
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Penyusup...
Itulah kata yang di teriakan oleh para SUHU ranjang di ruang kerja Tuan besar Rahardian Wijaya.
Ya, pagi sekali mereka sudah mengadakan Rapat orang ganteng dengan menculik Shaka yang baru pulang dari Hotel menuju Apartemennya.
Ada beberapa pria dewasa di tempat tersebut termasuk Daddy nya sendiri yang kini sedang memijit pelipisnya. Andai anaknya perempuan tentu ia tak akan mengalami hal seperti ini, ia cukup jadi team hip hip hore yang akan bersorak kesenangan.
"Lorong gelap, gitu maksudmu?" tanya Samudra dengan senyum jahilnya.
"Hem... entah. Tapi rasanya ANGET!" jawab Shaka.
OooooEmJiiiiiii
Teriakan ArXy yang paling keras tentu menjadi pusat perhatian, ia tergelak seolah tak pernah muda, atau mungkin justru ingin kembali muda.
"Brisik lo, ManDud!" sentak Skala.
"Bapaknya ngamuk," bisik Heaven, Si bapak MariMar yang gak pake AW!!!
"Kalau anget doang gak mungkin, berasa di pijit juga dong? iya kan..iya kan?" goda Gala yang tak kalah keponya.
"Belom kali, Pih. Kan masih Ori," timpal Rain, Sang pewaris utama Rahardian Group. Dibanding dengan para sepupunya, ia yang lebih dulu menikah namun paling akhir memiliki keturunan.
"Iya, baru mau di teken, udah teriak. Mau di kencengin eh malah nangis. Serba salah," jawab Shaka dengan polosnya.
"Gak usah ngeluh! kodratnya lelaki itu emang serba salah karna kalau serba guna adalah.....? " teriak Skala.
Tepuuuuuuung...
Jangan tanya seramai apa ruangan itu saat ini, saling sahut dan saling ledek semakin menjadi ketika obrolan semakin panas, dan Samudera hanya diam menikmati sambil tersenyum simpul.
Dede Kangen Appa, tapi kalau liat gini rasanya jadi gak pengen buru buru nyusulin Appa...
"Berapa gaya, Kha?" tanya Uncle Awan.
"Belom dia, belom tahu gaya cicek terbang," timpal ArXy yang kembali tertawa.
"Noh, tanya Sama Duo ManDud. Dua kali malam pertama rasanya apa," ledek Skala tak mau kalah, matanya melirik ke arah ArXy dan Axel.
"Gue sih sama aja, dia noh yang beda!" cibir ArXy pada adik iparnya.
Axel yang menjadi perhatian hanya mengusap tengkuknya, tentu ia tak ingat saat yang pertama karna itu adalah sebuah skandal saat ia tak sadar.
Dimana Sky?
Ia yang paling anteng hanya bersandar di bahu Ayah Leo, perbincangan dewasa itu memang sangat menyenangkan karena sedikit banyak memberinya ilmu terutama tentang gaya baru yang akan ia praktekan nanti bersama Rubby.
"Jangan sering sering, nanti gak jadi," pesan Samudera yang baru bicara lagi.
Kini semua pasang mata tertuju pada Terompet kiamat, semua tentu tahu dan masih ingat drama menolak tua pria itu saat cucu kembarnya launching menyapa dunia.
"Jadiin dah jadiin gak apa apa," ujar Skala pasrah.
"Napa lo? takut ya anaknya mirip lampu jalan?" ledek Heaven yang suara tawa nya 11 12 dengan ArXy.
"Emang Daddy mu gak kasih balon lagi?" kekeh Samudera, kali ini Sky yang harus menahan malu.
"Alah, di kasih banyak juga gak di pake, kalau terbang sendiri," sindir Skala pada putra bungsunya.
"Lupa, Dadd. Gak inget kan buru buru," jawab Sky kelewat jujur.
"Bukan buru buru, kamu itu males bangun buat ambil dan pake saking udah keenakan nemplok, iya kan, Kha?" Skala malah justru menembak Shaka dengan pertanyaan tersebut.
.
.
.
Iya, terus lama-lama merayap, menyusup lalu bersembunyi di lorong rahasia