Little Bride

Little Bride
BAB 60



Farhan menyeringai puas, namun saat hendak berbalik badan, seketika seseorang menarik bajunya fan menyeretnya ke gudang kosong di sekolah itu.


Farhan meloetotkan matanya, ketika melihat pelakunya, ponselnya direbut oleh seseorang yang kini membawanya di sana.


"Lo diam di sini, sialan," ucap Brandon mendudukkan Farhan di sebuah bangku dan mengikatnya dibantu oleh Aldi.


Sedangkan Alfino, yang memang menjadikan Brandon dan Aldi anak buahnya saat ini, langsung memeriksa ponsel Farhan, membuat pria itu berteriak karena tidak ingin semua rencananya diketahui oleh semua orang. Namun, Alfino tidak terlihat takut sama sekali.


Alfino mengerenyitkan dahinya, ketika membaca semua rencana yang ada di setiap catatan dalam foto tersebut.


"Jadi, loe ada di tempat kejadian, waktu Arini meninggal dunia? Kejam banget loe ternyata, gue aja yang ketua geng motor ngeri bayanginya. Mana difoto lagi. Kalian mau lihat?,” ucap Alfino kepada Brandan dan Aldi.


Mereka segera mendekati Alfino, dan sontak menutup mulutnya ketika melihat jasad Arinj yang banyak darah, sengaja diabadikan oleh Farhan dan disimpannya.


“Jadi merinding gue sama loe, Han. Ternyata, selama ini gue sahabatan sama monster berwujud manusia seperti loe,” ujar Alfino menggelengkan kepalanya, menatap Farhan yang kini memandangnya dengan wajah menyeramkan.


“Nggak usah sok suci loe, loe juga sama jahat kayak gue,” ucap Farhan.


“Tapi gue nggak pernah bertindak kriminal kayak loe.”


“Lo gila, Han? Arini lagi mau logout gini, loe sempet-sempet nya foto. Cobak geser lagi, deh. Pasti nggak hanya itu aja,” ucap Brandon. Aldi yang giliran menganggam ponsel itu segera melakukannya. Bukan hanya di tempat kejadian, bahkan mayat Arini di foto juga oleh Farhan ketika berada di rumah sakit, tepatnya di ruang mayat.


“Bener-bener penguntit,” cetus Brandon tidak habis pikir.


Kembali Alfino mengambil ponsel Farhan dan mencari foto Elfaro dan Adira. Terlihat di ponselnya, semua rencana telah disusun rapi oleh Farhan.


“Motif loe kayak gini apasih Han?,” tanya Aldi.


“Uda gila loe, sampai mayat aja loe simpan fotonya,” ucap Brandon.


“Hahaha ini semua nggak ada urusannya sama kalian, nggak usah sok ikut campur bisa nggak?,” jawab Farhan.


“Nggak abis pikir gue sama loe, psikopat,” celetus Brandon.


Alfino segera mendekati Farhan, dan memukulnya langsung dengan keras, hingga pria itu tersentak dan merasakan sakit di pipinya. “Lo memang penjahat, Han! Setelah Arini mati, dan misalnya Adira juga, dan loe setelah itu akan ngincer Elfaro sama gue, gitu?!”


“Kalau Adira mati itu bukan urusan gue, lagian juga siapa sih yang mau celakai dia? Semua ini juga nggak sengaja kan, mana gue tau kalau pisau itu kena si Adira,” ucap Farhan santai.


“Lo emang uda sakit Han, sakit jiwa,” ucap Brandon sambil memukul kepala Farhan.


Lalu Alfino, membaca rencana Farhan untuk Elfaro. “Elfaro, direncanakan akan kecelakaan dan tidak tertolong, dengan rem yang sudah dijebol,” ucap Alfino.


Prankk!!!!


Alfino melempar ponsel Farhan hingga tidak tersisa, membuat Farhan menggelengkan kepalanya, karena sumber informasi yang ia dapatkan, selama ini dari sana. Bahkan Aldi dan Brandon juga tampak shock melihatnya. Bisa-bisanya Alfino menghancurkan ponsel Pria itu.


“Kayaknya, loe orang miskin, deh. Soalnya, ponsel loe udik banget, walaupun tampilan terbaru, sih. Semoga mampu beli ponsel lagi, ya?” Ejek Alfino menatap Farhan meremehkan.


Farhan terlihat geram, dan ingin sekali dia menyerang Alfino sekarang juga. Namun, kedua tangannya diikat dan tidak bisa memberontak.


Bel sekolah pun berbunyi sekarang waktunya pulang sekolah, akhirnya mereka bertiga melepaskan ikatan Farhan, karena bu Ida meminta Farhan dan Alfino membantu untuk acara pelepasan siswa dan siswi.


...****************...


