Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 19



-Sudut Pandang Pengarang-


Disandarkan tubuh Emak di atas pembaringan. Alex menyewa motel di daerah Suburban yang jauh dari jangkauan Dihardja. Atas usul bang Udin mereka harus bersembunyi disana.


Motel Melati namanya. Sebuah motel di daerah esek-esek paling ramai. Letaknya di pinggiran kota yang bahkan akses masuknya lebih sulit dari perjalanan ke kota terpencil.


Kata Alex pemilik motel merupakan kenalan baik bang Udin sehingga ia berjanji akan menyembunyikan mereka. Alex tampak merapikan kamar mereka dan meninggalkan Abel berbincang dengan sang pemilik motel.


“Kalian aman disini," kata gadis cantik itu seraya memberi Abel kunci.


Kulitnya putih mulus mengenakan dress merah menyala dengan bukaan dada. Lekuk tubuhnya menggoda dengan bagian yang terlihat menyembul dengan moleknya.


“Kalau kalian lapar, kalian tidak perlu pergi keluar, cukup suruh anak itu!” tunjuknya pada bocah laki-laki yang terus mengusap ingusnya, “cukup beri ia uang lebih! Ingat Gus, ini teman Bang Syaif jangan macam-macam!”


“Iyo Mbak e!” jawab bocah bernama Agus itu melenggang pergi.


“Maaf, Bang Syaif?” tanya Abel penasaran. Tadi para pengawal itu juga memanggilnya dengan sebutan yang sama.


“Iya, Bang Syaif.”


“Tapi aku mengenalnya dengan … ”


“Bang Udin? Hehehe … iya namanya Syaif bin Udin, orang kadang menyebutnya si Udin.”


“Maaf, bolehkah aku bertanya tentang Bang Syaif? Aku ingin berterimakasih dengannya, aku takut dia … ” ucapan Abel terputus hampir tak dapat meneruskannya. Mulutnya basah takut akan hal terburuk terjadi pada penyelamatnya.


Abel menyesal telah berburuk sangka padanya. Dikarenakan semua situasi yang mendera. Dia bahkan tidak tau harus bersandar pada siapa.


“Dia akan kembali … pasti kembali! Dia selalu kembali!” jawab gadis itu menerawang. Matanya penuh binar saat menjelaskan mengenai kehidupan bang Syaif. Sesekali ia menyudut rokoknya dan mengepulkan sayap ke langit-langit kamar.


“Kami hidup di kampung kumuh, daerah pinggiran yang hanya ada minuman keras serta pelacuran. Aku dijual saat umurku baru sepuluh tahun. Merelakan keperawananku pada penawar tertinggi. Ditinggalkan bagai bangkai setelah puas menikmati. Bang Syaif yang menolongku. Ia selalu lolos dalam apapun. Kali ini pun begitu. Aku yakin itu.”


“Apa hubungan kalian? Apa kalian?”


Dia hanya menggeleng cepat, “Andai aku istrinya. Tapi itu tidak mungkin. Siapa aku mengharap malaikat seperti dia … Sebenarnya sudah lama Bang Syaif keluar dari lingkaran setan ini. Bekerja di kota dengan seorang Tuan yang baik hati. Karena kebaikannya pula, aku tidak perlu lagi menjual diri. Cukup menyewakan kamar di motel ini.”


Lama ia terhenti kemudian menyulut rokoknya Kembali. “Semua karenaku. Kalau aku tidak kabur dari sini, dia tidak akan berutang pada preman-preman itu… tapi satu yang pasti ia selalu menepati janji!”


____________________


“Paman? Agh~” gadis kecil itu menguap sejenak. Matanya masih setengah menutup saat ia berlari ke kamar Nuca. Dengan piyama motif little pony ia nampak imut dan menggemaskan.


“Ada apa Nuca sayang?”


“Kenapa Mama tidak pulang-pulang?”


“Mungkin masih ada hal penting yang harus dilakukan”


“Nuca tidak bisa tidur!”


“Kemarilah, tidur dengan Paman!”


Wajah manis Anuca mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat manis. Sama seperti gadis kecil yang dipeluknya kini.


Memang kebersamaan mereka hanya sebuah permainan. Karena tidak ada keseriusan di dalamnya. Nuca yang mencintai Abel dan gadis itu yang mencintai tunangannya.


Gadis cantik berambut lurus yang kemudian ia ketahui bernama Aleeka adalah sosok yang sabar serta baik hati. Mungkin jika dihatinya tidak terpatri nama Abel, ia bisa beralih dengan mudah.


