggu di depan pagar, cepat neng!”


Kupercepat lariku menuruti perintah bang Udin. Hingga keluar gedung kutemui pagar setinggi leher dan melompat segera.


“Naik neng!”, seru bang Udin menarik tanganku. Aku segera naik motornya dan kami melaju cepat meninggalkan rumah sakit.


Kami melewati jalan sempit, jalan menanjak, beberapa kali persimpangan sebelum bang Udin menghentikan di sebuah rumah yang cukup terasing dari lingkungan sekitarnya.


Aku turun dari motor dengan takut, “Bang Udin, niat jahat sama neng?”


Dia menarik tanganku. Perangai bang Udin berubah bak James Bond tegas, kaku, dan misterius. Jangan-jangan kesambet nih orang.


“Bang Udin, neng gak mau ikut”


“Ayo neng, abang jelasin di dalem”