
Ariel berteriak kencang di luar kelas menyebut nama Luna dan memintanya untuk keluar. Riuh suasana para siswa berhamburan keluar. Mereka asyik menyaksikan suasana baru perebutan pop idol sekolah semester ini. Teriakan Ariel yang menggema tanpa jeda diikuti panduan suara di belakangnya menambah riuh suasana penonton yang bersorak bahagia. Kelompok geng populer akankah siap melawan geng centil kuadrat?
Biar saja jadi tanda tanya sambil menunggu hasilnya mending ngacang dulu ya!
Terik matahari di siang bolong diindahkan demi bertemu rival pesaingnya. Semua siswa menjadi rusuh berteriak kencang, termasuk aku yang awalnya acuh dengan suara Ariel yang menggelegar menjadi ikutan kepo antusias berteriak-teriak menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Luna hanya mengibaskan rambutnya lekas bersama pasukan geng centilnya keluar kelas menghadapi Ariel dengan pasukannya. Tidak sepadan bagiku. Tapi begitulah mungkin gaya geng populer beradu. Mereka seperti kerbau dungu yang merebutkan rumput kering. Gak penting gitu kan?
Aku hanya duduk nyengir sambil mengunyah cemilan kacang yang dari jam reses tadi kusimpan. Pasti asyik menikmati tontonan ala FTV dalam layar komputer korneaku sendiri dan ini gratis. Peduli setan dengan siapa yang mereka perebutkan. Cowok sini cakepnya mah standar.
Beberapa siswa lain cukup menyiapkan kuota beserta kamera dengan berbagai aplikasi di ponselnya. Sekarang saja sudah viral di grup WhatsApp dan live streaming on Facebook.
Bisa kulansir bagaimana kejadian peraduan dua cewek cantik, populer, dan centil yang tidak terlalu pintar ini. Kuasumsikan sedang memperebutkan cowok keren, ganteng, bad boy, dengan moge-nya yang selalu nangkring paling kinclong di parkiran sekolah. Bukannya begitu yang selalu ada di sinetron-sinetron malam biasanya.
Kisah Ariel dan Luna ini tidak terlalu menarik buatku sebenarnya, ada sensasi yang kurang menggigit. Mereka hanya saling menghina satu sama lain, disahuti oleh geng pengikutnya, kemudian saling berteriak dan mengibaskan rambut masing-masing. Sangat klise, tradisional, dan sangat tidak up to date.
Aku yakin kemarahan mereka akan berakhir dengan saling jambak, saling cakar, sebisa mungkin menendang, dan sedikit memukul. Semua dilakukan hanya untuk merebutkan Nuca yang tidak jelas pacarnya siapa. Nuca cowok baru kemarin yang kisahnya udah putus nyambung dengan puluhan cewek lain di sekolah. Ekslusif karena aku tidak melihatnya dalam jarak 1 meter.
"Apa maksudnya Lo jalan ma Nuca kemarin? Nuca itu cowok gue," tegas Ariel pada Luna
"Apa?! Dia itu cowok gue. Jangan ngaku-ngaku deh Lo!" balas teriaknya.
What????
Dan begitulah teriakan mereka terus menggema di telingaku. Aku menyaksikannya sambil ketawa cekikikan. Ini benar-benar konflik paling endeus, dari jaman ibu kita Kartini sampai oppa Lee Ming Ho, tetap saja cewek cantik harus berebutan dengan cowok ganteng.
Harus gitu ya??
Kenapa gak ada kisah sebaliknya si cowok keren dan kaya raya ngejar-ngejar cewek yang gak ada istimewanya. Pasti di akhir cerita si cewek buruk rupa dimasukin ke salon dan keluar-keluar sudah bergaun pesta dengan gincu merah merona.
"Ada apaan sih?" seru suara dibelakangku yang kuacuhkan dia meski mengambil kacang dari bungkus kacangku tanpa permisi.
Kusahuti dengan mulut tersumpal penuh kacang, "Biasa lah cewek **** ngrebutin cowok **** juga wkwkwkw!" mataku terlalu awas dengan keasyikan adegan di depanku. Semakin menyenangkan mereka mulai saling tarik-menarik kerah baju diikuti para gengnya.
Kali ini Si Luna berhasil mematahkan kuku Ariel hingga Ariel mengadu marah. Ia berteriak lebih kencang dan membalas dengan menampar lawannya.
"Cowok **** siapa?" seru suara itu lagi.
"Si Nuca anak IPA XIIB, cowok yang selalu nyumpekin lahan parkir, gaya-gaya ala Dilan, tiap hari pake jaket jeans, kagak ujan kagak panas, sok bangggggg....." kutoleh tak tahan. Seolah jurnalis yang sedang menceritakan kembali si tokoh utama. Jurnalis lambe turah yang lagi asyik ngeghibah. Tapi, "Nuca!?"
"Kenal juga ma Dilan-nya milenial?"
