
Semua seolah ditakdirkan Tuhan untuk kembali ke asalnya. Tidak pernah ada kisah Cinderella. Hanya keberuntungan yang tidak sempurna. Takdir sang driver mungkin bukan untuk tuannya.
Emak menjaga Abel dengan baik. Meski tetap memukulnya dengan punggung tangannya yang besar. Ia terus menguji kesabaran anaknya dengan sebutannya si buruk rupa.
Abel tak peduli asal Emaknya baik-baik saja. Menjadi korban diantara dendam dua keluarga telah merubah hidupnya. Meski kini ia tak tau siapa yang tulus padanya.
Putri yang ternyata telah berniat mengkhianatinya. Bang Syaif yang berpura-pura menjadi bang Udin. Nuca yang memanfaatkan untuk dendamnya.
Argh~~
Rengutnya dalam hati.
Ia mengacuhkan Emaknya dari tadi ngomel soal pilihan laki-laki di masa depan.
"Ayolah, Mak!"
"Dengerin Mak, ya. Muka kamu tu pas-pasan sekalinya dapat Nuca eh ternyata tukang tipu. Dapet Alex juga gitu. Sekarang Si Udin?"
Abel menghela nafas panjang. Meniupkan doa untuk laki-laki terbaik yang akan mendampinginya kelak. Mencintainya meski ia tak sempurna.
Begitu lama ia memejamkan mata dan bersungguh-sungguh dalam pinta. Sampai terdengar bunyi ketukan pintu kamar.
Emak berjalan pelan dan membuka pintu perlahan.
Matanya terbelalak kaget, begitu pula Abel.
"Pagi, Neng! Mak!"
_______________________
6 bulan kemudian,
Kubuka mata perlahan...
Sedikit kelelahan karena begadang semalaman. Rambutku masih acak-acakan dan tampaknya bauku juga tak karuan. Hmm... andai Emak masih di sini, pasti habis aku dimaki-maki.
Sekarang aku jauh berada di kota seberang luar pulau. Bekerja sebagai pelayan di sebuah club malam dengan segala hingar bingarnya yang membuat ku terpaksa selalu terjaga. Terbiasa untuk hidup susah tak membuatku pantas berleha-leha. Kini di kota baru, aku bersumpah memulai kehidupan baru tanpa kepalsuan.
Saat itu aku hanya berharap untuk menjauh dari keramaian. Perasaanku pada mereka sudah cukup menyesakkan. Bang Syaif, Nuca, dan Alex juga Putri. Mungkin jika ku di sini lingkaran setan itu akan berhenti.
Ponselku bergetar membuat bunyi derit yang menggelikan. Kuangkat dengan segan karena kutau dari siapa itu berasal.
"Ada apa, Yan?"
Yah, dia adalah Wayan. Pemilik cafe tempatku bekerja. Di saat pagi aku akan bekerja di sana, tepatnya jam 10 pagi. Cowok yang satu itu cerewetnya minta ampun. Kami seumuran, karenanya tak hanya sekali kami sering berselisih paham meski setelahnya kami lupa telah bermasalah dan berbaikan segera.
"Sudah jam berapa ini?"
"Haduh, Bos. Tidakkah jam di cafe rusak? Ini baru jam 8 pagi. Give me a time dong!" gusarku menanggapi. Semenit kemudian ia akan meminta maaf, kemudian memintaku segera datang. Begitu berulang setiap harinya.
Wayan, sepertiku. Hidupnya tidak pernah semudah itu. Kali ini sebelum aku benar-benar berteman dengannya, aku sudah menyelidikinya. Semua tentangnya nyata. Anak buruh tani yang yatim piyatu sejak SMP. Kemudian di asuh tantenya yang punya cafe ini, akhirnya ia pun terjebak di sini juga.
Begitu selesai mandi dan mempersiapkan diri. Tak lupa, kupulas mukaku agar lebih rapi. Sekarang aku sudah pandai berias. Yup, lagi-lagi karena Wayan. Sebagai pelayan aku harus pandai menjaga penampilan, begitu sarannya. Meski hanya sekedar bedak dan pemerah bibir namun aku harus terlihat cantik dan seksi.
