Little Bride

Little Bride
BAB 56



Pria paruh baya itu melempar banyak foto yang kini menghantam wajah gadis itu langsung. Foto dirinya yang tidak senonoh, yang di tunjukkan oleh Alfino tadi.


“Saham perusahaan turun drastis. Saya sudah bangkrut!!” Teriak sang papa terlihat stress dan seperti orang gila, membuat Arini panik dan seketika langsung berdiri menghampirinya.


“Pa! Arini, janji akan membuat Alfino bertekuk lutut kepada Arini. Tapi, Arini nggak mau hidup miskin, Pa!!” Arini menggelengkan kepalanya menolak nasib buruk terhadapnya.


“Omong kosong kamu anak sialan!!” Sang papa menatap Arini dengan sangat tajam dan kini mendorong gadis itu jauh darinya.


“Bikin malu saja.”


“Kamu dan mamah mu sama saja, menyusahkan hidup saya. Kenapa saya harus mempertahankan kamu dulu, tidak membunuhmu langsung.”


Arini begitu terkejut mendengarnya, sang papa ada niatan untuk menyelenyapnya sejak kecil, membuat sekujur tubuhnya melemas dan kini tak berdaya.


Tok! Tok!!


Suara pintu diketuk dari luar. Arini segera berdiri dan kini berjalan menuju ke pintu utama, sumber suara tersebut. Ketika Arini membukanya, banyak orang menggunakan pakaian hitam kini menginterogasinya dengan banyak pertanyaan.


“Kami dari pihak, Bank. Mohon rumah ini segera dikosongkan!” Perintah mereka kepada Arini.


“Nggak! Kalian mau ngapain ngusir saya dan papah saya?!” ucap Arini tidak terima dengan semua ini.


“Kami tidak menerima alasan apapun! Atau kalian akan kami seret!!” ancamnya dengan tegas.


Arini hendak menutup pintu tersebut kembali, namun orang berbaju hitam itu segera menahannya dan kini menyeret Arini keluar beserta dengan papa nya yang sudah pasrah semua ini terjadi kepada nya.


Arini memperhatikan rumah tempatnya tinggal sejak dulu kini tertulis disita oleh Bank. Dia menatap papa nya dengan air mata yang berderai. “Kalau aku hidup miskin, terus sekolahku bagaimana, Pa?!” Teriak Arini.


Sang papa menarik napas panjang dan berdiri dengan tegap. “Saya tidak peduli lagi sama kamu sekarang. Pergi jauh dari saya, jangan ganggu hidup saya lagi, ini semua ulah kamu, kamu yang uda bikin saya malu dan kamu juga yang uda bikin karir saya hancur.” Pria itu pergi dari sana, untuk mencari kehidupan yang baru lagi.


Arini yang melihat itu langsung mengejar papa nya, dia berlari ke tengah jalan, namun tidak memperdulikan sebuah truk yang melintas di hadapannya. Membuat tubuhnya dihantam dengan keras, bahkan jatuh dengan sangat kasar ke bawah.


Suara riuh terdengar seketika, karena kecelakaan tersebut telah membuat seorang gadis berada di ambang kematiannya.


Sedangkan papa Arini yang melihat itu, dia segera lari dari sana, tidak mau terlibat, karena uangnya sudah habis sekarang dan harus mengurus Arini lagi.


“Biarkan saja anak itu mati. Jauh lebih bagus.”


Arini dibawa oleh supir truk tersebut naik ke sebuah mobil untuk dibawa segera ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan.


*Alfino dan teman-temannya


Di markas, kini semua anggota menatap kecewa terhadap Alfino, karena mereka belum siap untuk kehilangan sang ketua, bahkan geng tersebut akan terancam bubar.


“Gue nggak habis pikir sama lo, Al! Lo tega gitu hancurin solidaritas kebersamaan kita,” ucap salah satu dari gengnya.


Alfino menarik napas panjang. Sebenarnya dia juga tidak ingin gengnya bubar, namun ia ingin menata kehidupan yang jauh lebih baik lagi setelah ini. “Gue, akan memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Jadi, silahkan lo semua tunjuk ketua baru dari sekarang.”


“Walaupun loe kuliah di luar negeri, tapi kita akan tetap nungguin loe, Al. Geng kita nggak akan habis masanya.”


