
Sesuai dengan janjinya, sebelum kembali ke Jakarta, Elfaro mengajak istri dan teman-temannya mengunjungi kebun stroberi. Elfaro terlihat romantis dengan memayungi Adira sepanjang berkeliling kebun stroberi. "Yang tadi malem masih sakit enggak Dir?" bisik Elfaro, agar teman-temannya tak ada yang mendengar.
Adira menggelengkan kepalanya. "Cuma tadi pagi aja sih pas bangun, sekarang udah enggak kok."
Elfaro tersenyum lega mendengarnya, pasalnya tadi pagi ia sempat khawatir melihat Adira terlihat meringis menahan sakit ketika hendak berjalan."Kalau nanti malem, aku mau lagi boleh enggak?"
Meski tadi malam terasa perih, namun Adira tak menapikan ada rasa bahagia yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, sehingga ia tak bisa menolak ajakan Elfaro. Adira menganggukan kepalanya malu-malu.
"YES!!"teriak Elfaro senang, hingga membuat teman-temannya menoleh ke arahnya.
"Kenapa loe El?" tanya Aldi heran.
"Habis menang lotre kali dia," celetuk Brandon.
Adira mencubit manja pinggang Elfaro. "Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, malu kalau sampe di dengar yang lain," bisik Adira.
"Iya, iya. Habis aku seneng banget sih."
Puas berkeliling kebun, Adira bersama dua kawannya Ica dan Aliya berbelanja berbagai olehan stroberi yang terdapat di store kawasan perkebunan, sementara para pria menunggu di mobil.
"Gue tahu, tadi malem pasti loe habis begituan ya sama Adira?" tanya Aldi, tanpa basa-basi.
Elfaro mengerutkan keningnya, mendapat pertanyaan yang enggan iya jawab.
"Kalau enggak begituan, loe sama Adira enggak mungkin bangun sesiang ini," lanjutnya.
"Ya begitulah," jawab Elfaro singkat.
Brandon menoleh ke arah jendela yang mengarah ke store, belum ada tanda-tanda para wanita keluar dari store. "Loe enak banget El, udah nikah sama Adira, bisa ngapain aja."
"Nikah enggak melulu soal cinta dan se* doang bro!" Elfaro menepuk bahu Brandon. "Ada tanggung jawab besar di dalamnya," ucap Elfaro.
"Setelah lulus ini gue sama Adira sepakat untuk tidak lagi minta uang jajan ke bokap nyokap kita, kita mau belajar mandiri jadi gue sebagai kepala keluarga harus bekerja keras. Dan loe lihat sendiri kan, kalau di rumah kita itu sama sekali enggak ada asisten rumah tangga, artinya semua hal kita kerjakan berdua, dan itu enggak gampang bro bagi kita berdua yang dulunya apa-apa sudah tersedia," terang Elfaro.
Aldi dan Brandon kompak mengangguk. "Iya juga sih," ucap mereka.
"Enggak gampang, tapi kita nikmati prosesnya," tutup Elfaro, bersamaan dengan di bukanya pintu mobil oleh Adira. "Pindah gih," ucap Adira pada Brandon.
Brandon pun turun dan pindah ke bangku belakang bersama Aliya. "Buset, banyak bener belanjaannya " ucap Brandon melihat tiga tumpuk kanntong besar belanjaan mereka bertiga.
"Buat cemilan di jalan sama buat oleh-oleh, bawel bener sih!" protes Ica.
"Iya nanti juga habis," sahut Aliya.
Setelah semua teman-temannya duduk dengan nyaman barulah Elfaro melajukan kendaraannya menuju Jakarta.
...****************...
Keesokan harinya, Elfaro dan Adira mengulangi adegan panas mereka sejak pagi tadi hingga siang, hal itu membuat Adira kelelehan dan tertidur dalam pelukan hangat Elfaro.
Sementara Elfaro justru tampak segar, ia memilih untuk bermain game di handphonenya sembari memeluk istrinya yang terlelap di dadanya. Di tengah keseruannya bermain game, tiba-tiba saja ia mendapatkan satu pesan dari Alfino.
“Apa apaan sih, brengsek nih orang nyari masalah aja,” gumam Elfaro dalam hati. Dengan gerakan lelan dan sangat hati-hati, Elfaro memindahkan tubuh istrinya ke tempat tidur.
Elfaro menyelimuti tubuh istrinya dan mengecup keningnya sebelum ia pergi menemui Alfino. "Aku pergi sebentar ya sayang," bisik Elfaro.
Tepat pukul 17.00 sore Elfaro sudah berada di sebuah gudang kosong, tempat di mana Alfino menyuruhnya datang. Di sana terlihat Alfino sedang berkumpul dengan teman-temannya, begitupun dengan Elfaro di temani oleh Aldi dan Brandon.
