
-sudut pandang pengarang-
Bian berjalan tergesa-gesa dalam lorong menuju kamar Hera. Mukanya merah padam menahan marah. Tangannya mengepal, buku-buku jarinya menguat seperti akan menghajar seseorang. Wayan yang berada di kamar seberang melihatnya dengan teliti, menelaah apa yang kiranya akan terjadi.
Brak...
Pintu kamar Hera di dobrak paksa oleh Bian. Hera yang baru selesai mandi hanya dengan lilitan handuk kaget setengah mati. Ia hampir melompat melempar ponsel yang ada di tangannya.
Bian langsung berjalan mendekati Hera, lalu mencengkeram lehernya, "Jangan berani-berani kau melakukan sesuatu pada Bela!" Sorot matanya menajam seperti singa yang kelaparan.
"A-apa maksudmu?" Hera menahan nafas kesakitan.
Dengan hampir kekuatan penuh, Bian mendorong tubuh Hera hingga mentok menabrak dinding kamar, "Aku tau apa yang ingin kau katakan saat di mobil tadi. Kau ingin melakukan pengakuan bukan?"
"Lepaskan aku! Aku akan mengatakan semuanya, karena memang aku yang salah," ungkapnya sambil terus meronta.
"Kau memang salah, tapi aku tidak," tegas Bian padanya
"Kau tidak bisa memungkiri keterlibatanmu dari awal, Bian."
"Aku bisa membunuhmu, apa kau tau itu?" Bian mengancam. Ia mulai tak sabar dengan kelakuan Hera yang mengujinya.
Selama ini Bian membiarkan Hera tetap berada di sisi Abel agar wanitanya tidak kesepian. Namun, sepertinya Hera mulai menyalahgunakan kuasa yang dititipkan Bian padanya.
"Aku tidak peduli, lepaskan aku! Jika kau menyakitiku, maka Bela akan membencimu. Ia tidak akan memaafkanmu. Apa kau lupa berapa banyak kesalahanmu, hah!"
Hera mulai berontak. Kakinya bercipak-cipak menendang apapun yang di depannya. Hera mulai meraba benda-benda di sekitarnya dan menghantamkan di kepala Bian, tapi gagal. Ia berusaha keras melepaskan diri dari cengkeraman Bian, hingga lilitan handuknya terlepas dari tubuhnya. Namun, Bian tak bergeming sedikitpun.
"Aku mencintainya..." serunya sambil melempar tubuh Hera ke atas dipan.
Hera menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya dengan takut, "Dan kau gila!" ujarnya.
Wayan datang menyerempak, ia menarik tubuh Bian menjauh dari Hera saat melihat mantan bosnya itu berusaha membunuhnya, "Apa yang kau lakukan, Bi. Lepaskan dia!"
"Diam kau, Yan. Ini urusanku dengan ******* satu ini!" Bian berusaha berontak dari cekalan Wayan.
"Kau tidak bisa menyakitinya di sini. Ada Bela, Bi."
Hera bangkit bertelanjang mengambil pakaian di dalam kopernya. Dengan santai memakainya seolah ia tidak apa-apa. "Kalian harusnya malu, apa kalian tidak punya rasa kasian untuk gadis sebaik Bela? Kenapa kalian memanfaatkannya seperti itu..." serunya dengan tenang.
"Diam kau, Hera! Kau tidak pantas bicara seperti itu di sini," bantah Wayan melonggarkan pertahanannya menahan Bian.
"Kalian akan merasakannya. Aku bersumpah akan mengatakan semuanya pada Bela. Aku malu padanya. Sungguh," katanya tegas.
_______________________________
"Lepaskan aku, Yan!" kata Bian menyepak tangan Wayan yang menghalanginya.
Langkahnya tegas meninggalkan Wayan tanpa sepatah katapun. Demi memuaskan amarah yang menggebu di dadanya, ia memukulkan kepalan tangannya ke tembok seolah itu adalah Hera. Dinding cantik itu ternoda merah oleh nokta darah tangan Bian yang terluka.
"Apa kau sudah gila, Bi!" seru Wayan penuh perhatian mengecup tangan Bian yang terluka.
Sekali lagi Bian menampik perhatiannya. Nanar matanya menatap Wayan yang bingung akan sikap Bian yang entah kenapa.
"Kita tidak ada hubungan lagi, Yan. Tugasmu menjaga Bela untukku. Tidak lebih, ingat itu!" ancamnya sambil berlalu.
________________________
Abel mengangguk dan mengajak Hera menjauh dari sana. Tangan Hera bergetar, bibirnya terkatup seperti baru melihat setan.
"Ada apa, Her?" tanya Abel penasaran.
"Akulah pelakunya... maafkan aku, Bel. Sungguh, aku minta maaf!" Hera bersimpuh sambil berderai air mata, tangisnya begitu tulus dan memilukan.
Rasa takutnya menjalar hingga Abel seketika bisa merasakan getaran itu.
"Apa maksudmu, Hera?"
"Maafkan aku, kau terlalu baik padaku. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, aku akan ke kantor polisi dan menyerahkan diri."
Wayan berlari mendekati mereka yang menjauh sekitar lima meter di pojokan. Samar ia dapat mendengar pengakuan Hera yang keluar dari perjanjian. Dengan langkah yang dipercepat, ditariknya tangan Hera kencang hingga ia terpelanting ke belakang.
"Ayo, masuk kamar, Her!" tariknya lebih kencang menghindarkan Hera dari Abel. "Jangan dengarkan apapun yang keluar dari mulutnya, Bel. Ia sedang teler."
Abel terkejut sekaligus kecewa, meski ia tak paham yang dimaksudkan Hera, kesalahan apa yang diperbuatnya, tapi ia memang mengharapkan sebuah pengakuan yang datang dari mana saja. Ia berharap bisa menyelesaikan misteri apapun dan pulang ke rumah dengan tenang.
"Teler?" Abel memang mencium bau alkohol menyembur dari mulut Hera.
Ia hanya mengira itu sudah biasa, karena Hera memang telah lama menjadi pecandu alkohol. Bahkan kadang untuk membuatnya teler, ia bisa meraciknya sedemikian rupa.
"Ayo, kita ke kamar, Her!"
"Lepaskan aku, Yan. Bela, percaya padaku. Aku tidak mabuk, sungguh!"
__________________________