Love on Revenge

Love on Revenge
Episode 6



"Kerja cuma nyupir kok enak minta dibekalin segala. Emang dia yang punya rumah apa? Lama-lama belagu nih orang...," omelan Bi Inah bisa kudengar meski jarak kami berjauhan. Bagaimana tidak, suaranya kayak mercon banting, merepet kemana-mana.


Ia marah dan kesal ketika Alex meminta menyiapkan bekal makan siang untukku. Alex berpikir agar aku dapat menjaga kesehatan lebih baik dan tidak telat makan lagi. Perhatiannya sih baik. Cuma karena ditujukan khusus untukku mungkin bisa bikin Bi Inah cemburu.


Langkahku setengah berlari menyiapkan tas jinjing Non Anuca. Ia membawa berbagai buku dan perlengkapan karena akan keluar seharian. Akan ada les matematika, les piano, dan les-les lainnya.


"Non, Kak Abel siapkan dulu ya. Sebaiknya Non Abel habiskan sarapannya dengan baik," saranku padanya.


Aigh~


Suara omelan Bi Inah tambah kencang kudengar. Ia mulai membanding-bandingkan pekerjaanku yang tidak luar biasa. Ia mencibir tepat di depanku. Sepertinya niat banget ingin menghinaku.


'Hmmm Bi, kalau gak tuanmu yang minta, aku juga gak akan minta makan, beli di luar juga bisa!' batinku kesal.


Setelah keluar dari rumah sakit kondisiku memang tidak seratus persen seperti biasanya. Karenanya Alex meminta Bi Inah menyiapkan bekal untuk aku dan Non Anuca. Jadi saat menunggu Nona pulang, aku bisa beristirahat dan makan.


Tapi, sumpah!!


Ogah banget kalau itu yang nyiapin Bi Inah. Masih enakan masakan emak kemana-mana. Tapi ngomelnya membahayakan, bisa jadi saking bencinya padaku dia menaruh racun dalam makanan yang dibuatnya.


"Udah Bi. Siapin buat Non Anuca aja. Cepetan! Jangan kebanyakan ngomel, Emak bukan, Tante bukan, berasa kayak anak tiri diomelin muluk," ganti aku yang tak sabar.


"Ohh jadi udah berani ngejawab ya sekarang. Kamu sendiri siapa minta dibawain bekal. Berasa nyonya rumah ya?"


Kubanting botol minuman Non Anuca di depannya karena kesal. "Cerewet banget. Udah siapin aja buat Non Anuca. Soal Tuan Alex bakal kubilang kalau masakan Bi Inah enak bangeeettt!" geregetku menahan kesal.


"Siapa yang bikin bekal enak banget?" Alex muncul mengagetkan kita berdua. Bi Inah salah tingkah. Ketakutan melihat pandangan mata Alex yang menyorot tajam.


Aku berusaha terlihat pura-pura tidak mendengarnya. Kuambil kotak bekal yang dipegang Bi Inah. Ia tampak terdiam dan menunduk pasrah.


"Siapa, Bel?"


"Ah, enggak kok. Gak ada apa-apa, Tuan. Bi Inah sedang sibuk nyiapin bekal buat Non Anuca. Sebentar lagi beres, Tuan," sahutku membelanya.


"Bukannya saya minta Bi Inah nyiapin bekal buat Abel juga. Segera lakukan dan berhenti bicara. Sekarang!" perintahnya sambil menarik tanganku keluar.


Kuikuti langkahnya dengan gelagapan. Ia terus menarik tanganku meski telah kucoba melepaskannya.


"Tuan... Tolong berhenti!"


Dilempar tanganku sambil berbalik melihatku dengan pandangan marah. Apa salahku coba?


"Jangan coba belain Bi Inah. Kalau emang dia ngbully kamu lagi, beritahu aku!"


"Tuan Alex yang saya hormati. Saya tau diri siapa saya, Tuan. Gak mungkin lah saya berlindung dibalik ketiak Tuan Muda... Apa kata Bu Inah dan semua penghuni rumah, coba?"


"Bel, hidupmu sudah terlalu sulit. Bisa tidak kau biarkan aku meringankannya..."


Ingin aku tertawa keras mendengarnya mengucapkan itu dengan mimik muka seriusnya. "Tuan Alex, aku udah biasa diginiin orang. Tenanglah, aku tidak akan menyerah."


Digenggamnya kedua tanganku lalu kembali memberiku tatapan itu. Tatapan seperti terakhir kali di rumah sakit. Jantungku berhenti berdetak. "Please, biarkan ku membantu."


