Love on Revenge

Love on Revenge
Part 28



Dokter melakukan upaya terbaik untuk menolong Wayan. Lukanya cukup serius hingga membutuhkan jahitan. Tante Rima masih meraung-raung di ruang tunggu klinik bersama Darian yang menangis. Kucoba menenangkan mereka dengan tidak menanyakan perihal kejadian di cafe tadi.


Setelah sedikit kalimat penguat, aku meminta mereka tetap menunggu sampai operasi Wayan selesai. Kuangkat kaki dan berjalan mendekati Bang Syaif juga Alex. Mereka menunggu di lobi karena ku memintanya demikian.


"Jadi?" tanyaku pada Alex yang terlihat santai duduk menyilangkan kakinya.


Bang Syaif berdiri di belakang Alex layaknya bodyguard yang siap melindungi tuannya. Sikapnya kembali kaku dengan pandangan mata lurus ke depan. Ia sama sekali tak menoleh atau melirikku. Menyebalkan!


"Kau siap pulang?" tanyanya balik seolah menantang.


Kupicingkan mata tegas. "Bagaimana kau bisa menanyakan hal semacam itu, Lex?"


"Syaif bilang, kau mau pulang. Karena itu aku menjemputmu!"


Kulirik Bang Syaif dengan kesal. Mata kami sempat saling bertemu sebentar sebelum ia kembali bersikap normal.


"Kau lihat siapa di sana? Ada orang terluka dan kau bilang seperti itu..."


"Bel, sebaiknya kau tidak berteriak. Ini klinik umum!" Alex berdiri menahan emosiku.


Kutepis sapuan tangannya di pundak dengan kencang. Ia hanya meringis sebentar. "Aku tidak peduli! Kalau kau datang untuk menjemputku seharusnya kau datang dari bulan-bulan lalu..."


"Maaf!"


Sayangnya, aku tidak melihat ketulusan di mata Alex. Dari dulu sifatnya memang seperti itu. Kulirik Bang Syaif yang menunduk saat pandangan kami bertemu.


"Jangan tanyakan lagi! Aku benci kalian. Wayan adalah orang yang menyelamatkanku. Kini ia terbaring di sana dan entah karena apa. Lalu kau datang dan minta aku untuk cuek gitu aja?"


Langkahku berbalik meninggalkan mereka namun sebelumnya kusampaikan uneg-uneg ku. "Pergi! Aku malas melihat kalian sekarang dan Bang Syaif makasih udah nolongin aku."


_____________________


Aku berjalan perlahan sambil memikirkan ulang peristiwa tadi siang. Siapa mereka? Aku sempat menanyakan kepada Tante Rima tentang hal itu, tapi ia tidak tau. Namun kata Darian saat berbisik kepadaku, dia bilang bahwa itu berhubungan dengan pacar bule Tante Rima yang kere alias miskin alias gak punya duit.


Hebat bocah tambun itu kalau menganalisa. Aku sudah membantah dan menasehatinya untuk tidak berburuk sangka. Tapi dia menyangkal. Katanya, Tante Rima itu emang dari dulu punya pacar bule yang kerjaannya nebeng hidup pada tantenya.


Kuiyakan saja.


Kalau memang benar, pantas Tante Rima yang paling terguncang akan kejadian siang tadi. Ia menangis sedari tadi tak berhenti. Ia selalu mengulang kalimat, "Maafkan, Yan!" Berulang kali.


Kuselonjorkan kaki di lorong depan selasar klinik. Meski hanya klinik umum akan tetapi tempat ini cukup besar dan luas. Kuambil nafas panjang sambil menengok jam di tangan.


"Jam setengah 6..."


Seharusnya aku ambil jatah tidur sebentar sebelum berangkat kerja malam. Tapi mengingat Bian kapanpun bisa datang, aku jadi keder duluan.


Tit-tit-tit...


Ponsel baruku berbunyi, ada pesan yang masuk. Aku bergegas membukanya. Siapa lagi yang menghubungiku kalau bukan laki-laki itu.


[Bela !]


