
" tapi apa kakakmu tidak apa-apa? apa mereka akan membuat masalah lagi?" ucap Elisa dengan penuh kekawatiran.
"sudah jangan dipikirkan. aku baik-baik saja kok!" tersenyum polos.
"hmmm baiklah "
jam istirahat berbunyi..
Olivia mengajak Elisa makan bersama dengan Oliver.suasana begitu canggung, Elisa juga enggan untuk bertanya 'apa Oliver tidak terlukA!' hingga tanpa sengaja dia melihat jika tangan Oliver membiru.
"astaga tanganmu sampai biru brgitu!" kaget dan menarik tangan Oliver tiba-tiba.
"ini bukan urusan mu !" datar dan menarik kembali tangan nya.
Elisa bangun dari duduknya dan menghampiri ibu kantin untuk meminta air dingin untuk mengompres tangan Oliver.beberapa saat kemudian Elisa kembali dengan membawa sebaskom air.
"ini air buat apa El?"via merasa bingung.
"kemarikan tanganmu !" tegas.
"tidak perlu!" menolak dengan tegas.
"aku bilang kemarikan!" bentak Elisa.
"ihh kalian kenapa berantem sih! kakak nurut aja deh apa kata Elisa!" melerai dan coba membujuk Oliver.
"hahhh.. baiklah" menyerahkan tangan nya yang lebam.
"nah gitu, dari tadi kek" tersenyum.
Elisa mulai mengompres tangan Oliver dengan hati-hati.sesekali Elisa melirik wajah Oliver.terlihat jelas jikA Oliver menahan rasa sakit dengan menggigit bibirnya.
" jika kamu menggigitnya terus,itu akan membuatmu terluka" ucap Elisa dengan santai.
"memang apa yang aku lakuin,"mengelak dengan ketus.
" hahh sudahlah . nah sudah selesai Mr.gunung es"
"wah kalian serasi ya" tanpa sengaja berbicara dengan tatapan bahagia.
"tutup mulutmu!" ketus.
"hmmm bilang terima kasih dong pada Elisa "
"ya. terima kasih " pergi karna malu.
"apa kakakmu selalu begitu Via?" bingung melihat kepribadian Oliver.
"Via.tumben adikmu tidak datang ke kampus" heran karna mereka selalu bersama.
" oh Lean. dia sedang mengurus perusahaan Ayahnya!dan dia mengambil kuliah Online" jelas Via
"masih begitu muda sudah punya perusaan sendiri "kagum
"hah itu hal biasa karna om marcel sibuk mengurus perusahaan ayahnya tante Anas. jadi memberikan semua kuasanya pada Lean" jelas Via dengan sangat rinci.
" hmmm Elisa gimana kalau nanti aku main kerumahmu, boleh kan? " berbinar binar.
"ok" tersenyum.
hari berlalu begitu cepat.pekerjaan yang tertunda beberapa hari satu persatu sudah diselesaikan Lean dengan sangat baik.
Lean merebahkan badan nya di sofa dan mencoba memejamkan mata untuk sesaat. tapi tiba -tiba..
tok..tok...
terdengar suara pintu . " masuk " teriak Lean.
Lean bergegas duduk di kursinya kembali.
" permisi pak. saya mengantar pak randel untuk menemui bapak !" ucap deny dengan profesional.
" halo keponakanku sayang" sok akrab dengan tatapan menghina dan tertawa yang dilebih lebihkan.
"ada apa paman kemari !" datar.
" aduh jangan dingin gitu dong. kan paman kecilmu ini hanya ingin menyapa keponakan tersayangku ini " santai.
" sudah selesai kan menyapa nya! jadi paman boleh bergi !" tegas.
" aduh du du.. jangan galak-galak jadi orang. ntar cewek-cewek pada takut loh " Menghina dengan Halus.
" kalau begitu saya pergi dulu paman! ini sudah waktunya pulang kerja " langsung keluar tanpa memperdulikan Randel.
" deny , tolong antar pamanku keluar ya. aku pulang dulu " berusaha tenang.
" mari pak saya antar anda!" ramah.
" ckk.. nggak usah! saya bisa sendiri."kasar
"baru jadi presiden direktur aja udah sombong. lihat saja nanti, aku bakal rebut semuA ini hahahaha" batin randel dengan tertawa jahat.
" apa orang ini gila ya " bingung karna tiba -tiba tertawa