
-Sudut Pandang Pengarang-
Motor yang dikendarainya itu terpaksa berhenti karena mendung. Bukan karena ia takut tapi cowok yang berada di jok belakangnya tidak cukup kuat untuk terkena air hujan. Maklum anak orang tajir melintir.
"Ngadem disini aja, Bro!" katanya sambil memarkirkan motornya.
"Sudah kubilang! Kenapa gak pake mobilku aja. Motormu ini cuma buat gaya-gayaan aja asiknya," cerocos cowok itu sambil merapikan celana birunya.
Mereka masih berseragam putih biru dan lepas pulang sekolah. Tapi nekat ngeluyur keluar karena lelah dengan protokol rumah begitu ketat. Yah, keduanya adalah anak pengusaha ternama. Jaringan keluarga yang memiliki barisan anak perusahan tingkat internasional.
"Diem! Berisik kayak cewek lu!" ucapnya dengan marah.
Anak laki-laki itu Nuca. Putra pengusaha muda dari keluarga kaya. Begitupun dengan saudara sepupu yang diboncengnya. Nuca baru kelas 7 namun tubuhnya yang tinggi dan atletis membuatnya mampu menopang motor gede itu dengan mudah. Sedang sepupunya setahun lebih tua.
Mereka sekolah di tempat yang sama. Sebuah sekolah swasta elite milik kaum borjuis ibu kota. Karena kedekatan mereka bak kakak adik terkadang banyak orang salah kaprah bahwa mereka hanya sepupuan.
Diserahkan botol minuman dingin itu di kasir sebelum mengambil tempat duduk di depan minimarket. Menunggu hujan mereda dan mereka akan kembali mengarungi jalan raya. Niatnya mereka ingin berkeliling hingga habis waktu.
Nuca duduk meminum jatahnya sambil menunjuk kearah gadis berseragam putih biru di depan minimarket tempat mereka berteduh. Gadis penjual keliling yang tidak istimewa.
"Elo liat cewek itu. Gimana kalau kita taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Siapa yang bisa dapetin tu cewek, yang kalah taruh hormat sama yang menang."
Nuca diam memperhatikan ekspresi lawan bicaranya. Ada senyum kecut tersungging di sudut bibirnya. Ia tau betul gadis dekil bukan kandidat sepupunya.
"Kamu yakin? Cewek macam itu bukan level kita!"
"Yakin hehehe," kekeh Nuca.
"Untungnya apa kita taruhan buat ngedapetin tu cewek? Kamu suka sama dia?"
"Mungkin," Nuca makin terkikik dengan jawabannya sendiri. Ia hanya penasaran tentang keistimewaan yang dimiliki gadis penjual keliling itu.
"Serius?"
Dia tau bahwa tampaknya gadis yang ditunjuknya bukanlah gadis istimewa. Wajahnya biasa apalagi gaya busananya. Dia juga bukan orang kaya. Tapi dia tau betul siapa gadis itu.
Tiga bulan tanpa sengaja Nuca selalu dipertemukan takdir dengannya.
Yang pertama dia bertemu saat gadis itu menjajakan jajanannya dipinggir jalan. Donat dan kacang-kacangan. Dia akan berteriak hingga kupingmu menegang.
Yang kedua saat nongkrong di cafe bersama teman-temannya. Gadis itu muncul lagi kali ini menjadi tukang parkir lengkap dengan atribut rompi dan peluitnya.
Yang ketiga mungkin yang paling membuatnya terkesima. Saat lomba essay yang kebetulan juga ia ikut didalamnya. Dengan seragam dan penampilan yang lebih rapi dia mampu mempresentasikan essay-nya dengan baik didepan juri.
Sejak itu ia penasaran dengan gadis yang ia ketahui bernama Abela Gunawan itu. Siapa dia? Apa hebatnya? Karena sepertinya mereka sepantaran.
Dengan mudah dia bisa mendapatkan segala informasi mengenai Abel. Sama dengan mudahnya ia menyewa seseorang untuk membuntuti gadis itu setiap hari.
"Dia gadis yang luar biasa," seru Nuca menjelaskan.
"Luar biasa itu cewek ini..." ditunjuknya foto dari Ig seorang yang profilnya bernama Elisa. "Nih cewek model terkenal. Bahkan beberapa kali uda main sinetron, mainan bagus ini, Bro!"
"Tapi gue pengin cewek itu!" tunjuknya lagi pada gadis yang kini berpayung tempeh.
"Cewek jelek itu?"