Mereka cukup dekat hingga beberapa lama. Cukup lama hingga kedekatan mereka lebih dari yang seharusnya. Namun kenangan itu telah dikuburnya sejak Aleeka menghilang.


“Paman?”


“Iya, Sayang?”


“Nuca sedih!”


“Kenapa?”


“Karena … Nuca tidak tau bagaimana kabar Paman Alex sekarang. Bisakah kita menolongnya, Paman?”


_____________________


Alex mengambil selimut dari dalam lemari. Emak tadi bangun sebentar dan minum teh hangat. Tubuhnya melemah karena belum makan dan minum, namun tidak ada luka. Itu yang disyukuri Abel.


"Kau tidak apa-apa?"


Abel sedikit awas dengan kondisi Alex yang penuh lebam. Kejam sekali, pikirnya. Seorang ayah yang harusnya melindungi sang anak malah sibuk mementingkan perusahaan dan dendam.


Alex hanya menggeleng. Tubuhnya berguncang gemetar. Tak sengaja mereka saling bertatapan.


Abel merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan lama yang menyapa. Meski berusaha ia indahkan dengan memalingkan muka. Namun rasa itu menusuk hati hingga ingin diungkapkannya.


"Aku menyukaimu, Bel!"


Deg~


Jantung Abel seolah melompat. Ia menutupi gemetar tubuhnya dari kepanikan.


"Kau sudah makan?"


Alex mendelik seakan bertanya kenapa ia mengalihkan pembicaraan. Lagi-lagi Abel berdiri mengacuhkan pernyataan suka Alex.


"Aku minta maaf, Bel!"


"Mak-maksudku ... Apa tidak aneh kita berbicara perasaan sementara banyak ketidak jelasan disekitar kita?"


Tiba-tiba Alex mendekat lalu merangkulnya. Abel merasakan kembali perasaannya berayun, perutnya geli, bulu kuduknya meremang. Tanpa sadar ia menanggapi dengan membalas pelukannya.


"Papaku bukan orang yang jahat sebenarnya ... Ia hanya salah jalan saja."


Berasa terkena sengatan petir Abel tersadar. Siapa yang dipeluknya?


"Mungkin terlalu banyak setan disini. Maaf aku tidak bermaksud terbawa suasana, Lex!"


"Aku sungguh berharap setelah ini berakhir kita bisa bersama."


Abel hanya diam tidak menjawab hingga Agus datang mengetuk pintu, memberikan sekotak perlengkapan P3K pada Alex. Diterimanya kotak itu dan berjalan mendekati Abel yang kini terduduk diam di depan tivi.


Kamar itu tidak terlalu besar. Hanya ada satu ranjang ukuran sedang. Satu lemari plastik kecil dan kursi panjang di depan tivi. Dibelakang tivi ada ruang untuk berbersih diri. Dengan lampu yang temaram memang ruangan ini pantas dijadikan tempat pelampiasan syahwat.


Pikiran Abel melayang entah kemana. Ia begitu sedih mendapati Emaknya ikut menghadapi masalah yang tak tau mulanya dimana. Bang Syaif juga entah dimana rimbanya. Tapi malah ia sibuk dengan perasannya. Bukankah itu terasa tidak sopan?


“Biar kuobati!”


Abel terus memandangi Alex dengan perasaan bingung. Apa yang harus dilakukannya kini.


Sebelumnya ia berlari menjauh dari keluarga Dihardja bersama dengan Nuca yang ia ketahui belakangan


adalah musuh Dihardja.


Bersamanya ada bang Udin atau bang Syaif yang merupakan orang kepercayaan Nuca. Mungkin juga ia mata-mata di keluarga Dihardja.


Terlebih soal sahabatnya Putri, yang jelas-jelas bersamanya selama bertahun-tahun tiba-tiba berubah menjadi penjahat yang berusaha melukainya.


Dan kini, ia duduk berhadapan dengan musuh yang mencari untuk membunuhnya. Alex, yang menurutnya sang tokoh antagonis mendadak menjadi salah satu penyelamatnya.


Ditatapnya nanar wajah tampan didepannya. Ada kelembutan yang tidak pernah dilihatnya. Alex yang begitu angkuh ketika menghancurkan kepercayaannya beberapa tahun lalu. Kini memegang kapas dan antiseptik berusaha mengobatinya.


“Jangan melihatku seperti itu! Aku tau banyak pertanyaan di benakmu. Aku bisa menjawabnya kalau itu membuatmu lebih baik.”


Ada ratusan tanya yang ingin diutarakannya. Ia ingin segera mengetahui jawabannya. Akan tetapi yang keluar dari mulutnya justru hal yang tak terduga.


“Siapa Anuca?”


_________________