
sepulang dari kampus Via menunggu Oliver di tempat parkir.Karna Oliver harus menyerahkan beberapa tugas ke dosen jadi memerlukan sedikit waktu lebih lama untuk Via menunggu.
"ckk.. kakak lama banget sih! nggak tau aku lagi laper apa ya!"gerutu Via dengan kesalnya.
nggak jauh dari Oliver memarkir mobil, terlihat sekelompok laki-laki yang dihajar Oliver sewaktu dikelas tadi..
"bos! lihat itu kan si cantik tadi.gimana kalau kita beri pelajaran karna kakaknya sudah memukuli kita sampai seperti ini." ucap emel
"ide yang bagus. kebetulan ditasku ada obat bius " ucap Brian sambil mengeluarkan obat bius dan sapu tangan dari dalam tas nya.
"kalian tunggu sebentar. biar gue yang beresin dia" ucap Brian dengan penuh percaya diri.
Brian dengan diam-diam mendekati Via dari belakang. terlihat Via yang sedang terlihat kesal karna menunggu terlalu lama. tiba-tiba..
"hmmm..." Via dibekap dari belakang dan membuatnya sulit bernafas hingga pingsan karna pengaruh obat bius.
"woyy ngapain diem aja! cepet bantu gue bawa dia ke mobil" perintah Brian
" ok..siap bos " ucap emel dan tristan serentak
(notif:Brian adalah putra bungsu dari perusahaan Bintang corporation sedangkan emel dan tristan merupakan anak dari salah seorang anggota direksi diperusahaan tersebut. karna sifat nya yang buruk dia selalu berpindah pindah universitas)
emel dan tristan mengangkat ViA masuk kedalam mobil. Elisa yang melihat dari kejauhan berusaha menghentikan mereka.
"woyy kalian berhenti! mau kalian bawa kemana Via" teriak Elisa.
"sial. cepat kita pergi dari sini!" perintah Brian.
"berhenti!" menggedor kaca mobil. tapi mobil tak juga berhenti malah melaju dengan cepat.
" aduh gimana ini? Via dalam bahaya!" gumam Elisa panik sekaligus kawatir.
" oh iya Oliver. aku harus cepat cari Oliver" bergegas lari mencari Oliver disetiap ruangan di kampus.
"eh.. maaf kamu liat Oliver nggak?" tanya Elisa pada salah seorang mahasiswa..
" oh. iya aku liat! tadi dia baru aja keluar dari ruangan pak dante . mungkin sekarang dia pulang" jawabnya.
"baik, terima kasih" Elisa berlari kembali menuju parkiran untuk mengejar Oliver.
"nggak tau tadi nanyain Oliver!"
" oh cowok yang kayak patung itu ya. iya sih ganteng tapi muka nya itu loh nggak ada ekspresinya"
begitulah percakapan beberapa mahasiswa yang bingung melihat Elisa terburu-buru. sesampainya di basman Elisa sesegera mungkin menghampiri Oliver.
" woyyy gunung es..hah..hah..hah.."ter engah-engah
"ngapain kamu disini?" datar.
"tadi ..hah.. aku..hah.. liat Via diculik!" ucap Elisa.
sontak Oliver kaget dan hendak langsung memasuki mobil.
"heh tunggu. emang loe tau siapa yang nyulik Via? saya yang tau jadi saya harus ikut" paksa Elisa.
" terserah "
Elisa memasuki mobil. betapa kagetnya dia melihat beberapa alat canggih di mobil Oliver.
"ini alat apa?" bingung karna sebelumnya dia tidak pernah melihat alat seperti ini
" diam aja kamu" kesal
" ok saya diam!" cemberut.
" siapa yang nyulik Via?" serius sambil menytir dengan cepat.
Elisa hanya diam tak menanggapi perkataan Oliver.
" kamu budek ya? atau tuli?" kesal
" tadi kan kamu yang nyuruh saya diam! giliran saya diam, kamu yang marah! dasar gunung es" maki Elisa.
" apa katamu!aargh sudahlah " menahan amarah.
Oliver menyalakan alat pendeteksi gps yang terpasang dianting-anting Olivia. anting-anting Olivia sengaja didesain oleh charles untuk melindunginya. mengingat banyak musuh yang mengincar keluarga charles terlebih setelah Tian mengambil alih menjadi pimpinan geng mafia yang sudah dibangun oleh charles selama puluhan tahun.