Love on Revenge

Love on Revenge
Part 25



Berjalan beriringan bertelanjang kaki dengan menenteng sepatu-sandal sangat romantis mungkin, menurut sebagian orang yang melihatnya. Tapi ini bukanlah pertemuan penuh kasih antara dua sejoli. Ini hanya perjumpaan yang kikuk antara seseorang dengan masa lalu yang ingin dilupakan. Aku tak peduli betapa indahnya pemandangan di sekitar untuk dinikmati. Karena bersamanya membuat semua terasa...


Entahlah!


Kubiarkan pasir menyelip diantara sela-sela jari-jariku. Kemudian berlalu sambil menyibak-nyibakkannya ke luar langkah kaki. Sesekali kutengok ia yang ada di sebelah. Lalu kembali menunduk mengamati tekstur pantai yang halus dengan tanganku.


"Aku capek," kuselonjorkan kakiku segera tanpa peduli ia yang terus berjalan di depan. "Kalau dari tadi cuma jalan-jalan. Besok pagi juga bisa, sekarang aku lapar," omelku dengan suara tertahan.


Ia baru menyadari setelah semeter mendahului lalu melirikku dengan tatapan ragu. "Kau tidak apa?" Teriaknya sambil berlari cepat ke arahku.


"Hmm!"


Ia berjongkok menghadapi. Memberikan sensasi ke-tampan-an dan ke-keren-an yang merupakan modal utamanya. "Ma-maaf, apa kau butuh sesuatu?"


"Iya, makan..." tegasku.


Ia terdiam beberapa lama seperti menunggu sesuatu. Matanya memicing seolah mengisyaratkan pertanyaan yang lain.


"Apa?!" Sahutku kesal. "Kenapa kau begitu?!"


"Ahh... tidak-tidak, Bel. Bukan begitu. Dulu biasanya berakhir dengan tawa dan kau bilang hanya bercanda."


Mulai mengesalkan, kurasa. Aku sedang tidak enak hati, kenapa harus tertawa? Kuangkat kaki berdiri, "Mending aku pergi!"


"Tunggu!" Hentinya sambil menarik tanganku. "Kau mau apa? Pasti kuturuti... Kau lapar? Ayo, kita makan!"


"Nggah usah!"


Aku sudah kadung kesal dan marah karenanya. Kutengok Bang Syaif berdiri mematung di belakang kami. Ia berbeda saat bekerja. Diam, kaku, tak senyum sama sekali.


"Apa Bang Syaif akan seperti itu? Kau apakan dia?"


"Dia pengawal pribadiku, Bel. Memang seperti itu dari dulu. Tegas dan tepat dalam pekerjaannya."


"Ohh..." kulirik ia sebentar dan saat pandangan kami bertautan, segera ku buang muka menghadap pantai yang indah di depan.


Pantai ini dekat dengan hotelnya tinggal. Hotel mewah bintang lima tentunya. Di sepanjang pinggiran terjaja penyaji kuliner aneka olahan seafood hasil para nelayan. Tapi entah kenapa ia tidak menawariku satu cafe-pun diantaranya.


Tiba-tiba dia duduk di sampingku. "Apa kau marah? Kenapa kau kabur? Apa yang salah denganku? Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku..."


"Stop?" Hentiku sambil mendelik marah kepadanya, "Nyerocos kayak nggak ada jeda aja. Kalau kau tau aku kabur, harusnya kau tidak mencariku. Bukannya di sebelahmu sudah ada Elisa? Si cantik itu..."


"He he he..." Dia terkikik lama, "Jadi, kamu marah karena itu? Karena Elisa?"


Mukaku merengut mendengar ia tertawanya. "Kenapa ketawa?"


"Kamu cemburu?"


"Jangan aneh, deh. Apa hak-ku untuk mencemburui kalian. Memang siapa aku, aku tau diri lah. Udah gak usah bahas lagi, kesel jadinya..."


"Kamu pantas cemburu, Bel. Karena aku pernah menyukaimu, kan?"


"Heh?! Pernah menyukai kau bilang! Mendingan kamu kembali ke hotel, karena jam makan siangku habis sia-sia. Sekarang aku lapar dan harus balik kerja. Suka banget nyiksa orang!" Omelku kesal dengan rentetan kalimat yang panjang.


Kubawa langkahku pergi, tak peduli teriakannya memanggil namaku untuk berhenti. Saat aku berpapasan dengan Bang Syaif, semua melambat seketika. Aku berdiri menghadapnya dan menatap matanya.


Kami seolah membatin satu sama lain. Tatapannya seperti mengisyaratkan agar aku baik-baik saja dan aku menganggukkannya. Berterima kasih atas apa yang dilakukannya di masa lalu. Entahlah, aku tak pernah bisa menolaknya.


____________________


"Nih, makan! Awas, udah dingin!"


"Makasih, Yan. Kok tau sih aku belum makan siang..." kataku dengan mulut penuh mie.


Di usap pelan sudut bibirku. Membuatku kikuk dengan perhatian yang tiba-tiba. "Kenapa?"