Inilah, Abel Gunawan kini.
______________________
"Berisik amat sih nih bocah!" seru Tante Rima menarik tangan Darian adik Wayan.
Darian masih bayi saat di tinggal mati kedua orang tuanya. Kini usianya baru 10 tahun. Melihatnya terkadang aku teringat betapa manisnya Non Anuca.
"Ampun, Te. Cuma main doang kok!"
"Hayinggg... Main apaan? Ini semua pada kerja kamu sibuk beginian. Bikin repot Tante aja. Cepat ke kamar, belajar!"
Perintah Tante Rima tidak segera dilakukannya. Ia malah berdiri menjulurkan lidah mengejek lalu bersembunyi dibalik punggungku yang sibuk membersihkan meja.
"Darian, berhenti!" seruku berbalik. Tapi ia tetap berputar-putar di belakangku. Benar-benar bandel ini anak, kesalku.
Tante Rima mengangkat sandalnya sambil berteriak lebih kencang lagi, "Darian, berhenti..." dilemparkan sandal itu kencang ke arah Darian yang sialnya ia malah bisa menghindar, sehingga justru mengenai...
"Aduh, Te! Ada apaan sih?" ucap Wayan sambil mengusap-usap keningnya yang terkena lemparan maut sang Tante.
Tante Rima segera berlari mendekati Wayan dan meminta maaf. Wayan hanya mendelik sekilas pada Darian dan anak itu keder seketika.
"Sudah, sudah, Tan. Gak apa-apa... Tuh, ada Robert nunggu di depan."
"Robert? Ah, oke-oke..."
Segera dengan berlari kecil, Tante Rima pergi menemui kekasih bulenya. Wayan melirik ke arahku yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, menyadari dilihatnya aku hanya berdehem gugup dan kembali memulas meja dengan lap yang kubawa.
"Gak usah sok cuek!" ucapnya sambil melempar kresek hitam padaku. Ku buka penasaran dengan cepat ternyata isinya nasi Padang kesukaanku. "Udah, sarapan sana. Mau di lap sampai kapan nih meja juga gak akan berubah jadi Putri Indonesia!"
Kuanggukkan kepala berterima kasih. "Sering-seringlah berbuat kebajikan ya, Bos," godaku padanya sambil mengerlingkan mata manja.
"Hah, kamu tuh... Jaga diri aja gak bisa. Emang niat jadi orang kaya beneran sampai harus kerja mati-matian, siang-malam, lupa makan. Kalau sakitmu kumat lagi gimana?"
Aku berhenti mengunyah, mendengarnya membuat lubang di hatiku menganga kembali. Aku terdiam beberapa saat dan kembali menanyakan pada diri. Apa tujuanku di sini?
Sementara dulu Alex bahkan memintaku menjadi istrinya. Anuca melarang ku untuk pergi dari rumahnya. Serta Bang Syaif... Oh, iya Bang Syaif.
Tiba-tiba pundakku terasa berat. Wayan menepuknya memberi sensasi pijat. "Kamu itu siapa sih, La?" dia menanyakan kembali dengan raut muka penasarannya.
"Siap, Bos. Nanti kapan-kapan kita bercerita tentang masa depan. Kebahagiaan. Dan juga masa lalu... Bagaimana?" tawarku segera berharap mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah udah!" ditoyornya kepalaku. "Makan tuh, mahal tau! Bis itu kerja yang bener, atau kupotong biaya sarapan lewat gajimu bulan depan."
"Wayan, tunggu..."
"Hmm?"
"Aku benar-benar makasih ya!"
"Hmm... Ingat no free lunch!"
Kuanggukkan kepala berterima kasih lalu diapun beralih pergi. Hanya Wayan dan keluarganya yang menolong gadis patah arang seperti ku.
