
Aku berlari sejauh yang ku mampu tanpa menengok kembali ke belakang. Tanpa sadar langkahku mengarah ke arah cafe Wayan, seolah itu adalah tempat yang paling dihafal di luar ingatan. Dengan gontai aku langkahkan kakiku masuk ke dalamnya. Plang 'closed' terpasang di pintu depan. Suasananya sepi, karena cafe masih tutup maka tidak ada pengunjung yang masuk.
Ada Tante Rima yang sibuk dengan pembukuan dan beberapa pelayan baru yang membersihkan meja dan mengelap gelas juga jendela. Ku sisir pandanganku menyeluruh, memastikan aku mendapatkan dia yang kucari berada di sana. Mungkin Wayan masih belum pulih, ia tidak ada di sini. Kuangkat kaki hendak pergi sebelum Tante Rima memanggil, ia bergerak mendekatiku.
"Bela? Dari mana saja kau?" nadanya khawatir.
Aku mencoba berbalik dan memberinya sebuah senyuman. Nadanya begitu lembut seperti bukan Tante Rima yang kukenal. Seandainya ia yang dulu, aku pasti dihajar habis-habisan sekarang. Tidak masuk berhari-hari, lalai dengan tugas yang disepakati, adalah hal-hal yang paling ia benci.
"Bel?" tanyanya lagi dengan tatapan serius.
"Tante..." Tangisku pecah.
Kupeluk ia yang bukan siapa-siapa. Rasanya seperti aku memeluk Emak, hangatnya hampir sama meski bidang punggungnya berbeda. Aku tak mampu menjelaskan apapun, hanya sebuah tangisan yang deras membanjiri pipiku. Suara isak tangisku kencang hingga semua datang mendekat memberikan simpatinya. Sebuah tatapan iba yang menghujani wanita malang dalam jebakan cinta, aku.
Darian tampak menarik tangan Wayan mendekat. "Ada apa ini?" tanyanya membuyarkan krumunan, "kembali ke pekerjaan kalian."
"Ada apa, Bel?"
Aku mendongak tak berdaya, setelah lama kubenamkan diri di dalam pelukan Tante Rima. Melihat Wayan entah apa yang kurasa, aku hanya ingin menumpahkannya. Aku pun berlari mendekat dan memeluknya. Darian yang entah kenapa ikut menangis di sampingku, lalu kami saling berpelukan bersama. Tangis kami saling bersahutan seperti sebuah perlombaan tanpa sebuah kemenangan.
"Apa-apaan ini?" ucap Tante Rima gusar.
Mungkin ia merasa aneh dengan yang kami lakukan. Kulihat Wayan hanya melambaikan tangan meminta Tante Rima menghindar. Kemudian ia membopong kami berjalan menuju ruang kerjanya. Sekotak tisu ditawarkannya padaku. Aku mendongak dan memberinya tatapan terima kasih. Kulihat Darian masih menahan sesenggukannya sembari sekali-kali ditepuk pundaknya oleh Wayan.
"Kamu menangis kenapa?"
Pertanyaan dan ekspresinya saat menanyakan itu pada Darian membuatku ingin tertawa. Ia seperti tak berempati dengan tangisan adiknya bahkan menggoda dengan menyebutnya "...bola menggelinding yang banjir." Saat ku perhatikan keduanya aku merasakan suatu perasaan yang aneh. Semua ketakutanku pada lingkaran setan ini menghilang melihat bagaimana Darian merajuk mengungkap kekesalannya.
"Maafkan aku, selama ini membuat kalian susah. Aku yang membuatmu keluar dari Bian, membuatmu berurusan dengan banyak preman. Aku juga membuatmu menjagaku. Maaf!"
"Kau ini bicara apa, Bel?"
Mereka berdua menatapku aneh. Seolah kalimat yang keluar dari mulutku tidak bisa dipercaya.
"Kak Bela, PMS ya?" si tambun itu bisa-bisanya bertanya secara vulgar padaku. Kusunggingkan bibirku menolak pertanyaannya, "Kak Abel menangis dan mengatakan yang tidak masuk akal."
"Hey, kau! Bukannya kau juga nangis-nangis. Kenapa juga kau nangis?"
Wayan berpindah duduk di sebelahku, "kau kenapa?"
"Aku kan yang membuat semua ini..."
"Jangan aneh! Apa kau terlalu sedih karena sahabatmu di rumah sakit?"
"Bu-bukan itu maksudku..."
Darian tampak antusias dan memajukan kepalanya mendekat, "Kak Syaif tidak apa kan, Kak?"
"Sudah-sudah, kalau kau sudah selesai dengan tangisanmu, cepat kembali bekerja. Kami kesulitan tanpamu," kata Wayan pergi meninggalkan kami.
Aku berusaha mencegahnya karena belum ku selesaikan semua uneg-uneg yang mengganjal di dada. Aku hanya ingin membahas kegundahan hatiku. Tidak bolehkah? Mendengus kesal aku, karena tidak sempat menjelaskan padanya.
"Kak Abel, Kak Syaif tidak apa kan?"
Kupicingkan mataku lebih fokus terhadap pertanyaan anak kecil ini. Kenapa ia begitu tertarik dengan nama itu? Ia terlihat menunduk sedih. Bocah tambun yang pipinya memerah karena ikut menangis denganku kini menunduk sedih.
"Kau kenal dia? Bang Syaif?"
Aneh, aku tidak pernah memberi akses pada Bang Syaif untuk masuk dalam kehidupan baruku, lalu dari mana Darian mengenalnya? Sedetik kemudian dia mengangguk. Aku kaget melihat jawabannya. "Ba-bagaimana bisa kau mengenalnya?"
