Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 12



“Gak mau, Bang!” kulepas genggaman Bang Udin yang menarik lenganku.


“Jelasin disini, kenapa Bang Udin bisa tau semua ini? Ada apa sebenarnya, Bang? Kita dimana?” cerocosku tanpa henti.


Aku mulai seksama memperhatikan sekitar. Bangunan tua dengan pagar beton yang tinggi. Akses keluar masuk hanya dari pagar besi karatan setinggi 2 meteran.


Semua kegundahanku hilang berganti ketakutan. Situasi apa yang sedang kuhadapi.


Kenapa Putri mengejarku? Dan siapa bang Udin ini sekarang?


“Di dalam, Neng. Percaya sama, Abang!” suaranya melembut.


Sebagian tubuhku berharap menurutinya. Tapi otakku terus terkosenterasi untuk kabur dari sini.


Lalu kulihat beberapa orang tampak seperti preman, berbadan tinggi gempal dengan tato di sekitaran lengan dan badan. Mereka mendekati kami dan seolah menaruh hormat pada bang Udin.


“Amankan parameter, ingat jangan mencolok!” perintahnya pada mereka.


Matanya memelas melihatku hingga akhirnya akupun menurutinya. Dibukanya pintu pelan dan kulihat Emakku tersayang duduk bersila nonton tivi sambil makan kacang tanpa ada ketakutan. Super Emak!


“Emak?” teriakku memeluknya.


Emakku kaget melepas pelukanku sambil tersenyum, “udah balik, Neng?”


“Ada apa ini, Bang?”


Mendadak Emak nangis meraung-raung sambil menceritakan bagaimana rumah kita di obrak-abrik orang tak dikenal siang tadi. Emak yang ketakutan berlari meminta tolong pada bang Udin yang kebetulan ngekos di depan.


Aku menanyakan pada Emak ciri-ciri orang yang melakukan pengrusakan dan cirinya sama persis dengan orang-orang yang mengejarku di rumah sakit.


“Siapa mereka, Bang? Kenapa mereka mengejarku? Apa salahku, Bang?”


“Aku bakal menceritakannya, Neng. Tapi untuk saat ini tinggallah disini sama Emak, kalian aman disini. Aku harus kembali ke kantor atau mereka akan mencurigaiku, kalau kau lapar ada makanan di dapur, kamar juga sudah disiapkan.”


Bang Udin pun pergi. Sebelumnya dia meminta ponselku dan mengambil sim card-nya. Menggantinya dengan ponsel jadul dengan fast call nomer satu menuju dirinya.


Satu-satunya yang santai dan tidak pikir panjang hanya Emakku. Entah apa yang merasukinya, tapi dia sangat menikmati tinggal disini seolah rumah sendiri. Bahkan ia sempat mencuci bajuku yang kotor agar aku bisa berganti.


Dalam ketenangan kurenungkan semua ini. Kumpulan teka-teki yang pasti berujung di Nuca atau Alex. Nuca dan Alex yang ternyata satu angkatan denganku. Alex yang kenal dengan Putri. Dan misteri siapa Nuca kecil sebenarnya. Serta bang Udin yang mendadak kaya, padahal rumah saja tak punya. Ini gudang milik siapa coba?


Oh tidak~


Anuca – nonaku sayang.


Bagaimana kabarnya?


__________________


Kulihat jam sudah sangat larut malam. Aku bangkit dari kasur sambil menengok Emakku terlelap dengan nyenyaknya. Aku tidak bisa tidur dan sekarang aku kehausan.


Kulangkahkan kakiku keluar kamar. Membuka pintu dengan pelan. Rumah ini sepi. Ada tiga kamar tidur, satu kamar mandi, ruang cuci, dapur, dan ruang tamu. Ruang makan bergabung dengan dapur tanpa sekat yang jaraknya melewati kamar kedua dekat ruang tamu.


Ada kulkas besar di dapur. Kubuka berniat mengambil segelas air. Menegaknya dengan lega sebelum dikagetkan oleh suara dibelakangku. Hampir gelasku jatuh.


“Syukurlah kau baik-baik saja!”


“Nuca?!” kataku tak percaya. Mungkin ini hanya mimpi. Ia cuma mimpi.


_____________________


Sinar mentari yang menusuk mata tak mampu membangunkanku. Efek semalam insomnia entah sampai jam berapa tapi aku terlelap dengan nyenyak. Hingga suara berisik beserta tawa mengusik kenyamananku.


Kuangkat tubuhku berjalan arah dapur tempat suara-suara itu berasal. Seperti biasa Emakku – sang super mom – telah menyiapkan sarapan. Dia nampak sibuk di depan kompor sambil berbincang. Dan aku lupa,


“Nuca? Bang Udin?”


