Little Bride

Little Bride
Little Bride 20



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Cek lek


Shaka masuk kedalam ruang rawat inap kelas 1 dirumah sakit tersebut, hanya ada satu ranjang dengan dan satu sofa yang sepertinya hanya cukup untuk dua orang saja. TV yang menggantung pun tak pernah menyala padahal ia sudah bolak balik ke tempat itu berkali-kali dengan perasaan campur aduk, tapi yang terasa hanya rasa takut luar biasa.


"Saya datang lagi, maaf," bisik Shaka pelan, hanya itu yang bisa pria tersebut katakan pada seorang wanita dewasa yang sedang terbaring lemas tak berdaya. Begitu banyak selang di tubuhnya termasuk perban di bagian kepala dan kaki yang terpasang Gips.


Pandangan Shaka teralih pada seorang bocah perempuan berbadan kurus yang kini sedang di gendong oleh perawat pribadi yang tugaskan di kamar tersebut.


"Hay, cantik," sapa Shaka yang tak pernah di jawab sama sekali oleh bocah tersebut.


Dan itulah yang membuat ia semakin merasa sangat bersalah karna ia lah penyebab segala yang terjadi pada ibu dan anak tersebut.


.


.


Minggu lalu, Shaka yang baru pulang dari mengantar Mommynya harus mengalami musibah yaitu menabrak wanita dewasa yang sedang menuntun gadis kecil di tangan kanannya. Beruntungnya Si anak tak terluka tapi sebaliknya terjadi justru pada Sang ibu.


Shaka yang panik dan takut masih punya rasa iba serta kasihan. Ia langsung bertanggung jawab pada korbannya dengan cara membawa wanita kerumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama. Hanya itu yang bisa di lakukan Shaka di tengah orang-orang yang seperti ingin menghakimi nya secara langsung.


Hal tersebut tak pernah ia ceritakan pada siapapun termasuk istrinya sendiri. Shaka takut semakin di salahkan apalagi kini dokter mengatakan jika harapan untuk sembuh sangat minim, lalu apa kata keluarganya nanti?


"Mau dengan Om?" tawar Shaka yang hingga kini tak pernah tahu siapa nama anak itu.


Ia menggelengkan kepala dengan pelan, air mata langsung turun membasahi wajah manis bocah tersebut yang membuat Shaka semakin merasa bersalah. Ia tak bisa membayangkan jika posisi mereka di tukar.


"Kita beli ice cream, mau?" tawar Shaka lagi masih mencoba merayu.


"Maaf, Tuan, dia ingin Donat coklat katanya," ungkap Si perawat yang kurang lebih satu minggu ini dipekerjakan untuk menemani anak itu.


"Oh, kamu ingin Donat coklat?"


"Ibu suka Donat," jawabnya yang baru pertama kali, dan pertama kali juga Shaka mendengar suaranya.


Si anak diam sejenak, ia menoleh kearah wanita yang selama ini jadi satu-satunya yang ada untuknya di rumah sakit.


"Omnya baik, gak apa-apa ya," ujar Si perawat yang seakan tahu maksud dari sorot mata anak itu.


Ia pun mengangguk dan tak lama sudah berpindah gendongan pada Shaka.


"Kamu tunggu disini ya, hubungi saya jika terjadi sesuatu," pesan Shaka sebelum pergi.


"Baik, Tuan."


Shaka yang lebih dulu menetralkan perasaannya baru keluar saat semua terasa sudah jauh lebih baik.


Kini, dengan masih menggendong anak itu ia pun bergegas ke toko kue yang ada di sebrang jalan depan rumah sakit umum tersebut.


"Kamu beli Donat untukmu atau ibu?" tanya Shaka.


"Ibu, buat Ibu semuanya."


"Anak pintar, kamu pasti sayang ibu kan?" puji nya lagi karna secara tak langsung bayangan Mommy terlintas di pelupuk mata.


"Iya, sayang ibu."


"Kalau begitu, boleh Om tahu siapa namamu?" tanya Shaka yang sudah sedikit bisa menarik hati Si anak manis dalam gendongannya.


.


.


.


Nirmala....