“El! Ini kaki aku kok nggak bisa digerakin? Padahal, kan nggak lama koma nya. Juga yang ditusuk perut, bukan kaki. Kok, bisa gitu, ya?,” ucap Adira memperhatikan kakinya yang terasa sangat lemas.


Elfaro menunduk memperhatikan kaki Adira yang memang belum bisa digerakkan, karena masih kaku, disebabkan koma kemarin. “Butuh proses, Dir. Nggak apa-apa, kan ada aku yang selalu nemenin kamu.”


“Tapi, nanti kalau perpisahan sekolah, terus aku belum bisa jalan, kamu nggak malu?,” tanya Adira kepada Elfaro.


Elfaro mengusap kepala Adira dengan lembut, dia segera menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Mana ada malu, aku bahkan menerima kamu apa adanya, Dir! Sampai kapan pun aku akan jaga kamu. Itu janji aku, waktu kamu membuka mata. Aku bersyukur, kamu nggak ninggalin aku. Dan kalau sudah sadar, aku nggak mungkin melakukan hal memalukan itu.”


“Memangnya, kamu janji apa? Dan sama siapa?” tanya Adira dengan polos.


“Janji kepada diri aku sendiri, aku akan selalu ada untuk kamu. Apapun yang terjadi, bahkan kalau kamu butuh organ tubuh aku, untuk bertahan hidup, aku akan kasih langsung, Dir,” ungkap Elfaro dengan tulus.


“Nggak usah bilang gitu, El. Aku percaya sama kamu. Aku juga nggak akan pernah ninggalin kamu,” lirih Adira tersenyum manis.


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba dokter masuk dan memberitahu kabar baik untuk mereka.


“Selamat siang,” ucap dokter.


“Siang dok.”


“Ada kabar baik untuk kalian. Bahwa besok Adira sudah boleh pulang, hanya saja kakinya yang masih lemas akibat koma kemarin.”


“Allhamdulillah, terima kasih banyak ya dok sudah membantu istri saya,” ucap Elfaro kepada dokter.


“Iya sama-sama itu sudah tugas saya, kalau gitu saya pamit dulu.”


“Akhirnya kamu sudah boleh pulang.”


...****************...


“Selamat datang kembali di rumah kita,” ucap Elfaro senang.


“Aku besok mau langsung masuk sekolah El,” ucap Adira.


“Aku nggak setuju. Sebaiknya kamu istirahat dulu di rumah, kamu masuk pas hari perpisahan aja, lagian sekolah cuman tinggal besok.”


“Maka dari itu sekolah tinggal besok, jadi aku mau masuk di hari terakhir sekolah.”


“Tapi kan kamu masih sakit.”


“Aku kuat kok El, aku juga kangen sama Ica dan Aliya.”


“Yaudah kalau itu mau kamu, aku juga mau bilang ke kamu, kalau Arini sudah nggak ada dia sudah meninggal tertabrak truk.”


“Innalillahi, kasihan sekali dia, aku belum sempat minta maaf sama dia El.”


“Kamu nggak ada salah sama dia, Arini yang seharusnya minta maaf ke kamu.”


“Kita sebagai manusia pasti punya kesalahan El, aku juga uda maafin dia, semoga dia tenang di sisi Allah ya El.”


“Aamiin.”


...****************...


Elfaro dan Adira sudah sampai di sekolah, El mendorong Adira menggunakan kursi roda karena kakinya belum sembuh total, tapi banyak sepasang mata memperhatikan mereka dan berbincang soal mereka berdua.


“Hai Dir, akhirnya loe uda sembuh dan kumpul lagi sama kita,” ucap Aliya memeluk Adira di ikuti oleh Ica dan Zahra.


“Heh itu kenapa kok anak-anak pada ngomongin gue sama Adira,” tanya Elfaro heran.


Tiba-tiba ada Brandon dan Aldi yang menarik Elfaro untuk ke gudang belakang.


“Ih apaan sih lo,” ucap Elfaro memberontak.


“Ayo ikut kita ada hal penting yang harus lo tau,” ucap Aldi.


“Gue titip Adira sama kalian, jagain dia jangan sampai kenapa napa,” perintah Elfaro ke Zahra, Aliya dan Ica.


...****************...


Elfaro pun bergegas menuju gudang belakang. “Loe mau tau kenapa yang lain pada ngomongin loe sama Adira?,” ucap Brandon.


“Karena mereka sudah tau kalau loe sama Adira itu udah nikah,” jelas Aldi.


“Apa! Tau darimana mereka?.”


“Farhan yang sudah nyebarin ini semua.” Lalu Aldi menceritakan semuanya.


“Sialan, cari Farhan!,” perintah Elfaro.


Mereka pun mencari Farhan dan membawanya ke gudang.


“Sialan loe, pengecut loe,” ucap Elfaro sambil memukuli Farhan.