“Selamat pagi!” sahut mereka hampir bersamaan.


“Gimana mungkin?”


Mereka hanya saling berpandang dan melempar senyum.


“Udah bangun, Neng. Cepet mandi trus makan,” cerocos Makku tanpa mengerti betapa gentingnya situasi yang kuhadapi.


“Tunggu… jelaskan padaku sekarang, apa ini bang? Nuca aku kira semalam kamu cuma…”


“Mimpi? Mungkin saat lo nepuk pipi gue, dan bilang gue ganteng itu adalah bagian dari mimpi indah lo kan?”


Gosh!


Gimana bisa kupermalukan diriku.


“Jangan mengalihkan topik! Siapa kalian? Aku gak mau tau kalian jelaskan sekarang… “ bentakku sekeras Mak-ku meminta jatah harian.


Pluk!


Gayung sayur nemplok di kepalaku.


“Aduh Mak, apaan sih!”


“Berisik! mandi dulu sana, trus makan baru ngobrol, kasian si ganteng-ganteng ini diributin muluk.”


“Arghh! Emmmaaaakkkkk” kuelus kepalaku yang masih puyeng menerima pukulan dari gayung sayur.


Selesai mandi kulanjutkan investigasiku tapi Emak lagi-lagi melarang dengan alasan kasian si abang ganteng kelaparan. Apalagi Nuca dan bang Udin memuji semur masakan Emak terenak sejagad raya, jadi panjang ceritanya.


Entah bagaimana caraku agar masalah ini selesai sampai kuberanjak pergi.


“Mau kemana?” tanya Nuca.


“Kerjalah!”


“Kerja kemana?” sanggah bang Udin dengan mimik muka panik.


“Kerja kemana lagi kalau gak jadi driver Non Anuca!”


“Kau/lo sudah gila!!” seru mereka berbarengan.


Kubuang nafas kesal. Hampir saja akan kupukul mereka satu-satu karena terlalu kompak bertele-tele.


“Kenapa tidak boleh?”


“Apa kamu gak sadar bahwa Pak Dihardja mencarimu?”


“Enggak! Jelaskan?”


“Ceritanya panjang….” jawab Nuca memulai.


“Baik waktuku seharian untuk mendengarkan…”


____________


-Sudut Pandang Pengarang-


“Paman! hu hu hu,” Nuca memeluk Alex yang lemah di pembaringan.


Badannya penuh lebam akibat melawan pengawal sebelum dia tepar kalah jumlah dan ukuran. Pak Dihardja memang seorang diktaktor bahkan pada anak-anaknya sekalipun.


Dipeluknya tubuh mungil Anuca yang ketakutan. Ia telah kehilangan Abel yang tak lagi mengantarkannya sekolah. Kembali bersama baby sitter yang jahat dan Bi Inah yang sinisnya melebihi ibu tiri.


“Paman, tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa sayang!”


“Mama tidak pernah datang lagi, Anuca sendiri, Paman.”


“Mama…”


Anuca kecil menunduk sedih dan menjelaskan bahwa ia telah meminta Abel menjadi mamanya.


Mendengar kisah Anuca, Alex tak kuasa menitikkan air mata. Ia terpacu dendam hingga lupa bahwa ada gadis kecil tak berdosa yang dilibatkan dalam pusaran dendam ini.


“Maafkan Paman, Sayang! Karena Paman, Anuca kehilangan Mama.”


Tiba-tiba pintu dibuka. Pak Dihardja masuk dengan beberapa pengawal, di samping kirinya ada Putri yang kini telah beralih menjadi asistennya.


“Bawa Anuca!”


Nuca meronta-ronta. Alex berusaha memeluk Nuca melindunginya dari paksaan para pengawal.


“Berhenti!” teriaknya saat pengawal mulai kasar menarik tangan kecil itu hingga kesakitan.


“Papa! Aku mohon, Anuca juga cucu Papa… berhentilah menyakitinya!”


Pak Dihardja mengangkat tangannya memberi sinyal agar mereka berhenti memaksa.


“Kau yang membuat situasi ini Alex… berhenti membela Abel lalu kembalilah bekerja… lakukan tugasmu dan aku tidak akan menyakiti Anuca. Kau lakukan kesalahan, maka Nuca akan merasakannya!”


Laki tua itu beralih keluar dan meminta pengawalnya menarik Anuca. Mulai detik ini, gadis mungil itu tidak lagi bisa keluar, tidak pergi sekolah ataupun melakukan apapun yang wajar untuk anak seusianya. Seluruh kegiatan dipindahkan di rumah. Sayangnya, hanya Bi Inah yang akan menemaninya.


_____________________