“Loe salah besar, yang kita lakuin sekarang, hanya membuat semuanya nggak aman. Geng motor identik dengan banyak musuh, bahkan banyak yang jadi korban, kan? Lo amnesia?” ucap Alfino.


“Tapi, memang semuanya bisa diatur, Al. Kita juga nggak pernah tawuran, kan? Hanya balapan liar aja, biar seneng-seneng.”


“Pokoknya, gue udah memutuskan untuk keluar dari geng ini dan fokus dengan masa depan gue. Loe juga semuanya, harus seperti itu juga.”


Alfino melepaskan jaket gengnya dan meletakkannya di atas meja, lantas meninggalkan mereka semua. Membuat anggotanya menatap Alfino dengan menundukkan kepalanya.


Setelah keluar dari markas, Alfino memperhatikan bangunan tersebut dengan senyuman pedih, semuanya memang harus berlalu, karena waktu yang terus berjalan.


Alfino menaiki motornya dan memasang helmnya. Dia pergi dari tempat tersebut, dengan napas yang panjang, menikmati suasana jalan yang kini sepi, tidak terlalu banyak kendaraan seperti biasanya.


Tidak lama lagi Alfino pun melanjutkan perjalannya menuju rumahnya.


...****************...


Disekolah Ica melihat Elfaro yang sendirian, lalau Ica pun menghampiri Elfaro.


“Hi El, apa kabar?,” tanya Ica.


“Baik Ca,” jawab Elfaro tanpa melihat ke arah Ica.


“Adira gimana kabarnya?.”


“Masih sama Ca, belum sadar.”


“Gue kemarin belum sempet nengok Adira lagi karna ada acara maaf ya.”


“Iya nggak papa kok Ca, Adira juga pasti ngerti.”


Namun tiba-tiba Aliya berteriak dengan melototkan matanya, karena melihat berita terbaru yang kini masuk ke grup kelas, membuat banyak yang mengucapkan belasungkawa atas kematian seseorang.


“Lo lihatin apa?” Tanya Ica penasaran dan kini merebut ponsel Aliya yang shock melihatnya.


Elfaro menghembuskan napas panjang dan menatap Aliya dan Ica dengan serius, karena sudah melihat berita tersebut lebih dulu di sosial media sekolah baru-baru ini diinformasikan.


“Eh, beneran dia meninggal?” Lirih Aliya merinding seketika.


“Ditabrak truk lagi, gimana nggak meninggal langsung,” ucap Ica.


“Iya, Arini udah nggak ada, karena nggak selamat dari kecelakaan itu dan meninggal di perjalanan menuju ke rumah sakit,” jelas Elfaro.


“Loe tahu dari mana sampai update gitu penjelasannya?” ucap Aliya penasaran.


“Makanya, jangan minim literasi, kan udah dijelaskan di sana,” balas Elfaro menunjuk penjelasan kronologis nya.


“Gimana, ya? Gue memang nggak suka sama Arini, tapi mendengar dia udah nggak ada, jadi kasihan,” ucap Ica.


“Merinding gue, aja,” ucap Aliya. Masih muda udah logout.


“Pokoknya, kita harus pergi melayat.” Akhirnya Ica memutuskan dan disetujui oleh kedua temannya.


“Padahal bentar lagi dia naik kelas, tapi beritanya udah seperti ini, bakalan heboh se SMA, mana aibnya tersebar.” Ica menghembuskan napas panjang karena mulai insyap.


“Mungkin ini karma bagi orang jahat,” ucap Elfaro.


“El gue harap lo bisa maafin kesalahan dia yah, kasian dia uda nggak ada masi banyak kesalahan dan belum sempet minta maaf,” ucap Ica.


“Tapk Ca, gara-gara dia Adira sampaj sekarang belum sadar,” jawab Elfaro.


“Ini uda takdir El, kita nggak bisa ngehindarin takdir, Arini uda nggak ada kita sebagai manusia harus bisa memaafkan kesalahan dia,” ucap Aldi yang tiba-tiba datang bersama Brandon.


“Iya El, kalau Adira ada di sini juga pasti dia bakal maafin Arini kok,” ucap Brandon.


“Iya gue akan maafkan semua kesalahan Arini, gue juga banyak salah sama dia, semoga dia juga bisa maafin kesalahan gue,” ucap Elfaro.


“Yaudah nanti kita ngelayat yah,” ajak Aliya.


“Iya,” jawab mereka secara bersamaan.