
Frans hanya tersenyum melihat anaknya bercerita tentang pengalaman pertama di sekolah baru.
"papa!!" panggil Elisa dengan tatapan kesal.
" kenapa nak? mau nambah lagi? sini papa ambilkan!"
" ahh papa nyebelin. dari tadi Elisa cerita tapi, papa cuma senyum-senyum doang.. huhhh!!" kesal.
" maaf sayang. papa cuma bahagia, kamu bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru.karna papa sering dipindahkan tugas, kamu jadi sering pindah sekolah. tapi, sekarang ini adalah yang terakhir dan kita akan menetap disini untuk waktu yang tidak bisa di tentukan " jelas Frans karna merasa sangat bersalah pada putrinya.
" gakpapa kok pah. Elisa bahagia bisa terus temenin papa"tersenyum
" hmmm kalau benci sama cowok jangan berlebihan ok. jangan sampai kamu jatuh hati pada sembarang orang !" memperingati Elisa.mengingat Frans punya banyak musuh .
"iya pah, Elisa mengerti"
*dirumah Marcel*
Lean dengan hati-hati berjalan masuk menuju kamarnya. dia tak ingin terus-terusan di intimidasi oleh Marcel untuk mengelola perusahaan nya.
kreekkk..
Lean membuka dan menutup pintu dengan sangat pelan.
" Ayahhhh!!!!! kakak sudah pulang !!" teriak Elias (Elias Ahn . anak kedua marcel dan anas.umurnya 5 tahun tapi dia sangat disayang oleh Anas sebagai anak bungsu.)
" syuuuttt..." segera menutup mulut Elias
"hmmm..hmmmm " berusaha melepaskan tangan Lean.
" kakak lepasin tapi, kamu harus diam. mengerti!"
Elias mengangguk mengerti. Lean srgera melepaskan tangan nya dari mulut Elias.
" huhh kakak jahat! aku aduin kakak sama mama liat aja nanti " keluar kamar dengan kesal.
" ehhh tunggu bocah tengik! mau kemana kamu!!" mengejar Elias tapi,
BRUKKK..
Lean menabrak sesuatu. Ia mendongak keatas dan betapa kaget nya dia melihat..
"hehehe Ayah. Ayah udah pulang " mundur pelan-pelan
" ett tunggu!" menahan tangan Lean.
" Ayah..Ayah .." menarik baju Marcel
" masa, kakak tadi bilang Ayah jahat katanya terus terus mulut aku di bekep sampe merah! kayak gini " menunjukan tanda merah bekas tangan Lean.
" Lean!!!" GROARRRR amarah Marcel membara
" nggak gitu yah, Elias jangan bohong sama ayah " ucap Lean takut
" huhuhu kakak nggak sayang Elias " berpura-pura sedih dan membuat Marcel tidak tega.Marcel pun menggendong Elias dan menenangkan nya.
" awas aja kamu bocah tengik !"
" apa kata mu Lean! kamu harus mengurus perusahaan mau tidak mau kalau kamu menolak ! semua fasilitas ayah cabut!!" tegas dan berbaik pergi.
dari punggung marcel terlihat Elias sedang mengejek Lean dengan menjulurkan lidahnya.
" aishhh..kenapa punya adek gini banget ya ..hahhh" menghela nafas panjang dan kembali masuk ke kamar.
Diruang makan Anas sedang mempersiapkan makan siang.Ia bingung hanya melihat Elias dan suami nya saja yang duduk di meja makan.
"sayang, dimana Lean?" bingung
"dia di kamar.. liat bibir anakmu yang lucu ini ! sampai merah gara-gara Lean !" kesal
" hmmm kamu ngisengin kakak ya!"
"nggak kok bunda" menunduk
" haihh sudahlah. kalian celat makan! bunda mau antarkan makan untuk Lean dulu " membawa nampan berisi makanan ke kamar Lean..
tokk..tok...
" sayang.buka pintu nya! ini bunda " teriak Anas
krekkk..
Lean membuka pintu dengan tampang Lesu.
" astaga! anak bunda kenapa?" bergegas masuk dan meletakkan makanan.
Anas mengajak Lean duduk di pinggir tempat tidurnya.
" bunda. apa boleh aku nggak ngurusin perusahaan !" memohon
" jangan begitu nak. kamu nggak kasian melihat ayahmu sudah sibuk mengurus bisnis alm kakek mu dan sekarang bisnis ayahmu sendiri malah keteteran. tolong mengertilah nak !" bujuk Anas