"Aku gak pernah tau masa lalumu?" Mendadak dia berdiri dan mentoyor kepalaku, "Jangan lupa, mie ayam 15rb potong gaji!"


Ku tepok jidatku pasrah, "Astaga, Pak Bos!"


"Kau pikir dapat gratisan? Untung gak ku kasih ongkir!"


Kamipun tertawa lepas beberapa saat.


Kutarik nafas, "Makasih ya!"


"Apalagi?"


"Karena tidak banyak bertanya..."


"Aku sudah cukup puas menjadi bagian masa sekarang mu, he he he"


Kuhabiskan makan siangku cepat, sebelum kulihat Darian mengendap-endap masuk ke dapur dari arah pintu belakang. Ditangannya ada piring dan sendok.


"Ngapain, Darian?" ucapku sambil memulas bibir yang belepotan saos mie.


Ia hanya nyengir dan menunjuk bakul nasi, "Mau itu..."


"Mau makan?"


Bocah tambun itu mengangguk cepat. Kalau Wayan tau, dia pasti sangat marah. Adiknya bisa 4-5 kali makan dalam sehari.


"Udah bilang Tante belum?"


"Belum! Tolong dong, Kak Bela!" pintanya dengan mengiba. Mengeratkan dua tangannya untuk memohon. Kasihan nih, bocah.


"Ya, udah! Sini piringnya..."


Kuambil piring dari tangannya dan ia bahagia dengan segera. "Ini... Makan cepat sebelum Kak Wayan datang!"


Dia mengangguk dan mulai menelan. Lehernya bergoyang-goyang secepat ia memasukkan sendok penuh nasi ke dalam mulutnya. Pandangan ku tertuju pada liontin yang bergerak maju mundur di lehernya.


"Kalung apa ini?" Kataku menarik kalung itu pelan di tangan, sambil menamatkan ukiran-ukiran indah yang menghias besi tua itu.


"Oh ini..." Diambilnya liontin dari tanganku lalu membukanya. Terdapat foto wanita cantik dalam bingkai kertas yang telah memudar warnanya. "Ini ibuku, Kak!" Ucapnya bangga.


"I-ibu?" Kutamatkan wajah itu sejenak.


"Iya, dan ini ayahku..." Tunjuk pada bingkai sebelah kanannya. "Cantik dan tampan kan?"


Aku mengiyakan dengan senyuman. Tapi keduanya tampak berbeda dengan foto keluarga yang Wayan punya. Wajahnya berbeda. Ku amati dengan seksama. Iya, benar-benar berbeda. Kok bisa? Mereka kan bersaudara?


___________________


Ahhh~


Aku menggeliat erat sambil memeriksa kotak pos-ku. Kulihat ada surat baru.


Berkirim kabar sudah menjadi jadwal harian yang tak terlewat dengan Emakku tersayang. Maklum Emak gaptek buat vicall-an. Aku bukan anak durhaka yang meninggalkan rumah begitu saja.


Aku tau Emak tinggal bersama Anuca karena aku yang memintanya. Sebelum aku pergi, aku meminta Emak untuk tinggal di istana Dihardja dan merawat Anuca sampai papa kandungnya keluar dari penjara.


Semua informasi yang terjadi di kehidupan yang kutinggalkan, dari Emak ku tau semuanya. Mengurut dari hubungan Alex dan Elisa, Bang Syaif keluar penjara, hingga urusan sidang Putri dan Nuca.


Karenanya aku tak begitu kaget melihat Bang Syaif di sana. Meski ia tampak jauh berbeda. Hanya aura keseksiannya yang lebih luar biasa.


"Hallo, Her!" Kuangkat sambungan telepon seluler dari Hera.


"Iya, aku masuk hari ini. Ada apa?"


_____________________


Suara dentuman musik sang Di bersahut-sahutan membuat riuh suasana club malam. Ku tengok Hera yang sedang melayani tamu.


Wanita secantik Hera seharusnya hidup bahagia dengan pacar yang kaya raya. Seperti dongeng cerita. Sayangnya, Pretty Women hanya ada dalam film.


Setelah selesai bercumbu singkat, ditambah pegang dan remas sana sini, ia pun kembali ke pos dekat meja bartender.


"Bagaimana?" Tanyaku meminta kejelasan.


Ia mendekat lalu membisik ke kupingku, "Si Bos Jakarta datang lagi, dia tadi mencarimu... Tapi kamu belum datang!"


"Lalu kau bilang apa?"


"Dia tanya alamat rumahmu. Kayak ya kamu mesti hati-hati deh, Bela!"


"Iya, besok aku ngekos dekat cafe."


"Segera, Bel. Dia jahat, Bel. Sado masokis!"


"Heh? Sado masokis?"


"Suka main kasar kalau ngena-ngena, Bel. Ihh, culun amat seh kamu..."


"Kemarin bilang paraphilly sekarang masokis... Tau ah, berat amat pelajarannya!"


"Tapi..."


"Iya, aku bakal menjauh darinya... Meski sepertinya sulit untuk sekarang..."