Mereka memandang awas terhadap semua yang dilakukannya. Beberapa lelaki ikut membantunya membenahi dagangan yang mulai basah terkena air hujan. Ia bahkan tidak mendapat pelecehan, seolah akrab dengan jalanan. Dan semua laki-laki yang menolongnya tampak nyaman tanpa menghina kodratnya sebagai remaja.
Apa istimewanya? pikir Nuca.
"Lo liat, namanya Abel, kau tau berapa laki-laki yang mengejarnya?"
"Nol!" kekehnya.
"Sembilan, termasuk tukang siomay yang ada di depan sekolah kita."
"What? Sekelas tukang siomay kamu minta kita taruhan?"
"Gue bilang termasuk... Tau Pak Andi? Penjaga perpus yang baru, dia juga termasuk penggemar beratnya... Tiap pagi dia selalu membeli donat, padahal dia alergi tepung, what for?"
"Ayolah, Nuca. Apa kamu buta? Dia hanya gadis jelek penjual keliling. Urusan dia disukai banyak orang bukan sesuatu hal yang istimewa."
"Jadi, elo takut gak bisa menaklukkannya?"
"Kau menyepelekanku? Jadi? Kita taruhan?"
"Yah! Semester depan dia bakal masuk sekolah kita, karena memenangkan lomba essay tingkat nasional... "
"Deal!"
______________________
"Papa....!"
Nuca berlari meninggalkan motornya. Melihat papanya diusir seperti sampah. Dan mamanya yang menangis memeluk koper yang dilemparkan bodyguard pamannya.
Disana berdiri pamannya dengan angkuh. "Pergi kau dari sini! Agung Dihardja Group sudah menguasai 80% saham Suwito Group... Kau sudah tidak punya andil lagi dalam perusahaan!"
Papa Nuca tergeletak tak berdaya. Setelah mengalami serangan stroke hampir separuh tubuhnya lumpuh yang membuatnya tidak dapat bekerja. Berbicarapun cadel apalagi berjalan ia tidak bisa.
"Paman, gue mohon beri kesempatan pada Papa!"
"Kesempatan? Kesempatan untuk orang cacat macam dia? Dengar Nuca, camkan baik-baik... Orang itu dihargai karena menghasilkan, kalau cuma bisa tidur-tiduran mending aku memelihara ayam!" bentaknya.
Tangis mamanya menyakitkan hati Nuca. Ia terpaksa berjalan tertatih membopong papanya yang tak dapat berjalan. Dalam hati ia memendam kemarahan yang teramat sangat dengan pamannya.
_____________________
Hampir 10 hari Nuca membolos sebelum dia memutuskan pindah sekolah. Selain mencari sekolah yang biasanya lebih murah juga agar dia berhenti bertemu saudara sepupunya. Mama dan papanya tinggal di sebuah rumah kontrakan atas kebaikan hati seorang pelayan. Hidup mereka berubah 100% dan tak ingin ia membicarakannya.
Hatinya penuh dendam dan amarah mengingat bagaimana paman memperlakukan papanya. Seorang yang sangat dihormatinya bisa dengan tega mengusir saudaranya sendiri. Untuk saat ini ia tidak begitu paham bagaimana sebuah perusahaan bisa berfungsi namun ia berjanji akan belajar lebih cepat untuk memimpin perusahaannya nanti.
Hari ini hari terakhir dia masuk sekolah, dibersihkan lokernya sambil mengingat kenangan betapa ia masih menginginkan tetap bertahan. Apa daya dia menjadi kere sekarang. Ia sangat berharap bisa mendapatkan Abel seperti yang ia taruhkan dengan sepupunya. Sayang, ia sudah tidak punya waktu untuk melakukannya.
Berlalu Nuca menuju Selasar penghubung di halaman belakang saat ia melihat kerumunan orang. Beberapa siswa nampak membully siswi baru yang sekarang tersungkur di lantai. Terlihat bekal makanan yang dibawanya tumpah.
Itu Abel, hentaknya.
Pasti mereka membully-nya karena dia bukan berasal dari kalangan atas. Sepertinya jika yang lain menyadari betapa rendah derajat sosialnya, pasti tidak ada teman yang akan menyapanya. Dia hampir berlari untuk menolong Abel. Gadis itu tersungkur dan dipermalukan. Namun seorang laki-laki lain yang cukup baik ia tau siapa telah mendahuluinya. Menggendongnya di punggung ke UKS.
Tangannya mengepal penuh marah sebelum ia berubah pikiran memutar arah dan pergi ke parkiran. Mungkin hari ini ia akan melepaskan Abel. Tapi hasratnya untuk mengenal Abel lebih jauh tidak akan pernah usai.
____________________