Kupantengin layar ponsel itu lekat-lekat. Hanya satu kata panggilan, apa maksudnya coba?


Dua menit berlalu dan aku masih tak tau apa maksudnya mengirimiku pesan itu.


Tiba-tiba benda canggih itu bergetar, membuatku kaget dan hampir membantingnya.


"Halo!"


"Dimana kamu?"


"Ke-kenapa?"


"Kenapa kau bilang?! Bukannya kau sudah aku suruh datang kalau kupanggil."


"Ta-tapi... Kapan kau memanggilku?"


"Bukannya tadi aku sudah mengirim pesan."


Ih gila nih orang!


Dia hanya bilang 'Bel!' dan harusnya aku tau apa maksudnya itu? Dia pikir aku ini cenayang, bisa tau hati orang. Kalaupun ku tau, memangnya bagaimana aku pergi ke sana? Apa ia menyuruhku untuk terbang atau pakai pintu kemana saja.


Dasar, gila!


Rumah mewah Bian ada di sebelah kampung adat yang letaknya berkilo-kilo meter dari kota. Bangunannya mengambil gaya arsitektur Mesir kuno dengan arah menghadap laut. Saat malam tiba, cahaya bintang akan terlihat begitu terang melewati pantulan air kolam di halaman belakang. Terkadang jika ia sedang ingin berpesta maka semua pintu kamar akan terbuka dan kelip lampu warna warni menghias atap langitnya. Lalu mereka akan berpesta, menari, dan bercinta. Hidupnya terlalu menyedihkan. Bian, hanya manusia terlanjur kaya yang bingung mengenai tujuan hidupnya. Itu saja...


"Sekarang terimalah! Kamu adalah tujuan hidupku!"


Saat aku mengingat kata-katanya di malam itu. Aku tau hari-hariku mungkin akan hancur. Tidak ada masa depan yang dapat kubayangkan. Berada di sebuah kemewahan dengan semua cinta yang pura-pura. Mana yang lebih bahagia dibandingkan dengan Anuca. Aku tidak mau...


"Kenapa diam?" hardiknya membuyarkan lamunanku.


Entah berapa waktu aku mendiamkannya. Tuan muda yang pemarah. "Tidak apa! Aku akan pergi kerja. Kau mau apa?"


Aku berjanji akan mengirimnya lewat pesan singkat. Bergegas aku meminta ijin kepada Tante Rima dan memintanya segera mengabari perkembangan terbaru dari Wayan.


Dengan sedikit berlari kuarahkan kaki ke depan klinik. Sebelum supirnya datang dan melaporkan aku hilang. Menyebalkan sekali kontrak itu!


"Abel, kau mau kemana?"


Kutoleh kaget dan melihat Alex juga Bang Syaif masih menunggu meski sudah kuminta mereka untuk pergi.


"Ngapain masih di sini?"


"Kau mau kemana?"


"Pulanglah, Lex! Ada hal yang harus kuselesaikan."


Tiba-tiba Bang Syaif maju saat langkahku siap meninggalkan mereka. Ia menahan tanganku dan memberi pandangan itu. "Jangan pergi! Jangan temui dia...!" Sesaat aku merasa ditawan dengan tatapannya yang menyala.


Namun, "Aku tidak bisa. Kau sudah meninggalkanku 6 bulan yang lalu. Sekarang ini hidupku," aku tak akan mengucapkan pamit. Karena tatapannya cukup menyakitkan untuk dikenang.


Aku merasa marah karena dialah yang memintaku pergi. Katanya saat itu bahwa kehidupan akan lebih baik tapi kenyataannya aku malah terperosok dalam jebakan, 'aku telah dijual, Bang!' kata hatiku ingin menjelaskannya.


_______________________


Botol-botol alkohol tergeletak di lantai. Aromanya menusuk di hidung. Dengan inisiatif sendiri kugeser pintu tengah itu lebar-lebar. Berharap bau busuk itu menghilang karena aku tak akan sanggup bertahan dengan udara menyesakkan seperti itu.