_____________________
Dentuman musik menghentak jantungku beberapa kali. Tapi kini aku mulai terbiasa dengan kerasnya suara Dj atau berisiknya omelan pelanggan yang mabuk. Kuantar baki alkohol itu dengan cekatan lalu beralih dari satu pelanggan ke pelanggan yang lain.
Hari ini masa period-ku. Seperti sebelumnya, sakitku belum sepenuhnya pulih. Suara manager berteriak memintaku memanggil Hera, purel tercantik di club ini, dan menyuruhnya untuk menemani seorang bos di ruang VVIP. Kuiyakan cepat sambil meminta bartender menyiapkan minuman yang diminta sang bos.
"Her, ada callingan tuh!" teriakku ke arah Hera yang menari-nari kecil di samping meja.
"A-apa?"
Kudekati ia dan berteriak di telinganya langsung, "Ada callingan... Bos besar dari Jakarta datang. Kamu diminta nemenin. Sekarang di ruang VVIP."
"Oke!" serunya berlenggak seksi lalu beralih pergi. Pantatnya bergoyang seiring langkahnya berjalan. Sesekali seorang pelanggan menyapa dan ia menolaknya.
Kuambil minumanku dan mengikuti Hera dari belakang. Iya, tamu dari ruang VVIP biasanya cukup royal, pemberian tip-nya lumayan.
"Silahkan!"
"Tunggu...!" ucap sang bos kemudian meminta anak buahnya menyelipkan uang di saku kemejaku. Kuucapkan terima kasih dan segera berlalu namun sang pengawal malah menghalangiku. "Halo, Abel!"
Suaranya menyentakku dalam ruang dimensi yang berbeda. Aku kaget setengah mati karena tau betul siapa pemilik suaranya. Ku berbalik cepat dan membekap mulutku tak percaya. Apa? Bagaimana bisa dia tau aku di sini?
Kakiku bergerak sendiri untuk pergi tapi dia menarik tanganku kuat hingga ku terpelanting memeluknya. Kini kami bertatapan dengan romansa masa lalu yang ingin kulupakan.
Gosh~~
Dia masih memiliki tatapan itu.
Aku berontak mencoba melepaskan diri. Melirik ke arah Hera berharap ia membantu. Tapi bodohnya aku berharap, mana mungkin perempuan bayaran macam dia mau bertindak gegabah dan menolongku.
Kuat ia memelukku hingga tak ada ruang untukku bergerak lagi. Mendadak aku merasa suara bising menghilang, menyisakan aku dan dia. Ternyata rasa itu belum hilang. Aku masih jantungan hanya dengan menghirup aroma tubuhnya. Ia sangat tampan, tidak-tidak, ia lebih tampan dari sebelumnya.
"Lepaskan aku!" ucapku setelah dapat aku menguasai pikiran kotor ini.
"Kenapa kau menghilang?"
"Bukan urusanmu! Aku bekerja di sini. Lepaskan aku, sekarang!"
Dia hanya diam dan memberiku tatapan tajam. Aku tak akan bergeming. Yang kuinginkan hanya pergi darinya.
"Lepaskan aku, kubilang. Kau menyakitiku. Kau tau itu..."
"Maaf, tapi aku tidak mau kau pergi lagi!"
Kuberikan picingan mata paling sinis yang kubisa. Aku sungguh-sungguh ingin lepas darinya. Bukankah sudah kubilang niatku untuk keluar dari lingkaran setan ini.
"Bel ... Bela!"
Gedubrak-brak~
Satu-satu pengawal di belakangku jatuh. Dan saat kami berdua kaget melihatnya, "Wayan?" kataku tak percaya.
"Lepaskan dia!" serunya setelah memukuli hampir lima pengawal yang berdiri berjaga-jaga.
"Siapa kau?"
Wayan menarikku cepat hingga tubuh ini berpindah posisi. Kini aku dipelukannya. Kupandang muka Wayan yang berubah serius. "Kenapa kau di sini?" tanyaku kaget.
"Ayo!"