Penjelasan Darian selanjutnya lebih mengejutkan, saat dia mengatakan bahwa mengenal Bang Syaif sebelum terjadinya penggerebekan preman di cafe mereka. Dialah yang menghubungi Bang Syaif untuk meminta pertolongannya. Dalam keterangannya, ia menyebut Bang Syaif banyak membantu mereka tanpa sepengetahuanku. Ternyata Bang Syaif telah masuk ke dalam kehidupanku lebih cepat dari dugaanku. Ia telah mengambil hati bocah tambun di depanku ini hingga ia rela menangisi keadaannya.
Binar matanya berubah saat aku mengatakan padanya bahwa Bang Syaif masih tidak sadarkan diri dan kemungkinan ia akan mengalami koma. Suatu keadaan tidak sadar yang mungkin akan lama pemulihannya. Polisi mungkin akan menyerahkan penyelidikan sebagai kasus bunuh diri, jelasku padanya.
"Tapi Kak Syaif tidak bunuh diri, Kak!" Ia berseru kencang seolah takĀ terima sebagian pendapat yang menyatakan ia mabuk berat dan jatuh dari balkon hotel. Kepalanya terbentur dasar setelah terpental dari lantai atas.
"Memang kau tau apa itu minum?"
"Minum mabuk, kan? Aku tau, Tante suka minum dengan pacarnya sehabis cafe tutup. Tapi bukan itu yang dilakukan Kak Syaif. Dia tidak begitu."
"Benarkah? Ceritakan pada Kak Bela..." pintaku padanya.
Nampak ia sedikit ketakutan. Darian berusaha menyembunyikan sesuatu yang lebih buruk. Apa itu?
"Jelaskan pada kakak?!"
Brak
Pintu kencang terbuka dan terlihat Wayan berkacak pinggang sangat marah. "Darian, cepat masuk kamar, bereskan tugas sekolahmu, dan kau Bela, cepat ganti baju dan bersiap-siap."
Apa? Darian bisa jadi adalah saksi kunci tentang apa yang terjadi...
Aku berharap dapat mendengarkan penjelasannya baik-baik.
________________________
"Kau tidak pulang?" tanya Wayan melihatku terdiam memandangi langit terang malam ini. "Bela? Kau tidak pulang?" tepuknya pundakku mencoba menganggu lamunan yang terbayang diangan ku.
"Aku sudah tidak bekerja di club lagi. Jadi, aku tidak buru-buru..."
Aku tetap awas pada langit yang membentang di atasku. Bintang berkelap-kelip yang jarang kulihat di kota. Aku hanya kesepian dan ingin berpikir jernih. Berada di tengah alam seperti ini mungkin membantuku lebih jernih.
Lengannya menyenggol lenganku. Sambil melirik dengan tatapannya yang syahdu itu. "Kemarin-kemarin kau dari mana?" tanyanya lembut tanpa penghakiman seperti induk semang rumah kontrakan ku.
"A-aku..."
"Bian membawamu?" ia bertanya seperti telah tau apa jawaban yang akan aku berikan. Diambil kursi depan lalu duduk di sampingku. "Lebam itu, Bian yang melakukannya kan?"
"A-apa? Bukan... aku terjatuh, iya terjatuh," gugup aku menjawabnya. Aku ketakutan membuat Wayan marah dan melabrak Bian dengan sengaja, karena itu berbahaya.
Wayan menarik nafas panjang lelah, "Aku tau siapa Bian. Monster dalam dirinya tidak akan hilang hanya dengan cinta. Sebaiknya kau menghindar darinya."
"Bagaimana? bagaimana caranya menghindar dari Bian?"
"Pulanglah!" pintanya pasrah. Nadanya lemah setengah mengiba. Ini kesekian kalinya ia memintaku menyerah, kembali pulang dan menjalani kehidupanku yang dulu.
"Tidak!" tegasku padanya.
"Surat ancaman itu saja tidak jelas siapa yang melakukan. Kau masih percaya?" Wayan mulai tak sabar. Ia bangkit dengan kasar hingga kursi yang didudukinya terjatuh ke belakang.
Ingin kuredam kemarahannya sebelum menjadi, "Aku bukannya percaya tidak percaya. Ada banyak nyawa yang terluka hanya karena ku. Aku hanya ingin memperbaiki itu..."
"Aku tau laki-laki itu... yang kemarin muncul di Bali TV, kasus bunuh diri. Dia kan sahabatmu?"
Kupalingkan muka dengan kesal. Kalimat yang dia sampaikan seperti sebuah penghakiman. Nada ketidakpercayaan.
"Ada seseorang yang akan membunuhnya, aku yakin itu," tegasku lagi padanya. Menghindari semua prasangka yang ku tau akan disampaikannya.
"Jangan gila, Bel. Laki-laki itu berhasil mengalahkan 5-6 preman, dan dia berhasil dijatuhkan, menurutmu?"
Aku meringis penuh kemenangan. Sudah ku duga ia pasti tidak membelaku. Itu sudah sangat 'Wayan.' Ia akan terus mencoba meyakinkanku pasti.
"Biarkan aku melakukannya, Yan. Aku hanya butuh kekuatan... Aku akan meminta Bian menyelesaikannya."
"Terserah jika kau sanggup membayar bunganya..." ucapnya beralih pergi. Ia sudah pasrah dengan semua keteguhan yang kumiliki. Aku hanya perlu menanyakan kejadiannya pada Darian.
Besok, yah mungkin besok saja.
_______________________