Kupasang badan anti malu, "Ya kenal lah, kita tiga tahun satu sekolah. Emang kamu kemana aja yang kagak kenal aku? Udah ah! Kamu beresin tu urusan Luna ma Ariel, malu-maluin tau!" tegurku sambil melempar bungkus kacang itu kepadanya.
Jujur aja, kenal banget sih kagak!
Kalau dibilang malu sih iya...
Tapi peduli amat, kenal juga sih enggak.
Aku tidak pernah secara resmi berkenalan dengan Nuca tapi siapa yang tidak kenal dengannya. Dia itu bagai tokoh tsundere dalam dunia nyata. Selain tajir, ganteng, pinter, sikapnya yang acuh dan sok cool bisa bikin hati cewek manapun klepek-klepek. Mungkin kalau tampangku mumpuni juga termasuk diantara cewek-cewek yang klepek-klepek dengannya. Apa daya modal gak mumpuni hihihi...
Sebenarnya semua cewek mengidolakannya. Termasuk Putri sahabat karibku. Dia tergila-gila dengan standar gila dengannya. Rela masuk ke dalam WaG yang menjadikan Nuca sebagai ikonnya.
Bagaimana denganku?
Aku mah cuek saja. Bukan karena aku abnormal. Tapi karena aku adalah manusia paling realistis. Seperti yang kubilang kagak punya modal. Bisa jadi kalau tampang lumayan aja, uda kugebet Si Nuca.
Dalam kisah Cinderella, Hana Yori Dango, Boys before flower dan sejenisnya, aku bagaikan tokoh wanitanya yang....... benar-benar buruk rupa. Jadi jangan meminta untuk masuk ke dalam salon lalu tiba-tiba berubah jadi Putri Salju bergaun merah.
No-no-no.
_________________
"Ayolah Bel, gimana bisa elo kenalan ma Nuca?" tarik Putri mengencangkan lengan bajuku.
"Aku gak kenal Nuca, Putri!" jawabku berulang kali.
Ia mulai mendengus kesal. "Tapi Vidio yang viral itu, saat Lo lempar bungkus kacang itu ke mukanya!"
Aku menutup muka, menyesali yang kulakukan tanpa sengaja, melempar bungkus kacang hingga mengenai muka ganteng Nuca. Tanpa sengaja ada yang memvidiokannnya hingga viral kemana-mana.
"Iya aku gak sengaja beneran! Aku nyesel, beneran!" ucapku mengangkat dua jari.
Dan yup!
Aku serius menyesal melempar Nuca dengan bungkus kacang. Karena setelah Vidio itu viral, ratusan haters menyerbu instagramku, membully akun Facebook-ku yang aktif kubuat bakulan online, semua privasiku hilang dengan segala fitnahan. Daganganku yang tadinya aman, bubrah seketika. Akhir masa sekolah yang ingin kunikmati dengan bersantai ria pupuslah sudah. Setahun masa SMA-ku ini benar-benar ingin kuhabiskan penuh ketenangan berubah malapetaka karena bungkus kacang.
Nuca tak banyak bicara. Tapi setelahnya bukannya bahasan Aril dan Luna yang memang sudah diputusinnya melainkan wajahku yang terpampang nyata di mading kelas dengan berbagai bully-an. Tak ada tanggapan memang. Hanya saja kaum haters tak ingin berdiam diri dan membully secara blak-blakan. Aku ingin segera lulus SMA dan berhenti bertemu mereka.
__________________
"Bisa anterin gue gak ke daerah Simpang?"
"Perhitungan banget sih ma sahabat sendiri, iya ... sekalian gue kasih tips dua paha ayam, gede!"
Percakapanku dengan Putri selepasnya kuliah pagi itu memang bukan hal yang aneh lagi. Aku memang sering nongkrong di warung dekat kampusnya sambil nunggu notif orderan ojek di aplikasi ponselku. Setelah lulus SMA memang aku tidak berniat lanjut kuliah selain karena masalah biaya juga hidupku gak semudah nyari beasiswa.
"Elo gak niat kuliah, Bel?"
"Nunggu duit kumpul lah!"
"Kelamaan lagi, gue aja uda mo sidang. Trus lo mo gini-gini aja getu? Tanggungan Lo kan tinggal nyokap sekarang, Bel!"
Perjalananku menuju Cafe di daerah Simpang serasa berjalan melambat bukan karena macet. Tapi karena Putri menanyakan mengenai masa depanku. Aku punya impian besar dalam hidupku yang sesak jika ku ingat tidak memiliki kesempatan meraihnya.
Yah!
Dulu kulepas impianku untuk kuliah demi berobat ayah yang sakit parah. Tapi sejak 3 tahun yang lalu, setelah ayah meninggal pun hidupku masih seperti ini.