Kulepas genggamannya cepat sambil celingukan ke kiri dan kanan, "Iya... Iya beres. Aku pergi dulu, Tuan. Sudah telat."


Lariku menghindarinya. Berlalu menuju ruang tengah. Kutarik tas bekal Nuca dengan cepat tanpa memperhatikan muka Bi Inah yang mungkin kesal setengah mati. Segera kuberlari ke garasi, menyiapkan mobil, dan menunggu Nonaku sayang.


Setelah lima belas menit menunggu tak kurasa tanda-tanda kedatangan gadis kecil berponi lucu itu. Biasanya dia akan memanggilku, 'Kak Abeeel,' meski ia masih di selasar.


Rambutnya mengembang terkena angin. Tubuh mungilnya tampak imut dengan gaun balon warna pink dan hiasan bando kesukaannya. Ditentengnya tas panda dengan segan. Mukanya pucat. Baby sitter mengapit lengan kecilnya nampak biasa saja.


"Non Anuca, kenapa Mbak?"


"Gak apa-apa tuh!" seru baby sitternya sambil menyiapkan keperluan Nuca di dalam mobil.


"Non Anuca sakit?" tanyaku merendahkan tubuh seimbang dengan matanya.


"Kepala Anuca pusing, tadi sudah bilang sama mbak, Anuca mau di rumah, tidur aja. Tapi Mbak gak bolehin."


Kupeluk gadis kecil itu dengan iba. Di rumah ini pembantunya pada songong semua apa ya, kesalku. Mana ada asisten rumah tangga bisa dengan acuh memperlakukan juragannya. Baby sitter Anuca terutama. Aku pernah melihat dia dengan lancang memarahi Anuca yang tak sengaja menjatuhkan botol minumnya. Nonaku yang seharusnya jadi juragannya malah jadi takut dan tidak berani bergerak.


______________________


Kuantar Non Anuca masuk kelas. Baby Sitternya pun ikut mengantar di depan gerbang. Setelahnya dia akan bergabung dengan kumpulan baby sitter lainnya di gerbong bakso depan sekolah sambil nongkrongin OB yang ngantor di sebelah.


Aku bersantai di dalam mobil. Kumpulan driver lain biasanya memilih untuk sekedar ngopi di warung. Tapi karena hanya aku driver perempuan, jadi aku tak pernah memilih bergabung dengan mereka.


Kurogoh saku bajuku dan mendapati kartu nama Nuca. Langit yang mendung seolah menjadi cerah saat kukenang pertemuanku dengannya. Meski masih meninggalkan tanya. Kenapa dia memintaku untuk berhenti kerja.


[ Bagaimana?]


Kubaca pesan Nuca berkali-kali. Hampir tidak bisa kuputuskan. Karena aku sendiri tidak merasa ada masalah dengan Alex dan keluarganya. Apalagi nonaku sayang bila kutinggal, aku yakin dia bakal jadi bulan-bulanan seperti yang dulu ia ceritakan.


Gadis manis itu seperti boneka kaca yang dipajang dirumahnya. Dirapikan, dibersihkan, dipenuhi kebutuhannya, namun tidak pernah diperhatikan. Semua yang dibutuhkan akan diberikan tapi tidak ada yang memberikan kasih sayang yang merupakan kebutuhan dasar bagi si kecil Anuca.


Keluarga Alex memang aneh. Mereka hanya hidup untuk bekerja. Alex bahkan bisa menghabiskan 28 jam sehari kalau perlu, untuk bekerja. Pak Dihardja hampir tak pernah kulihat bersantai di rumah. Tapi tidak ada yang salah. Mungkin karena tidak ada waktu saja. Mereka hanyalah sekelompok manusia yang sibuk memikirkan dirinya sendiri dan itu wajar di dunia yang hedonis ini.


tit... tit...


Pesan Masuk.


[ Dimana? ]


Kuawas pada nama yang tertera dilayar ponselku. Si Bungkus Kacang.


[ Blue Marion ]


Blue Marion adalah kawasan perkantoran dan apartemen tempat Non Anuca sekolah.


[ Sudah diputuskan?]


[ Belum ]


[ Bisa ketemu? ]


Kuterdiam lama membacanya. Mengingat apa yang dilakukan Alex untukku kemarin dan bagaimana hubungan kami menghangat sekarang, sangatlah tidak adil kalau aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Apalagi, entah apa namanya! Saat dia menciumku. Aku merasa telah separuh nyawa terbang menikmati itu.