“Kenapa loe nggak terima?.”


“Banyak bacot loe,” Elfaro terus menghajar Farhan sampai dia tidak berdaya.


“Pengecut loe!. Bangun loe!”


“Ampun El, gue minta maaf.”


“Bacot, bangun sialan.”


“Udah El udah, kita ini besok mau perpisahan udahlah, toh bagus juga kalau mereka tau loe sama Dira uda nikah, jadi cowok-cowok nggak ada yang bisa deketin Dira lagi,” ucap Aldi.


“El maafin gue, gue tau gue salah gue minta maaf, besok hari perpisahan sekolah gue nggak mau lagi punya musuh El.”


“Bangun! Gue peringatin ya sama loe, sekali lagi loe sentuh Adira abis loe sama gue, kali ini loe gue maafin,” ucap Elfaro meninggalkan gudang.


Saat ini Elfaro dan Adira pun berada di ruang BK.


“Jadi kalian berdua beneran sudah menikah?,” tanya guru.


“Iya pak benar, kita di jodohkan oleh kedua orang tua kita,” jawab Elfaro.


“Kalian tau kan, kalian itu masih sekolah.”


“Iya pak, tapi kan sebentar lagi juga kita mau lulus, toh pernikahan kita juga nggak mengganggu sekolah kita.”


“Iya pak maafin kamu,” ucap Adira.


“Yasudah kalian kita maafkan, karena besok juga kalian sudah lulus, tapi kasus ini sekolah lain tidak ada yang boleh tau.”


“Baik pak.”


...****************...


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh seluruh siswa dimana mereka lulus dari SMA dan akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


“Hai Dir, hai El,” sapa Aliya.


“Hai.”


“Loe cantik banget Dir,” puji Ica.


“Kalian juga cantik kok.”


“Aldi sama Brandon mana?.”


“Tuh lagi sama ortu mereka,” jawab Aliya.


Acara pun di mulai, semua siswa mengikuti acara perpisahan dengan tertib. Saatnya pengumuman siswa yang mendapatkan nilai tertinggi saat ujian sekolah.


“Baik anak-anak kita akan memberi tahu siapa siswa yang mendapatkan nilai ujian tertinggi tahun ini. Dan yang mendapatkan nilai tertinggi jatuh kepada..... ELFARO!!!,” ucap guru itu.


Semua siswa pun bertepuk tangan, dan Elfaro pun naik ke atas panggung, guru pun memberikan penghargaan kepada Elfaro.


Elfaro pun menerima penghargaan yang di berikan oleh para guru. Dan dia pun mengucapkan terimakasih dan ucapan untuk semua siswa.


“Kamu hebat El,” ucap ortu Elfaro dan Adira.


“Iya mah, pah, terima kasih suda selalu dukung El.”


“Selamat ya sayang, kamu emang hebat,” ucap Adira.


“Terima kasih ya, ini bunganya buat kamu," Elfaro memberikan sebuket bunga cantik untuk istrinya. Adira hanya membalas dengan senyuman manisnya.


Acara pun selesai saatnya untuk berfoto-foto dengan keluarga. Adira dan Elfaro pun foto keluarga, setelah itu orang tua mereka berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan Elfaro dan Adira melanjutkan sesi foto berdua dan foto dengan teman temannya.


“Ayo kita foto,” ajak Aliya.


“Ayo.”


“Oh iya kalian mau lanjut kuliah dimana?,” tanya Ica.


“Kan kita uda pernah kasih tau Ca.”


“Oh iya lupa heheh.”


“Kayaknya gue sama Adira nggak jadi kuliah di Jakarta, kita berdua akan kuliah di Jogja.”


“Kalian serius?.”


“Iyalah serius masa boongan,” jawab Adira.


“ Kalau loe Al,” tanya Zahra ke Alfino.


“Gue bakal pindah ke luar negeri, gue akan lanjut kuliah disana.”


“APAA!.”


“Jauh banget Al,” ucap Zahra.


“Iya gue uda fix bakalan kuliah disana, semoga kita bisa ketemu lagi ya.”


Mereka pun berpelukan bersama untuk menikmati hari mereka yang terakhir kalinya, sebelum mereka berpisah untuk masa depan mereka masing-masing.


"Selamat tinggal ssmuanya, kalian jangan lupain gue ya," ucap Aliya.


"Kita nggak akan pernah lupa."


...-SELESAI-...


...****************...


Terima kasih telah membaca Little Bride sampai selesai, jangan lupa tinggalkan komentar kesan yang di dapat membaca 60 BAB Little Bride. 😊


Insyaallah besok akan ada novel baru yang berjudul The Sincerity Of Love, yang aku jamin lebih seru dari ini, jadi jangan lupa follow ya😚


Salam sayang


Irma