Seorang pelayan datang membawa semangkuk mie ayam dan minuman soda yang tak kupesan. Ia hanya bilang, "Tuan Bian, akan segera keluar."


Aku berterima kasih padanya dan duduk di sofa panjang dekat lemari kaca. Suara jam besar di ruang depan terdengar berdenting keras.


Tong-tong-tong...


Tujuh kali berbunyi. Menandakan sekarang sudah jam 7 malam. Perawan masuk sarang penyamun, ucapku sedikit sarkasme.


Ku tengok mie yang belum basah karena kuahnya masih ada dalam termos di sebelahnya. Kenapa ada mie ayam? Mungkinkah ia tau aku...


"Ayo, makan dulu!"


Berjingkat di atas dudukku saat aku mendengar suaranya yang mendadak itu.


"Kau mengagetkanku!" Seruku bersungut-sungut.


Aku segera berdiri menghentakkan kaki secara tak sadar. Ia hanya melihatku sekilas sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Aku terkesiap, baru sadar ia keluar kamar dengan bertelanjang dada hanya menggunakan handuk lebar untuk menutupi bagian bawahnya.


"Arghhh..." Jeritku sambil menutup muka. Kupalingkan muka, jantungku berdegup kencang, ada rasa geli menggeliat seluruh tubuhku.


Sumpah, aku ketakutan.


"Kenapa kau? Ayo makan!"


"Pake baju dulu!" Perintahku.


Ditariknya tanganku hingga ku terduduk di sampingnya. "Makan! Aku tau kau belum makan pasti. Bekerja seperti budak, tidak pernah memikirkan kesehatan sendiri. Dasar bodoh!"


Dituangkan air kuah dalam termos ke mangkuk mie milikku. Ia tersenyum dan menyerahkan mangkuk itu.


Dengan sok jual mahal kusendokkan satu ke dalam mulutku. Rasa bumbunya legit. Ini mie ayam mahal. Kusendokkan lagi, kali ini potongan ayam yang besar. Saat masuk dalam mulutku, rasanya penuh memenuhi ruang dalam lidahku. Manis, asin, gurih... Enak sekali!


"Enak kan? Ini bukan mie yang kau makan dipinggir jalan. Mie-nya buatan tangan dengan penyaringan beberapa tahap. Kuahnya dari kaldu sapi yang terfermentasi dengan bumbu rempah. Ini mie ayam yang tepat... Habiskan!"


Kutengok ia sesaat. Tertegun dengan penjelasannya yang panjang lebar tentang sebuah mie ayam. Seolah betapa istimewanya mie ini dibuat untukku.


"Ini kan hanya mie ayam..."


"Apa? Hanya mie ayam? Seharian ini aku membuatkannya untukmu. Aku memberikan terbaik yang kupunya jika bisa!"


Seriusan Bian kesal hanya karena mie ayam?


Kutepuk pundaknya, "Enak sekali, Tuan Muda yang tampan. Senang?"


Kulihat senyumnya langsung berpendar bahagia. Benar-benar tidak dewasa!


Kulanjutkan menyuapkan mie ke dalam mulutku hingga membunyikan "Sluruppp..." yang mengenakkan.


"Kenapa keningmu?"


"Ah.. ini?" Kuseka darah kering yang menempel diantara sela rambutku. Ini pasti karena terkena panci yang terlempar saat akan bertahan dari preman. "Tidak apa, hanya tadi ada preman yang merusak cafe Wayan. Ia melukai Wayan tapi kurasa dia akan baik-baik saja!"


"Apa? Bagaimana kamu? Dasar bocah tengil itu. Ia tidak bisa menjaga diri masih sombong..."


Dengan pelan diobati luka dikeningku. Ia tidak biasanya begini. Bahkan saat Wayan masih di sini, ia sering meminta Bian untuk lebih lembut pada wanita-wanita yang dibawanya pulang. Tapi ia tak pernah mendengarkan.


"Setelah ini kita lihat bagaimana keadaan Wayan..." Serunya sembari membanting kotak obat dan masuk ke dalam kamarnya.


Ternyata, ia masih menghormati Wayan juga, ucapku dalam hati.