Dan kamipun berlari keluar menunju skuter miliknya. Kabur dengan skuter sepertinya cara yang romantis dalam film tapi kenyataannya itu bukan ide yang bagus. Karena mereka yang mengejar membawa mobil yang lebih bagus. Kecepatan kami tidak akan seimbang. Tapi entah kenapa...
Aku tidak peduli dan hanya mengeratkan pelukanku di pinggangnya.
______________________
Kuantukkan tubuhku bersandar pada tembok. Perutku mual dan ingin muntah. Aku sudah mengeluarkannya setengah jam yang lalu tapi nyeri yang kurasa membuatku tak sanggup berdiri. Rasa sakit mengular dari pinggul ke pangkal paha. Aku hampir tak dapat merasakan kakiku. Kututup dudukan closet sambil mengawang melihat langit-langit kamar mandi.
Suara ponselku berdering sedari tadi namun aku tak dapat menggapainya. Aku sudah meminum obatku tapi rasanya malah lebih parah. Aku tak sanggup lagi...
Brak ... Brak ...
Pintu kamarku digedor dengan kayu. Seseorang mungkin berusaha mendobraknya. Aku tak dapat mendengarnya. Suara panggilan itu seiring waktu menjauh.
Juga aku, tubuh ini ringsek jatuh ke bawah lantai. Lemah tak berdaya bagai onggokan ikan asin di pembaringan. Kulihat pintu kamar terbuka lalu suara langkah kaki mendekat.
"Bel? Bela?!"
Gelap seketika....
______________________________
"Kau sudah bangun?"
Argh~
Kepalaku masih pusing dan badanku nyeri.
"Wayan?!"
"Aku tidak apa-apa?"
"Hmmm... tolong bisa gendong aku ke kasur!" pintaku padanya.
Wayan menarik tubuhku dan menggendongnya. "Kamu sakit apa sebenarnya?"
Aku hanya menyeringai sambil menahan sakit.
"Siapa kamu sebenarnya, Bela?"
Aku hanya tersenyum dan membiarkan dia tetap dalam tanya. Maafkan aku, Yan. Mungkin lain kali kita bisa berbicara lebih nyaman. Setelah aku terbangun dari mimpiku, batinku yang kemudian menggelepak tak sadarkan diri.
____________________
- sudut pandang pengarang -
Emak berjalan pelan dan membuka pintu perlahan.
Matanya terbelalak kaget, begitu pula Abel.
"Pagi, Neng! Mak!"
"Bang Syaif?!" ucap Abel dan Emak hampir bersamaan.
Bagaimana Bang Syaif bisa di sini? Bukankah ia ada di kantor polisi? ronta batin Abel bertanya-tanya.
"Bagaimana kabarmu, Neng?" digenggamnya tangan Abel dengan lembut. "Kau pasti kaget ya?!"
Abel hanya mengangguk cepat. Secara insyarat ia meminta Emak untuk keluar kamar. "Bang Syaif, sehat?"
"Dengarkan, Neng. Abang minta maaf. Mungkin banyak yang tidak bisa Abang katakan lagi. Tapi... Sungguh Abang ingin menjagamu dari mereka."
"Mereka? Abang sendiri gimana? Menjadi ular untuk keduanya. Abang pikir itu baik? Bang Syaif utang banyak penjelasan padaku. Bagaimana bisa..."
"Tuan Nuca hanyalah pion, Neng. Dia sama tidak bersalahnya. Dia hanya laki-laki penuh dendam ... Abang kasihan dengannya. Pak Suwito menyerahkan Nuca pada Abang. Tapi Abang tidak tau bahwa rencananya akan jatuh seperti ini."
"Bang...?"
"Tolong, Neng. Pergilah dari sini segera... Jangan masuki lingkaran setan mereka lagi. Pergilah..."
Perbincangan mereka diakhiri dengan sebuah pelukan sebelum beberapa polisi berpakaian preman datang dan membawanya kembali.
Entah apa tapi ada keyakinan dalam dirinya untuk percaya kata-katanya.
Dia akan pergi...