[ Nanti kukabari ]


______________________


Suasana cafe cukup rame. Beberapa orang berkumpul bersama teman sekedar untuk makan siang. Pasangan yang berdebat mengenai rasa makanan. Food Blogger yang meriview makanan. Dan aku duduk kikuk dalam diam. Tidak biasa aku nongkrong di tempat yang mahal.


Kutengok jam, hampir setengah jam menunggu. Mungkin dia sedang balas dendam akan kejadian waktu itu. Aku tersenyum mengingat itu. Ya sudahlah, kupesan saja makanan yang ada di daftar menu dengan nominal paling murah.


"Sudah lama?"


Aku mendongak kaget dan melihatnya disana. Nuca dengan gaya yang berbeda. Setelan perlente bak eksekutif muda. Jas hitam ketat yang dibalut kemeja abu yang maco. Pakaian itu membuatnya nampak bersahaja dan dewasa. Diambilnya kursi lalu mendudukinya. Kemudian sibuk dengan ponselnya, berbicara dengan bahasa cina yang cukup fasih menurutku. Hampir dia tidak memperhatikanku.


"Kalau kau sibuk, kita bisa bicara lain kali?"


Aku mulai khawatir menganggunya. Sepertinya dia menjadi orang hebat sekarang. Tapi dia mengacungkan tangannya menyuruhku menunggu. Aku pun mengiyakannya dan kembali duduk dalam kursiku.


Setelah dia menutup telponnya kami pun berbicara membahas banyak hal namun tidak ada satupun menyangkut soal pekerjaan. Dia memesan banyak makanan dan bercerita mengenai masa lalu. Mengenai hidupnya dan hidupku.


Aku tidak pernah selancar itu berbincang dengannya. Si bungkus kacang itu terlihat kesepian dan baru menemukan tempat curhat, yaitu aku. Banyak hal tabu yang terlontar vulgar dari mulutnya seperti sedang berceloteh dengan teman lama. Kami tidak sedekat itu. Hubungan kami hanya sebatas vidio bungkus kacang yang viral. Tapi melihat bagaimana kami berbincang sekarang, rasanya seperti teman lama yang kangen-kangenan.


Aku bahkan menggodanya beberapa kali. Entah darimana kami bahkan membahas mulai dari tanggal lahir sampai golongan darah. Dia sebagai Si AB yang kaku. Berbeda denganku yang ceplas ceplos layaknya golongan darah B. Lalu menyebutkan isi primbon atas sifat dasar kami sesuai yang ku searching di google.


Kami seolah terbebas dari waktu. Terlena oleh masa lalu. Mungkin jika pembicaraan ini berlanjut kami mungkin akan membahas nomer rekening sekaligus nomer KTP.


He-he-he, kekehku lucu dalam hati.


Tapi, aku sangat kaget saat seseorang menarik tanganku.


"Ngapain disini?" teriaknya padaku. Ditariknya tanganku hingga aku terpaksa berdiri. Meja bergetar ketika tanganku terpaksa mencari pegangan.


Alex terlihat marah dan kesal. Anehnya, sikapnya itu justru membuatku khawatir. Melihatnya bisa di sini membuat aku terkejut sekali. Bagaimana dia bisa menemukanku disini?


"Lepaskan dia Lex!" tarik Nuca pada tanganku yang satunya. Ia berdiri menantang dengan beradu pandang. Mereka seolah perang dalam dunianya sendiri.


"Kau tidak berhak menganggunya, mengerti?! Ayo kembali!" perintah Alex yang menarik tanganku lebih keras lagi. Aku hampir terpelanting karenanya.


"Alex tunggu!" selorohku melepaskan diri. Kulempar tangannya keluar sambil meringis kesakitan. "Aku sudah bilang kan aku ijin sebentar. I-ni...!"


Tapi Alex mengindahkanku. Tetap kekeh menarik tanganku meski Nuca menahannya. Bahkan mereka sempat beradu sengit dengan bahasa Inggris yang tidak kupahami. Yang terjadi mereka saling tarik menarik dan menggunakan tanganku sebagai talinya. Sakit sekali!


Hingga akhirnya hampir Nuca mengepal tangan akan memukul Alex. Mulai kewaspadaanku meninggi.


"Cukup Nuca!" leraiku.


_____________________


"Ada apa denganmu?" ungkapku dengan marah.


Bagiku yang mereka lakukan sungguh kekanak-kanakan. Saling berebut seperti aku adalah manisan dikala lebaran.


Untuk apa pula mereka berkelahi sekarang, demi Elisa? Atau apa?


Aku yakin mereka hanya ingin melampiaskan ego masing-masing. Tidak cukup meng-GR-kan kalau mereka beradu karena aku.


"Anuca sakit. Dia mengigau mencarimu."