“Jadi ceritanya loe mau duel sama tuh kakak-kakak kelas kita?” ucap salah seorang teman Alfino.
“Kita enggak usak ikut campur, biarin aja si Alfino menyelesaikan masalahnya,” ucap teman yang lainnya.
“Tapi kalau Alfino kalah gimana? Loe tau sendiri kan si Elfaro jago beladiri?” ucap temannya yang khawatir.
“Ya baru deh kita bantu nanti kalau Alfino kalah,” jawab temannya lagi.
“Mau apa loe nyuruh gue kesini?” tanya Elfaro menatap tajam ke arah Alfino.
“Gue minta loe tinggalin Adira, karena gue enggak sudi liat loe sama Adira,” ujar Alfino, menatap Elfaro dengan penuh kebencian
“Hahaha enggak akan pernah,” jawab Elfaro sambil tertawa, rupanya Alfino belum mengetahui jika Elfaro dan Adira telah menikah.
“Gue tantang loe, kalau loe kalah loe harus tinggalin Adira,” ujar Alfino.
Sebetulnya Elfaro bisa saja tak meladeni ajakan Alfino untuk duel dengannya, karena mau menang atau kalah, secara hukum jelas Adira miliknya. Namun ini prihal harga diri Elfaro, dan ia tak ingin siapa pun mengganggu wanita yang ia cintai. “Siapa takut,” jawab Elfaro tak gentar.
“Alfino Alfino kayaknya lo niat amat mau berantem sama gue? masih belum bisa move on dari Adira ya? Makannya jadi cowok nggak usah sok laku pake acara mainin Adira segala sampai jadiin dia bahan taruhan loe sama temen-temen loe,” ujar Elfaro sambil melipat tangannya di depan dada.
“Sampe mati pun gue nggak akan pernah lepasin Adira,” lanjut Elfaro sambil menunjuk ke arah Alfino.
Alfino menatap Elfaro tajam, dia sudah tidak mau mendengar ucapan apapun. Sehingga ia lebih dulu menyerang Elfaro di bagian pertahanan. Yang belum sama sekali mengeluarkan pukulannya. Dia menatap Alfino, yang tiada hentinya untuk melumpuhkannya.
“Kan bener kata gue, kayaknya kekuatan mereka sebanding, deh! Lihat aja, nggak ada yang tumbang,” ucap teman dari Alfino.
“Tergantung, kalau mereka sama-sama kuat, jadi siapa yang paling cepat lelah dan lengah yang akan kalah. Kita lihat aja akhirnya.” Ujar Aldi ke teman Alfino.
Kini Elfaro mengambil langkah mundur, dia menendang perut Alfino hingga cowok itu berhasil tersungkur dan menyentuh lantai. Namun, Alfino tidak terlihat kesakitan sedikit pun. Ia kembali menyerang Elfaro lebih dekat dan menghantam wajah cowok itu dengan pukulannya. Elfaro meringis dan merasakan pipinya yang sakit.
Aldi yang menyaksikan hal itu sangat lelah, dengan kelakukan dua manusia yang tidak ada kerjaan sama sekali itu. Padahal mereka cukup pintar dan rajin, kenapa kali ini mereka nggak ada kerjaannya selain berantem.
“Heran gue sama manusia sekarang, bukannya bersyukur hidup tenang tentram, ini malah adu jotos. Biar ada kerjaan,” ucap Brandon merasa terheran-heran.
“Bukannya, Alfino memang sibuk dari kemarin? Makanya mau berantem, kan dia uda kebakaran jenggot ngeliat Adira sama Elfaro,” ucap Aldi.
“Loe sama aja, otak loe nggak berfungsi sama sekali. Sebaiknya loe diem,” ujar Brandon ke Aldi.
“Otak loe yang nggak berfungsi,” balas Aldi.
Kembali dengan keadaan Alfino dan Elfaro, yang sama-sama terluka sedikit, namun tidak berhenti melakukan perlawanan sama sekali.
“Kayaknya, loe memang punya dendam pribadi sama gue,” ucap Elfaro tersenyum miring dan kini menatap tajam Alfino yang tak gentar sedikit pun.
“Loe baru nyadar, bahkan gue tau loe juga punya dendam kan ke gue, sejak gue kasi tau ke guru-guru soal markas loe, disitu lo marah banget sama gue, dan loe nggak akan pernah maafin gue kan,” ujar Alfino.
Mereka saling memandang, dan mengeluarkan kekuatan masing-masing. Sedangkan yang lainnya, melihat hal itu bukannya seru, malah mengantuk karena kalau sudah membahas tentang perempuan dan sampai berantem seperti itu, maka masalahnya tidak akan selesai sampai di di sini.