Aku juga melepas mimpi menjadi jurnalis padahal aku suka menulis. Kulepas harapanku bekerja di kantor besar dengan kemeja dan rok pendek lengkap dengan high heels di kaki jenjangku. Aku si buruk rupa. Semakin buruk rupa rasanya.
Menyedihkan!
"Coba besok lu nglamar di kantor temennya Papaku. Dia butuh driver pribadi buat anak perempuannya!"
"Oh ya!? Dimana itu?"
"Besok gue kabarin selengkapnya ya! Awas lo gak nyoba. Bis tu lo bisa berhenti ngojol dan fokus ambil kuliah di Universitas Terbuka."
"Mendadak kamu jadi pinter, Put!" ucapku diselingi pitakan di kepalaku.
_____________________
"Mau kemana, Neng?" sahut Emakku dari balik pintu.
"Kemarin Putri ngabarin ada lowongan driver, Mak. Doain Abel ya, Mak. Gajinya gede, Mak. Tiga kali lipat dari biasanya Abel ngojol."
Kucium punggung tangan Emakku meminta restu. Rangkaian doa yang indah langsung terucap dari mulut tuanya. Hanya Emak yang tersisa.
Syukur kami bisa menebus rumah yang kami tempati dari hasil aku ngojol selama ini. Kami memang bukan orang berada tapi pantang menyerah untuk bahagia.
____________________
Kuketok pintu besar rumah itu ragu. Kayunya tebal dengan ukiran mahal. Seorang satpam mempersilahkanku masuk menemui Pak Dihardja. Aku berjalan gugup melewati halaman yang panjang. Meninggalkan motor matic ku di dekat pos satpam. Menginjak lantai marmer berukuran lebar membuat kakiku gemetaran. Rumah luas dengan parkiran yang muat buat hajatan Mpok Leha kemarin rasanya. Pintunya segede gajah dengan jendela kinclong yang tinggi.
Pintu pun dibuka perlahan dan diperintahkannya aku untuk masuk. Seorang asisten rumah tangga dengan pakaian perlente ala telenovela mengantarkan aku menemui sang Tuan Rumah. Letaknya di ruang tengah katanya. Tapi perjalanan kami seolah lebih jauh dari narik ojek pulang pergi.
"Selamat pagi!" sapa lembut pria paruh baya itu penuh wibawa.
Kuperkirakan umurnya masih awal 60an. Memakai sweeter warna lembut menampakkan kegagahannya. Ia hanya duduk menyambutku di sebuah kursi kulit yang mahal.
"Selamat pagi, Pak!" sapaku balik dengan sopan.
"Saya sudah mendengar dari profilmu kemarin. Saya cukup kagum dengan berbagai pengalaman yang kamu punya, selain ojek pernah jadi kernet bus bahkan pernah narik angkot, benar?"
"Benar, Pak. Saya juga memiliki SIM A, Pak!" ujarku kikuk
Jawaban luguku ternyata membuatnya tertawa. Itu mungkin yang menjadi salah satu alasannya menerimaku kerja. Dia tidak banyak bertanya tentang gaji dan sebagainya. Atau mengenai pengalaman yang tidak ku punya. Tapi ia langsung menganggukkan kepala mengiyakan aku untuk bekerja dengan menyebut nominal fantastis bagi seorang driver pemula.
Tugasku sederhana, mengantar dan menemani putrinya yang sekarang berusia 4 tahun. Anak sekecil itu sudah diikutkan les bermacam-macam. Dan dia juga sekolah di sekolah internasional yang sangat mahal.
Namun ada hal aneh saat mendengar namanya. Anuca. Panggilannya... Mengingatkanku akan bungkus kacang. Terkekeh aku sejenak.
"Kenapa tertawa, Kak?"
Kulihat dengan senyum simpul wajah gadis kecil itu. Wajahnya sangat manis, mirip model-model endorse pakaian keluaran Cina. Seolah kulitnya memakai pemutih hingga bening sedemikian rupa.
"Nama Nuca mengingatkan kakak pada teman kakak dulu," seruku menenangkan.
Lalu kuceritakan beberapa dongeng yang amat disukainya. Aku sangat menyukai anak-anak jadi mudah bagiku mendekati Nuca, mendengar tentang kisahnya juga.
Meski ada yang janggal darinya, Nuca anak siapa?
Mungkinkah Pak Dahirdja punya istri muda? Kalau iya itu masuk akal memiliki putri kecil diusia yang menjelang senja sepertinya.
Hampir setahun aku bekerja sebagai driver pribadi Nuca. Gadis kecil itu semakin akrab denganku sampai segala hal diceritakan kepadaku. Termasuk, kisah pamannya yang kini tinggal jauh diluar negeri.
Disodorkannya foto dari ponselnya, "ini paman Nuca! Ganteng ya?"
Ganteng iya, tapi... kenapa hampir mirip dengan...
Ahhh, pikiranku saja. Mana mungkin lah!
Kejadiannya sudah lama berlalu, dan itu pasti bukan dia!