Little Bride

Little Bride
Little Bride 39



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Makan malam yang penuh air mata itu kini berakhir di ranjang, Shaka yang berada dalam pelukan Sang istri pun masih di coba untuk di tenangkan. Air mata pria itu masih saja deras karna ia merasa dirinya paling berdosa.


"Kha, sudah ya. Hentikan air mata dan makian mu untuk diri sendiri, jalan hidupmu masih panjang kamu bisa menebusnya dengan melakukan hal yang jauh lebih baik, percaya padaku," rayu Violet.


Semanja apapun wanita itu, ia akan berubah menjadi ibu peri untuk Shaka. Mereka memang pasangan yang paling bisa saling mengisi satu sama lain, bisa memposisikan diri pada keadaan yang sedang di alami sebab keduanya sadar betul jika perjalanan rumah tangga tak selalu berjalan lurus. Ada kalanya mereka bertemu kerikil, bongkahan batu dan juga badai besar. Disanalah kekuatan cinta mereka di uji apakah siap melanjutkan perjalanan dengan cara masih berpegang tangan.


"Masih maukah kamu bertahan denganku saat kini kamu tahu aku seorang manusia yang lalai hingga membuat orang yang tak bersalah meninggal dunia?" tanya Shaka di tengah isak tangisnya.


"Aku tak akan kemana-mana, aku tetap disini bersamamu, Kha," jawab Violet sambil menghapus air matanya sendiri.


Inilah alasan yang dulu membuat Shaka bungkam dengan masalah yang sedang ia hadapi. Rasa takut dan panik justru menutup mata hatinya untuk bicara jujur pada Sang istri yang tak tahu apa apa.


Ia tak kuasa untuk terbuka karna mengira Violet akan marah apalagi saat tahu semua akan berakhit fatal untuk Si korban. Hingga terbersit niatan untuk menutupi segalanya dengan sangat rapat. Tapi takdir berkata lain, firasat seorang istri jauh lebih kuat dari apapun hingga semua terbongkar tepat pada waktunya.


.


.


.


Seperti yang sudah di perintahkan oleh Violet saat makan malam, kini Nirmala bangun lebih pagi dari biasanya, anak itu sudah mandi dan berdandan cantik siap untuk pergi ke sekolah barunya.


Ceklek


Tak ada siapapun di ruang tengah dan dapur saat Nirmala keluar dari kamarnya sendiri, ia yang mengedarkan pandangan ke segala sudut Apartemen memilih duduk di sofa bulat dekat pintu kaca balkon sambil menunggu ManDa atau YanDanya bangun.


Tapi, sudah 20 menit duduk termenung sendiri belum nampak salah satunya keluar dari kamar, sampai Nirmala memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya lagi. Namun, baru saja tangannya memegang kenop pintu namanya justru di panggil.


"ManDa. Iya, Lala nunggu dari tadi di sana," jawab Si anak manis sambil menunjuk kearah sofa bulat yang barusan ia duduki.


"Maaf ya," ucap Violet tak enak hati, ini semua karna ia harus menenangkan Shaka hingga harus tertidur di waktu lewat tengah malam. Apalagi keduanya dalam kondisi lelah usai menangis, jadilah buaian mimpi terasa nikmat mereka rasakan.


"Enggak apa-apa, YanDa belum bangun?" tanya Nirmala, ingin rasanya ia bertanya tentang Shaka yang semalam terlihat sedih dan murung tapi Nirmala tak berani karna takut di marahi.


"Belum, ManDa mandi dulu ya, habis itu kita sarapan lalu pergi."


"Iya," sahut Nirmala.


Violet pun masuk kedalam kamarnya lagi untuk membangunkan Shaka sebab jadwal mereka padat sekali hari ini, bukan hanya mendaftarkan Nirmala ke sekolah baru tapi keduanya juga harus menyiapkan segala kebutuhan anak itu dan paling penting mereka juga akan bertemu dengan pengasuh Nirmala selama tak ada siapapun di Apartemen selagi Shaka dan Violet pun sibuk dengan kegiatan kuliah..


"Kha, ayo bangun. Lala sudah rapih, dia juga udah nunggu lama loh, gak enak akunya," ujar Violet yang tahu bagaimana bosannya ada di posisi Nirmala. Entah dari jam berapa anak itu bangun saking menurutnya pada Violet.


"Hem," sahut Shaka yang hanya berdehem pelan tanpa membuka kedua matanya untuk bangun.


"Cepat bangun, aku mau mandi. Jika aku sudah selesai dan kamu masih tidur juga, awas saja!" ancam Violet.


.


.


.


Aku pasrah, Vi mau diapain juga sama kamu...